2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Guru Kehilangan Otoritas Moral

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 21, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman tentu pernah mendengar kasus dimana guru diajak baku hantam oleh muridnya, guru dipolisikan oleh orang tua murid, atau guru honorer bertahan belasan tahun dengan gajinya tak seberapa, jam kosong yang membudaya karena murid dianggap bisa mencari ilmu sendiri, dan lain sebagainya.

Gegara kemarin mendampingi mahasiswa membuat poster karya ilmiah, teringatlah akan logo pendidikan kita.  Saya kira ini akan banyak yang menganggap remeh karena “cuma soal logo”. Tetapi seperti kata Clifford Geertz, simbol adalah kunci untuk memahami kebudayaan. Ia melihat simbol bukan sekadar tanda yang menunjuk sesuatu, melainkan wadah makna yang memuat nilai, keyakinan, dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Simbol berfungsi sebagai jendela interpretasi, karena melalui simbol kita dapat menyingkap cara masyarakat menafsirkan dunia mereka.  Dan jendela ini, tanpa kita sadari, telah mengubah cara bangsa ini memandang guru dan pendidikan.

Di bawah logo Kementerian Pendidikan yang berupa burung garuda kecil berkepala pena, tertulislah satu kalimat sakral Tut Wuri Handayani. Indah, halus dan lembut. Tapi tanpa kita sadari hal ini berbahaya jika berdiri sendirian. Sebab Ki Hajar Dewantara, tidak pernah menciptakan satu prinsip saja. Ia menciptakan tiga asas yang berdiri sebagai satu kesatuan, sebuah tripod filosofis pendidikan Nusantara.

Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun motivasi), Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Ketiganya adalah satu sistem seperti Trinitas Pedagogik. Tapi yang dipakai negara hanya yang terakhir. Dan sejak itu, arah pendidikan kita perlahan miring. Persis kursi berkaki tiga yang dipotong dua kakinya, tetap berdiri, tapi siap ambruk kapan saja.

Tut Wuri, dari Falsafah Menjadi Bias Nasional

Secara semiotik, menampilkan hanya “tut wuri” di logo negara bukan sekadar pilihan estetika, itu adalah penegasan epistemik. Itu seperti berkata pada bangsa kita bahwa pendidikan Indonesia  intinya mendorong dari belakang. Padahal Ki Hajar tidak pernah mengajarkan guru untuk sekadar jadi pendorong, apalagi sekadar fasilitator administratif. Justru ia menempatkan guru sebagai pemimpin moral, penggerak kreativitas, dan penyokong kemandirian, jika kita memang konsisten dalam urutan itu.

Ketika dua asas pertama hilang dari simbol resmi, hilang pula dari imajinasi kolektif bangsa. Guru tidak lagi dilihat sebagai teladan (ing ngarsa), dan juga tidak dianggap sebagai pembangun karsa (ing madya). Yang tersisa hanyalah peran “di belakang”, yang dalam praktiknya  sering dimaknai sebagai jangan dominan, jangan tegas, jangan mengatur terlalu banyak.  Dampaknya bagaimana? Yah, guru jadi seperti pemeran figuran dalam panggung pendidikan nasional, bukan aktor utama. Yang penting kelihatan, lah, berseliweran.

Guru, dari Teladan Peradaban Menjadi Tenaga Teknis

Di masa ketika Ki Hajar Dewantara menulis,“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” ia meletakkan guru sebagai penjaga moralitas, pemimpin sosial, dan figur keteladanan.

Guru bukan sekadar profesi atau pekerjaan untuk mencari uang, guru adalah posisi moral. Beda dulu beda sekarang. Kini guru diperlakukan seperti tenaga teknis pengampu kurikulum. Esensinya bergeser, dari pemimpin nilai menjadi penyedia layanan pendidikan, dari pengasuh peradaban menjadi admin kelas, dari tulang punggung bangsa menjadi korektor anggaran.

Maka tidak heran jika lalu muncul fenomena unik yang hanya terjadi di Indonesia. Guru honorer berusia 50 tahun, gaji cuma ratusan ribu, masa kerja juga sudah belasan tahun tapi tanpa kepastian. Ini jelas tidak muncul di Finlandia, Singapura, atau Jepang, di mana negara-negara itu masih menghargai guru sebagai profesi intelektual dan moral, bukan sekadar tenaga operasional.

Lalu mengapa fenomena ini hanya terjadi di sini? Sepertinya, karena negara kita tidak memandang guru sebagai inti peradaban, tetapi sebagai tenaga lapangan dan tenaga teknis pendidikan. Kembali ke simbol, ketika simbol meminggirkan guru, sistem pun lalu mengikuti.

Orang Tua sebagai Konsumen, Guru Jadi Petugas Layanan

Hubungan orang tua dan guru pun ikut berubah. Jika dulu orang tua mempercayakan pendidikan moral anak pada guru, sekarang guru cenderung diperlakukan seperti customer service. Banyak contoh di mana anak dimarahi sedikit, guru dipolisikan; guru menegur murid, orang tua menyoal pelanggaran HAM; guru memberi nilai sesuai kemampuan, malah dituduh tidak profesional dalam mengajar.  Kenyataan sekarang bahwa guru kerap dipolisikan karena mendisiplinkan murid, dapat dilihat sebagai gejala hilangnya otoritas moral.

Begini saja analoginya, ini seperti kalau dokter dipolisikan karena memberi obat yang rasanya pahit, atau pilot dipolisikan karena meminta penumpang mematikan HP saat take off. Seperti dunia yang penuh transaksi semacam itu, muncullah logika pasar dalam pendidikan. Apa yang lu jual, gua beli. Ada uang, ada barang.

Pelan tapi pasti para guru mulai merasa, kalau ia tidak dihargai sebagai pemimpin moral. Lalu mengapa ia harus memosisikan diri sebagai teladan? Maka terjadilah apa yang disebut Paulo Freire banking education, yangmemposisikan guru sebagai “penyetor” pengetahuan ke dalam diri murid yang pasif. Guru lalu enggan punya sikap, hanya melayani instruksi dan permintaan pasar.

Pendidikan Menjadi Latah

Krisis jati diri pendidikan Indonesia tampak jelas dari cara kita mengadopsi kebijakan luar negeri. Finlandia lagi tren langsung kita tiru.  Singapura top ranking, ditiru. Kurikulum berbasis proyek populer di negara OECD segera saja bergegas diadopsi. Assessment digital lagi laris langsung diterapkan secara nasional.

Seakan-akan kita lupa apa kata Ki Hajar Dewantara di atas, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Sepertinya tidak riuh seperti ranking PISA, tren OECD, apalagi kurikulum harus berubah setiap ganti menteri.  Karena pendidikan seharusnya berakar pada budaya, bukan pada mode global.

Dalam esai “Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse” (1984), Homi Bhabha menjelaskan bahwa kolonialisme menciptakan kondisi di mana bangsa terjajah terdorong untuk meniru (mimic) budaya kolonial. Jangan-jangan ini yang terjadi di dunia pedidikan kita, kegelisahan untuk meniru model luar demi terlihat modern. Padahal justru pendidikan yang kuat lahir dari otentisitas nilai sendiri, bukan dari impor kebijakan.

Simbol Membentuk Sistem

Mungkin ada yang berpikir masa iya gara-gara logo. Ya, seperti Geertz, “Manusia adalah hewan yang tergantung pada makna.” Dan makna itu dibentuk oleh simbol yang kita lihat setiap hari. Ketika negara hanya menampilkan “Tut Wuri Handayani”, maka secara psikologis dan ideologis, guru diposisikan di belakang.

Teladan hilang, kepemimpinan moral melemah, peran motivasional tidak lagi dianggap penting, fasilitasi dianggap satu-satunya tugas guru, diperparah lagi kebijakan pun bergeser mengikuti makna itu. Ini bukan salah guru, sepertinya ini salah desain makna yang diwariskan negara. Simbol adalah kompas, ketika kompasnya hanya menunjukkan “tut wuri”, bangsa ikut bergerak ke arah yang sama.

Dalam hemat saya kalau mau menyelamatkan pendidikan Indonesia, kita harus kembali pada keseluruhan trilogi, bukan satu fragmen. Kembalikan guru sebagai teladan moral (ing ngarsa), guru  harus dipandang sebagai pemimpin karakter, bukan operator kurikulum. Tegakkan guru sebagai penggerak karsa (ing madya) dan beri ruang kreativitas, dialog, partisipasi, bukan sekadar administrasi. Pertahankan guru sebagai pemberi kemandirian (tut wuri). Tapi ini hanya kuat jika dua yang pertama hidup. Jika hanya tut wuri yang berdiri, kita hanya punya pendidikan yang mendorong dari belakang, tanpa pemimpin moral di depan dan tanpa penggerak karsa di tengah.

Mengembalikan Filosofi Lengkap

Krisis guru honorer, kriminalisasi para guru, arah pendidikan yang latah, penurunan wibawa guru, itu semua bukan gejala terpisah. Semuanya memiliki akar yang sama yaitu hilangnya keutuhan falsafah Ki Hajar Dewantara dari pandangan negara. Kita membangun rumah pendidikan dengan menyingkirkan dua tiang utama. Yang tersisa hanya satu tiang, yaitu “tut wuri”, itu pun yang sudah kehilangan konteksnya. 

Sepertinya jika enggan kita mengembalikan keteladanan, karsa, dan pendorong sebagai tiga peran yang simultan, pendidikan Indonesia akan tetap limbung. Jati diri tidak akan pernah kuat jika fondasi filosofisnya timpang. Mengembalikan tiga asas pendidikan ini bukan nostalgia, ini tindakan radikal untuk menyembuhkan bangsa dari krisis jati diri pendidikan. Dan mungkin, sekali lagi baru mungkin, dari situlah pendidikan Indonesia bisa benar-benar maju dengan langkahnya sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: guruKI Hajar DewantaraPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Radikalisasi Media Sosial: Ekosistem Ekstrem di Era Digital

Next Post

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co