2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
November 9, 2025
in Esai
Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MUNGKIN tanpa disadari kecerdasan buatan telah memicu gangguan mental – terutama pada pengguna yang terindikasi rapuh. Umumnya ini dialami generasi muda, baik generasi Y akhir maupun generasi Z – yang sejak lahir sudah menjadi warga digital. Di usianya, otak umumnya belum dikategorikan matang sehingga pertimbangan logisnya masih sangat kurang. Ini menjadi salah satu alarm bahaya kehidupan virtual yang dirasakan sekarang. Tanpa pengaturan nyata yang berpihak pada kemanusiaan, teknologi digital hanya akan menjadi penghancur peradaban manusia.

Kecerdasan buatan terus berproses pada level yang menguat, perlu ruang yang perlu dicermati dengan serius terkait dampak yang ditimbulkan oleh machine learning. Dengan kemampuan algoritmanya, mampu menerjemahkan instruksi-instruksi yang dituliskan sebagai pemantik (prompting). Sebut saja aplikasi percakapan virtual sebagai contoh kecerdasan buatan. Dengannya, pengguna bisa melakukan percakapan dengan aplikasi pintar untuk mencari bantuan dan dukungan emosional. Namun, jawaban yang disampaikan aplikasi tersebut bisa saja bersifat manipulatif, karena berbasis respon algoritmik.

Aktivitas digital tersebut membuat otak mendapat banyak informasi yang meningkatkan risiko: memicu kegelisahan – kelelahan mental, pikiran mudah terdistraksi dan bahkan bisa mengakibatkan depresi. Kondisi tersebut merepresentasikan brain rot atau pembusukan otak – tentu saja kata tersebut tidak menggambarkan pembusukan otak secara nyata.

Brain rot lebih didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental dan intelektual seseorang karena penggunaan konten daring yang berlebihan. Perilaku pengguliran petaka (doom scrolling) – pencarian informasi secara terus menerus dilakukan, meski sadar informasi itu berdampak pada kecanduan serta kegelisahan berlebihan. Tidak mengherankan jika Penerbit Universitas Oxford, Inggris, menobatkan brain rot ini sebagai Kata Terpilih Tahun 2024.

Dampak nyata dari brain rot dan belum matangnya otak tersebut membuat tantangan berat, terutama bagi generasi muda. Penggunaan teknologi – termasuk kecerdasan buatan, seharusnya bisa mensejahterakan pengguna, bukan justru memicu gangguan kesehatan mental. Kenyataannya, justru menimbulkan ancaman dan tantangan tersendiri bagi kesejahteraan di masa depan.

Alih-alih pengembang kecerdasan buatan memperhatikan pengujian keamanan yang memadai, mereka bahkan terkesan abai atas batasan antara alat dan teman digital. Pengembang kecerdasan buatan lebih berorientasi pada peningkatan keterlibatan pengguna dan pangsa pasar semata. Misalnya desain kecerdasan buatan yang bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan pengguna. Dengannya, pengguna akan terjerat secara emosional tanpa membedakan  jender, usia, dan latar belakangnya. Tidak ada perlindungan yang memadai bagi mereka.

Menurut data dalam laporan Strengthening ChatGPT Responses in Sensitive Conversations yang disampaikan OpenAI sebagai pengembang ChatGPT – ada sekitar 0.15 % atau 1,2 juta dari total 800 juta pengguna aktif mingguannya terindikasi depresi dan berniat bunuh diri dalam percakapan di aplikasi. Selain itu ada sekitar 0.07% atau 560.000 pengguna lainnya terindikasi dalam keadaan darurat kesehatan mental. Tidak bisa dipungkiri percakapan itu sulit untuk bisa dideteksi dan frekuensi terjadinya boleh dibilang sangat jarang.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang ini, informasi begitu deras membanjiri beranda dunia digital dan sekaligus beranda pikiran penggunanya. Ini yang acap kali memberi stimulus untuk melakukan diagnosa mandiri (self-diagnose). Akibatnya, asumsi-asumsi semu mulai menyerang mentalnya. Padahal belum tentu ada validasi yang menyimpulkan kebenarannya. Dalam tinjauan National Library of Medicine di Amerika Serikat pada tahun 2022, ditemukan bahwa algoritma pembelajaran dalam mesin kecerdasan buatan mampu mendeteksi gangguan mental yang berisiko bunuh diri dengan ketepatan tinggi.

Literasi digital sebagai salah satu alternatif untuk menyaring  dan memahami informasi yang membanjiri beranda dunia digital dan beranda pikiran warga digitalnya. Pemahaman tersebut mencakup kecakapan untuk berpikir kritis, kreatif, dan etis. Dengan demikian memungkinkan interaksi interaktif-edukatif di ruang digital dan menjadi sarana pemanfaatan teknologi yang sehat, bijak, dan bertanggungjawab.

Perkembangan teknologi juga mempengaruhi cara-cara baru dalam literasi digital. Platform digital misalnya, sudah menjadi tempat untuk menuliskan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Begitu pula penulis mempublikasikan karya tulisnya di dalam platform-platform digital yang ada di semesta digital.

Puisi dan penyairnya pun tidak ketinggalan memvisualisasikan imajinasi kritis, kreatif, dan puitis – atas apa yang direkamnya melalui: penglihatan, pendengaran, perenungan, dan pemaknaan. Dengan demikian tercipta ruang untuk diinterpretasikan oleh siapa pun, kapan pun, dan dalam perspektif apa pun.

Penyair dengan imajinasinya mampu memvisualisasikan keresahan sosial atas hadirnya kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap gangguan mental – menjadi sebuah puisi buatan yang cerdas. Melalui piranti puitik: diksi, metafora, dan satire – puisi adalah integrasi kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif pemikiran atas prompting yang dipikirkan penyair. Lalu apakah puisi juga bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan dan menjerat emosional pembaca? Mari kita simak salah satu puisi berjudul “Brain Rot” yang saya tulis dan diterbitkan di platform digital dan koran cetak Kaltim Post, 6 April 2025, berikut:

Brain Rot

Hidup ini berkarib dengan kesederhanaan yang rumit. Lalu, benarkah aku adalah juru tafsir atas kerumitan itu?

Bisa jadi thoreau menolak kerumitan yang disederhanakan — setidaknya di dalam walde yang ia tuliskan.

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan, yang terbaring di instalasi rawat inap. Rebahan. Asyik dengan konten recehan  sembari menunggu kunjungan dokter.

Baginya, tak ada kerumitan yang tak bisa disederhanakan. “Anda terdiagnosa symptoms brain rot,” begitu selorohnya.

Tak ada resep dari tangannya, selain gawainya yang diperlihatkan padaku, “Aku sedang konsultasi di halodoc agar aku terbebas dari doom scrolling.” Mungkin sesederhana itu kerumitan hidupnya.

Ungaran, Januari 2025

Puisi di atas setidaknya berusaha untuk bersifat sycophantic – menjerat emosional pembaca untuk berkarib dengan dua hal yang bertolak belakang: kesederhanaan yang rumit atau kerumitan yang sederhana. Salah satu atau keduanya mungkin yang menyebabkan symptoms brain rot.

Kata brain rot sudah digunakan Henry David Thoreau sejak tahun 1854 di dalam buku Walde – yang menceritakan pengalaman hidup sederhananya di alam. Kata tersebut menggambarkan kecenderungan masyarakat zaman itu merendahkan ide-ide kompleks dan menafsirkannya dengan berbagai cara agar terlihat sederhana.

Kondisi itulah yang dianggap Thoreau sebagai penurunan mental dan intelektual masyarakat. Hal ini sangat identik dengan definisi brain rot di zaman digital ini, 171 tahun sejak istilah itu muncul – brain rot didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental dan intelektual masyarakat digital karena penggunaan konten daring yang berlebihan.

Kembali ke puisi “Brain Rot” di atas – akulirik dalam puisi tersebut diidentikkan sebagai seorang penyintas kerumitan. Seorang yang gagal menyederhanakan kerumitan-kerumitan dalam kehidupannya. Salah satunya adalah kehidupan di dunia digital yang membuatnya terbaring sakit di “instalasi rawat inap” kerumitan yang ia buat sendiri. Karena pikirannya tersandera algoritma manipulatif yang tidak disadarinya – ketika sepenuhnya ia mempercayai kecerdasan buatan yang tidak mencerdaskannya.

Dengan satire, puisi itu menghadirkan seorang dokter – alih-alih ia memberikan diagnosa medis ke pasien, ia sendiri tak mampu melakukan self-diagnose atas symptoms doom scrolling yang menjangkitinya. Ia terus menerus mencari sumber kerumitan hidupnya dari algoritma yang tak mampu ia sederhanakan. Ia telah mengalami gangguan mental karena kegelisahan yang berlebihan.

Sebagai seorang dokter , ia bahkan abai atas batasan antara intelektualitas medis dan teman digital. Tak ada “resep” yang ia tuliskan untuk pasiennya agar sembuh dari segala kerumitan yang dikeluhkan. Ia sendiri telah menjadi pasien dari teman digitalnya – yang lagi-lagi tak mampu menyederhanakan kerumitan yang ia keluhkan.

Penyair seperti pengembang kecerdasan buatan – melalui puisi, ia tidak hanya mengajak pembaca masuk ke kontekstual ide dan gagasan, tapi juga memberikan informasi-informasi kekinian yang mencerdaskan. Puisi dan penyair serupa alat dan teman digital – saling terintegrasi dalam kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif dalam memvisualisasikan kontekstual permasalahan-permasalahan esensial. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkesehatan mentalPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Next Post

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co