14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Papua, Cerita, Manusia dan Kerendahan Hati — Catatan dari Festival Sastra Sorong

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
October 11, 2025
in Tualang
Papua, Cerita, Manusia dan Kerendahan Hati — Catatan dari Festival Sastra Sorong

Acara Festival Sastra Sorong di Sorong, Papua Barat Daya

SAYA harus berterima kasih pada Suhardi Aras yang membuat saya bisa tiba di tanah Papua.  Sudah sejak kecil saya membayangkan Papua. Diam-diam selalu berharap bisa sekali saja ke Papua dalam hidup saya. Seperti ada sesuatu yang memanggil dari dalam jiwa.

Dan, saya berterima kasih pada Suhardi Aras. Ia sahabat saya dalam dunia literasi dan sastra. Ia pendiri Rumah Kata Sorong. Dan ia mengundang saya untuk datang ke Festival Sastra Sorong di ibukota Provinsi Papua Barat Daya. Ia mengundang saya sebagai pembicara dalam festival itu.

Undangan Suhardi Aras adalah buah dari keyakinan saya yang tumbuh dari tahun ke tahun, bahwa saya akan hadir di Papua di suatu masa. Lalu tibalah masa itu. Tibalah undangan Suhardi Aras.

Tentu saja, undangan Suhardi Aras bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Sejak bertemu di Konsorsium Festival Sastra Nasional di Makasar, Mei 2025, kami, dan pengelola festival lain, memang punya kesepakatan untuk saling mendukung.

Saya dalam konteks sebagai pengelola festival juga memahami bahwa penguatan ekosistem festival sastra sangat penting, terutama bagi pengelola festival. Kami menyadari bahwa festival sastra memiliki peran vital dalam kemajuan literasi daerah, penguatan jejaring kebudayaan yang beragam, dan juga penguatan identitas daerah.

Satu hal lagi, sesama pengelola kami menyadari bahwa kami harus saling menguatkan secara mental. Hal ini sangat penting karena menyelenggarakan festival bukanlah perkara mudah, malah sangat kompleks. Ketika kami mengadakan festival di tempat masing-masing, kami perlu saling mendukung dan menguatkan.

Akhirnya Suhardi lebih awal menawarkan bantuan mengirim volunteer di festival yang saya kelola, Singaraja Literary Festival (SLF). Sebanyak hampir sembilan relawan  diterjunkan dan direncanakan hadir dalam SLF. Sejak persiapan Mei hingga mendekati Juli.

Namun kendala administrasi menyebabkan relawan tidak jadi berangkat, namun hanya bisa membantu secara online saja. Lalu setelah SLF berlalu, saya pun ditawari untuk menjadi pembicara di Festival Sastra Sorong. Sayapun menyambut dengan hangat. Sebab, mana mungkin saya menolak.

Saya mendarat di Airport Domine Eduard Osok, pada tanggal 9 Oktober 2025.  Saya dijemput Zora, relawan Rumah Kata Sorong yang juga membantu sebagai relawan di SLF. Zora memberitahukan bahwa Sorong banjir. Sayapun melihat hujan masih deras. Beruntung pesawat mendarat aman. Sore menjelang malam hujan terus turun. Kami hanya makan malam dan lalu beristirahat.

Keesokan harinya, 10 Oktober. Saya memberikan workshop penulisan cerpen. Tiga puluh peserta mengikuti workshop ini. Mereka adalah gabungan siswa, mahasiswa, guru, hingga jurnalis. Saya merasakan sebuah  kehangatan. Sebuah sambutan.

Ada tiga proses dalam workshop ini. Pertama pembacaan karya cerpen saya sebagai pembuka, lalu pemberian materi penulisan cerpen, lalu proses penulisan cerpen. Mereka menyimak dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pembacaan karya saya, penyampaian, dan juga merespon latihan menulis dengan tekun.

Ada beberapa gagasan cerpen lahir yang saya ingat betul. Gagasan dari Rizal soal hutan dan ibu yang menjaga hutan, adalah persoalan antara cinta yang akhirnya kalah oleh senjata. Hutan yang dirawat dengan cinta harus roboh karena senjata. Gagasan cerpen ini menarik bagi saya karena persoalan ini tentulah menjadi hal yang menggugah hati, karena cinta seorang ibu kepada hutan harus dibayar nyawa.

Yang kedua, dari Maria. Dia menulis soal tokoh yang muda yang terlihat baik-baik saja, namun harus terkena virus HIV/AIDS karena sebuah kesalahan yang tak terduga. Kompleksitas isu pendidikan, kesehatan, sosial menjadi sangat tebal disini.

Ada juga Rusniati yang menulis soal perempuan, bahwa di sebuah keluarga dengan tujuh anak perempuan, harapan tetap harus dipelihara, bahwa pendidikan diupayakan adil bagi semua saudara. Hal-hal seperti ini sangat menarik ditulis.

Dan tentu, merekalah yang paling paham persoalannya, sekaligus penyelesaiannya, jika ada. Solusi tidak pernah benar-benar harus ada dalam konteks cerpen, namun paling tidak dia menyisakan satu daya reflektif yang kuat. Apa yang harus dilakukan berikutnya. 

Saya merasa Papua indah karena dua hal. Manusianya dan kerendahatiannya. Saya merasa memang Tuhan memilihkan waktu terbaik bagi saya untuk tiba di Papua saat saya benar-benar siap dan semesta mewujudkannya melalui sahabat-sahabat baik hati.

Saya bertemu Suhardi Aras, tentu saja, dialah penggerak literasi di Sorong. Lalu ada Zora yang memastikan agenda saya di Sorong. Ada Nabila yang khusus memesankan tiket. Ada Jul yang menjadi LO di hotel, ada Rizal sang koordinator workshop yang juga membantu saya mengkurasi hasil workshop. Ada sopir Pak Chairul yang juga standby menemani. Semua dari mereka sangat hangat dan manis.

Di Sorong saya juga bertemu jejaring festival sastra dan jajaran penulis. Ada Aan Mansyur dari Makasar International Writers Festival. Ada Windy Ariestanti pengelola pasar buku keliling. Ada Shinta Febriany dari Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia). Ada Luna Vidya penulis dan performer dari Makasar.

Ada juga Rebecca dan Zulkifli dari MTN (Manajemen Talenta Nasional) Kementerian Kebudayaan RI, ada juga Sanne Breimer penulis dari Belanda. Kami berkumpul untuk saling berbagi rasa dalam konteks penguatan jejaring dan ekosistem kebudayaan. Pertemuan di festival seringkali terasa sangat menyenangkan.

Lalu apa selanjutnya. Eksplorasi alam. Tanggal 11 Oktober saya memutuskan ke Raja Ampat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya bulat pergi. Bersama sahabat saya Sanne Breimer, kami bangun pagi dan menuju Pelabuhan Usahamina. Di sana kami disambut tur guide yang sangat ramah, Alon dan Juan. Dua pemuda ini sangat menikmati perannya sebagai tur guide, selalu tersenyum dan memberikan vibrasi positif.

Setelah 3 jam di speedboat, kami tiba di Raja Ampat. Luar biasa indahnya. Kami terkesima. Siapapun mengakui bahwa Raja Ampat seperti serpihan surga yang ada di dunia. Kami menjelajahi beberapa tempat, dimulai dari Piaynemo, Telaga Bintang, hingga Kampung Wisata Sauwandarek, surganya snorkelling. Lalu berakhir di Pasir Timbul. Seluruh tur ini menghabiskan waktu 12 jam. Melelahkan, juga menyenangkan.

Saya tiba di hotel sudah malam. Bahagia rasanya sudah mampir di Papua. Besok pagi, 12 Oktober, saya menyiapkan diri pulang ke Bali. Satu versi baru lahir hari ini. Versi baru yang memiliki sudut pandang baru, Papua dan kisahnya. [T]

Sorong, 11 Oktober 2025

Penulis: Kadek Sonia Piscayanti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Festival Sastra SorongKadek Sonia PiscayantiPapua Barat Dayasastrasorong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baris Gede Telek dan Gending Ancag-Ancagan dari Denpasar Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Next Post

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Penyusup di Taman Kita

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Redi Aryanto | Penyusup di Taman Kita

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Penyusup di Taman Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co