Denpasar, 2002.
Terminal Ubung ramai oleh bis-bis dan angkutan umum. Hari menjelang siang, saat aku tiba di sana, menjemput adik laki-lakiku yang datang dari kota kecil di ujung barat Bali. Dia baru saja menjalani ujian akhir. Aku agak gusar, mendengar kabar dan membaca koran lokal. Di situ tertulis bahwa adikku menjadi koordinator aksi protes di SMA tempat ia bersekolah.
Dia dikenal pendiam, sehingga guru-gurunya heran—ketika ia menggalang tanda tangan siswa-siswi kelas III, bentuk protes atas kebijakan sepihak kepala sekolah, memungut uang sumbangan. Aku juga lupa untuk apa para siswa di akhir studi mesti dimintai uang. Padahal, sejak lama bupati di sana menggratiskan uang sekolah, dari TK sampai SMA. Bahkan para mahasiswa miskin pun diberi beasiswa, asalkan nilai mereka memenuhi syarat.
Uang pungutan tidak banyak, hanya 25 ribu rupiah per siswa. Aku juga bisa membayarnya untuk adikku. Tidak perlu demonstrasi segala, apalagi sampai diberitakan di koran. Keterangan dari keluarga di kampung, adikku memang berteman dekat dengan para seniman juga wartawan. Saat pagi hari, di sebuah warung dekat sekolah, ia sering berbincang dengan seorang wartawan koran.
Mereka seperti dua kawan yang telah lama saling mengenal. Adikku, bisa jadi, karena rasa ingin tahu yang besar tentang jurnalisme, banyak bertanya soal itu. Apalagi, ia menunjukkan ketertarikan pada dunia wartawan sejak mengikuti pelatihan jurnalistik di sekolahnya, dari beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Denpasar. Katanya, dalam pelatihan itu, adikku dekat dengan seorang mahasiswa antropologi budaya. Dia sering berdiskusi dengannya.
Tapi bukan karena sejak ikut pelatihan jurnalistik itu, adikku menjadi berani dan kritis. Dari SD, ia memang dikenal cerdas, sering mendapat juara kelas. Kalau tidak juara I, pasti juara II atau III. Dia juga pernah menjadi ketua kelas, hingga suatu hari ia mengundurkan diri. Kepala sekolah heran, ada hal apa sehingga adikku memutuskan ingin berhenti menjadi ketua kelas. “Teman-teman susah diatur, sering ribut di kelas,” ujarnya singkat. Hingga kepala sekolah mesti mengumunkan pengunduran adikku di depan kelas. Anak sekecil itu sudah idealis, tak mau dipaksa-paksa, keras dengan pendiriannya. Biasanya jika ada siswa lain agak ribut, itu hal yang biasa. Tapi tidak bagi adikku. Ia bahkan beberapa kali berdebat dengan teman-temannya karena mereka tidak disiplin. Aku menganggap sikap adikku biasa saja, ternyata tidak
Di terminal Ubung, adikku keluar dari pintu bis antar kota dalam provinsi. Aku menyambutnya dengan senang. Sebelumnya aku bilang padanya ingin mengajaknya liburan di Denpasar. Tapi sebenarnya, atas diskusi keluarga yang tak ia tahu, keluargaku ingin aku memeriksakan adikku ke psikiater. Hampir tiga minggu ia baru tidur dini hari. Seperti ada beban yang ia rasakan, tapi tidak ia ceritakan kepada keluarga.
Denganku ia lebih terbuka sejak dulu. Aku memahami karakternya yang seperti seniman; tak mau dikekang, suka kebebasan, kritis dan tertarik pada puisi dan sastra. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal yang dikelola temanku semasa SMA. Ia punya komunitas sastra, dan adikku salah satu anggota di sana. Temanku pernah menyebut, adikku punya bakat yang bagus dalam menulis. “Sayang jika ia berakhir dengan gangguan mental,” katanya.
Setelah dua hari berada di Denpasar, aku mengajak adikku jalan-jalan ke obyek wisata Tanah Lot. Ia senang sekali saat tukang foto mengabadikan kebersamaan kami. Foto polaroid yang langsung jadi menjadi kenangan berharga baginya. Adikku sebenarnya pemuda tampan—hanya saja pakaiannya agak lusuh, rambutnya kurang rapi, dan sorot matanya kosong. Aku iba melihatnya. Dia kuajak ke toko buku di supermarket. Kubebaskan ia memilih buku-buku yang ia suka. Ia menyukai buku kumpulan puisi KOMPAS. Tanpa ragu aku membelikannya. Ia tampak senang.
Suatu sore, aku mengajaknya ke Jalan Batanta, di Denpasar bagian barat. Aku bilang padanya kita ke dokter. Ia tidak curiga. Aneh juga, bahkan hingga sampai di depan tempat praktik dokter, ia bisa membaca dalam plang bahwa itu dokter jiwa, psikiater. Adikku tidak bertanya soal itu. Dia seperti tahu, bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Kami menunggu sebentar di ruang tunggu, menunggu giliran Asisten psikiater lalu mempersilakan kami berdua masuk ruangan. Psikiater itu, laki-laki paruh baya, dengan tersenyum mengajakku berbincang, melakukan tanya-jawab di ruang psikatri itu.
Adikku lebih banyak diam, memandangi lukisan yang ada di sana, sambil mengamati tulisan yang ada di dinding. Aku menjawab dengan baik beberapa pertanyaan psikiater. Hingga adikku tiba-tiba berbicara pelan: “Tuhan telah mati, Tuhan telah mati….!”
Aku dan psikiater itu agak terkejut mendengarnya. Apa maksud adikku? Tampaknya psikiater itu paham, karena dia juga suka membaca buku. Ia kemudian meminta izin untuk berbicara di ruangan itu, berdua dengan adikku. Aku keluar dengan perasaan was-was. Jangan-jangan, adikku sudah “gila” betulan? Aku teringat kakak kami yang sejak muda juga mengidap sakit jiwa, sejak bersekolah di Yogyakarta. Pada satu waktu, ia bersama teman sekolahnya mengalami kecelakaan sepeda motor. Temannya meninggal, kakakku selamat. Tapi tidak dengan mentalnya. Ia sejak itu lebih suka mengurung diri di kamar, menangis, hingga akhirnya mengamuk. Ayahku kembali membawanya kembali ke Bali. Bolak-balik ke rumah sakit jiwa menunggui kakakku dirawat.
Setelah hampir tiga puluh menit, psikiater di Jalan Batanta, Denpasar itu mengajakku masuk ke kembali ke ruangannya. Diberinya aku tiga jenis obat berikut keterangan dosisnya. Kami meninggalkan ruang psikiatri itu setelah melunasi pembayaran. Tidak lupa aku dan psikiater itu bertukar nomor telepon, untuk komunikasi selanjutnya. Aku memacu sepeda motorku dengan pelan. Adikku tampak biasa-biasa saja. Dia lebih banyak diam. Aku tak bertanya.
Malam harinya, sekitar pukul 8 teleponku berdering. Dari psikiater itu. Aku mengangkat telepon dengan cepat. Ia menceritakan apa yang dialami adikku. “Depresi berat,” katanya. Buku-buku, terutama buku sastra dan filsafat, hanyalah bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang dirasakan adikku. Semenjak bayi, adikku memang dirawat dan diasuh oleh kakak dari ayahku beserta istri dan anak-anaknya. Adopsi setengah hati. Kami merasa bersalah, karena ia tahu bahwa ia bukan anak kandung bukan dari keluarga kandung atau juga keluarga angkat. Dari ejekan dan bercandaan tetangga. Itu membuat adikku syok. Hanya saja ia tak protes, memendam semuanya sendirian.
Saat ia mulai menunjukkan gelagat aneh, adikku baru saja pindah sekolah dari Singaraja. Diajak oleh salah seorang bibiku. Rencana itu tidak dibicarakan secara terbuka dengan keluarga kandung. Ibuku tahu, adikku tidak terbiasa dengan gaya mendidik yang kaku dan disiplin. Benar saja, adikku tak betah tinggal dengan bibiku yang besar dengan pendidikan ala zaman Belanda. Ia meminta pindah kembali ke kampung halaman, beberapa kali menelepon ibu angkatnya melalui Wartel.
Ia memang bisa pindah sekolah ke kota kecil kami di kampung halaman. Sejak itulah ia lebih banyak membaca buku-buku filsafat, yang ia pinjam dari komunitas. Suntuk bercengkrama dengan pemikiran Friedrich Nietzsche, filsuf dengan otak cemerlang yang menghabiskan masa-masa akhir hidupnya dengan tragis, mengidap gangguan mental.
Psikiater itu menceritakan, adikku dengan detail menceritakan apa yang ia baca dari salah satu buku karya Nietzche, saat mereka berada di ruang psikiatri. Bahkan, “mementaskannya”:
Pagi itu pasar sudah ramai. Suara pedagang menawar, lonceng berdentang, dan bau roti hangat bercampur dengan keringat orang banyak. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang lelaki berjaket lusuh berlari sambil membawa lentera yang masih menyala, meski matahari sudah tinggi.
“Aku mencari Tuhan!” teriaknya. “Di mana Tuhan?”
Orang-orang menatap heran, lalu tertawa. Ada yang menganggapnya gila, ada yang menggeleng sambil terus menakar harga daging. Tapi lelaki itu tidak berhenti. Ia berdiri di atas tong kayu dan menatap kerumunan dengan mata nyalang.
“Tuhan telah mati!” katanya lantang. “Tuhan tetap mati! Dan kitalah yang telah membunuh-Nya!”
Tawa perlahan reda. Lentera di tangannya bergetar. Ia menatap orang-orang di pasar, satu per satu, seolah hendak memastikan bahwa mereka mengerti apa yang baru saja ia katakan.
“Kita telah membunuh makna yang dulu menjaga kita,” ujarnya pelan. “Kini dunia ini tak lagi punya arah, karena cahaya yang dulu menerangi hati kita telah padam. Tapi kita harus belajar menyalakan cahaya kita sendiri.”
Ia menurunkan lentera itu, langkahnya gontai di antara kios sayur dan kain. Matahari makin tinggi, dan orang-orang kembali berjual-beli, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi di udara pasar itu, kata-katanya menggantung. Berat, ganjil, dan tak mudah dilupakan.
***
Bak pemain teater handal, adikku tampil dengan memukau, dengan gerak bibir, tangan, dan kaki yang sempurna. Ia juga berdiri di kursi, saat mengucapkan “Tuhan telah mati” dengan sempurna. Psikiater terpukau dengan aksi adikku. Ia menggenggam tangan adikku dan menyalaminya pada akhir pementasan itu. Bukan di halaman komunitas, atau gedung kesenian. Di ruang psikiatri! [T]
Denpasar, Oktober 2025
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole



























