12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Octopus Queen, Kuil Terakhir di Bandieten Eiland

I Wayan Westa by I Wayan Westa
November 1, 2025
in Ulas Rupa
The Octopus Queen, Kuil Terakhir di Bandieten Eiland

Wayan Westa (penulis) dengan latar The Octopus Queen

Matahari tengah di atas kepala saat kami berdua, bersama Gede Sarjana Putra bolak-balik di seputaran Desa Bunga Mekar, Nusa Penida. Kami hendak datang ke Bukit Sidu, menengok The Octopus Queen, patung bambu karya seniman I Ketut Putrayasa, tak jauh dari Pantai Uwug yang kini lebih popular dengan sebutan Broken Beach. Pantai yang tengah disambangi ribuan turis dari segala penjuru dunia.

Saban hari, lebih dari 3.000 kendaraan menyemut ke pantai ini, melintasi jalan berkapur penuh debu, semata hendak menonton pemandangan dramatis ̶ menikmati deburan ombak membentur-bentur batu karang ̶ seperti perang abadi diserung blokade ”pasukan” bukit-bukit gersang kecoklatan, ibarat sabana dibakar musim panas, bentang alam penuh pukau, dalam bayangan hari esok tak tentu.

Lacur, beberapa kali kami ”harus” tersesat, blingsutan di tengah jalan seakan hendak menebak-nebak masa depan pulau yang kini dikerubuti ribuan turis, dirangsek investor, dijanjakan masif para maklar. Ada lima dermaga tradisional. Dua pelabuhan; di Sampalan dan Toya Pakeh adalah yang paling ramai. Hotel, ratusan villa berdiri di bukit-bukit kapur berbatu, berderet di tepi pantai yang belum tertata rapih. Jalan-jalan tak seberapa luas, tanpa drainase. Bila hujan air meluber ke mana-mana.

Tidak terlihat lagi petani rumput laut berendam di samudera, membenih bibit dengan punggung legam, saat mana di tahun 1980-an merupakan budi daya unggulan. Cubang-cubang penampung air warisan Presiden Suharto yang pernah berkunjung ke pulau ini di tahun 1983 nyaris kerontang, rusak, terbengkalai. Di Nusa Penida kehadiran air seperti takdir yang ditunggu-tunggu. Nelayan- nelayan beralih profesi menjadi tukang ojek, pemandu wisata, pelayan villa, calo tanah, atau tukang ”pondong” barang dari pelabuhan. Air adalah persoalan krusial di pulau ini. Di dataran tinggi, di desa Tanglad misalnya, masyarakat biasa menjual sapi untuk membeli air. ”Dulu kami jual dua ekor sapi untuk membangun dua penampung air,” ujar salah seorang petani buah naga di desa ini.

Di jalan menuju Bukit Sidu, langit sedang dibakar matahari ̶ panasnya seperti memanggang kegagapan kami pada pulau, yang dalam catatan-catatan birokrat kolonial disebut sebagai Bandieten Eiland. Disebut Bandieten Eiland; karena sejak zaman Kerajaan Klungkung pulau ini dijadikan tempat membuang para bromocorah dan musuh kerajaan. Di pulau tandus ini mereka dihukum, menghitung hari kapan dibebaskan, atau menemu ajal lebih awal.

Sejarawan Ida Bagus Sidemen, pengajar ilmu sejarah dari Universitas Udayana telah melakukan studi pendahuluan cukup menantang soal ini. Dalam thesis berjudul: Masalah Pembuangan Dalam Abad 19 di Nusa Penida[1980], Ida Bagus Sidemen mencatat rinci latar belakang pembuangan itu. Nama-nama mereka yang dibuang, dan alasan-alasan kenapa mereka dijatuhi hukuman itu. Pastinya mereka melawan kebijakan raja, melanggar tertib sosial kerajaan.

Kenapa Nusa Penida dipilih sebagai tempat pembuangan penjahat kerajaan? Pertama, jelas karena alasan geografis ̶ jarak yang jauh dari pusat kerajaan, dan berada di seberang lautan. Kedua, pulau tandus dan berawa, merupakan sarang nyamuk malaria. Dulu, di sisi utara dan timur pulau ini keadaan selalu lembab dan basah karena rawa-rawa. Desa Jungut Batu, Desa Ped, Desa Batununggul, dan Desa Penida adalah sejumlah desa yang memiliki kondisi seperti ini. Ke tempat inilah para penjahat, musuh kerajaan dibuang, dengan tujuan; mereka cepat menemu ajal. Namun banyak juga yang bertahan hingga beranak-pianak, terutama wanita yang didalih melakukan kejahatan ilmu hitam [ ngleak, neluh neranjana]. Mereka menikah dengan warga setempat, membangun keluarga baru.

Selain di daerah berawa, ada pula yang dibuang di perbukitan tandus, kering dan berkapur. Saat musim kemarau, mereka menghadapi kehausan maut, dehidrasi akut menyebabkan mereka tewas. Batumadeg dan Batukandik adalah dua desa dengan alam terganas ketika itu. Di sini mereka menjalani hukuman kerja paksa, membuka ladang baru; menanam jagung, umbi-umbian, serta kacang-kacangan untuk keperluan pasar di ibu kota kerajaan. Mengingat kondisi begitu terik, kekurangan sangu, banyak dari mereka tidak kuat, tercekik kehausan, lalu mati.

Kini, lebih dari dua puluh tahun, pulau ini berubah total. Jalan-jalan beraspal. Di Sampalan pelabuhan dibangun lumayan mewah. Di Bias Munjul, Ceningan satu pelabuhan mewah tak berfungsi, entah apa sebabnya. Sementara tanah-tanah di pinggir pantai banyak beralih kepemilikan. ”Dulu di tahun 1990-an, satu hektar tanah ini cuma ditukar satu sepeda motor Honda Prima,” ujar Nengah Lasia, menunjuk areal tanah terjual, salah seorang penjaga warung minuman, tak jauh dari Pantai Broken Beach. Hingga hari ini, Nusa Penida menjadi destinasi wisata paling menantang.

Pulau Penundukan demi Penundukan

Sebagai pulau tandus berkapur, dengan medan yang tak ramah, Nusa Penida memiliki jejak panjang dalam lintasan sejarah politik kerajaan Bali dan Jawa. Catatan paling tua perihal pulau ini bisa kita baca dari keterangan Prasasti Blanjong, Sanur, Denpasar. Nun, di tahun 913 Masehi, tepatnya 1.112 tahun silam, nama pulau ini bukanlah Nusa Penida. Dicatatkan dalam prasasti itu; nama awal pulau ini adalah Gurun. Raja Bali, Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama yang menundukkan pulau ini. Tidak ada data terbaca, kenapa Gurun harus ditaklukkan, kenapa ia dianggap musuh. Prasasti Blanjong cuma menyurat keterangan pendek, ”di Gurun di Suwal dahumalahang musuh”. Artinya;[ baginda] telah mengalahkan musuh di Gurun di Suwal.

Sampai di sini, Prasasti Blanjong kemudian menjadi persaksian paling tua perihal penundukan Nusa Penida. Empat ratus tiga puluh tahun kemudian, setelah Sri Kesari menundukkan Gurun, tepatnya di tahun 1343, Mpu Prapanca memberi kita kesaksian lewat Kakawin Negarakertagama, bahwa Gurun berada dalam koloni Kerajaan Majapahit. Kendati Prof.Dr. Slametmulyana menafsir kata ”Gurun” sebagai Pulau Lombok, bukan Nusa Penida. Sementara, sejarawan Muhammad Yamin bersikukuh, menyatakan; Gurun adalah Nusa Penida.

Catatan Nusa Penida sebagai koloni kerajaan besar tak cukup sampai zaman Majapahit. Dalam periode Kerajaan Gelgel, di zaman pemerintahan Dalem Watu Renggong [1480-1550], raja memutuskan menaklukkan Nusa Penida, yang saat itu diperintah Ratu Sawang. Alasanya; karena Ratu Sawang dianggap berlaku kejam pada rakyat serta terhendus hendak memberontak pada raja Bali. Dukut Petak, pemimpin laskar Gelgel saat itu berhasil membunuh Ratu Sawang.

Nun kemudian, saat pemerintahan Dalem Di Made [1557 -1573], Gelgel melakukan penyerangan kembali ke Nusa Panida. Seorang penguasa baru bernama Dalem Bungkut, sekali lagi dituduh memerintah dengan kejam dan sewenang-wenang dan berniat melakukan penyerangan pada Negeri Gelgel. Dengan perhitungan, Dalem Bungkut harus dituntaskan.

Kali ini laskar Gelgel mendapat lawan sepadan, menyebabkan Dalem Di Made melakukan dua kali serangan ke Nusa Penida. Serangan pertama Gelgel dipimpin I Gusti Paminggir ̶ di mana dengan gampang laskar Gelgel dipukul mundur pasukan Dalem Bungkut. Baru pada serangan kedua, pasukan Gelgel, di bawah panglima perang I Gusti Jelantik Bogol, membawa serta 80 orang pasukan elit[ sejenis kopasus], Dalem Bungkut berhasil dibunuh. Ini sekaligus menjadi serangan terakhir pada Nusa Penida sampai kerajaan Klungkung berdiri di tahun 1686 dengan dinobatkannya I Dewa Agung Jambe, Raja pertama dinasti Klungkung setelah periode Gelgel.

Muncul pertanyaan, sejak kapan nama Gurun berubah menjadi Nusa Penida? Tak ditemukan catatan tertulis. Namun menurut NN Van der Tuuk, penulis Kawi-Balineesch-Nederlandsch [1897-1912] kata ”panida” berpadanan dengan arti ”kapur”. Dan sampai di sini, julukan Nusa Panida, boleh jadi berarti Pulau Kapur atau Pulau Berkapur. Sementara Claire Holt, menyebut Nusa Penida sebagai Thus a small Siberia of Bali.

Perihal bagaimana kehidupan pulau ini dari waktu ke waktu, belum ditemukan studi antropolgi komperehensif. Zaman bergerak cepat, hingga jejaring nirkabel memberi kita potongan-potongan manuskrip tak lengkap, sejarah baru tiba-tiba sampai di depan mata kita ̶ sebagaimana Nusa Penida kini menjadi objek hidup yang canggung, terpinggirkan, pelan-pelan dibelit gurita kapitalisme, modal gelap menggulung bak gurita. Bandit baru bernama oligarki merayap senyap. Dulu ia ditundukkan senjata, kini ditekuk regulasi, undang-undang dan aturan investasi. Ini penguasaan yang sah. Jakarta membereskan dengan senyap, regulasinya jelas. Di situ, penduduk asli lalu tak cukup menjadi penonton. Bila pun bukan dengan agresi, secara simbolik pulau ini sesungguhnya menjadi pulau penundukan demi penundukan. Lewat kedigjayaan modal, satu pulau bisa ”diklik’ dari batas-batas benoa – dan di wilayah target banyak ”londo hitam” siap jadi ’jagal’ lapangan.

Berhala Baru dan Kuil Modernitas

Matahari tengah miring ke barat ketika kami sampai di Bukit Sidu. Untuk sampai ke tempat ini memerlukan nyali yang liat, vitalitas yang terjaga. Jalan seadanya, rusak berat, berlobang. Kerap menurun terjal, menaik dengan kemiringan nyaris vertikal. Namun betapa lega kami saat sampai di pucak – menginjak tanah landai lumayan luas, menikmati langit biru, samudera biru bertemu di titik jauh mata memandang. Lazuardi nan indah.

Sungguh lanskap alam mengagumkan, arsitektur semesta tiada tara. Dari ketinggian tebing bukit, kita seakan berada di dunia lain, penuh fantasi dan khayal dalam bayangan kengerian ngarai laut curam. Samudera luas dalam blokade bukit-bukit tangguh. Telah jutaan tahun ombak-ombak beradu, membentur-bentur batu karang, ibarat tikai tak pernah usai, seperti juga hidup dalam benturan-benturan keinginan, selalu tak berkurang rasa puas. Begitulah usaha ombak menuju pantai ̶ seperti mewakili kegigihan Ketut Putrayasa mengwujudkan karya kreatif di tebing bukit terjal – dalam terik dan hujan.

Di sisi kiri, di ketinggian bukit mungil, menjorok ke tepi laut, berdiri patung bambu mengusik mata. Dilihat dari mana pun patung ini terlihat fantastis, unik, simbolik, menatap sayu. Sekilas terlihat tidak menyentuh tanah, seperti alien turun ke bumi. Entah, patung ini tak cuma menjadi ”ratu” baru di pulau tandus, akan tetapi; ikon simbolik tak mudah dibaca awam. Gagasan otentik dalam sublimasi estetik – filosofi yang dibadankan. Hadir tak cuma memantik daya pukau, akan tetapi menjadi ’iklan” gratis pulau gersang. Selayak elit di Klungkung berterima kasih pada seniman muda ini. Tayangan-tayangan media sosial patung ini ditonton jutaan netizen.

Patung menatap sayu, menggenggam serta bunga teratai, dadanya kosong, sanggulnya dibelit gurita, hewan laut paling ganas. Entah sang seniman tengah menerawang masa depan pulau, atau sedang memberi sinyal; bahwa di pulau gersang ini ada jutaan harapan baik ̶ atau sebaliknya; sebagaimana gambaran dada patung ini, menyimpan nganga, ruang kosong – di mana semua orang berpotensi jatuh ke lubang gelap, ke nganga abadi materialisme, dan di situ, pulau ini akan menjadi sarkofagus pemuja tubuh. Diburu para peraya hidup hedon. Ia yang cuek apa itu surga, tapi rajin berbela kemanusiaan.

I Ketut Putrayasa, sang penggagas patung menamai karya ini; The Octopus Queen ̶ Ratu Gurita membawa teratai. ”Ratu” setinggi 25 meter, dengan lebar 12 meter dikerjakan nyaris lima bulanan ̶ menghabiskan kurang lebih 10 truk bambu, melibatkan hampir 400 orang pekerja seni. Medan yang tak bersahabat, terjal, jalan seadanya, dan angin kencang menjadikan situasi pembangunan patung ini ibarat retret, dikerjakan penuh perhitungan, kesabaran, kehati-hatian, guna memenuhi presisi bentang alam supaya patung itu tidak berdiri-sendiri cuma menjadi seonggok anyaman bambu. Betang alam, keluasan lingkungan diperhitungkan menjadi satu tarikan nafas land art.

The Octopus Queen Bukit Sidu boleh jadi termasuk seni lingkungan paling spektakuler. Istilah estetiknya; environmental sculptures. Semua elemen bentang alam terakumulasi menjadi keseluruhan lanskap utuh. Bukit-bukit terjal menguning, tebing-tebing curam mengerikan, batu karang digempur ombak, pohon-pohon merangas, suara burung laut, gelombang samudera tinggi, dan topografi unik menjadi bagian utuh karya peraih penghargaan MURI ini.

Mengutip pandangan kritikus patung Pius Prio Wibowo, bila lukisan cuma mengandalkan ekspresi, gairah dan karakter, patung mengandalkan pengalaman kebertubuhan dalam ruang dan waktu. The Octopus Queen tentu dikerjakan dengan hikmat kebertubuhan melampaui teknik – di mana ide dan materi padat [bambu] terbangun harmoni. Seluruh bidang tubuh patung dekerjakan dengan teknik ”ulat-ulatan”, dianyam, dirupa sesui grafis yang digambar seniman. Dan jadilahThe Octopus Queen itu simbol baru pembawa pesan bebas tafsir. Entah ia menjadi sebentuk perlawanan, kritik, esai simbolik, alarm untuk masa depan pulau ̶ atau harapan yang senantiasa mekar sebagaimana bunga teratai dalam genggaman Ratu Gurita. Menjadikan diri sebagai pulau emas masa depan Bali.

Sebagai seni lingkungan, Putrayasa menghadirkan lanskap baru bahwa; patung bukan semata pajangan seni yang cair, gampang dinikmati siapa saja. Ini boleh jadi kritik progresif pada kebudayaan, kritik pada cara-cara kita memperlakukan lingkungan, cibiran perihal bagaimana kekuasaan dan oligarki memporanda bentang alam yang kini tengah masif di Bali. Bertimbal arah dengan jargon-jargon harmoni dibuat penguasa, dari gincu Tri Hita Karana hingga Sat Kertih Loka Bali. Sampai di titik ini, seni lalu menjadi semacam monumen perlawanan, gugatan sunyi seorang kreator yang gelisah pada pulaunya.

Putrayasa tidak melawan dengan wacana, ia melawan dengan sayatan-sayatan simbolik, bambu-bambu tipis ibarat sembilu, bahwa di situ, di kepala ratu gurita terpendam tidak hanya harapan baik, tapi kuasa diam yang mengerikan. Sebagaimana sejak silam diingatkan teks tua kakawin Niti Sastra: ular cuma beracun di kepala, tapi manusia [membawa gurita] beracun di seluruh tubuh. Sampai pada kelokan ini, sang seniman mewanti; betapa berbahayanya kekuatan modal bila pemimpinnya juga terjerat gurita. ”Pemimpin yang bermodal kelamin, pasti mudah terjerat gurita,” guyon Ketut Putrayasa.

Sebagai kritik kebudayaan,Putrayasa sendiri menyodorkan karyanya sebagai ”berhala modernitas” di mana pada titik terujung pencarian manusia modern kerap terjebak ke lumpur hidup, tengkurap pada pesona materi, dan mati di jalan nikmat tubuh. Bukankah kini tanda-tanda kian jelas? Orang suci, politikus, seniman, alih-alih pedagang tengkurap di kaki dewa uang. Mereka menjual apa saja, termasuk menjual wacana-wacana suci demi uang.

Di situ, di tanah landai Bukit Sidu, saya membayangkan kelak ia menjadi kuil modern masa depan ̶ di mana semua kenikmatan tubuh, surga dunia, mulai dari cara-cara menikmati hidup, cara-cara mencapai orgasme tubuh ̶ hingga jalan mati penuh nikmat dijual laris. Ia menjadi surga yang nyata, tempat orang-orang kaya ’bersuci diri” dengan bir dan anggur, tarian striptis, private spa menggiurkan, melepas mumet dengan psikotropika.

Ia beda dengan Nusa Penida sisi utara tempat orang-orang Bali bersimpuh di Pura Penataran Ped, mengepulkan asap dupa, menangkupkan tangan, menikmati percikan tirta dalam bayang-bayang surga setelah mati. Sementara di Bukit Sidu akan terhidang surga yang hidup. Pemuja yang dimanja tehnologi canggih, memegang ponsel rancangan Elon Musk, yang berkayal mau hidup di Planet Mars.

Lalu, dalam bayangan senja, saat matahari mulai redup ke tepi laut, kami undur diri dari Bukit Sidu, turis-turis bergegas balik dari Broken Beach. Terlihat siluet Ratu Gurita yang sayu, diterpa matahari lembut, melintas burung laut tiba-tiba hilang. Kami pandangi The Octopus Queen dengan perasaan sedikit masgul. Entah; sesaat setelah didengar, bahwa tanah-tanah di sekitarnya bukan lagi milik anak-anak leluhur Pulau Gurun; inikah ratu terakhir di pulau ini? Kuil alam yang segera lenyap, diseruduk modal digjaya, dijagal regulasi kompromi wakil rakyat. Kami pulang dengan nganga sedih, sok idealis, sementara dikantong cuma ada 75 ribu, ongkos naik ”boat” pulang ke Gunaksa. [T]

Nb. Tulisan ini adalah bagian dari proyek penulisan buku antologi seni, disponsori Canggu Institute.

Tags: I Ketut PutrayasaI Wayan WestaKetut PutrayasaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lautan Toga pada Wisuda Pertama Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Next Post

Hujan Bulan November: antara Puisi, Lagu, dan Realitas

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Bulan November: antara Puisi, Lagu, dan Realitas

Hujan Bulan November: antara Puisi, Lagu, dan Realitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co