DENPASAR; sebuah kota kecil di ujung selatan perut Pulau Bali. Sebuah wilayah yang menjadi saksi bagi rentetan peristiwa: pertumpahan darah, pembangunan ekonomi, geliat pariwisata, kemacetan, hingga luapan banjir yang kian sulit dielakkan.
Sebagai kota yang kecil, kota ini punya peran yang tak bisa dianggap kecil, ia menjadi jalur transit utama masuknya segala sektor perekonomian. Di kota ini pula setiap pagi kita bisa melihat lautan manusia yang berusaha mencari penghidupan dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang menetap dan ada juga yang tinggal lalu pergi.
Denpasar bukan sekadar kota yang hidup seperlunya. Ia adalah jantung yang terus berdetak, memompa Bali yang kini terseok-seok oleh pariwisata yang semakin menyesakkan.

Jika diibaratkan tubuh seseorang, ia mungkin layaknya budak korporasi yang terus diperah oleh bosnya. Seorang yang dipaksa berlari bahkan ketika kakinya sudah tak mampu untuk berdiri, Mungkin ia lelah; mungkin ia hanya butuh jeda untuk berbenah dan bernapas dari cepatnya putaran dunia.
Ruang Kreatif dan Geliat Inisiatif Muda
Di tengah perputaran dan hiruk pikuk peristiwa di kota ini, hidup sebuah ruang bernama Graha Yowana Suci. Bekas pasar lama terbengkalai, yang kini seakan menjelma ruang baptis gaya hidup anak muda yang haus akan gejolak ekspresi. Tempat dimana gagasan bertemu, ide-ide saling silang, dan berbagai lapisan generasi muda menemukan medium untuk menyuarakan gejolak mereka.

Salah satu inisiasi yang cukup segar baru-baru ini, adalah sebuah acara bertajuk Sayembara Cerpen Denpasar 2025, yang diinisiasi oleh Penerbit Partikular, sebuah penerbit independen yang belum lama ini pindah dan menetap di salah satu lantai Graha Yowana Suci ini. Bekerja sama dengan BKRAF Denpasar, kali ini mereka mengadakan sebuah acara sayembara cerpen yang berusaha untuk membedah, serta merefleksikan bagaimana cara kita melihat, menangkap dan merasakan denyut nadi kota Denpasar. Kita dituntun melalui perspektif yang terekam dalam 10 cerita pendek yang merangkum peristiwa-peristiwa kecil yang sering kali kita rasakan hari ini tentang bagaimana kota madya ini bercerita.
Meskipun pada akhirnya penulis tidak mengikuti keseluruhan isi sepuluh cerpen tersebut, kekosongan itu terbayar oleh sebuah pagelaran teater dan seni media yang hadir setelah forum Diskusi dan Kota Sebagai Cerita. Karya ini menjadi jawaban yang mampu merangkum serta merespon berbagai cerpen yang bercerita tentang apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi pada kota Denpasar kita hari ini.

Karya yang berjudul ‘ Tubuh Kota Yang Berlari’ menyapa saya dan puluhan anak muda yang begitu antusias dengan gelaran pertunjukan yang tiba-tiba hadir di bangunan 4 Lantai ini. Dengan dentuman dram dan iringan musik yang begitu dinamik serta ritmis, gelombang frekuensi pertunjukan ini seakan menjadi magnet yang menyedot siapa saja untuk melihat dan menjadi bagian dari pertunjukan ini.
Disutradarai oleh Devy Gita, para aktornya tampil dengan pendekatan embodied, menjalin potongan-potongan narasi yang terbaca sebagai penggalan berbagai respon yang menceritakan serta menggambarkan bagaimana Denpasar dimaknai melalui gerak tubuh dan ledakan emosi yang saling bersinggungan.
Pertunjukan ini dibuka oleh sorotan lampu pada Reni Layon, aktor utama yang—menurut imajinasi liar penulis—menjelma representasi Denpasar: eksotik sekaligus problematik. Dengan dekapan kain kebaya khas Bali yang membungkus tubuhnya, Reni memulai pertunjukan ini dengan bersimpuh seolah sedang berharap dan menghadap kepada sesuatu. Dengan dikelilingi oleh tanah yang ditabur tipis seakan berbisik tentang posisi Denpasar sebagai lahan yang kini tengah dipertarungkan.
Kemudian aktor lainnya menyusul satu persatu mengelilingi Reni yang bersimpuh di sentral lantai pertunjukan, mulai dari De Gung yang menggelar sebuah kain putih yang diuntai begitu panjang, lalu disusul mahijasena yang bergerak merangkai sikut gegulak, yaitu konsep ukuran arsitektur Bali yang diperoleh dari ukuran anatomi tubuh manusia—mengisyaratkan tentang ikatan mengenai tanah, bangunan dan lahan yang terus bergerak sejengkal, demi sejengkal. Lalu berlanjut pada Oka Pratama yang berputar-putar disekeliling area gelaran mencoba untuk memindah botol-botol air yang saling tersusun acak.
Pertunjukan ini seperti menyuguhkan satu cerita, yang diawali dengan ritme musik dan gerak tubuh yang masih terlihat perlahan, kemudian berlanjut pada konflik hiruk pikuk di tengah-tengah bagian pertunjukan yang menjadi klimaks dari apa yang sedang coba dikomunikasikan, lalu diakhiri oleh resolusi yang menyiratkan sebuah pengharapan untuk kota dapat berbenah walau dengan perlahan.
Tentang Air, Tanah dan Perebutan Sumber Daya
Ada beberapa hal menarik yang bisa dikupas dari pertunjukan ini, yang pertama adalah aspek material yang menjadi bahasa utama dalam karya ini— tanah, bunga, air, plastik dan kain. Aspek material tersebut menjadi bahasa yang mencoba untuk menerjemahkan bagaimana relasi antar elemen tersebut saling tarik menarik, seolah menggambarkan perebutan sumber daya yang kini tengah terjadi di Denpasar.
Bagian yang paling berkesan adalah bagaimana botol-botol plastik yang berisi air perlahan-lahan dipindahkan lalu didistribusikan secara acak menjadi metafor tentang bagaimana semerawutnya tata kelola air yang dimiliki oleh Denpasar hari ini. Sebagai kota yang dialiri oleh beberapa Sungai yang dikenal dengan sebutan ’tukad’, Denpasar menjadi area yang rentan ketika menghadapi curah hujan yang tak menentu. Belakangan, hal ini menjadi sangat ramai dipebincangkan, beberapa tukad yang mengaliri kota Denpasar kompak untuk memuntahkan diri mereka ke jalan-jalan besar hingga mengubah beberapa lokasi menjadi danau dadakan.

Kita lalu seakan disentil tentang bagaimana buruknya pemerintah dalam menata insfratuktur air yang ada di kota ini, pun didukung dengan sampah plastik saling bermuara di hulu sungai-sungai yang merupakan ulah dari masyarakat juga. Visual Mapping pada karya ini juga menjadi poin penting, dimana bayangan air yang diproyeksikan melalui alat yang dikendalikan oleh Ketut Sedana, dan Darklab Visual Art pun berhasil menghadirkan dimensi visual yang begitu kuat, seperti mengingatkan kembali akan bencana yang begitu nyata.
Konflik memuncak di tengah-tengah bagian pertunjukan; menampilkan ritme musik, dan proyeksi tentang Denpasar sebagai medan pertarungan sumber daya. Hal tersebut terepresentasikan dengan sangat baik melalui adegan saling tarik menarik antara aktor yang melilitkan kain selendang ke tubuh Reni sebagai perlambang Kota Denpasar yang dipaksa untuk terus bergerak, walau dengan insfratuktur yang compang camping. Tanah disekitar Reni yang semula tertata dengan taburan bunga, kemudian tiba-tiba porak poranda akibat ulah tarik-menarik kepentingan. Reni Tersungkur, menyiratkan tentang Denpasar yang kian hari, kian menemui titik jenuh pada semerawutnya tata kelola lahan, air dan insfratuktur.
Namun dibagian akhir, botol-botol berisi air yang telah berserakan kemudian perlahan mulai ditata ulang, menggambarkan bagaimana selalu ada secercah harapan untuk Denpasar dapat berbenah walau harus merangkak secara perlahan. Hal tersebut tercermin dari beberapa penonton yang diajak oleh aktor untuk ikut menyusun kembali botol-botol dan menghiasnya dengan bunga, memberi isyarat bahwa membenahi kota Denpasar bukanlah kewajiban satu atau dua orang, namun menjadi tanggung jawab semua lapisan masyarakat terutama anak muda yang berani melihat tanahnya dengan lebih kritis.
Pada akhirnya, setelah menikmati rentetan bagian pertunjukan yang intens, penulis kemudian melihat pertunjukan ini sebagai secuil gambaran tentang bagaimana Denpasar selalu menyimpan ruang untuk bertumbuh, dan pertumbuhan itu, cepat atau lambat akan selalu bergantung pada bagaimana kita sebagai generasi muda—mengubah cara pandang kita dalam melihat kota kita : kemarin, kini, dan Nanti.
Sebab sebuah kota, sebagaimana tubuh manusia, hanya dapat terus hidup bila ada yang bersedia merawat ingatan, menjaga napasnya, dan mendengarkan detak yang selama ini berusaha ia sampaikan. [T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole



























