14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Octopus Queen, Kuil Terakhir di Bandieten Eiland

I Wayan Westa by I Wayan Westa
November 1, 2025
in Ulas Rupa
The Octopus Queen, Kuil Terakhir di Bandieten Eiland

Wayan Westa (penulis) dengan latar The Octopus Queen

Matahari tengah di atas kepala saat kami berdua, bersama Gede Sarjana Putra bolak-balik di seputaran Desa Bunga Mekar, Nusa Penida. Kami hendak datang ke Bukit Sidu, menengok The Octopus Queen, patung bambu karya seniman I Ketut Putrayasa, tak jauh dari Pantai Uwug yang kini lebih popular dengan sebutan Broken Beach. Pantai yang tengah disambangi ribuan turis dari segala penjuru dunia.

Saban hari, lebih dari 3.000 kendaraan menyemut ke pantai ini, melintasi jalan berkapur penuh debu, semata hendak menonton pemandangan dramatis ̶ menikmati deburan ombak membentur-bentur batu karang ̶ seperti perang abadi diserung blokade ”pasukan” bukit-bukit gersang kecoklatan, ibarat sabana dibakar musim panas, bentang alam penuh pukau, dalam bayangan hari esok tak tentu.

Lacur, beberapa kali kami ”harus” tersesat, blingsutan di tengah jalan seakan hendak menebak-nebak masa depan pulau yang kini dikerubuti ribuan turis, dirangsek investor, dijanjakan masif para maklar. Ada lima dermaga tradisional. Dua pelabuhan; di Sampalan dan Toya Pakeh adalah yang paling ramai. Hotel, ratusan villa berdiri di bukit-bukit kapur berbatu, berderet di tepi pantai yang belum tertata rapih. Jalan-jalan tak seberapa luas, tanpa drainase. Bila hujan air meluber ke mana-mana.

Tidak terlihat lagi petani rumput laut berendam di samudera, membenih bibit dengan punggung legam, saat mana di tahun 1980-an merupakan budi daya unggulan. Cubang-cubang penampung air warisan Presiden Suharto yang pernah berkunjung ke pulau ini di tahun 1983 nyaris kerontang, rusak, terbengkalai. Di Nusa Penida kehadiran air seperti takdir yang ditunggu-tunggu. Nelayan- nelayan beralih profesi menjadi tukang ojek, pemandu wisata, pelayan villa, calo tanah, atau tukang ”pondong” barang dari pelabuhan. Air adalah persoalan krusial di pulau ini. Di dataran tinggi, di desa Tanglad misalnya, masyarakat biasa menjual sapi untuk membeli air. ”Dulu kami jual dua ekor sapi untuk membangun dua penampung air,” ujar salah seorang petani buah naga di desa ini.

Di jalan menuju Bukit Sidu, langit sedang dibakar matahari ̶ panasnya seperti memanggang kegagapan kami pada pulau, yang dalam catatan-catatan birokrat kolonial disebut sebagai Bandieten Eiland. Disebut Bandieten Eiland; karena sejak zaman Kerajaan Klungkung pulau ini dijadikan tempat membuang para bromocorah dan musuh kerajaan. Di pulau tandus ini mereka dihukum, menghitung hari kapan dibebaskan, atau menemu ajal lebih awal.

Sejarawan Ida Bagus Sidemen, pengajar ilmu sejarah dari Universitas Udayana telah melakukan studi pendahuluan cukup menantang soal ini. Dalam thesis berjudul: Masalah Pembuangan Dalam Abad 19 di Nusa Penida[1980], Ida Bagus Sidemen mencatat rinci latar belakang pembuangan itu. Nama-nama mereka yang dibuang, dan alasan-alasan kenapa mereka dijatuhi hukuman itu. Pastinya mereka melawan kebijakan raja, melanggar tertib sosial kerajaan.

Kenapa Nusa Penida dipilih sebagai tempat pembuangan penjahat kerajaan? Pertama, jelas karena alasan geografis ̶ jarak yang jauh dari pusat kerajaan, dan berada di seberang lautan. Kedua, pulau tandus dan berawa, merupakan sarang nyamuk malaria. Dulu, di sisi utara dan timur pulau ini keadaan selalu lembab dan basah karena rawa-rawa. Desa Jungut Batu, Desa Ped, Desa Batununggul, dan Desa Penida adalah sejumlah desa yang memiliki kondisi seperti ini. Ke tempat inilah para penjahat, musuh kerajaan dibuang, dengan tujuan; mereka cepat menemu ajal. Namun banyak juga yang bertahan hingga beranak-pianak, terutama wanita yang didalih melakukan kejahatan ilmu hitam [ ngleak, neluh neranjana]. Mereka menikah dengan warga setempat, membangun keluarga baru.

Selain di daerah berawa, ada pula yang dibuang di perbukitan tandus, kering dan berkapur. Saat musim kemarau, mereka menghadapi kehausan maut, dehidrasi akut menyebabkan mereka tewas. Batumadeg dan Batukandik adalah dua desa dengan alam terganas ketika itu. Di sini mereka menjalani hukuman kerja paksa, membuka ladang baru; menanam jagung, umbi-umbian, serta kacang-kacangan untuk keperluan pasar di ibu kota kerajaan. Mengingat kondisi begitu terik, kekurangan sangu, banyak dari mereka tidak kuat, tercekik kehausan, lalu mati.

Kini, lebih dari dua puluh tahun, pulau ini berubah total. Jalan-jalan beraspal. Di Sampalan pelabuhan dibangun lumayan mewah. Di Bias Munjul, Ceningan satu pelabuhan mewah tak berfungsi, entah apa sebabnya. Sementara tanah-tanah di pinggir pantai banyak beralih kepemilikan. ”Dulu di tahun 1990-an, satu hektar tanah ini cuma ditukar satu sepeda motor Honda Prima,” ujar Nengah Lasia, menunjuk areal tanah terjual, salah seorang penjaga warung minuman, tak jauh dari Pantai Broken Beach. Hingga hari ini, Nusa Penida menjadi destinasi wisata paling menantang.

Pulau Penundukan demi Penundukan

Sebagai pulau tandus berkapur, dengan medan yang tak ramah, Nusa Penida memiliki jejak panjang dalam lintasan sejarah politik kerajaan Bali dan Jawa. Catatan paling tua perihal pulau ini bisa kita baca dari keterangan Prasasti Blanjong, Sanur, Denpasar. Nun, di tahun 913 Masehi, tepatnya 1.112 tahun silam, nama pulau ini bukanlah Nusa Penida. Dicatatkan dalam prasasti itu; nama awal pulau ini adalah Gurun. Raja Bali, Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama yang menundukkan pulau ini. Tidak ada data terbaca, kenapa Gurun harus ditaklukkan, kenapa ia dianggap musuh. Prasasti Blanjong cuma menyurat keterangan pendek, ”di Gurun di Suwal dahumalahang musuh”. Artinya;[ baginda] telah mengalahkan musuh di Gurun di Suwal.

Sampai di sini, Prasasti Blanjong kemudian menjadi persaksian paling tua perihal penundukan Nusa Penida. Empat ratus tiga puluh tahun kemudian, setelah Sri Kesari menundukkan Gurun, tepatnya di tahun 1343, Mpu Prapanca memberi kita kesaksian lewat Kakawin Negarakertagama, bahwa Gurun berada dalam koloni Kerajaan Majapahit. Kendati Prof.Dr. Slametmulyana menafsir kata ”Gurun” sebagai Pulau Lombok, bukan Nusa Penida. Sementara, sejarawan Muhammad Yamin bersikukuh, menyatakan; Gurun adalah Nusa Penida.

Catatan Nusa Penida sebagai koloni kerajaan besar tak cukup sampai zaman Majapahit. Dalam periode Kerajaan Gelgel, di zaman pemerintahan Dalem Watu Renggong [1480-1550], raja memutuskan menaklukkan Nusa Penida, yang saat itu diperintah Ratu Sawang. Alasanya; karena Ratu Sawang dianggap berlaku kejam pada rakyat serta terhendus hendak memberontak pada raja Bali. Dukut Petak, pemimpin laskar Gelgel saat itu berhasil membunuh Ratu Sawang.

Nun kemudian, saat pemerintahan Dalem Di Made [1557 -1573], Gelgel melakukan penyerangan kembali ke Nusa Panida. Seorang penguasa baru bernama Dalem Bungkut, sekali lagi dituduh memerintah dengan kejam dan sewenang-wenang dan berniat melakukan penyerangan pada Negeri Gelgel. Dengan perhitungan, Dalem Bungkut harus dituntaskan.

Kali ini laskar Gelgel mendapat lawan sepadan, menyebabkan Dalem Di Made melakukan dua kali serangan ke Nusa Penida. Serangan pertama Gelgel dipimpin I Gusti Paminggir ̶ di mana dengan gampang laskar Gelgel dipukul mundur pasukan Dalem Bungkut. Baru pada serangan kedua, pasukan Gelgel, di bawah panglima perang I Gusti Jelantik Bogol, membawa serta 80 orang pasukan elit[ sejenis kopasus], Dalem Bungkut berhasil dibunuh. Ini sekaligus menjadi serangan terakhir pada Nusa Penida sampai kerajaan Klungkung berdiri di tahun 1686 dengan dinobatkannya I Dewa Agung Jambe, Raja pertama dinasti Klungkung setelah periode Gelgel.

Muncul pertanyaan, sejak kapan nama Gurun berubah menjadi Nusa Penida? Tak ditemukan catatan tertulis. Namun menurut NN Van der Tuuk, penulis Kawi-Balineesch-Nederlandsch [1897-1912] kata ”panida” berpadanan dengan arti ”kapur”. Dan sampai di sini, julukan Nusa Panida, boleh jadi berarti Pulau Kapur atau Pulau Berkapur. Sementara Claire Holt, menyebut Nusa Penida sebagai Thus a small Siberia of Bali.

Perihal bagaimana kehidupan pulau ini dari waktu ke waktu, belum ditemukan studi antropolgi komperehensif. Zaman bergerak cepat, hingga jejaring nirkabel memberi kita potongan-potongan manuskrip tak lengkap, sejarah baru tiba-tiba sampai di depan mata kita ̶ sebagaimana Nusa Penida kini menjadi objek hidup yang canggung, terpinggirkan, pelan-pelan dibelit gurita kapitalisme, modal gelap menggulung bak gurita. Bandit baru bernama oligarki merayap senyap. Dulu ia ditundukkan senjata, kini ditekuk regulasi, undang-undang dan aturan investasi. Ini penguasaan yang sah. Jakarta membereskan dengan senyap, regulasinya jelas. Di situ, penduduk asli lalu tak cukup menjadi penonton. Bila pun bukan dengan agresi, secara simbolik pulau ini sesungguhnya menjadi pulau penundukan demi penundukan. Lewat kedigjayaan modal, satu pulau bisa ”diklik’ dari batas-batas benoa – dan di wilayah target banyak ”londo hitam” siap jadi ’jagal’ lapangan.

Berhala Baru dan Kuil Modernitas

Matahari tengah miring ke barat ketika kami sampai di Bukit Sidu. Untuk sampai ke tempat ini memerlukan nyali yang liat, vitalitas yang terjaga. Jalan seadanya, rusak berat, berlobang. Kerap menurun terjal, menaik dengan kemiringan nyaris vertikal. Namun betapa lega kami saat sampai di pucak – menginjak tanah landai lumayan luas, menikmati langit biru, samudera biru bertemu di titik jauh mata memandang. Lazuardi nan indah.

Sungguh lanskap alam mengagumkan, arsitektur semesta tiada tara. Dari ketinggian tebing bukit, kita seakan berada di dunia lain, penuh fantasi dan khayal dalam bayangan kengerian ngarai laut curam. Samudera luas dalam blokade bukit-bukit tangguh. Telah jutaan tahun ombak-ombak beradu, membentur-bentur batu karang, ibarat tikai tak pernah usai, seperti juga hidup dalam benturan-benturan keinginan, selalu tak berkurang rasa puas. Begitulah usaha ombak menuju pantai ̶ seperti mewakili kegigihan Ketut Putrayasa mengwujudkan karya kreatif di tebing bukit terjal – dalam terik dan hujan.

Di sisi kiri, di ketinggian bukit mungil, menjorok ke tepi laut, berdiri patung bambu mengusik mata. Dilihat dari mana pun patung ini terlihat fantastis, unik, simbolik, menatap sayu. Sekilas terlihat tidak menyentuh tanah, seperti alien turun ke bumi. Entah, patung ini tak cuma menjadi ”ratu” baru di pulau tandus, akan tetapi; ikon simbolik tak mudah dibaca awam. Gagasan otentik dalam sublimasi estetik – filosofi yang dibadankan. Hadir tak cuma memantik daya pukau, akan tetapi menjadi ’iklan” gratis pulau gersang. Selayak elit di Klungkung berterima kasih pada seniman muda ini. Tayangan-tayangan media sosial patung ini ditonton jutaan netizen.

Patung menatap sayu, menggenggam serta bunga teratai, dadanya kosong, sanggulnya dibelit gurita, hewan laut paling ganas. Entah sang seniman tengah menerawang masa depan pulau, atau sedang memberi sinyal; bahwa di pulau gersang ini ada jutaan harapan baik ̶ atau sebaliknya; sebagaimana gambaran dada patung ini, menyimpan nganga, ruang kosong – di mana semua orang berpotensi jatuh ke lubang gelap, ke nganga abadi materialisme, dan di situ, pulau ini akan menjadi sarkofagus pemuja tubuh. Diburu para peraya hidup hedon. Ia yang cuek apa itu surga, tapi rajin berbela kemanusiaan.

I Ketut Putrayasa, sang penggagas patung menamai karya ini; The Octopus Queen ̶ Ratu Gurita membawa teratai. ”Ratu” setinggi 25 meter, dengan lebar 12 meter dikerjakan nyaris lima bulanan ̶ menghabiskan kurang lebih 10 truk bambu, melibatkan hampir 400 orang pekerja seni. Medan yang tak bersahabat, terjal, jalan seadanya, dan angin kencang menjadikan situasi pembangunan patung ini ibarat retret, dikerjakan penuh perhitungan, kesabaran, kehati-hatian, guna memenuhi presisi bentang alam supaya patung itu tidak berdiri-sendiri cuma menjadi seonggok anyaman bambu. Betang alam, keluasan lingkungan diperhitungkan menjadi satu tarikan nafas land art.

The Octopus Queen Bukit Sidu boleh jadi termasuk seni lingkungan paling spektakuler. Istilah estetiknya; environmental sculptures. Semua elemen bentang alam terakumulasi menjadi keseluruhan lanskap utuh. Bukit-bukit terjal menguning, tebing-tebing curam mengerikan, batu karang digempur ombak, pohon-pohon merangas, suara burung laut, gelombang samudera tinggi, dan topografi unik menjadi bagian utuh karya peraih penghargaan MURI ini.

Mengutip pandangan kritikus patung Pius Prio Wibowo, bila lukisan cuma mengandalkan ekspresi, gairah dan karakter, patung mengandalkan pengalaman kebertubuhan dalam ruang dan waktu. The Octopus Queen tentu dikerjakan dengan hikmat kebertubuhan melampaui teknik – di mana ide dan materi padat [bambu] terbangun harmoni. Seluruh bidang tubuh patung dekerjakan dengan teknik ”ulat-ulatan”, dianyam, dirupa sesui grafis yang digambar seniman. Dan jadilahThe Octopus Queen itu simbol baru pembawa pesan bebas tafsir. Entah ia menjadi sebentuk perlawanan, kritik, esai simbolik, alarm untuk masa depan pulau ̶ atau harapan yang senantiasa mekar sebagaimana bunga teratai dalam genggaman Ratu Gurita. Menjadikan diri sebagai pulau emas masa depan Bali.

Sebagai seni lingkungan, Putrayasa menghadirkan lanskap baru bahwa; patung bukan semata pajangan seni yang cair, gampang dinikmati siapa saja. Ini boleh jadi kritik progresif pada kebudayaan, kritik pada cara-cara kita memperlakukan lingkungan, cibiran perihal bagaimana kekuasaan dan oligarki memporanda bentang alam yang kini tengah masif di Bali. Bertimbal arah dengan jargon-jargon harmoni dibuat penguasa, dari gincu Tri Hita Karana hingga Sat Kertih Loka Bali. Sampai di titik ini, seni lalu menjadi semacam monumen perlawanan, gugatan sunyi seorang kreator yang gelisah pada pulaunya.

Putrayasa tidak melawan dengan wacana, ia melawan dengan sayatan-sayatan simbolik, bambu-bambu tipis ibarat sembilu, bahwa di situ, di kepala ratu gurita terpendam tidak hanya harapan baik, tapi kuasa diam yang mengerikan. Sebagaimana sejak silam diingatkan teks tua kakawin Niti Sastra: ular cuma beracun di kepala, tapi manusia [membawa gurita] beracun di seluruh tubuh. Sampai pada kelokan ini, sang seniman mewanti; betapa berbahayanya kekuatan modal bila pemimpinnya juga terjerat gurita. ”Pemimpin yang bermodal kelamin, pasti mudah terjerat gurita,” guyon Ketut Putrayasa.

Sebagai kritik kebudayaan,Putrayasa sendiri menyodorkan karyanya sebagai ”berhala modernitas” di mana pada titik terujung pencarian manusia modern kerap terjebak ke lumpur hidup, tengkurap pada pesona materi, dan mati di jalan nikmat tubuh. Bukankah kini tanda-tanda kian jelas? Orang suci, politikus, seniman, alih-alih pedagang tengkurap di kaki dewa uang. Mereka menjual apa saja, termasuk menjual wacana-wacana suci demi uang.

Di situ, di tanah landai Bukit Sidu, saya membayangkan kelak ia menjadi kuil modern masa depan ̶ di mana semua kenikmatan tubuh, surga dunia, mulai dari cara-cara menikmati hidup, cara-cara mencapai orgasme tubuh ̶ hingga jalan mati penuh nikmat dijual laris. Ia menjadi surga yang nyata, tempat orang-orang kaya ’bersuci diri” dengan bir dan anggur, tarian striptis, private spa menggiurkan, melepas mumet dengan psikotropika.

Ia beda dengan Nusa Penida sisi utara tempat orang-orang Bali bersimpuh di Pura Penataran Ped, mengepulkan asap dupa, menangkupkan tangan, menikmati percikan tirta dalam bayang-bayang surga setelah mati. Sementara di Bukit Sidu akan terhidang surga yang hidup. Pemuja yang dimanja tehnologi canggih, memegang ponsel rancangan Elon Musk, yang berkayal mau hidup di Planet Mars.

Lalu, dalam bayangan senja, saat matahari mulai redup ke tepi laut, kami undur diri dari Bukit Sidu, turis-turis bergegas balik dari Broken Beach. Terlihat siluet Ratu Gurita yang sayu, diterpa matahari lembut, melintas burung laut tiba-tiba hilang. Kami pandangi The Octopus Queen dengan perasaan sedikit masgul. Entah; sesaat setelah didengar, bahwa tanah-tanah di sekitarnya bukan lagi milik anak-anak leluhur Pulau Gurun; inikah ratu terakhir di pulau ini? Kuil alam yang segera lenyap, diseruduk modal digjaya, dijagal regulasi kompromi wakil rakyat. Kami pulang dengan nganga sedih, sok idealis, sementara dikantong cuma ada 75 ribu, ongkos naik ”boat” pulang ke Gunaksa. [T]

Nb. Tulisan ini adalah bagian dari proyek penulisan buku antologi seni, disponsori Canggu Institute.

Tags: I Ketut PutrayasaI Wayan WestaKetut PutrayasaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lautan Toga pada Wisuda Pertama Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Next Post

Hujan Bulan November: antara Puisi, Lagu, dan Realitas

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Hujan Bulan November: antara Puisi, Lagu, dan Realitas

Hujan Bulan November: antara Puisi, Lagu, dan Realitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co