12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Papua, Cerita, Manusia dan Kerendahan Hati — Catatan dari Festival Sastra Sorong

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
October 11, 2025
in Tualang
Papua, Cerita, Manusia dan Kerendahan Hati — Catatan dari Festival Sastra Sorong

Acara Festival Sastra Sorong di Sorong, Papua Barat Daya

SAYA harus berterima kasih pada Suhardi Aras yang membuat saya bisa tiba di tanah Papua.  Sudah sejak kecil saya membayangkan Papua. Diam-diam selalu berharap bisa sekali saja ke Papua dalam hidup saya. Seperti ada sesuatu yang memanggil dari dalam jiwa.

Dan, saya berterima kasih pada Suhardi Aras. Ia sahabat saya dalam dunia literasi dan sastra. Ia pendiri Rumah Kata Sorong. Dan ia mengundang saya untuk datang ke Festival Sastra Sorong di ibukota Provinsi Papua Barat Daya. Ia mengundang saya sebagai pembicara dalam festival itu.

Undangan Suhardi Aras adalah buah dari keyakinan saya yang tumbuh dari tahun ke tahun, bahwa saya akan hadir di Papua di suatu masa. Lalu tibalah masa itu. Tibalah undangan Suhardi Aras.

Tentu saja, undangan Suhardi Aras bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Sejak bertemu di Konsorsium Festival Sastra Nasional di Makasar, Mei 2025, kami, dan pengelola festival lain, memang punya kesepakatan untuk saling mendukung.

Saya dalam konteks sebagai pengelola festival juga memahami bahwa penguatan ekosistem festival sastra sangat penting, terutama bagi pengelola festival. Kami menyadari bahwa festival sastra memiliki peran vital dalam kemajuan literasi daerah, penguatan jejaring kebudayaan yang beragam, dan juga penguatan identitas daerah.

Satu hal lagi, sesama pengelola kami menyadari bahwa kami harus saling menguatkan secara mental. Hal ini sangat penting karena menyelenggarakan festival bukanlah perkara mudah, malah sangat kompleks. Ketika kami mengadakan festival di tempat masing-masing, kami perlu saling mendukung dan menguatkan.

Akhirnya Suhardi lebih awal menawarkan bantuan mengirim volunteer di festival yang saya kelola, Singaraja Literary Festival (SLF). Sebanyak hampir sembilan relawan  diterjunkan dan direncanakan hadir dalam SLF. Sejak persiapan Mei hingga mendekati Juli.

Namun kendala administrasi menyebabkan relawan tidak jadi berangkat, namun hanya bisa membantu secara online saja. Lalu setelah SLF berlalu, saya pun ditawari untuk menjadi pembicara di Festival Sastra Sorong. Sayapun menyambut dengan hangat. Sebab, mana mungkin saya menolak.

Saya mendarat di Airport Domine Eduard Osok, pada tanggal 9 Oktober 2025.  Saya dijemput Zora, relawan Rumah Kata Sorong yang juga membantu sebagai relawan di SLF. Zora memberitahukan bahwa Sorong banjir. Sayapun melihat hujan masih deras. Beruntung pesawat mendarat aman. Sore menjelang malam hujan terus turun. Kami hanya makan malam dan lalu beristirahat.

Keesokan harinya, 10 Oktober. Saya memberikan workshop penulisan cerpen. Tiga puluh peserta mengikuti workshop ini. Mereka adalah gabungan siswa, mahasiswa, guru, hingga jurnalis. Saya merasakan sebuah  kehangatan. Sebuah sambutan.

Ada tiga proses dalam workshop ini. Pertama pembacaan karya cerpen saya sebagai pembuka, lalu pemberian materi penulisan cerpen, lalu proses penulisan cerpen. Mereka menyimak dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pembacaan karya saya, penyampaian, dan juga merespon latihan menulis dengan tekun.

Ada beberapa gagasan cerpen lahir yang saya ingat betul. Gagasan dari Rizal soal hutan dan ibu yang menjaga hutan, adalah persoalan antara cinta yang akhirnya kalah oleh senjata. Hutan yang dirawat dengan cinta harus roboh karena senjata. Gagasan cerpen ini menarik bagi saya karena persoalan ini tentulah menjadi hal yang menggugah hati, karena cinta seorang ibu kepada hutan harus dibayar nyawa.

Yang kedua, dari Maria. Dia menulis soal tokoh yang muda yang terlihat baik-baik saja, namun harus terkena virus HIV/AIDS karena sebuah kesalahan yang tak terduga. Kompleksitas isu pendidikan, kesehatan, sosial menjadi sangat tebal disini.

Ada juga Rusniati yang menulis soal perempuan, bahwa di sebuah keluarga dengan tujuh anak perempuan, harapan tetap harus dipelihara, bahwa pendidikan diupayakan adil bagi semua saudara. Hal-hal seperti ini sangat menarik ditulis.

Dan tentu, merekalah yang paling paham persoalannya, sekaligus penyelesaiannya, jika ada. Solusi tidak pernah benar-benar harus ada dalam konteks cerpen, namun paling tidak dia menyisakan satu daya reflektif yang kuat. Apa yang harus dilakukan berikutnya. 

Saya merasa Papua indah karena dua hal. Manusianya dan kerendahatiannya. Saya merasa memang Tuhan memilihkan waktu terbaik bagi saya untuk tiba di Papua saat saya benar-benar siap dan semesta mewujudkannya melalui sahabat-sahabat baik hati.

Saya bertemu Suhardi Aras, tentu saja, dialah penggerak literasi di Sorong. Lalu ada Zora yang memastikan agenda saya di Sorong. Ada Nabila yang khusus memesankan tiket. Ada Jul yang menjadi LO di hotel, ada Rizal sang koordinator workshop yang juga membantu saya mengkurasi hasil workshop. Ada sopir Pak Chairul yang juga standby menemani. Semua dari mereka sangat hangat dan manis.

Di Sorong saya juga bertemu jejaring festival sastra dan jajaran penulis. Ada Aan Mansyur dari Makasar International Writers Festival. Ada Windy Ariestanti pengelola pasar buku keliling. Ada Shinta Febriany dari Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia). Ada Luna Vidya penulis dan performer dari Makasar.

Ada juga Rebecca dan Zulkifli dari MTN (Manajemen Talenta Nasional) Kementerian Kebudayaan RI, ada juga Sanne Breimer penulis dari Belanda. Kami berkumpul untuk saling berbagi rasa dalam konteks penguatan jejaring dan ekosistem kebudayaan. Pertemuan di festival seringkali terasa sangat menyenangkan.

Lalu apa selanjutnya. Eksplorasi alam. Tanggal 11 Oktober saya memutuskan ke Raja Ampat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya bulat pergi. Bersama sahabat saya Sanne Breimer, kami bangun pagi dan menuju Pelabuhan Usahamina. Di sana kami disambut tur guide yang sangat ramah, Alon dan Juan. Dua pemuda ini sangat menikmati perannya sebagai tur guide, selalu tersenyum dan memberikan vibrasi positif.

Setelah 3 jam di speedboat, kami tiba di Raja Ampat. Luar biasa indahnya. Kami terkesima. Siapapun mengakui bahwa Raja Ampat seperti serpihan surga yang ada di dunia. Kami menjelajahi beberapa tempat, dimulai dari Piaynemo, Telaga Bintang, hingga Kampung Wisata Sauwandarek, surganya snorkelling. Lalu berakhir di Pasir Timbul. Seluruh tur ini menghabiskan waktu 12 jam. Melelahkan, juga menyenangkan.

Saya tiba di hotel sudah malam. Bahagia rasanya sudah mampir di Papua. Besok pagi, 12 Oktober, saya menyiapkan diri pulang ke Bali. Satu versi baru lahir hari ini. Versi baru yang memiliki sudut pandang baru, Papua dan kisahnya. [T]

Sorong, 11 Oktober 2025

Penulis: Kadek Sonia Piscayanti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Festival Sastra SorongKadek Sonia PiscayantiPapua Barat Dayasastrasorong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baris Gede Telek dan Gending Ancag-Ancagan dari Denpasar Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Next Post

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Penyusup di Taman Kita

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Redi Aryanto | Penyusup di Taman Kita

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Penyusup di Taman Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co