24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
November 9, 2025
in Esai
Kecerdasan Buatan yang Sycophantic, Gangguan Mental, dan Puisi Buatan yang Mencerdaskan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MUNGKIN tanpa disadari kecerdasan buatan telah memicu gangguan mental – terutama pada pengguna yang terindikasi rapuh. Umumnya ini dialami generasi muda, baik generasi Y akhir maupun generasi Z – yang sejak lahir sudah menjadi warga digital. Di usianya, otak umumnya belum dikategorikan matang sehingga pertimbangan logisnya masih sangat kurang. Ini menjadi salah satu alarm bahaya kehidupan virtual yang dirasakan sekarang. Tanpa pengaturan nyata yang berpihak pada kemanusiaan, teknologi digital hanya akan menjadi penghancur peradaban manusia.

Kecerdasan buatan terus berproses pada level yang menguat, perlu ruang yang perlu dicermati dengan serius terkait dampak yang ditimbulkan oleh machine learning. Dengan kemampuan algoritmanya, mampu menerjemahkan instruksi-instruksi yang dituliskan sebagai pemantik (prompting). Sebut saja aplikasi percakapan virtual sebagai contoh kecerdasan buatan. Dengannya, pengguna bisa melakukan percakapan dengan aplikasi pintar untuk mencari bantuan dan dukungan emosional. Namun, jawaban yang disampaikan aplikasi tersebut bisa saja bersifat manipulatif, karena berbasis respon algoritmik.

Aktivitas digital tersebut membuat otak mendapat banyak informasi yang meningkatkan risiko: memicu kegelisahan – kelelahan mental, pikiran mudah terdistraksi dan bahkan bisa mengakibatkan depresi. Kondisi tersebut merepresentasikan brain rot atau pembusukan otak – tentu saja kata tersebut tidak menggambarkan pembusukan otak secara nyata.

Brain rot lebih didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental dan intelektual seseorang karena penggunaan konten daring yang berlebihan. Perilaku pengguliran petaka (doom scrolling) – pencarian informasi secara terus menerus dilakukan, meski sadar informasi itu berdampak pada kecanduan serta kegelisahan berlebihan. Tidak mengherankan jika Penerbit Universitas Oxford, Inggris, menobatkan brain rot ini sebagai Kata Terpilih Tahun 2024.

Dampak nyata dari brain rot dan belum matangnya otak tersebut membuat tantangan berat, terutama bagi generasi muda. Penggunaan teknologi – termasuk kecerdasan buatan, seharusnya bisa mensejahterakan pengguna, bukan justru memicu gangguan kesehatan mental. Kenyataannya, justru menimbulkan ancaman dan tantangan tersendiri bagi kesejahteraan di masa depan.

Alih-alih pengembang kecerdasan buatan memperhatikan pengujian keamanan yang memadai, mereka bahkan terkesan abai atas batasan antara alat dan teman digital. Pengembang kecerdasan buatan lebih berorientasi pada peningkatan keterlibatan pengguna dan pangsa pasar semata. Misalnya desain kecerdasan buatan yang bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan pengguna. Dengannya, pengguna akan terjerat secara emosional tanpa membedakan  jender, usia, dan latar belakangnya. Tidak ada perlindungan yang memadai bagi mereka.

Menurut data dalam laporan Strengthening ChatGPT Responses in Sensitive Conversations yang disampaikan OpenAI sebagai pengembang ChatGPT – ada sekitar 0.15 % atau 1,2 juta dari total 800 juta pengguna aktif mingguannya terindikasi depresi dan berniat bunuh diri dalam percakapan di aplikasi. Selain itu ada sekitar 0.07% atau 560.000 pengguna lainnya terindikasi dalam keadaan darurat kesehatan mental. Tidak bisa dipungkiri percakapan itu sulit untuk bisa dideteksi dan frekuensi terjadinya boleh dibilang sangat jarang.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang ini, informasi begitu deras membanjiri beranda dunia digital dan sekaligus beranda pikiran penggunanya. Ini yang acap kali memberi stimulus untuk melakukan diagnosa mandiri (self-diagnose). Akibatnya, asumsi-asumsi semu mulai menyerang mentalnya. Padahal belum tentu ada validasi yang menyimpulkan kebenarannya. Dalam tinjauan National Library of Medicine di Amerika Serikat pada tahun 2022, ditemukan bahwa algoritma pembelajaran dalam mesin kecerdasan buatan mampu mendeteksi gangguan mental yang berisiko bunuh diri dengan ketepatan tinggi.

Literasi digital sebagai salah satu alternatif untuk menyaring  dan memahami informasi yang membanjiri beranda dunia digital dan beranda pikiran warga digitalnya. Pemahaman tersebut mencakup kecakapan untuk berpikir kritis, kreatif, dan etis. Dengan demikian memungkinkan interaksi interaktif-edukatif di ruang digital dan menjadi sarana pemanfaatan teknologi yang sehat, bijak, dan bertanggungjawab.

Perkembangan teknologi juga mempengaruhi cara-cara baru dalam literasi digital. Platform digital misalnya, sudah menjadi tempat untuk menuliskan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Begitu pula penulis mempublikasikan karya tulisnya di dalam platform-platform digital yang ada di semesta digital.

Puisi dan penyairnya pun tidak ketinggalan memvisualisasikan imajinasi kritis, kreatif, dan puitis – atas apa yang direkamnya melalui: penglihatan, pendengaran, perenungan, dan pemaknaan. Dengan demikian tercipta ruang untuk diinterpretasikan oleh siapa pun, kapan pun, dan dalam perspektif apa pun.

Penyair dengan imajinasinya mampu memvisualisasikan keresahan sosial atas hadirnya kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap gangguan mental – menjadi sebuah puisi buatan yang cerdas. Melalui piranti puitik: diksi, metafora, dan satire – puisi adalah integrasi kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif pemikiran atas prompting yang dipikirkan penyair. Lalu apakah puisi juga bersifat sycophantic – terlalu menyenangkan dan menjerat emosional pembaca? Mari kita simak salah satu puisi berjudul “Brain Rot” yang saya tulis dan diterbitkan di platform digital dan koran cetak Kaltim Post, 6 April 2025, berikut:

Brain Rot

Hidup ini berkarib dengan kesederhanaan yang rumit. Lalu, benarkah aku adalah juru tafsir atas kerumitan itu?

Bisa jadi thoreau menolak kerumitan yang disederhanakan — setidaknya di dalam walde yang ia tuliskan.

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan, yang terbaring di instalasi rawat inap. Rebahan. Asyik dengan konten recehan  sembari menunggu kunjungan dokter.

Baginya, tak ada kerumitan yang tak bisa disederhanakan. “Anda terdiagnosa symptoms brain rot,” begitu selorohnya.

Tak ada resep dari tangannya, selain gawainya yang diperlihatkan padaku, “Aku sedang konsultasi di halodoc agar aku terbebas dari doom scrolling.” Mungkin sesederhana itu kerumitan hidupnya.

Ungaran, Januari 2025

Puisi di atas setidaknya berusaha untuk bersifat sycophantic – menjerat emosional pembaca untuk berkarib dengan dua hal yang bertolak belakang: kesederhanaan yang rumit atau kerumitan yang sederhana. Salah satu atau keduanya mungkin yang menyebabkan symptoms brain rot.

Kata brain rot sudah digunakan Henry David Thoreau sejak tahun 1854 di dalam buku Walde – yang menceritakan pengalaman hidup sederhananya di alam. Kata tersebut menggambarkan kecenderungan masyarakat zaman itu merendahkan ide-ide kompleks dan menafsirkannya dengan berbagai cara agar terlihat sederhana.

Kondisi itulah yang dianggap Thoreau sebagai penurunan mental dan intelektual masyarakat. Hal ini sangat identik dengan definisi brain rot di zaman digital ini, 171 tahun sejak istilah itu muncul – brain rot didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental dan intelektual masyarakat digital karena penggunaan konten daring yang berlebihan.

Kembali ke puisi “Brain Rot” di atas – akulirik dalam puisi tersebut diidentikkan sebagai seorang penyintas kerumitan. Seorang yang gagal menyederhanakan kerumitan-kerumitan dalam kehidupannya. Salah satunya adalah kehidupan di dunia digital yang membuatnya terbaring sakit di “instalasi rawat inap” kerumitan yang ia buat sendiri. Karena pikirannya tersandera algoritma manipulatif yang tidak disadarinya – ketika sepenuhnya ia mempercayai kecerdasan buatan yang tidak mencerdaskannya.

Dengan satire, puisi itu menghadirkan seorang dokter – alih-alih ia memberikan diagnosa medis ke pasien, ia sendiri tak mampu melakukan self-diagnose atas symptoms doom scrolling yang menjangkitinya. Ia terus menerus mencari sumber kerumitan hidupnya dari algoritma yang tak mampu ia sederhanakan. Ia telah mengalami gangguan mental karena kegelisahan yang berlebihan.

Sebagai seorang dokter , ia bahkan abai atas batasan antara intelektualitas medis dan teman digital. Tak ada “resep” yang ia tuliskan untuk pasiennya agar sembuh dari segala kerumitan yang dikeluhkan. Ia sendiri telah menjadi pasien dari teman digitalnya – yang lagi-lagi tak mampu menyederhanakan kerumitan yang ia keluhkan.

Penyair seperti pengembang kecerdasan buatan – melalui puisi, ia tidak hanya mengajak pembaca masuk ke kontekstual ide dan gagasan, tapi juga memberikan informasi-informasi kekinian yang mencerdaskan. Puisi dan penyair serupa alat dan teman digital – saling terintegrasi dalam kecerdasan emosional dan algoritma kritis-kreatif dalam memvisualisasikan kontekstual permasalahan-permasalahan esensial. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkesehatan mentalPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan, Surat, Paket dan Perantara

Next Post

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Pameran (Presentasi) Seni Andy SW “Fabel: Cerita Kawan-Kawan Tak Dikenal” dalam Pusaran #1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co