SETELAH empat hari pelaksanaan (30 Oktober – 2 November), Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 resmi ditutup dengan rangkaian pertunjukan spektakuler dari berbagai insan dan komunitas kreatif. Acara tersebut digelar di The Blanco Renaissance Museum, Ubud, Minggu malam, 2 November 2025.
Malam penutupan dibuka dengan apik oleh Komunitas Seni Lemah Tulis (Singaraja), yang menampilkan “Aguru Waktra: Reimagining Lontar Budha Kecapi”. Pertunjukan ini mengisahkan Kalimosada dan Kalimosadi — dua murid setia Budha Kecapi, seorang pertapa sekaligus tabib. Melalui kisah tersebut, pementasan ini mengajak penonton merenungkan kembali makna pengobatan tradisional: dari mana asal ramuan penyembuh, bagaimana kekuatan alam membentuk daya penyembuhannya, dan apakah alam masih mampu menopang tradisi penyembuhan di masa kini.
Para penonton yang sebagian besar wisatawan, tampak antusias dan berdecak kagum. Sorak sorai mengiringi langkah para pemain saat turun dari panggung.


Penampilan berikutnya datang dari Tan Lioe Ie, yang membawakan puisi musik “Aku Danau, Aku Laut” ditemani petikan gitar, serta pembacaan puisi Exorcism diiringi lantunan musik slow blues gubahannya sendiri. Suasana semakin hangat ketika Omar Musa — penulis, seniman visual, rapper, dan penyair asal Australia — naik ke panggung. Sebelum berpuisi, ia membuka dengan rap yang cepat dan padat, membuat penonton terpukau oleh kepiawaiannya mengolah kata dan ritme.
Usai tiga penampilan pembuka itu, acara berlanjut dengan sesi sambutan. Mario Blanco — pelukis, fotografer, dan penerus The Blanco Renaissance Museum — membuka sambutannya dengan mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang telah menyukseskan festival tahun ini.
“Di tahun yang ke-22 ini, saya berharap festival ini akan terus berlanjut sampai tahun ke-23, 24, 25, dan seterusnya,” ucapnya sambil tersenyum.
Mario Blanco juga sempat mengenang kisah tentang Don Antonio Blanco, sang ayah sekaligus pendiri museum. Cerita itu membuat suasana hening, penonton seolah sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur, mereka larut dalam kisah itu.


Dalam kesempatan yang sama, Janet DeNeefe selaku Founder & Director UWRF menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tim. “Setiap tahunnya, festival ini akan menjadi lebih baik. Dan tahun ini, sangat baik, dengan tim yang luar biasa,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan dengan nada hangat, “Keluarga Suardana dan Keluarga Blanco kini sudah jadi satu. Karena anak saya sudah menikahi anak Mario. Kini, sang cucu sedang dalam perjalanan,” ujarnya sembari tertawa ringan, disambut sorakan penonton.
Janet kemudian mengundang seluruh tim dan volunteer UWRF 2025 naik ke panggung untuk berfoto dan merayakan penutupan bersama-sama.


Selepas sesi itu, rangkaian pertunjukan kembali dilanjutkan. The Wayang Women, kelompok multinasional yang seluruh anggotanya perempuan, menampilkan cerita dengan judul “Wewe Gombel”. Pertunjukan meraka memang identik dengan kisah yang mengangkat sosok-sosok hantu perempuan dari cerita rakyat Asia Tenggara. Melalui wayang bayangan, musik live yang memadukan instrumen tradisional dengan lanskap suara elektronik, serta puisi lisan, mereka menghadirkan pertunjukan yang memikat secara visual dan emosional.
Sorotan lain malam itu datang dari Bottlesmokers, duo musik elektronik asal Indonesia yang menyajikan pengalaman auditori dan sensorial unik. Mereka menampilkan aksi interaktif dengan menjadikan beberapa buah nanas sebagai instrumen, dan mengajak penonton ikut mencoba memainkannya.

Sebagai puncak malam penutupan, Ika & The Soul Brothers menutup UWRF 2025 dengan hentakan musik disco, soul, dan funk. Irama yang riang dan enerjik membuat tak seorang pun mampu menahan diri untuk tidak ikut berjoget — menandai berakhirnya festival sastra bergengsi ini dalam suasana penuh keceriaan dan kebersamaan.
Dalam sambutannya, Janet DeNeefe turut menegaskan, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tidak berhenti sampai di sini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, festival ini akan terus diadakan secara rutin setiap tahun sebagai ruang bertemunya penulis, pembaca, dan pencinta seni dari berbagai penjuru dunia. Dengan semangat yang sama, UWRF akan terus menjadi wadah berbagi gagasan dan merayakan sastra dalam berbagai bentuknya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























