BIJI Art Space ialah ruang jeda. Di luar, riuh lampu jalanan Ubud. Di dalam, sunyi yang berbicara. Pameran “Vivid Expression” (28 September – 16 Oktober 2025) menjanjikan spektrum untuk refleksi. Kuratornya, Alimuddin Taufiq, menawarkan sebuah kunci: prisma. Pikiran seniman, katanya, bekerja layaknya prisma. Ia tidak menciptakan cahaya, hanya membiaskannya. Realitas tunggal masuk, lalu pecah menjadi spektrum perasaan yang tak terhingga.
Ruang pamer pun jadi “galeri perasaan bersama”. Sebuah undangan halus untuk menanggalkan jubah analisis. Tak perlu mengkaji, ini tentang mengalami. Konsep yang berakar pada fenomenologi, filsafat yang memuliakan pengalaman langsung. Karya seni bukanlah pajangan dekoratif di dinding. Karya ialah fenomena yang hidup saat kesadaran kita menyentuhnya. Kurator bahkan mengutip Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama?”. Sebuah ajakan untuk melakukan epoche, menunda semua prasangka. Lupakan label realisme, surealisme, atau ekspresionisme. Hadapi karya ini dalam kemurniannya. Rasakan getarannya sebelum pikiran sempat memberinya nama.
Perjalanan pun dimulai. Dinding pertama adalah sebuah benturan emosi. Karya Suliyat Buamar ihwal kekuatan ekspresi. Hitam berteriak pada putih. Merah memotong kuning. Sapuan kuasnya tebal-tipis, kasar-halus, seperti emosi yang bergerilya. Inilah kredo Ekspresionisme yang paling murni: dunia batin meluap, membengkokkan realitas luar. Karyanya tidak bercerita tentang emosi, malah emosi itu sendiri. Emosi yang dibekukan dalam pigmen. Tubuh bereaksi lebih dulu, pikiran menyusul kemudian. Ini mengingatkan kita, merasakan merupakan bentuk pengetahuan paling purba.
Langkah kemudian melambat. Mata tersesat dalam karya Gusti Wis. Sebuah garis lahir, lalu berkelok, menari. Ia bertemu garis lain. Mereka berjalin, berpisah, lalu menyatu lagi dalam harmoni yang tegang. Ini kartografi jiwa. Peta pikiran yang rumit, peta hubungan yang kusut. Garis-garisnya menjadi metafora visual untuk labirin kesadaran, tempat keterasingan dan keintiman hidup berdampingan. Kanvasnya ialah sidik jari sebuah batin, unik dan tak terulangi. Kita menelusuri jalurnya, dan tanpa sadar, menemukan cerminan dari kerumitan kita sendiri.

Dunia menjadi menarik di panel berikutnya. Kanvas Bung Tiok menarik kita ke dalam realisme magis. Yang akrab menjadi asing, yang asing terasa dekat. Mungkin sebatang bunga bernapas. Mungkin sosok manusia menyatu dengan lanskap budaya. Bukan kejutan surealisme yang mengganggu. Ini keajaiban sunyi. Bolehlah kita sebut Merging Realms, penyatuan alam. Di sini, dunia jiwa dan material bukanlah dua entitas yang terpisah. Benang-benang refleksi itu ditenun menjadi kain mozaik. Ini mengingatkan, ada lebih banyak hal di dunia ini daripada yang bisa ditangkap pancaindera.
Area terakhir terasa lebih personal. Ada keinginan kuat untuk menengok karya Ida Bagus Sindhu Putra. Kanvasnya menyajikan kerut. Kertas kusut, berkerut. Seperti surat cinta yang terlalu lama disimpan, tak pernah terkirim. Figur dilukai waktu, terdistorsi oleh lipatan-lipatan ingatan. Ini fenomena yang di-nyata-kan. Setiap kerutan menunjukkan jejak waktu. Setiap bayangan di celahnya adalah nostalgia. Berdiri di hadapannya, kita tidak sekadar melihat sebuah gambar masa lalu. Kita menyentuh waktu. Kita merasakan beratnya kenangan.
Melangkah keluar dari Biji Art Space membangkitkan memori. Kembali ke jalanan yang ramai. Namun, dunia luar terasa berbeda. Cahaya Ubud seakan telah direfraksikan. Warna-warna tampak lebih hidup. Percakapan emosi yang dimulai di dalam galeri terus bergema di dalam diri.
Pameran ini menarik karena merekayasa sebuah perjumpaan. Ini membuktikan kekuatan abadi dari seni rupa, pengalaman yang intim dan tak termediasi. “Vivid Expression” menjadi pernyataan: seni tak hanya memberi tahu kita apa yang perlu dilihat, melainkan mengubah cara kita melihat. Kita diingatkan bahwa kita adalah prisma, terus-menerus membiaskan dunia menjadi spektrum perasaan yang unik. Kanvas sejati pameran ini adalah kesadaran kita sendiri. [T]
Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN



























