3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
November 9, 2025
in Esai
Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MUNGKIN tanpa disadari kecerdasan buatan telah memicu gangguan mental – terutama pada pengguna yang terindikasi rapuh. Umumnya ini dialami generasi muda, baik generasi Y akhir maupun generasi Z – yang sejak lahir sudah menjadi warga digital. Di usianya, otak umumnya belum dikategorikan matang sehingga pertimbangan logisnya masih sangat kurang. Ini menjadi salah satu alarm bahaya kehidupan virtual yang dirasakan sekarang. Tanpa pengaturan nyata yang berpihak pada kemanusiaan, teknologi digital hanya akan menjadi penghancur peradaban manusia.

Kecerdasan buatan terus berproses pada level yang menguat, perlu ruang yang perlu dicermati dengan serius terkait dampak yang ditimbulkan oleh machine learning. Dengan kemampuan algoritmanya, mampu menerjemahkan instruksi-instruksi yang dituliskan sebagai pemantik (prompting). Sebut saja aplikasi percakapan virtual sebagai contoh kecerdasan buatan. Dengannya, pengguna bisa melakukan percakapan dengan aplikasi pintar untuk mencari bantuan dan dukungan emosional. Namun, jawaban yang disampaikan aplikasi tersebut bisa saja bersifat manipulatif, karena berbasis respon algoritmik.

Aktivitas digital tersebut membuat otak mendapat banyak informasi yang meningkatkan risiko: memicu kegelisahan – kelelahan mental, pikiran mudah terdistraksi dan bahkan bisa mengakibatkan depresi. Kondisi tersebut merepresentasikan brain rot atau pembusukan otak – tentu saja kata tersebut tidak menggambarkan pembusukan otak secara nyata.

Brain rot lebih didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental dan intelektual seseorang karena penggunaan konten daring yang berlebihan. Perilaku pengguliran petaka (doom scrolling) – pencarian informasi secara terus menerus dilakukan, meski sadar informasi itu berdampak pada kecanduan serta kegelisahan berlebihan. Tidak mengherankan jika Penerbit Universitas Oxford, Inggris, menobatkan brain rot ini sebagai Kata Terpilih Tahun 2024.

Dampak nyata dari brain rot dan belum matangnya otak tersebut membuat tantangan berat, terutama bagi generasi muda. Penggunaan teknologi – termasuk kecerdasan buatan, seharusnya bisa mensejahterakan pengguna, bukan justru memicu gangguan kesehatan mental. Kenyataannya, justru menimbulkan ancaman dan tantangan tersendiri bagi kesejahteraan di masa depan.

Alih-alih pengembang kecerdasan buatan memperhatikan pengujian keamanan yang memadai, mereka bahkan terkesan abai atas batasan antara alat dan teman digital. Pengembang kecerdasan buatan lebih berorientasi pada peningkatan keterlibatan pengguna dan pangsa pasar semata. Misalnya desain kecerdasan buatan yang bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan pengguna. Dengannya, pengguna akan terjerat secara emosional tanpa membedakan  jender, usia, dan latar belakangnya. Tidak ada perlindungan yang memadai bagi mereka.

Menurut data dalam laporan Strengthening ChatGPT Responses in Sensitive Conversations yang disampaikan OpenAI sebagai pengembang ChatGPT – ada sekitar 0.15 % atau 1,2 juta dari total 800 juta pengguna aktif mingguannya terindikasi depresi dan berniat bunuh diri dalam percakapan di aplikasi. Selain itu ada sekitar 0.07% atau 560.000 pengguna lainnya terindikasi dalam keadaan darurat kesehatan mental. Tidak bisa dipungkiri percakapan itu sulit untuk bisa dideteksi dan frekuensi terjadinya boleh dibilang sangat jarang.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang ini, informasi begitu deras membanjiri beranda dunia digital dan sekaligus beranda pikiran penggunanya. Ini yang acap kali memberi stimulus untuk melakukan diagnosa mandiri (self-diagnose). Akibatnya, asumsi-asumsi semu mulai menyerang mentalnya. Padahal belum tentu ada validasi yang menyimpulkan kebenarannya. Dalam tinjauan National Library of Medicine di Amerika Serikat pada tahun 2022, ditemukan bahwa algoritma pembelajaran dalam mesin kecerdasan buatan mampu mendeteksi gangguan mental yang berisiko bunuh diri dengan ketepatan tinggi.

Literasi digital sebagai salah satu alternatif untuk menyaring  dan memahami informasi yang membanjiri beranda dunia digital dan beranda pikiran warga digitalnya. Pemahaman tersebut mencakup kecakapan untuk berpikir kritis, kreatif, dan etis. Dengan demikian memungkinkan interaksi interaktif-edukatif di ruang digital dan menjadi sarana pemanfaatan teknologi yang sehat, bijak, dan bertanggungjawab.

Perkembangan teknologi juga mempengaruhi cara-cara baru dalam literasi digital. Platform digital misalnya, sudah menjadi tempat untuk menuliskan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Begitu pula penulis mempublikasikan karya tulisnya di dalam platform-platform digital yang ada di semesta digital.

Puisi dan penyairnya pun tidak ketinggalan memvisualisasikan imajinasi kritis, kreatif, dan puitis – atas apa yang direkamnya melalui: penglihatan, pendengaran, perenungan, dan pemaknaan. Dengan demikian tercipta ruang untuk diinterpretasikan oleh siapa pun, kapan pun, dan dalam perspektif apa pun.

Penyair dengan imajinasinya mampu memvisualisasikan keresahan sosial atas hadirnya kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap gangguan mental – menjadi sebuah puisi buatan yang cerdas. Melalui piranti puitik: diksi, metafora, dan satire – puisi adalah integrasi kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif pemikiran atas prompting yang dipikirkan penyair. Lalu apakah puisi juga bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan dan menjerat emosional pembaca? Mari kita simak salah satu puisi berjudul “Brain Rot” yang saya tulis dan diterbitkan di platform digital dan koran cetak Kaltim Post, 6 April 2025, berikut:

Brain Rot

Hidup ini berkarib dengan kesederhanaan yang rumit. Lalu, benarkah aku adalah juru tafsir atas kerumitan itu?

Bisa jadi thoreau menolak kerumitan yang disederhanakan — setidaknya di dalam walde yang ia tuliskan.

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan, yang terbaring di instalasi rawat inap. Rebahan. Asyik dengan konten recehan  sembari menunggu kunjungan dokter.

Baginya, tak ada kerumitan yang tak bisa disederhanakan. “Anda terdiagnosa symptoms brain rot,” begitu selorohnya.

Tak ada resep dari tangannya, selain gawainya yang diperlihatkan padaku, “Aku sedang konsultasi di halodoc agar aku terbebas dari doom scrolling.” Mungkin sesederhana itu kerumitan hidupnya.

Ungaran, Januari 2025

Puisi di atas setidaknya berusaha untuk bersifat sycophantic – menjerat emosional pembaca untuk berkarib dengan dua hal yang bertolak belakang: kesederhanaan yang rumit atau kerumitan yang sederhana. Salah satu atau keduanya mungkin yang menyebabkan symptoms brain rot.

Kata brain rot sudah digunakan Henry David Thoreau sejak tahun 1854 di dalam buku Walde – yang menceritakan pengalaman hidup sederhananya di alam. Kata tersebut menggambarkan kecenderungan masyarakat zaman itu merendahkan ide-ide kompleks dan menafsirkannya dengan berbagai cara agar terlihat sederhana.

Kondisi itulah yang dianggap Thoreau sebagai penurunan mental dan intelektual masyarakat. Hal ini sangat identik dengan definisi brain rot di zaman digital ini, 171 tahun sejak istilah itu muncul – brain rot didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental dan intelektual masyarakat digital karena penggunaan konten daring yang berlebihan.

Kembali ke puisi “Brain Rot” di atas – akulirik dalam puisi tersebut diidentikkan sebagai seorang penyintas kerumitan. Seorang yang gagal menyederhanakan kerumitan-kerumitan dalam kehidupannya. Salah satunya adalah kehidupan di dunia digital yang membuatnya terbaring sakit di “instalasi rawat inap” kerumitan yang ia buat sendiri. Karena pikirannya tersandera algoritma manipulatif yang tidak disadarinya – ketika sepenuhnya ia mempercayai kecerdasan buatan yang tidak mencerdaskannya.

Dengan satire, puisi itu menghadirkan seorang dokter – alih-alih ia memberikan diagnosa medis ke pasien, ia sendiri tak mampu melakukan self-diagnose atas symptoms doom scrolling yang menjangkitinya. Ia terus menerus mencari sumber kerumitan hidupnya dari algoritma yang tak mampu ia sederhanakan. Ia telah mengalami gangguan mental karena kegelisahan yang berlebihan.

Sebagai seorang dokter , ia bahkan abai atas batasan antara intelektualitas medis dan teman digital. Tak ada “resep” yang ia tuliskan untuk pasiennya agar sembuh dari segala kerumitan yang dikeluhkan. Ia sendiri telah menjadi pasien dari teman digitalnya – yang lagi-lagi tak mampu menyederhanakan kerumitan yang ia keluhkan.

Penyair seperti pengembang kecerdasan buatan – melalui puisi, ia tidak hanya mengajak pembaca masuk ke kontekstual ide dan gagasan, tapi juga memberikan informasi-informasi kekinian yang mencerdaskan. Puisi dan penyair serupa alat dan teman digital – saling terintegrasi dalam kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif dalam memvisualisasikan kontekstual permasalahan-permasalahan esensial. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkesehatan mentalPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Next Post

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co