12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Radikalisasi Media Sosial: Ekosistem Ekstrem di Era Digital

Made Bryan Mahararta by Made Bryan Mahararta
November 20, 2025
in Esai
Radikalisasi Media Sosial: Ekosistem Ekstrem di Era Digital

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

HAMPIR seluruh aktivitas masyarakat saat ini telah berpindah ke ruang digital berbasis internet (internet of things) mulai dari belajar, bekerja, bersosialisasi, sampai mencari hiburan. Tersedianya berbagai platform digital berupa media sosial telah menjadi ruang publik baru yang membawa peluang sekaligus kerentanan. Efek keberlimpahan informasi dan menjamurnya akun anonim yang kian meresahkan menjadi tantangan tersendiri.

Salah satu fenomena yang semakin banyak diperbincangkan adalah radikalisme platform digital. Sebuah proses di mana lingkungan digital melalui konten, algoritma, dan komunitas daring, dapat mendorong seseorang menuju pola pikir atau perilaku yang ekstrem. Perubahan perilaku ini semakin meresahkan dan menjadi perdebatan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Fenomena ini bukan lagi terbatas pada ideologi teroris klasik, tetapi meluas ke bentuk ekstremisme lain seperti: glorifikasi kekerasan, misogini, cyberbullying kolektif, konten penembakan massal, kultus terhadap tokoh-tokoh kriminal, hingga narasi balas dendam yang dikemas sebagai “pembebasan diri”. Radikalisasi tidak selalu dimulai dari niat ideologis. Kerap juga berawal dari emosi yang rapuh, marah, terluka, terasing, atau dipermalukan.

Belakangan ini kita dihadapkan pada sebuah realitas bagaimana potret dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Seiring berkembangnya teknologi informatika dan kecanggihan telekomunikasi yang semakin mudah di akses, harus diakui bahwa rendahnya tingkat literasi masyarakat mengakibatkan dampak negatif bagi ekosistem dunia pendidikan kita.

Salah satunya adalah radikalisme platform digital yang mengarah pada insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta, yang menyingkap bagaimana seorang remaja dapat mengadopsi ide kekerasan setelah terpapar konten ekstrem di media sosial. Kasus ini mengingatkan publik bahwa radikalisasi tidak harus lahir dari jaringan teror yang terorganisir. Ragam konten yang tersebar bebas, algoritma yang tidak terkendali, dan dampak psikologis dari pengalaman sosial seperti perundungan menyebabkan kalangan pelajar rentan terpapar dampak negatif.

Radikalisasi Baru di Kalangan Pelajar

Insiden ledakan yang terjadi SMAN 72 Jakarta memunculkan kekhawatiran tentang meningkatnya radikalisasi platform digital berbasis media sosial di kalangan pelajar Indonesia. Meskipun otoritas keamanan menyatakan bahwa kasus tersebut tidak terkait langsung dengan jaringan terorisme, penyelidikan menunjukkan bahwa pelaku terpapar konten kekerasan ekstrem di media sosial, termasuk glorifikasi tokoh penembakan massal. Insiden ini memperlihatkan pola baru radikalisasi, yaitu bukan radikalisme ideologis terstruktur, tetapi radikalisasi kekerasan yang bersumber dari ruang digital global, diperkuat oleh kondisi sosial seperti bullying, keterasingan sosial, dan lemahnya literasi digital.

Radikalisme di Indonesia telah lama dipahami dalam kerangka ekstremisme ideologis yang memiliki jaringan, struktur, dan tujuan politik tertentu. Namun, dalam kurun waktu 5–7 tahun terakhir perkembangan media sosial mengubah lanskap radikalisasi, terutama di kalangan generasi muda. Terdapat beberapa perubahan fundamental, seperti radikalisasi non-ideologis (violence-based radicalization), konten ekstrem yang mudah diakses tanpa filter, algoritma media sosial yang memicu bias informasi, serta kerentanan psikologis kalangan pelajar khususnya saat menghadapi bullying, tekanan akademik, dan disfungsi keluarga.

Berdasarkan laporan keamanan digital menunjukkan peningkatan paparan konten ekstrem dan misinformasi melalui media sosial seperti di Facebook, TikTok, dan X. Para pelajar ini sering tidak memiliki kemampuan filter terhadap konten yang mengandung glorifikasi kekerasan, supremasi, atau ideologi ekstrem. Insiden ledakan SMAN 72 Jakarta menjadi titik penting yang menunjukkan bagaimana radikalisasi media sosial dapat berinteraksi dengan faktor-faktor domestik seperti bullying dan kesehatan mental hingga memicu tindakan berbahaya secara nyata.

Apa Itu Radikalisme Platform Digital?

Radikalisme platform digital adalah proses ketika platform media sosial melalui desain teknologinya menciptakan kondisi yang memungkinkan individu bergerak menuju pemikiran atau perilaku ekstrem. Terdapat 3 (tiga) faktor yang membentuk ekosistem ekstrem di era digital, antara lain:

  1. Algoritma yang mendorong ekstremitas. Algoritma bekerja dengan logika sederhana yakni menampilkan sebuah konten yang membuat pengguna tetap berada di platform selama mungkin. Konten ekstrem, sensasional, penuh amarah, atau menegangkan biasanya lebih menarik atensi.
  2. Komunitas daring (online) yang memvalidasi kekerasan. Banyak platform media sosial memiliki komunitas bawah tanah yang merayakan kekerasan: forum para pendukung penembakan massal, penggemar tokoh kriminal, ruang obrolan yang mengagungkan balas dendam, atau kelompok yang mendorong remaja melakukan aksi berbahaya.
  3. Konten Ekstrem yang mudah diakses. Narasi ekstrem kini tidak hanya berbentuk manifesto teror. Mulanya, hadir sebagai meme lucu yang meromantisasi kekerasan.

Radikalisme platform digital bukan hanya tentang individu, tetapi tentang ekosistem yang saling berkaitan. Seringkali, patform media sosial sengaja dirancang agar pengguna menjadi semakin betah dan ketergantungan. Sementara itu, Respons emosional kuat seperti marah, takut, atau dendam lebih “menguntungkan” secara bisnis karena meningkatkan keterlibatan.

Seiring berjalannya waktu, Negara ini memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadikan media sosial sebagai ruang publik yang dapat meningkatkan interaksi melalui moderasi konten sekaligus menunjang pertumbuhan ekonomi. Moderasi biasanya fokus pada konten terorisme formal, tetapi banyak konten ekstrem non-terorisme tidak terfilter, meliputi: balas dendam, kekerasan sekolah, incel ideologies, hingga tutorial berbahaya.

Hal inilah yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Melihat insiden ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta, maka rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia mengakibatkan banyak orang tua sering tidak memahami apa yang dikonsumsi anak. Bahkan, sebagian masih banyak yang tidak tahu soal fitur keamanan digital atau bagaimana algoritma itu mulai bekerja.

Mekanisme pengawasan terhadap pencegahan di lingkungan sekolah bagi para pelajar sangatlah dibutuhkan. Salah satunya adalah penghapusan perundungan (bullying) Program anti-bullying kerap bersifat formalitas, sementara mekanisme deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa masih lemah. Kasus ini sekaligus menunjukkan bahwa radikalisasi digital bisa terjadi secara mandiri (self-radicalization), mengakibatkan trauma sosial yang dapat mempercepat seseorang menjadi mudah terpapar dengan algoritma platform sebagai katalis serta pengawasan keluarga dan sekolah di Indonesia yang masih belum memadai.

Radikalisme platform digital bukan lagi sekedar teori semata. Tetapi mulai menyasar kelompok paling rentan seperti anak dan remaja. Platform ini bekerja diam-diam melalui algoritma, komunitas daring, dan konten yang tampak sepele. Untuk menghadapi fenomena ini, negara, keluarga, sekolah, dan platform digital perlu memahami bahwa radikalisasi era baru bukan hanya soal paham ideologis, tetapi soal bagaimana teknologi mempercepat penyebaran narasi kekerasan dan rentan mengalami bias informasi di tengah masyarakat.

Kondisi ini menunjukkan perlunya kebijakan intervensi yang menggabungkan pendidikan literasi digital, penguatan sistem keamanan sekolah, pengawasan platform media sosial, serta dukungan kesehatan mental remaja sekaligus merumuskan opsi kebijakan yang perlu dilakukan oleh pemerintah, sekolah, dan platform digital. Artinya, perlu ada pendekatan baru dalam hal pelaksanaan keamanan sekolah. Bukan hanya mengawasi senjata atau narkoba, tetapi juga risiko digital yang memengaruhi perilaku siswa. Pemerintah harus memperluas definisi intervensi radikalisme ke konten kekerasan global dan algoritmik.

Mencegah radikalisme digital berarti membangun ekosistem digital yang aman, sehat, dan berpihak ada tumbuh kembang anak bukan sekadar melawan teror, tetapi melawan segala bentuk ekstremisme yang lahir dari luka sosial dan diperparah oleh algoritma.

Kebijakan Pemerintah Terhadap Radikalisasi Baru di Era Digital

Isu radikalisme yang menyebar melalui platform digital telah menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional, terutama dalam upaya merekrut anak-anak dan pelajar melalui media sosial dan gim daring. Artikel berita dari ANTARA News menyoroti respons pemerintah yang proaktif, dipimpin oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dan didukung oleh penindakan hukum oleh Densus 88 Antiteror Polri.

Kebijakan yang ada, berlandaskan pada PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak, sudah mencakup mekanisme taksonomi risiko dan notice and take down. Namun, untuk menghadapi dinamika ancaman yang terus berkembang, diperlukan penguatan kebijakan terpadu yang melampaui sekadar penghapusan konten, fokus pada literasi digital komprehensif, peningkatan kapasitas penegakan hukum siber, dan kerangka kerja kolaboratif yang melibatkan sektor swasta (platform digital) dan masyarakat sipil.

Penyebaran ideologi radikal telah bermigrasi dari ruang fisik ke ruang siber. Internet, dengan anonimitas dan jangkauannya yang luas, menjadi lahan subur bagi propaganda dan rekrutmen. Kelompok anak-anak dan pelajar merupakan target yang sangat rentan. Mereka menghabiskan waktu signifikan di platform yang kurang diawasi, seperti gim daring dan instant messaging groups, yang sering dijadikan sarana rekrutmen terselubung.

Melalui Kemkomdigi, pemerintah telah menetapkan pedoman dan tata kelola berbasis risiko dan proporsional. Meskipun fondasi kebijakan sudah cukup kuat, namun tantangannya terletak pada kecepatan evolusi konten radikal dan teknik enkripsi/penyembunyian yang digunakan oleh pelaku, yang sering kali melampaui kemampuan deteksi dan penindakan birokrasi standar.

Program Literasi Digital Radikalisme (LIDIRA) Nasional yang diprakarsai oleh Kemkomdigi bekerja sama dengan Kemendikbud perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Bahkan, keterlibatan orang tua sebagai pihak terdekat juga perlu diberikan ruang yang dapat membantu sebagai penanda peringatan dini (early warning signs) radikalisme digital pada anak, termasuk penggunaan bahasa, perubahan perilaku dalam bermain gim daring, atau interaksi di media sosial.

Selain itu, dukungan dari berbagai organisasi masyarakat sipil sangat dibutuhkan untuk secara aktif memproduksi konten kontra-narasi yang menarik dan relevan bagi para pels (video pendek, meme, podcast, influencer), menanggapi propaganda radikal dengan pesan damai dan toleransi. Beberapa opsi kebijakan yang dapat dipertimbangkan pemerintah dan lembaga terkait, antara lain:

  1. Penguatan Literasi Digital dan Anti-Radikalisasi yang mencakup mata pelajaran “Digital Safety & Critical Thinking”, program anti-bullying dan kesejahteraan psikologis berbasis komunitas sekolah.
  2. Sistem Early Warning Psychosocial yang mencakup screening kesehatan mental rutin dua kali setahun, pembentukan tim satgas khusus lintas sektor (Guru BK, psikolog, orang tua, dan aparat setempat), dan ketersediaan mekanisme konsultasi anonim bagi siswa berisiko.
  3. Pengawasan dan Regulasi Media Sosial yang mencakup mekanisme pemblokiran cepat untuk konten ekstrem dan glorifikasi kekerasan, kewajiban platform digital untuk melaporkan pola perilaku mencurigakan pada akun pelajar serta kerja sama multipihak antara pemerintah–platform digital untuk menghapus komunitas digital radikal.

Model seperti ini sebenarnya sudah banyak diadopsi di beberapa negara (Inggris dengan Prevent, Norwegia dengan EXIT, dan Australia dengan Intervention Referral Program). Indonesia dapat mengadaptasinya sesuai konteks lokal, dengan pendekatan yang tidak stigmatis dan tidak represif.

Untuk itu, “digital safety” harus menjadi kurikulum inti Literasi digital dasar tidak cukup untuk menghadapi paparan konten ekstrem. Keterlibatan peran guru, psikolog, dan wali kelas juga diperlukan dengan mendapatkan pelatihan mendalam tentang sinyal-sinyal kerentanan. Maka, pemerintah perlu mendorong platform untuk menghapus konten glorifikasi kekerasan secara lebih agresif dan cepat.

Diperlukan juga kolaborasi lintas sektor antara pendidikan, psikologi, teknologi, keamanan, dan keluarga untuk membangun ekosistem yang mampu mendeteksi, mencegah, dan menanggulangi ancaman radikalisasi digital pada para pelajar. Besar harapan, Indonesia dapat memperkuat ketahanan digital generasi muda dan mencegah insiden ekstrem serupa pada masa mendatang. [T]

Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole

 

Tags: digitalmedia sosialradikalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tolstoy dan Chekhov: Ketika Keagungan Menyapa Kelembutan

Next Post

Saat Guru Kehilangan Otoritas Moral

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta atau akrab disapa Ibenk adalah seorang pegiat literasi dan advokasi kebangsaan yang berasal dari Buleleng. Aktif menjadi podcaster dan salah satu pendiri Sociocorner, sebuah komunitas media alternatif yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan dan keberagaman. Lahir di Surabaya, 22 Februari 1991 memiliki hobi menonton film dan pementasan budaya. Saat ini, penulis menetap di Jakarta dan aktif menjadi pembicara maupun kolumnis media online yang memiliki konsentrasi terhadap demokrasi, partisipasi anak muda, dan moderasi beragama. Buku yang pernah diterbitkan antara lain: Ruang Baru Masyarakat Digital (2020) dan Candradimuka Gerakan Intelektual (2022).

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Saat Guru Kehilangan Otoritas Moral

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co