MALAM raya di acara Open House serangkaian kegiatan “INSPIRATION 2025” Himpunan Jurusan Bahasa Asing Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha, didatangi banyak pengunjung, yang reratanya adalah anak muda.
Sebagian dari mereka adalah mahasiswa, sebagian lagi adalah siswa-siswi masih SMA. Mereka datang ke Wantilan Teruna Jaya, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Jum’at, 17 Oktober.
“Open House ini, salah satu cara kami untuk bergembira bersama di sela merayakan ulang tahun bahasa asing yang ke-6. Di sini, mereka yang datang agar juga lebih dekat dengan FBS serta prodi-prodinya,” kata I Gusti Agung Raditya Maheswara, Ketua Panitia.
Acara itu digelar selama tiga hari dari tanggal 17, 18 dan 19 Oktober, dan 171 mahasiswa ikut terlibat sebagai panitia untuk mensukseskannya.
Beragam kegiatan dilakukan di acara itu, seperti lomba dan pentas seni. Dan malam itu, para pengunjung datang secara acak untuk menikmati kudapan yang dihidangkan oleh para panitia.
Ada photo booth dan pertunjukan kostum berjalan oleh para cosplayer anime atau juga biasa disebut Jejepangan, dan jasa tato temporary.
Kemudian ada juga stand-stand kuliner khas Jepang, dan pameran buku dan barong Bali di areal lapangan utama.


Di wantilan, tampak seperti festival malam dengan kegiatan yang ringan, yang lebih menekankan pada suasana yang asik dengan menabur banyak hiburan selain stand-stand berjejer untuk dikunjungi di areal lapangan
Seorang penyanyi solo Rista Kirana membuka acara itu dengan suara emasnya menghibur siapa saja yang datang, yang bergandengan atau yang datang sendiri. Kemudian menyusul Chesia juga penyanyi solo, dan JOKI duet vokal, Teen Monster dan SYNCO.
Selain penampilan tarik suara, ada juga modern dance dan coswalk (oleh para cosplayer dari kegiatan Jejepangan). Sedang pertunjukan tari tradisional Jepang, Bon Odori, dipertunjukan oleh mahasiswa prodi Bahasa Jepang, ya, selain mereka juga menampilkan satu stand Nigokasei yang memamerkan banyak busana khas negara bunga sakura itu pada acara Open House.
Bon Odori itu ditarikan Sekar, Alya, Tiwi, Gung Dyah, Kenanga, Anggita, dan Nadya, dengan ceria di atas panggung.


“Bon odori itu tarian khas Musim panas di Jepang, yang dipersembahkan buat menyambut para leluhur. Nah, tarian nya ada dua, yaitu Tokyo Ondo dan Tanko Bushi,” kata Fieldy, koordinator pertunjukan Bon Odori dan stand Nigokasei.
Lebih lanjut, Fieldy, mahasiswa prodi Bahasa Jepang, menjelaskan tarian Tokyo Ondo biasanya dilakukan oleh perempuan yang sedang memandang bulan.
“Berbeda dengan Tanko Bushi. Yang melambangkan seorang pekerja tambang seperti batu bara, sehingga dalam tarian itu, lebih banyak gerakan meniru gerakan penambang yang sedang menambang, dan membawa peralatan tambang,” lanjutnya.
Kedua tarian ini sering dilakukan pada acara festival musim panas di Jepang. Dan malam itu, di bawah lampu-lampu yang menggantung dengan bendera pesta juga digantung-berderet di tali memanjang, mengkhiasi lapangan utama. Para pengunjung menikmatinya sambil ditaburi cahaya krem—sambil makan jajak takoyaki.
“Biasanya di tengahnya itu ada api unggun, itu di Jepang. Kalo kami hanya menirukannya saja,” kata Fieldy.

Setelah itu, para cosplayer melakukan coswalk di atas panggung, mengenalkan baju yang dikenakannya kepada para penonton diambil dari karakter apa. Para peserta menjelaskannya kemudian.
Salah satu peserta coswalk Dewa Nyoman Sugi Indrawan atau nama panggungnya Sugi, membawa tongkat sihir Cyro elemen ice milik Abyss Mage, dari sebuah game ganshin impact.
“Abyss Mage adalah monster yang ngeselin, yang suka membekuk player. Saya suka karena karakternya tuh pendiam, tapi suka nyerang tiba-tiba,” kata Sugi mengapa dirinya memilih Abyss Mage dengan warna biru lebih dominan pada kostum, dengan topeng berwajah gelap dan seram.
Ketika di atas panggung itulah Sugi mencoba menirukan gaya Abyss Mage sebagai monster yang menakutkan—ceritanya. Tongkat ditodongkan pada para penonton seakan tongkat itu bakal mengeluarkan sihir yang berbahaya.
Tentu, para penonton terkejut, apalagi Sugi melakukannya sembari jingkrak-jingkrak, menandakan dirinya sebagai monster yang aktif dan berdarah dingin.
Sugi memang suka cosplay menjadi berbagai macam karakter yang jahat, baik dalam sebuah game yang ia suka maupun dari serial anime yang ia tonton dan suka.
“Saya suka cosplay berawal dari nonton anime judulnya High school DXD,” kata Sugi.
Yaitu sebuah serial anime dari Jepang yang menceritakan seorang pemuda, nama karakternya Hyodou Issei, yang ingin menciptakan harm atau poligami, namun dibunuh oleh iblis.


Tapi untuk pertama kali Sugi cosplay, ia memilih untuk menjadi karakter Aizen sousuke, yaitu sesosok karakter jahat pada serial film anime Bleach dengan kadar kejahatan sangat hebat, terutama dalam memanipulasi lawan.
Kemudian usai Sugi chaswalk di atas panggung tadi, penampilannya ternyata menarik salah satu pengunjung bernama Sofi.
Sofi asalnya dari Bandung, ia kuliah di Undiksha baru semester satu di Prodi Bahasa Inggris. Ia mengajak Sugi untuk berfoto bersama, karena karakternya yang serem dan unik, juga peniruan atas gaya Abyss Mage-nya Sugi, dianggap cukup lincah.
Tapi syukur, tongkat yang ditodongkan oleh Sugi ketika cashwolk tidak membuat Sofi tersihir jadi es, juga ketika Sofi memegang tongkat itu di sela berfoto. Astungkare. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























