2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Guru Kehilangan Otoritas Moral

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 21, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman tentu pernah mendengar kasus dimana guru diajak baku hantam oleh muridnya, guru dipolisikan oleh orang tua murid, atau guru honorer bertahan belasan tahun dengan gajinya tak seberapa, jam kosong yang membudaya karena murid dianggap bisa mencari ilmu sendiri, dan lain sebagainya.

Gegara kemarin mendampingi mahasiswa membuat poster karya ilmiah, teringatlah akan logo pendidikan kita.  Saya kira ini akan banyak yang menganggap remeh karena “cuma soal logo”. Tetapi seperti kata Clifford Geertz, simbol adalah kunci untuk memahami kebudayaan. Ia melihat simbol bukan sekadar tanda yang menunjuk sesuatu, melainkan wadah makna yang memuat nilai, keyakinan, dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Simbol berfungsi sebagai jendela interpretasi, karena melalui simbol kita dapat menyingkap cara masyarakat menafsirkan dunia mereka.  Dan jendela ini, tanpa kita sadari, telah mengubah cara bangsa ini memandang guru dan pendidikan.

Di bawah logo Kementerian Pendidikan yang berupa burung garuda kecil berkepala pena, tertulislah satu kalimat sakral Tut Wuri Handayani. Indah, halus dan lembut. Tapi tanpa kita sadari hal ini berbahaya jika berdiri sendirian. Sebab Ki Hajar Dewantara, tidak pernah menciptakan satu prinsip saja. Ia menciptakan tiga asas yang berdiri sebagai satu kesatuan, sebuah tripod filosofis pendidikan Nusantara.

Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun motivasi), Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Ketiganya adalah satu sistem seperti Trinitas Pedagogik. Tapi yang dipakai negara hanya yang terakhir. Dan sejak itu, arah pendidikan kita perlahan miring. Persis kursi berkaki tiga yang dipotong dua kakinya, tetap berdiri, tapi siap ambruk kapan saja.

Tut Wuri, dari Falsafah Menjadi Bias Nasional

Secara semiotik, menampilkan hanya “tut wuri” di logo negara bukan sekadar pilihan estetika, itu adalah penegasan epistemik. Itu seperti berkata pada bangsa kita bahwa pendidikan Indonesia  intinya mendorong dari belakang. Padahal Ki Hajar tidak pernah mengajarkan guru untuk sekadar jadi pendorong, apalagi sekadar fasilitator administratif. Justru ia menempatkan guru sebagai pemimpin moral, penggerak kreativitas, dan penyokong kemandirian, jika kita memang konsisten dalam urutan itu.

Ketika dua asas pertama hilang dari simbol resmi, hilang pula dari imajinasi kolektif bangsa. Guru tidak lagi dilihat sebagai teladan (ing ngarsa), dan juga tidak dianggap sebagai pembangun karsa (ing madya). Yang tersisa hanyalah peran “di belakang”, yang dalam praktiknya  sering dimaknai sebagai jangan dominan, jangan tegas, jangan mengatur terlalu banyak.  Dampaknya bagaimana? Yah, guru jadi seperti pemeran figuran dalam panggung pendidikan nasional, bukan aktor utama. Yang penting kelihatan, lah, berseliweran.

Guru, dari Teladan Peradaban Menjadi Tenaga Teknis

Di masa ketika Ki Hajar Dewantara menulis,“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” ia meletakkan guru sebagai penjaga moralitas, pemimpin sosial, dan figur keteladanan.

Guru bukan sekadar profesi atau pekerjaan untuk mencari uang, guru adalah posisi moral. Beda dulu beda sekarang. Kini guru diperlakukan seperti tenaga teknis pengampu kurikulum. Esensinya bergeser, dari pemimpin nilai menjadi penyedia layanan pendidikan, dari pengasuh peradaban menjadi admin kelas, dari tulang punggung bangsa menjadi korektor anggaran.

Maka tidak heran jika lalu muncul fenomena unik yang hanya terjadi di Indonesia. Guru honorer berusia 50 tahun, gaji cuma ratusan ribu, masa kerja juga sudah belasan tahun tapi tanpa kepastian. Ini jelas tidak muncul di Finlandia, Singapura, atau Jepang, di mana negara-negara itu masih menghargai guru sebagai profesi intelektual dan moral, bukan sekadar tenaga operasional.

Lalu mengapa fenomena ini hanya terjadi di sini? Sepertinya, karena negara kita tidak memandang guru sebagai inti peradaban, tetapi sebagai tenaga lapangan dan tenaga teknis pendidikan. Kembali ke simbol, ketika simbol meminggirkan guru, sistem pun lalu mengikuti.

Orang Tua sebagai Konsumen, Guru Jadi Petugas Layanan

Hubungan orang tua dan guru pun ikut berubah. Jika dulu orang tua mempercayakan pendidikan moral anak pada guru, sekarang guru cenderung diperlakukan seperti customer service. Banyak contoh di mana anak dimarahi sedikit, guru dipolisikan; guru menegur murid, orang tua menyoal pelanggaran HAM; guru memberi nilai sesuai kemampuan, malah dituduh tidak profesional dalam mengajar.  Kenyataan sekarang bahwa guru kerap dipolisikan karena mendisiplinkan murid, dapat dilihat sebagai gejala hilangnya otoritas moral.

Begini saja analoginya, ini seperti kalau dokter dipolisikan karena memberi obat yang rasanya pahit, atau pilot dipolisikan karena meminta penumpang mematikan HP saat take off. Seperti dunia yang penuh transaksi semacam itu, muncullah logika pasar dalam pendidikan. Apa yang lu jual, gua beli. Ada uang, ada barang.

Pelan tapi pasti para guru mulai merasa, kalau ia tidak dihargai sebagai pemimpin moral. Lalu mengapa ia harus memosisikan diri sebagai teladan? Maka terjadilah apa yang disebut Paulo Freire banking education, yangmemposisikan guru sebagai “penyetor” pengetahuan ke dalam diri murid yang pasif. Guru lalu enggan punya sikap, hanya melayani instruksi dan permintaan pasar.

Pendidikan Menjadi Latah

Krisis jati diri pendidikan Indonesia tampak jelas dari cara kita mengadopsi kebijakan luar negeri. Finlandia lagi tren langsung kita tiru.  Singapura top ranking, ditiru. Kurikulum berbasis proyek populer di negara OECD segera saja bergegas diadopsi. Assessment digital lagi laris langsung diterapkan secara nasional.

Seakan-akan kita lupa apa kata Ki Hajar Dewantara di atas, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Sepertinya tidak riuh seperti ranking PISA, tren OECD, apalagi kurikulum harus berubah setiap ganti menteri.  Karena pendidikan seharusnya berakar pada budaya, bukan pada mode global.

Dalam esai “Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse” (1984), Homi Bhabha menjelaskan bahwa kolonialisme menciptakan kondisi di mana bangsa terjajah terdorong untuk meniru (mimic) budaya kolonial. Jangan-jangan ini yang terjadi di dunia pedidikan kita, kegelisahan untuk meniru model luar demi terlihat modern. Padahal justru pendidikan yang kuat lahir dari otentisitas nilai sendiri, bukan dari impor kebijakan.

Simbol Membentuk Sistem

Mungkin ada yang berpikir masa iya gara-gara logo. Ya, seperti Geertz, “Manusia adalah hewan yang tergantung pada makna.” Dan makna itu dibentuk oleh simbol yang kita lihat setiap hari. Ketika negara hanya menampilkan “Tut Wuri Handayani”, maka secara psikologis dan ideologis, guru diposisikan di belakang.

Teladan hilang, kepemimpinan moral melemah, peran motivasional tidak lagi dianggap penting, fasilitasi dianggap satu-satunya tugas guru, diperparah lagi kebijakan pun bergeser mengikuti makna itu. Ini bukan salah guru, sepertinya ini salah desain makna yang diwariskan negara. Simbol adalah kompas, ketika kompasnya hanya menunjukkan “tut wuri”, bangsa ikut bergerak ke arah yang sama.

Dalam hemat saya kalau mau menyelamatkan pendidikan Indonesia, kita harus kembali pada keseluruhan trilogi, bukan satu fragmen. Kembalikan guru sebagai teladan moral (ing ngarsa), guru  harus dipandang sebagai pemimpin karakter, bukan operator kurikulum. Tegakkan guru sebagai penggerak karsa (ing madya) dan beri ruang kreativitas, dialog, partisipasi, bukan sekadar administrasi. Pertahankan guru sebagai pemberi kemandirian (tut wuri). Tapi ini hanya kuat jika dua yang pertama hidup. Jika hanya tut wuri yang berdiri, kita hanya punya pendidikan yang mendorong dari belakang, tanpa pemimpin moral di depan dan tanpa penggerak karsa di tengah.

Mengembalikan Filosofi Lengkap

Krisis guru honorer, kriminalisasi para guru, arah pendidikan yang latah, penurunan wibawa guru, itu semua bukan gejala terpisah. Semuanya memiliki akar yang sama yaitu hilangnya keutuhan falsafah Ki Hajar Dewantara dari pandangan negara. Kita membangun rumah pendidikan dengan menyingkirkan dua tiang utama. Yang tersisa hanya satu tiang, yaitu “tut wuri”, itu pun yang sudah kehilangan konteksnya. 

Sepertinya jika enggan kita mengembalikan keteladanan, karsa, dan pendorong sebagai tiga peran yang simultan, pendidikan Indonesia akan tetap limbung. Jati diri tidak akan pernah kuat jika fondasi filosofisnya timpang. Mengembalikan tiga asas pendidikan ini bukan nostalgia, ini tindakan radikal untuk menyembuhkan bangsa dari krisis jati diri pendidikan. Dan mungkin, sekali lagi baru mungkin, dari situlah pendidikan Indonesia bisa benar-benar maju dengan langkahnya sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: guruKI Hajar DewantaraPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Radikalisasi Media Sosial: Ekosistem Ekstrem di Era Digital

Next Post

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co