3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
November 9, 2025
in Esai
Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MUNGKIN tanpa disadari kecerdasan buatan telah memicu gangguan mental – terutama pada pengguna yang terindikasi rapuh. Umumnya ini dialami generasi muda, baik generasi Y akhir maupun generasi Z – yang sejak lahir sudah menjadi warga digital. Di usianya, otak umumnya belum dikategorikan matang sehingga pertimbangan logisnya masih sangat kurang. Ini menjadi salah satu alarm bahaya kehidupan virtual yang dirasakan sekarang. Tanpa pengaturan nyata yang berpihak pada kemanusiaan, teknologi digital hanya akan menjadi penghancur peradaban manusia.

Kecerdasan buatan terus berproses pada level yang menguat, perlu ruang yang perlu dicermati dengan serius terkait dampak yang ditimbulkan oleh machine learning. Dengan kemampuan algoritmanya, mampu menerjemahkan instruksi-instruksi yang dituliskan sebagai pemantik (prompting). Sebut saja aplikasi percakapan virtual sebagai contoh kecerdasan buatan. Dengannya, pengguna bisa melakukan percakapan dengan aplikasi pintar untuk mencari bantuan dan dukungan emosional. Namun, jawaban yang disampaikan aplikasi tersebut bisa saja bersifat manipulatif, karena berbasis respon algoritmik.

Aktivitas digital tersebut membuat otak mendapat banyak informasi yang meningkatkan risiko: memicu kegelisahan – kelelahan mental, pikiran mudah terdistraksi dan bahkan bisa mengakibatkan depresi. Kondisi tersebut merepresentasikan brain rot atau pembusukan otak – tentu saja kata tersebut tidak menggambarkan pembusukan otak secara nyata.

Brain rot lebih didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental dan intelektual seseorang karena penggunaan konten daring yang berlebihan. Perilaku pengguliran petaka (doom scrolling) – pencarian informasi secara terus menerus dilakukan, meski sadar informasi itu berdampak pada kecanduan serta kegelisahan berlebihan. Tidak mengherankan jika Penerbit Universitas Oxford, Inggris, menobatkan brain rot ini sebagai Kata Terpilih Tahun 2024.

Dampak nyata dari brain rot dan belum matangnya otak tersebut membuat tantangan berat, terutama bagi generasi muda. Penggunaan teknologi – termasuk kecerdasan buatan, seharusnya bisa mensejahterakan pengguna, bukan justru memicu gangguan kesehatan mental. Kenyataannya, justru menimbulkan ancaman dan tantangan tersendiri bagi kesejahteraan di masa depan.

Alih-alih pengembang kecerdasan buatan memperhatikan pengujian keamanan yang memadai, mereka bahkan terkesan abai atas batasan antara alat dan teman digital. Pengembang kecerdasan buatan lebih berorientasi pada peningkatan keterlibatan pengguna dan pangsa pasar semata. Misalnya desain kecerdasan buatan yang bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan pengguna. Dengannya, pengguna akan terjerat secara emosional tanpa membedakan  jender, usia, dan latar belakangnya. Tidak ada perlindungan yang memadai bagi mereka.

Menurut data dalam laporan Strengthening ChatGPT Responses in Sensitive Conversations yang disampaikan OpenAI sebagai pengembang ChatGPT – ada sekitar 0.15 % atau 1,2 juta dari total 800 juta pengguna aktif mingguannya terindikasi depresi dan berniat bunuh diri dalam percakapan di aplikasi. Selain itu ada sekitar 0.07% atau 560.000 pengguna lainnya terindikasi dalam keadaan darurat kesehatan mental. Tidak bisa dipungkiri percakapan itu sulit untuk bisa dideteksi dan frekuensi terjadinya boleh dibilang sangat jarang.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang ini, informasi begitu deras membanjiri beranda dunia digital dan sekaligus beranda pikiran penggunanya. Ini yang acap kali memberi stimulus untuk melakukan diagnosa mandiri (self-diagnose). Akibatnya, asumsi-asumsi semu mulai menyerang mentalnya. Padahal belum tentu ada validasi yang menyimpulkan kebenarannya. Dalam tinjauan National Library of Medicine di Amerika Serikat pada tahun 2022, ditemukan bahwa algoritma pembelajaran dalam mesin kecerdasan buatan mampu mendeteksi gangguan mental yang berisiko bunuh diri dengan ketepatan tinggi.

Literasi digital sebagai salah satu alternatif untuk menyaring  dan memahami informasi yang membanjiri beranda dunia digital dan beranda pikiran warga digitalnya. Pemahaman tersebut mencakup kecakapan untuk berpikir kritis, kreatif, dan etis. Dengan demikian memungkinkan interaksi interaktif-edukatif di ruang digital dan menjadi sarana pemanfaatan teknologi yang sehat, bijak, dan bertanggungjawab.

Perkembangan teknologi juga mempengaruhi cara-cara baru dalam literasi digital. Platform digital misalnya, sudah menjadi tempat untuk menuliskan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Begitu pula penulis mempublikasikan karya tulisnya di dalam platform-platform digital yang ada di semesta digital.

Puisi dan penyairnya pun tidak ketinggalan memvisualisasikan imajinasi kritis, kreatif, dan puitis – atas apa yang direkamnya melalui: penglihatan, pendengaran, perenungan, dan pemaknaan. Dengan demikian tercipta ruang untuk diinterpretasikan oleh siapa pun, kapan pun, dan dalam perspektif apa pun.

Penyair dengan imajinasinya mampu memvisualisasikan keresahan sosial atas hadirnya kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap gangguan mental – menjadi sebuah puisi buatan yang cerdas. Melalui piranti puitik: diksi, metafora, dan satire – puisi adalah integrasi kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif pemikiran atas prompting yang dipikirkan penyair. Lalu apakah puisi juga bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan dan menjerat emosional pembaca? Mari kita simak salah satu puisi berjudul “Brain Rot” yang saya tulis dan diterbitkan di platform digital dan koran cetak Kaltim Post, 6 April 2025, berikut:

Brain Rot

Hidup ini berkarib dengan kesederhanaan yang rumit. Lalu, benarkah aku adalah juru tafsir atas kerumitan itu?

Bisa jadi thoreau menolak kerumitan yang disederhanakan — setidaknya di dalam walde yang ia tuliskan.

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan, yang terbaring di instalasi rawat inap. Rebahan. Asyik dengan konten recehan  sembari menunggu kunjungan dokter.

Baginya, tak ada kerumitan yang tak bisa disederhanakan. “Anda terdiagnosa symptoms brain rot,” begitu selorohnya.

Tak ada resep dari tangannya, selain gawainya yang diperlihatkan padaku, “Aku sedang konsultasi di halodoc agar aku terbebas dari doom scrolling.” Mungkin sesederhana itu kerumitan hidupnya.

Ungaran, Januari 2025

Puisi di atas setidaknya berusaha untuk bersifat sycophantic – menjerat emosional pembaca untuk berkarib dengan dua hal yang bertolak belakang: kesederhanaan yang rumit atau kerumitan yang sederhana. Salah satu atau keduanya mungkin yang menyebabkan symptoms brain rot.

Kata brain rot sudah digunakan Henry David Thoreau sejak tahun 1854 di dalam buku Walde – yang menceritakan pengalaman hidup sederhananya di alam. Kata tersebut menggambarkan kecenderungan masyarakat zaman itu merendahkan ide-ide kompleks dan menafsirkannya dengan berbagai cara agar terlihat sederhana.

Kondisi itulah yang dianggap Thoreau sebagai penurunan mental dan intelektual masyarakat. Hal ini sangat identik dengan definisi brain rot di zaman digital ini, 171 tahun sejak istilah itu muncul – brain rot didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental dan intelektual masyarakat digital karena penggunaan konten daring yang berlebihan.

Kembali ke puisi “Brain Rot” di atas – akulirik dalam puisi tersebut diidentikkan sebagai seorang penyintas kerumitan. Seorang yang gagal menyederhanakan kerumitan-kerumitan dalam kehidupannya. Salah satunya adalah kehidupan di dunia digital yang membuatnya terbaring sakit di “instalasi rawat inap” kerumitan yang ia buat sendiri. Karena pikirannya tersandera algoritma manipulatif yang tidak disadarinya – ketika sepenuhnya ia mempercayai kecerdasan buatan yang tidak mencerdaskannya.

Dengan satire, puisi itu menghadirkan seorang dokter – alih-alih ia memberikan diagnosa medis ke pasien, ia sendiri tak mampu melakukan self-diagnose atas symptoms doom scrolling yang menjangkitinya. Ia terus menerus mencari sumber kerumitan hidupnya dari algoritma yang tak mampu ia sederhanakan. Ia telah mengalami gangguan mental karena kegelisahan yang berlebihan.

Sebagai seorang dokter , ia bahkan abai atas batasan antara intelektualitas medis dan teman digital. Tak ada “resep” yang ia tuliskan untuk pasiennya agar sembuh dari segala kerumitan yang dikeluhkan. Ia sendiri telah menjadi pasien dari teman digitalnya – yang lagi-lagi tak mampu menyederhanakan kerumitan yang ia keluhkan.

Penyair seperti pengembang kecerdasan buatan – melalui puisi, ia tidak hanya mengajak pembaca masuk ke kontekstual ide dan gagasan, tapi juga memberikan informasi-informasi kekinian yang mencerdaskan. Puisi dan penyair serupa alat dan teman digital – saling terintegrasi dalam kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif dalam memvisualisasikan kontekstual permasalahan-permasalahan esensial. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkesehatan mentalPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Next Post

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co