SAYA mematung di puncak tertinggi di desa yang teronggok di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, itu. Cahaya sore yang tumpah di Bukit Yangudi mengalir seperti lembaran waktu yang dibuka satu per satu. Di utara, laut menjadi cermin yang mencatat setiap gerak angin; sedang di dekat saya, di atas bukit ini, batu-batu gelap yang terbentuk dari sejarah letusan Gunung Agung bergeming seperti petapa tua yang tak pernah berpindah tempat duduk.
Di sana, di utara, pada sepotong garis pantai yang membentang dari Gilimanuk sampai Julah, Bali Utara menyimpan salah satu bab terpenting dalam hikayat pulau ini: kisah pelabuhan kuno, jejak pedagang asing, dan memori tentang perpindahan manusia yang selalu diulang dari generasi ke generasi.
Perjalanan dari Kota Singaraja menuju Desa Les seperti menuruni sebuah masa yang bergerak lambat. Di kiri saya laut menghampar tenang seperti permadani biru yang sudah diletakkan berabad-abad lalu; sedangkan di kanan, perbukitan naik perlahan seperti punggung naga tua yang sedang tertidur.
Ketika seseorang menyebut “Bali”, Les tentu saja bukan gambar pertama yang muncul—walaupun ia terbilang desa wisata. Tidak ada keramaian Kuta di sini. Pun tidak ada ritus megah sebagaimana Ubud. Juga tidak ada hotel-hotel besar yang menyembunyikan laut di balik kaca berkilat. Yang ada justru ruang-ruang kosong yang seperti sengaja dibiarkan kosong. Seolah tempat ini percaya bahwa kekosongan adalah cara terbaik untuk mengingat masa lalu—masa lalu dengan kejayaan gilang-gemilang.
“Les ini termasuk desa tua di Bali, Mas,” terang Bli Don—bernama asli Nyoman Nadiana, seorang pegiat pariwisata dan UMKM desa, tapi lebih senang menyebut diri sebagai seorang pejalan-pemandu-dan pedagang—kepada saya suatu ketika.

Konon, Desa Les bernama Panjingan, dari kata manjing, masuk. Sebuah kata kerja yang diam-diam menggambarkan watak tempat ini—pintu bagi kapal-kapal dari negeri jauh, sekaligus pintu bagi perubahan yang tak bisa dicegah. Prasasti-prasasti tua dari Sembiran, Julah, Kintamani, hingga Bebetin menguatkan cerita lisan itu: sejak abad IX–XII Masehi, daerah-daerah seperti Manasa, Julah, Paminggir, Hiliran, Les, Indrapura, Bulihan, dan Buhun Dalem adalah simpul perdagangan antara Bali dan dunia luar. Kapal-kapal besar dan perahu kecil bersandar, menurunkan hewan, kain, benang, logam, dan barangkali kalimat-kalimat asing yang membuat anak-anak Panjingan terbengong.
Namun, sejarah yang ramai tak selalu berakhir damai. Dari cerita turun-temurun, Panjingan pernah bersahabat dengan Wong Bajo—mungkin dari Sulawesi, mungkin juga dari suatu tempat ketika laut menjadi ruang yang tak mengenal batas. Dari sebuah cerita setengah dongeng setengah kesaksian trauma kolektif, Wong Bajo datang bukan hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai pihak yang kelak meninggalkan bara.
Alkisah, mereka berjudi ayam bersama saat upacara Ngilehang Kebo, tertawa di tengah arena tabuh rah, berbagi kesementaraan dalam pertemanan yang kelak retak. Berawal dari saat seekor ayam putih sakral—Sa Ginangsi (atau Totos Panjingan), namanya—yang mereka beli dari seorang warga Panjingan kalah dan dianggap palsu, dendam tumbuh dari hal yang tampaknya remeh. Tetapi dendam, dalam sejarah desa-desa kecil, sering menjadi awal dari malapetaka besar.
Hingga pada suatu malam yang diselimuti gelap dan keheningan, Wong Bajo menyerbu Panjingan. Pohon-pohon kapuk randu yang ditanam diam-diam sebagai tanda lokasi desa berubah menjadi saksi kehancuran. Krama Panjingan melarikan diri sambil menggenggam benda-benda suci yang semula disimpan di pura, seakan itu satu-satunya identitas yang harus selamat. Mereka bersembunyi di dekat air terjun Yeh Tah, lalu membangun kampung baru bernama Buhu, kemudian pindah ke Hyang Widhi, sebelum akhirnya menuruni perbukitan menuju tempat yang disebut Ngenes—yang akhirnya kini dikenal sebagai Desa Les.
Dalam setiap perpindahan itu, cerita berubah bentuk. Ada versi yang mengatakan mereka pindah karena kekurangan air; ada pula yang mengisahkan kepindahan mereka karena ketakutan kolektif terhadap serangan berikutnya. Namun keduanya memegang satu pesan yang sama, bahwa manusia tak selalu memilih tempat tinggalnya; kadang tempat tinggal itulah yang menuntut manusia bertahan.
Menyusuri jejak itu, saya naik ke bukit-bukit di selatan Les. Tanahnya merah, kering, seperti menunggu seseorang menyebut kembali nama yang lama. Di sanalah krama Panjingan bermukim kembali dan menamai tempat itu Buhu—entah karena banyaknya pohon buhu, entah karena benar-benar berarti baru. Lalu mereka pindah ke Hyang Widhi, sebelum akhirnya turun ke daerah yang diberi nama Ngenes—atau Les, tergantung siapa yang bercerita. Dalam bahasa Kawi, les berarti lari. Dan dalam hidup orang-orang tua itu, lari berarti bertahan.
Dari jalan berkelok, saya melihat dua jurang besar yang memeluk Les seperti capit udang—jurang Yeh Tah di timur dan Yeh Mampeh di barat. Inilah benteng alam yang dipercaya melindungi pemukiman baru mereka, semacam taktik geografis yang terdengar ganjil namun masuk akal bagi mereka yang hidup dalam bayang-bayang serangan dari laut.

Namun, Les yang sekarang bukan lagi desa pelarian. Ia adalah sebuah lanskap nyegara–gunung yang lengkap: laut yang membentang dua kilometer di utara, dan pegunungan yang melipat diri di selatan. Di antara keduanya, kehidupan tumbuh dari tegalan, ladang, laut, dan hutan lindung.
***
Dari perbukitan saya menatap ke bawah dan melihat pola permukiman yang kecil namun keras kepala, seperti catatan kaki yang terus bertahan dalam bab panjang sejarah pesisir Bali Utara. Sejarah itu pun tercatat dalam prasasti-prasasti tua, yang menjadi semacam paspor masa silam. Saya cukup beruntung, sebab mendapat informasi penting ini dari Bli Putu Eka Guna Yasa, pegiat dan peneliti lontar pilih tanding di Bali.
Prasasti Kintamani E dari tahun 1200 M, misalnya, menyebut nama Les di antara desa-desa pesisir yang penting. Prasasti Sembiran dan Bebetin menyebut pelabuhan Julah dan Manasa sebagai terminal besar kapal-kapal asing. Ada aturan pajak, denda, pembagian warisan saudagar perantauan—aturan yang mengisyaratkan sebuah dunia yang jauh lebih kosmopolit daripada yang kita bayangkan dari desa hening di utara Bali.
Dalam Prasasti Kintamani E, wilayah Kintamani boleh berjualan kapas dan hasil bumi lainnya seperti kesumba, bawang merah, bawang putih, dan jumuju ke daerah pesisir Bali Utara (Les, Paminggir, Hiliran, Buhun Dalem, Julah, Purwwasidhi, Indrapura, Bulihan, Manasa). Sedangkan penduduk di sekitar Danau Batur (Bwahan, Kedisan, Trunyan, Songan, dan Abang) tidak diperkenankan berjualan kapas ke daerah-daerah tersebut.
Artinya, hanya orang-orang Kintamani yang diperbolehkan jualan kapas ke Bali Utara. Apabila orang-orang di sekitar Danau Batur melanggar peraturan ini, maka akan dijatuhi denda 3 ma su 2 ma [dosa mā sū 3 mā 2]. Sampai di sini, sekira abad ke 12, desa yang kini diapit Tejakula di sebelah barat dan Penuktukan di sebelah timur ini sudah menggunakan nama Les—mungkin juga jauh sebelum itu nama Les sudah digunakan.
Selain itu, data epigrafi dan etnografi pada masa klasik antara abad IX-XII di Bali menunjukkan bahwa ada hubungan yang bersifat dendritik antara desa-desa di pesisir Tejuka dengan wilayah di pedalaman Kintamani. Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan upacara di Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani—desa yang disebut sebagai sentra penanaman kapas pada masa Bali Kuno.

Upacara di pura tersebut dilakukan oleh aliansi desa kelompok setimanan yang berjumlah 45 orang. Duapuluh dua anggota dari pesisir Tejakula dan Les, sedangkan sisanya (23 anggota) dari Sukawana. Di Desa Les terdapat Sanggah Kamulan Dadap Sakti, di Desa Sukawana, Siakin, Pinggan, Penuktukan, dan Sambirenteng juga terdapat hal yang sama.
Desa Sukawana juga menjalin aliansi dengan desa lain, terutama Sembiran, Pacung, dan Julah. Ketiga desa tersebut menghaturkan sesajen tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana, Jero Kubayan dan Jero Bau, yang khusus ditugaskan untuk para penenun dari Julah dan Sembiran. Para penenun dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih).
Dan di antara semua itu, saya merasa Les seperti tubuh tua yang penuh lapisan: lapisan trauma, lapisan dagang, lapisan pelayaran, lapisan upacara yang mengikatnya dengan Sukawana dan Kintamani. Di Pura Puncak Penulisan, hubungan antara desa-desa pesisir dan dataran tinggi masih terasa seperti garis halus yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Kapas dari Sukawana, kain tenun dari Julah dan Sembiran, sesaji biji-bijian yang menyatukan pemujaan pada puncak-puncak tua.
Jalur dagang, rupanya, tak hanya memindahkan barang, ia memindahkan cara pandang, ritus, bahkan cara desa-desa saling mengingat.
***
Bersama Bli Don saya berjalan di pematang yang kering dan sunyi sembari menyadari bahwa perpindahan orang-orang Panjingan itu meninggalkan lanskap emosional yang kuat. Les hari ini bukan hanya desa, melainkan arsip panjang yang disimpan di tanah, udara, dan tubuh manusia.
Di rumah-rumah penduduk, termasuk Bli Don, hampir semuanya memiliki Sanggah Kamulan Dapdap Sakti, tempat ritual suci yang dibangun dari kayu dadap (Erythrina variegata) tanpa paku, tanpa beton, tanpa ukiran. Dua ruang kecil di atas dadap, diikat dengan ijuk dan bambu, berdiri seperti metafora hubungan manusia dengan alam: sederhana, rapuh, tetapi menyimpan tenaga spiritual yang tak bisa dipahami hanya dengan logika. Batu pemujaan di tengahnya dipandang sebagai tempat bersemayamnya Ratu Gede Dasar, sementara pelinggih kanan dan kiri mewakili Taksu dan Surya. Di sana, purusa dan pradana—leluhur laki-laki dan perempuan—dipuja bersamaan dengan Atmanta, Brahma, Wisnu, Siwa, dan Hyang Guru.
“Tolong difoto itu, Mas,” Bli Don meminta saya untuk mengabadikan Sanggah Kamulan Dapdap Sakti di belakang rumahnya.
Di desa yang terbentuk dari perpindahan dan ingatan itu, kehidupan sehari-hari berlangsung dengan tenang, seakan waktu melambat. Bahkan seni pun muncul dari kesederhanaan, seperti Tapel Ngandong—tarian hiburan dengan satu penari dan satu kostum. Tokohnya, seorang nenek tua yang menggendong sesuatu di punggungnya. Tidak sakral, tidak mewah. Hanya manusia yang berkisah tentang derita dan kelucuan hidup.
Bli Don mengajak saya ke pesisir. Di sana, beberapa petani garam masih sibuk mengolah lahan. Sedangkan nelayan datang dan pergi dari dan ke jantung lautan. Garam Les dari dulu sudah terkenal unggul. Dalam beberapa literatur yang berserak di internet, orang-orang Les sudah membuat garam sejak abad ke-17, sebagaimana masyarakat Kusamba di Klungkung, Amed dan Kubu di Karangasem, dan Suwung di Denpasar.
Terletak di bantaran pesisir Bali Utara dengan sinar matahari dan angin laut yang sejuk—yang menguapkan air laut dan meninggalkan kristal garam—, menjadikan Les sebagai salah satu wilayah terbaik untuk produksi garam di Bali Utara—bahkan mungkin di Bali. Dan kini, bertani garam di Les menjelma warisan budaya, bukan sekadar urusan ekonomi atau bumbu masakan.
Sore itu kami berbincang dengan Ketut Kirana, petani yang mengolah garam di tanah milik orang Prancis. “Saya sudah menggarapnya selama puluhan tahun,” kata lelaki enam puluhan itu sesaat setelah sebuah jukung baru saja bersandar. Di timur, terlihat lebih banyak jukung menepi, kemudian tertambat pada dermaga kecil dengan hikayat panjang—saksi kapal-kapal dagang lalu-lalang di perairan kawasan Tejakula pada abad ke-9 Masehi. Ombak tak henti menciumi bibir pantai berbatu.

“Membuat garam ini pekerjaan musiman, Mas,” kata orang tua dengan caping kerucut di kepalanya itu. “Kalau hujan kami tak membuat garam, ladangnya kami bajak, kami tanami kacang,” tambahnya sembari duduk di samping gubuk beratap rumbia yang tua. “Ini gudang garamnya, Mas,” Bli Don memberitahu saya bahwa di dalam gubuk rumbia itu Kirana dan istrinya menyimpan hasil panen.
Garam Les diproduksi dengan metode solar evaporation, yakni memanfaatkan panas matahari untuk menguapkan air laut (disebut nyah dalam bahasa Les) sampai terbentuk kristal garam. Petani garam Indonesia pada umumnya melakukan evaporasi di petak-petak pengkristalan (mejan garam) di lahan garam. Namun, di Les, evaporasi dilakukan dengan menggunakan sebuah medium yang disebut palung, dibuat dari batang pohon lontar (orang Bali menyebutnya ental) atau batang pohon kelapa dengan panjang sekitar 3,5-4 meter.
“Para pemilik lahan garam, termasuk pemilik restoran-restoran di sini [di pesisir Les], bodoh kalau sampai menutup produksi garam. Karena pengolahan garam ini sudah termasuk sebagai destinasi yang menarik kunjungan wisatawan,” ujar Bli Don, tegas. Ia percaya, ladang garam di Les masih memiliki umur yang panjang selama masih banyak wisatawan yang hendak mengunjunginya. Dalam hal ini, pariwisata berperan cukup penting dalam melindungi dan melestarikan budaya pembuatan garam di Desa Les.
Namun, ancaman perubahan iklim tetap tak dapat dihindari. Cuaca yang kacau dapat meruntuhkan kegigihan petani garam. Musim kemarau yang datang terlambat dan berlangsung cepat, membuat produksi tak akan berjalan maksimal. Orang-orang seperti Ketut Kirana dan istrinya hanya akan menyemai asin tanpa bisa memanennya. “Kalau musim hujan cukup panjang, saya kembali ngarit [mengambil rumput untuk ternak], pelihara sapi atau bangkung [babi],” ujar Ketut Kirana sembari tersenyum getir.
Sebelum singgah di ladang garam yang dikelola Kirana, saya dan Bli Don sempat merasakan sejuknya Air Terjun Yeh Mampeh yang jatuh dari ketinggian 30 meter dan menciptakan kabut lembut yang mengingatkan saya pada lembaran mimpi. Airnya dipakai untuk upacara adat, bahkan menjadi sumber kehidupan bagi desa. Gua-gua kecil di sekitarnya seperti mulut bumi yang tidak pernah bosan menyimpan rahasia.
Pada kesempatan lain, ketika siang menyentuh dapur-dapur rumah, saya menikmati sepiring mengguh yang tiada duanya di rumah Bli Don. Mengguh adalah hidangan khas Desa Les berupa perpaduan antara beras yang dimasak menjadi bubur dengan tambahan sedikit kunyit, sehingga menghasilkan warna kuning dan cita rasa gurih berkuah, dipadukan dengan bumbu Bali yang diulek halus. Hampir setiap rumah di Desa Les mampu membuat makanan khas yang menjadi sajian wajib di segala musim ini.
“Di Desa Les, mengguh sering disajikan sebagai hidangan pembuka sekaligus penutup dalam acara hajatan, pertemuan keluarga, maupun kegiatan komunitas, Mas,” jelas Bli Don.

Ciri khas utama mengguh terletak pada buburnya yang berkuah dan telah dibumbui, kemudian diberi tambahan topping sayur-sayuran. Sayur seperti kacang panjang, kedongkol, bayam, dan taoge dicampur dengan bumbu kacang yang diulek halus, memberikan cita rasa segar dan kaya akan rempah.
Ah, sore kian jelas, warna laut Les berubah menjadi hijau gelap. Kini saya duduk di antara bebatuan pantai yang kasar, membiarkan gelombang kecil membasuh dahi-dahi batu. Di hadapan saya, garis horizon terasa seperti batas yang pernah dilintasi ratusan perahu asing ribuan tahun lalu. Sedangkan di belakang, bukit-bukit menyimpan jejak perpindahan krama yang tak habis diceritakan dalam satu napas. Antara keduanya, Les berdiri seperti sebuah bisikan panjang: bahwa hidup selalu bergerak, bahwa desa-desa pernah jatuh dan bangun dalam siklus yang sangat manusiawi, bahwa sejarah bukan monumen, tetapi gerak pelan yang terus-menerus melaju.
Dan saya meninggalkan Les dengan perasaan seperti meninggalkan seseorang yang sedang bercerita, tetapi belum selesai. Seperti ada halaman yang hilang, atau mungkin memang begitulah sifat desa-desa tua: mereka mengizinkan kita membaca, tetapi tidak pernah membiarkan kita benar-benar menutup bukunya.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
- BACA artikel lain tentang DESA LES



























