14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan, Kebahagiaan, dan Rumah Berdaya: Seni Sebagai Terapi Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 29, 2025
in Pameran
Lukisan, Kebahagiaan, dan Rumah Berdaya: Seni Sebagai Terapi Jiwa

Pameran “Ekspresi Kebahagiaan” di Rumah Berdaya

Di Rumah Berdaya Denpasar, seniman penyintas skizofrenia dan anggota Bali Five menampilkan karya mereka dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan”, membuktikan bahwa seni bukan sekadar estetika, tetapi jembatan untuk menemukan kembali kebahagiaan dan kepercayaan diri.

Pagi cerah 27 September 2025, Rumah Berdaya Denpasar tampak berbeda. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan. Setiap goresan kuas seolah bercerita tentang perjalanan panjang menemukan kembali kebahagiaan. Pameran ini bukan sekadar pajangan, melainkan dialog antara seniman dan penikmat, serta ruang untuk mengekspresikan diri.

Pameran bertajuk “Ekspresi Kebahagiaan” menampilkan sekitar 20 karya, lahir dari tangan warga Rumah Berdaya dan anggota Bali Five. Di antaranya Nyoman Loka Suara, Gede Sukana Kariana, Agus Kama Loedin, Ni Wayan Sutariyani, Dian Dewi Reich, dan I Made Subrata. Ada juga wajah baru seperti I Nyoman Sudiasa, I Komang Sudiarta (Loster), Gus Lingga, Saka Rosanta, dan LostMan. Bagi dunia luar, mereka mungkin terasa asing, tapi bagi Rumah Berdaya, mereka adalah jiwa yang menemukan kembali suaranya melalui kuas dan kanvas.

Agung Gede Putra, pegiat seni dan budaya Bali, membuka pameran dengan senyum hangat. Menurutnya, kebahagiaan bukan sekadar keadaan eksternal, tetapi perjalanan menemukan keseimbangan dalam diri sendiri. Pameran ini, kata Putra, adalah percakapan antara pencipta dan penikmat, sekaligus ruang untuk mengekspresikan diri.

Putu Suasta pada pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Di sisi lain, Putu Suasta, intelektual Bali sekaligus pencinta seni menekankan bahwa tanpa orang yang mengurus pameran, karya terbaik pun bisa tenggelam. Ia menceritakan pengalaman panjangnya mengurus pameran internasional, dari Picasso hingga Basquiat, serta bagaimana pentingnya memastikan karya sampai ke penikmat yang tepat.

“Kalau seniman tidak hebat, orang tidak peduli,” ujar Suasta. Menurutnya, pameran harus sistematis agar karya diapresiasi, didokumentasikan, dan dikenali publik. Dengan pengelolaan yang tepat, sebuah karya seni bisa menjadi berharga, bukan sekadar objek visual.

Wayan Subrata, wartawan senior Bali sekaligus anggota Bali Five, menambahkan perspektif lain. Ia menekankan tujuan pameran adalah memberdayakan warga Rumah Berdaya. Menurut Subrata, seni bukan hanya untuk estetika atau terapi, tetapi juga sarana menemukan kembali jati diri bagi penyintas skizofrenia. “Mereka punya potensi seni rupa luar biasa. Melalui lukisan, mereka mengekspresikan kebahagiaan, bersosialisasi, dan kembali percaya diri. Ruang seperti ini penting agar mereka tidak merasa terasing,” kata Subrata.

Suasana pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Nyoman Loka Suara, salah satu seniman dan pendiri Bali Five, menuturkan pengalamannya mengikuti pameran ini: “Bagi saya, setiap goresan kuas adalah cara untuk menyampaikan perasaan yang tidak bisa diucapkan. Kami bukan hanya melukis, tapi berbicara lewat warna dan bentuk. Rumah Berdaya memberi kami ruang untuk mengekspresikan diri, dan pameran ini adalah cara untuk berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Ketika pengunjung tersenyum atau terhenti melihat karya kami, itu berarti pesan kami sampai,” katanya.

Setiap lukisan memiliki cerita tersendiri. Ada guratan warna riang yang memantulkan energi positif, goresan gelap yang menantang mata, dan bentuk abstrak yang memaksa penikmat merenung. Warna, garis, dan bentuk bukan sekadar estetika; mereka adalah bahasa batin yang sedang berbicara, menuntun penikmat untuk ikut merasakan.

Suasta kembali menekankan kontinuitas dan strategi pameran. Ia menekankan pentingnya frekuensi pertemuan antara seniman dan penikmat, serta pengelolaan oleh orang-orang yang tepat. Dengan cara itu, karya tidak hanya menjadi estetika, tetapi juga interaksi sosial dan budaya yang berkelanjutan. Menurutnya, pameran harus diurus dengan cermat agar karya menjadi berharga dan berdampak.

Suasana pagi itu hidup. Musik lembut dari Arusaji Band mengiringi pembacaan puisi Angga Wijaya. Pengunjung menikmati karya sambil berdiskusi dengan para seniman. Percakapan mengalir alami, serius namun hangat, penuh keinginan mengekspresikan diri dan membagikan kebahagiaan lewat seni.

Pameran ini juga menjadi laboratorium komunitas. Para seniman bisa saling mengenal, bertukar ide, dan belajar satu sama lain. Rumah Berdaya bukan sekadar galeri; ia adalah laboratorium kreativitas, kebahagiaan, dan interaksi sosial. Seni menjadi media pembelajaran, terapi, dan pemberdayaan. Pengalaman Suasta, Subrata, dan Loka Suara menunjukkan bahwa keberhasilan pameran bukan hanya soal karya, tapi kombinasi antara bakat, strategi, dan orang yang mengurus.

Pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Subrata menambahkan, kegiatan ini memberi ruang bagi seniman untuk merasakan kembali penghargaan. “Setiap karya adalah cara membangun rasa percaya diri dan kembali ke jati diri,” ujarnya. Ia berharap pameran ini membuka jalan bagi lebih banyak ruang seni bagi penyintas skizofrenia, agar mereka tidak lagi merasa terasing di masyarakat.

Selain karya visual, pameran menghadirkan atmosfer interaktif. Pengunjung tidak sekadar melihat, tetapi diajak berdialog dengan seniman. Ada yang menanyakan teknik melukis, pilihan warna, bahkan filosofi di balik goresan tertentu. Seorang pengunjung muda, mahasiswa seni rupa, tampak terpaku pada sebuah lukisan abstrak yang penuh garis dan warna berani. Ia bertanya kepada Nyoman Sudiasa tentang makna di balik goresan itu. Sudiasa tersenyum, menjawab, “Ini bukan hanya soal bentuk, tapi bagaimana perasaan saya tersalurkan di kanvas. Kalau kamu bisa merasakannya, berarti lukisan ini hidup,” jelas koordinator Rumah Berdaya Denpasar ini. 

Pernyataan seperti ini menegaskan bahwa pameran bukan sekadar hiburan visual. Ia adalah medium komunikasi antarjiwa, sebuah sarana untuk menyampaikan emosi dan pengalaman hidup yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di Rumah Berdaya, lukisan-lukisan itu adalah jembatan yang menghubungkan kehidupan penyintas skizofrenia dengan dunia luar yang seringkali sulit mereka masuki.

Menurut Subrata, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat belajar seni, tapi laboratorium kehidupan. Di sini, setiap seniman diajak menemukan kembali jati diri, mengasah bakat, dan merasakan pengakuan sosial. Aktivitas seperti ini juga memberi mereka ruang untuk mendapatkan apresiasi yang selama ini mungkin jarang mereka rasakan. “Setiap karya adalah cara membangun rasa percaya diri dan kembali ke jati diri,” ujar Subrata.

Suasana pameran hidup berkat kombinasi seni, musik, dan diskusi. Percakapan berlangsung hangat, kadang serius, kadang santai, namun selalu bertujuan memberi ruang bagi setiap ekspresi kebahagiaan yang lahir dari kanvas.

Suasta menekankan pentingnya keberlanjutan pameran, agar karya tidak hanya diapresiasi sekali, tapi menjadi bagian dari ekosistem seni yang berkelanjutan. “Seni tanpa pengelolaan yang tepat bisa sia-sia. Tapi dengan orang yang memahami, karya menjadi berharga dan berdampak,” jelasnya.

  • BACA JUGA:
Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Seni di Rumah Berdaya bukan sekadar estetika, tetapi juga media terapi. Lukisan menjadi cara menyalurkan emosi, membangun kembali rasa percaya diri, dan menghubungkan penyintas dengan masyarakat luas. Pameran ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, dukungan, dan pengakuan, seniman penyintas mampu menghasilkan karya yang luar biasa dan menginspirasi.

Seorang pengunjung, perempuan muda, menuturkan pengalamannya: “Melihat karya mereka membuat saya tersadar, kebahagiaan itu bisa diwujudkan dalam bentuk apapun, bahkan dari pengalaman sulit sekalipun. Seni mereka mengingatkan saya untuk lebih menghargai proses, bukan hanya hasil,” ucapnya.

Pameran berlangsung hingga 27 Oktober 2025. Setiap lukisan menjadi saksi perjalanan penyintas menemukan kembali diri, kebahagiaan, dan keberanian. Rumah Berdaya, dengan dinding-dinding putihnya yang menjadi kanvas ekspresi, membuktikan bahwa seni bukan sekadar hiburan atau pajangan, melainkan sarana komunikasi, pemberdayaan, dan terapi jiwa.

Ketika matahari menembus ruang galeri Rumah Berdaya, cahaya jatuh di atas kanvas-kanvas berwarna-warni. Setiap goresan, setiap warna, setiap bentuk abstrak menegaskan bahwa seni adalah kehidupan, kebahagiaan, dan keberanian—dalam satu bingkai yang sama. Pengalaman hari itu mengajarkan bahwa seni, bila diperlakukan dengan serius dan empati, mampu menjadi jembatan antara dunia internal dan eksternal, antara seniman dan penikmat, antara rasa sakit dan kebahagiaan.

Suasta menutup dengan refleksi panjang tentang masa depan seni di Bali: bagaimana pameran seperti ini harus diulang, dikembangkan, dan didukung oleh orang yang tepat, sehingga karya tidak hanya hidup di kanvas, tetapi juga hidup di hati masyarakat. Menurutnya, seni adalah investasi jangka panjang—untuk seniman, penikmat, dan masyarakat. “Barang yang dibuat dengan hati dan dikelola dengan tepat akan menjadi berharga,” ujarnya.

Subrata menekankan nilai sosial pameran ini. Rumah Berdaya bukan hanya ruang untuk memajang lukisan; ia adalah tempat membangun kembali kepercayaan diri, menumbuhkan kebahagiaan, dan menghubungkan penyintas dengan masyarakat. “Ini tentang memberi mereka ruang, memberi perhatian, dan mengakui karya mereka sebagai sesuatu yang berharga,” kata Subrata. Ia berharap pameran ini menjadi model bagi komunitas lain di Indonesia untuk memperluas ruang seni bagi penyintas skizofrenia.

Setiap pengunjung meninggalkan Rumah Berdaya dengan cerita baru. Mereka membawa pulang kesan mendalam tentang bagaimana seni bisa menjadi terapi, jembatan sosial, dan sarana mengekspresikan kebahagiaan. Bagi para seniman, pameran ini bukan hanya soal karya yang dipajang, tapi tentang pengakuan, dukungan moral, dan kesempatan untuk bersosialisasi serta membangun jaringan.

Karya yang dipamerkan dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Matahari sore mulai memudar, namun semangat pameran tetap hidup. Diskusi antarpengunjung dan seniman terus berlangsung, bahkan beberapa pengunjung memutuskan untuk membeli karya sebagai bentuk dukungan. Suasta tersenyum melihat itu semua. Menurutnya, itulah bukti bahwa pameran yang diurus dengan cermat dan diikuti orang-orang yang tepat bisa mengubah persepsi, menghargai karya, dan membangun ekosistem seni yang sehat.

Loka Suara menambahkan perspektifnya: “Bagi kami, pameran ini lebih dari sekadar menampilkan lukisan. Ini adalah kesempatan untuk berbagi cerita, menunjukkan bahwa setiap individu memiliki potensi, dan bahwa kebahagiaan bisa diwujudkan melalui ekspresi seni. Rumah Berdaya memberikan ruang bagi kami untuk mengekspresikan emosi yang seringkali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika orang menghargai karya kami, itu memberi energi positif dan dorongan untuk terus berkarya,” katanya.

Pada akhirnya, “Ekspresi Kebahagiaan” bukan sekadar pameran lukisan; ia adalah laboratorium seni, terapi jiwa, dan ruang pemberdayaan. Rumah Berdaya Denpasar telah menunjukkan bahwa ketika kreativitas, dukungan, dan pengakuan berpadu, seni mampu menjadi jembatan antara hati dan pikiran, antara rasa sakit dan kebahagiaan, antara individu dan masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwaPameran Seni Ruparumah berdayaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Next Post

Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails
Next Post
Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co