3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan, Kebahagiaan, dan Rumah Berdaya: Seni Sebagai Terapi Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 29, 2025
in Pameran
Lukisan, Kebahagiaan, dan Rumah Berdaya: Seni Sebagai Terapi Jiwa

Pameran “Ekspresi Kebahagiaan” di Rumah Berdaya

Di Rumah Berdaya Denpasar, seniman penyintas skizofrenia dan anggota Bali Five menampilkan karya mereka dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan”, membuktikan bahwa seni bukan sekadar estetika, tetapi jembatan untuk menemukan kembali kebahagiaan dan kepercayaan diri.

Pagi cerah 27 September 2025, Rumah Berdaya Denpasar tampak berbeda. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan. Setiap goresan kuas seolah bercerita tentang perjalanan panjang menemukan kembali kebahagiaan. Pameran ini bukan sekadar pajangan, melainkan dialog antara seniman dan penikmat, serta ruang untuk mengekspresikan diri.

Pameran bertajuk “Ekspresi Kebahagiaan” menampilkan sekitar 20 karya, lahir dari tangan warga Rumah Berdaya dan anggota Bali Five. Di antaranya Nyoman Loka Suara, Gede Sukana Kariana, Agus Kama Loedin, Ni Wayan Sutariyani, Dian Dewi Reich, dan I Made Subrata. Ada juga wajah baru seperti I Nyoman Sudiasa, I Komang Sudiarta (Loster), Gus Lingga, Saka Rosanta, dan LostMan. Bagi dunia luar, mereka mungkin terasa asing, tapi bagi Rumah Berdaya, mereka adalah jiwa yang menemukan kembali suaranya melalui kuas dan kanvas.

Agung Gede Putra, pegiat seni dan budaya Bali, membuka pameran dengan senyum hangat. Menurutnya, kebahagiaan bukan sekadar keadaan eksternal, tetapi perjalanan menemukan keseimbangan dalam diri sendiri. Pameran ini, kata Putra, adalah percakapan antara pencipta dan penikmat, sekaligus ruang untuk mengekspresikan diri.

Putu Suasta pada pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Di sisi lain, Putu Suasta, intelektual Bali sekaligus pencinta seni menekankan bahwa tanpa orang yang mengurus pameran, karya terbaik pun bisa tenggelam. Ia menceritakan pengalaman panjangnya mengurus pameran internasional, dari Picasso hingga Basquiat, serta bagaimana pentingnya memastikan karya sampai ke penikmat yang tepat.

“Kalau seniman tidak hebat, orang tidak peduli,” ujar Suasta. Menurutnya, pameran harus sistematis agar karya diapresiasi, didokumentasikan, dan dikenali publik. Dengan pengelolaan yang tepat, sebuah karya seni bisa menjadi berharga, bukan sekadar objek visual.

Wayan Subrata, wartawan senior Bali sekaligus anggota Bali Five, menambahkan perspektif lain. Ia menekankan tujuan pameran adalah memberdayakan warga Rumah Berdaya. Menurut Subrata, seni bukan hanya untuk estetika atau terapi, tetapi juga sarana menemukan kembali jati diri bagi penyintas skizofrenia. “Mereka punya potensi seni rupa luar biasa. Melalui lukisan, mereka mengekspresikan kebahagiaan, bersosialisasi, dan kembali percaya diri. Ruang seperti ini penting agar mereka tidak merasa terasing,” kata Subrata.

Suasana pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Nyoman Loka Suara, salah satu seniman dan pendiri Bali Five, menuturkan pengalamannya mengikuti pameran ini: “Bagi saya, setiap goresan kuas adalah cara untuk menyampaikan perasaan yang tidak bisa diucapkan. Kami bukan hanya melukis, tapi berbicara lewat warna dan bentuk. Rumah Berdaya memberi kami ruang untuk mengekspresikan diri, dan pameran ini adalah cara untuk berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Ketika pengunjung tersenyum atau terhenti melihat karya kami, itu berarti pesan kami sampai,” katanya.

Setiap lukisan memiliki cerita tersendiri. Ada guratan warna riang yang memantulkan energi positif, goresan gelap yang menantang mata, dan bentuk abstrak yang memaksa penikmat merenung. Warna, garis, dan bentuk bukan sekadar estetika; mereka adalah bahasa batin yang sedang berbicara, menuntun penikmat untuk ikut merasakan.

Suasta kembali menekankan kontinuitas dan strategi pameran. Ia menekankan pentingnya frekuensi pertemuan antara seniman dan penikmat, serta pengelolaan oleh orang-orang yang tepat. Dengan cara itu, karya tidak hanya menjadi estetika, tetapi juga interaksi sosial dan budaya yang berkelanjutan. Menurutnya, pameran harus diurus dengan cermat agar karya menjadi berharga dan berdampak.

Suasana pagi itu hidup. Musik lembut dari Arusaji Band mengiringi pembacaan puisi Angga Wijaya. Pengunjung menikmati karya sambil berdiskusi dengan para seniman. Percakapan mengalir alami, serius namun hangat, penuh keinginan mengekspresikan diri dan membagikan kebahagiaan lewat seni.

Pameran ini juga menjadi laboratorium komunitas. Para seniman bisa saling mengenal, bertukar ide, dan belajar satu sama lain. Rumah Berdaya bukan sekadar galeri; ia adalah laboratorium kreativitas, kebahagiaan, dan interaksi sosial. Seni menjadi media pembelajaran, terapi, dan pemberdayaan. Pengalaman Suasta, Subrata, dan Loka Suara menunjukkan bahwa keberhasilan pameran bukan hanya soal karya, tapi kombinasi antara bakat, strategi, dan orang yang mengurus.

Pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Subrata menambahkan, kegiatan ini memberi ruang bagi seniman untuk merasakan kembali penghargaan. “Setiap karya adalah cara membangun rasa percaya diri dan kembali ke jati diri,” ujarnya. Ia berharap pameran ini membuka jalan bagi lebih banyak ruang seni bagi penyintas skizofrenia, agar mereka tidak lagi merasa terasing di masyarakat.

Selain karya visual, pameran menghadirkan atmosfer interaktif. Pengunjung tidak sekadar melihat, tetapi diajak berdialog dengan seniman. Ada yang menanyakan teknik melukis, pilihan warna, bahkan filosofi di balik goresan tertentu. Seorang pengunjung muda, mahasiswa seni rupa, tampak terpaku pada sebuah lukisan abstrak yang penuh garis dan warna berani. Ia bertanya kepada Nyoman Sudiasa tentang makna di balik goresan itu. Sudiasa tersenyum, menjawab, “Ini bukan hanya soal bentuk, tapi bagaimana perasaan saya tersalurkan di kanvas. Kalau kamu bisa merasakannya, berarti lukisan ini hidup,” jelas koordinator Rumah Berdaya Denpasar ini. 

Pernyataan seperti ini menegaskan bahwa pameran bukan sekadar hiburan visual. Ia adalah medium komunikasi antarjiwa, sebuah sarana untuk menyampaikan emosi dan pengalaman hidup yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di Rumah Berdaya, lukisan-lukisan itu adalah jembatan yang menghubungkan kehidupan penyintas skizofrenia dengan dunia luar yang seringkali sulit mereka masuki.

Menurut Subrata, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat belajar seni, tapi laboratorium kehidupan. Di sini, setiap seniman diajak menemukan kembali jati diri, mengasah bakat, dan merasakan pengakuan sosial. Aktivitas seperti ini juga memberi mereka ruang untuk mendapatkan apresiasi yang selama ini mungkin jarang mereka rasakan. “Setiap karya adalah cara membangun rasa percaya diri dan kembali ke jati diri,” ujar Subrata.

Suasana pameran hidup berkat kombinasi seni, musik, dan diskusi. Percakapan berlangsung hangat, kadang serius, kadang santai, namun selalu bertujuan memberi ruang bagi setiap ekspresi kebahagiaan yang lahir dari kanvas.

Suasta menekankan pentingnya keberlanjutan pameran, agar karya tidak hanya diapresiasi sekali, tapi menjadi bagian dari ekosistem seni yang berkelanjutan. “Seni tanpa pengelolaan yang tepat bisa sia-sia. Tapi dengan orang yang memahami, karya menjadi berharga dan berdampak,” jelasnya.

  • BACA JUGA:
Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Seni di Rumah Berdaya bukan sekadar estetika, tetapi juga media terapi. Lukisan menjadi cara menyalurkan emosi, membangun kembali rasa percaya diri, dan menghubungkan penyintas dengan masyarakat luas. Pameran ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, dukungan, dan pengakuan, seniman penyintas mampu menghasilkan karya yang luar biasa dan menginspirasi.

Seorang pengunjung, perempuan muda, menuturkan pengalamannya: “Melihat karya mereka membuat saya tersadar, kebahagiaan itu bisa diwujudkan dalam bentuk apapun, bahkan dari pengalaman sulit sekalipun. Seni mereka mengingatkan saya untuk lebih menghargai proses, bukan hanya hasil,” ucapnya.

Pameran berlangsung hingga 27 Oktober 2025. Setiap lukisan menjadi saksi perjalanan penyintas menemukan kembali diri, kebahagiaan, dan keberanian. Rumah Berdaya, dengan dinding-dinding putihnya yang menjadi kanvas ekspresi, membuktikan bahwa seni bukan sekadar hiburan atau pajangan, melainkan sarana komunikasi, pemberdayaan, dan terapi jiwa.

Ketika matahari menembus ruang galeri Rumah Berdaya, cahaya jatuh di atas kanvas-kanvas berwarna-warni. Setiap goresan, setiap warna, setiap bentuk abstrak menegaskan bahwa seni adalah kehidupan, kebahagiaan, dan keberanian—dalam satu bingkai yang sama. Pengalaman hari itu mengajarkan bahwa seni, bila diperlakukan dengan serius dan empati, mampu menjadi jembatan antara dunia internal dan eksternal, antara seniman dan penikmat, antara rasa sakit dan kebahagiaan.

Suasta menutup dengan refleksi panjang tentang masa depan seni di Bali: bagaimana pameran seperti ini harus diulang, dikembangkan, dan didukung oleh orang yang tepat, sehingga karya tidak hanya hidup di kanvas, tetapi juga hidup di hati masyarakat. Menurutnya, seni adalah investasi jangka panjang—untuk seniman, penikmat, dan masyarakat. “Barang yang dibuat dengan hati dan dikelola dengan tepat akan menjadi berharga,” ujarnya.

Subrata menekankan nilai sosial pameran ini. Rumah Berdaya bukan hanya ruang untuk memajang lukisan; ia adalah tempat membangun kembali kepercayaan diri, menumbuhkan kebahagiaan, dan menghubungkan penyintas dengan masyarakat. “Ini tentang memberi mereka ruang, memberi perhatian, dan mengakui karya mereka sebagai sesuatu yang berharga,” kata Subrata. Ia berharap pameran ini menjadi model bagi komunitas lain di Indonesia untuk memperluas ruang seni bagi penyintas skizofrenia.

Setiap pengunjung meninggalkan Rumah Berdaya dengan cerita baru. Mereka membawa pulang kesan mendalam tentang bagaimana seni bisa menjadi terapi, jembatan sosial, dan sarana mengekspresikan kebahagiaan. Bagi para seniman, pameran ini bukan hanya soal karya yang dipajang, tapi tentang pengakuan, dukungan moral, dan kesempatan untuk bersosialisasi serta membangun jaringan.

Karya yang dipamerkan dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Matahari sore mulai memudar, namun semangat pameran tetap hidup. Diskusi antarpengunjung dan seniman terus berlangsung, bahkan beberapa pengunjung memutuskan untuk membeli karya sebagai bentuk dukungan. Suasta tersenyum melihat itu semua. Menurutnya, itulah bukti bahwa pameran yang diurus dengan cermat dan diikuti orang-orang yang tepat bisa mengubah persepsi, menghargai karya, dan membangun ekosistem seni yang sehat.

Loka Suara menambahkan perspektifnya: “Bagi kami, pameran ini lebih dari sekadar menampilkan lukisan. Ini adalah kesempatan untuk berbagi cerita, menunjukkan bahwa setiap individu memiliki potensi, dan bahwa kebahagiaan bisa diwujudkan melalui ekspresi seni. Rumah Berdaya memberikan ruang bagi kami untuk mengekspresikan emosi yang seringkali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika orang menghargai karya kami, itu memberi energi positif dan dorongan untuk terus berkarya,” katanya.

Pada akhirnya, “Ekspresi Kebahagiaan” bukan sekadar pameran lukisan; ia adalah laboratorium seni, terapi jiwa, dan ruang pemberdayaan. Rumah Berdaya Denpasar telah menunjukkan bahwa ketika kreativitas, dukungan, dan pengakuan berpadu, seni mampu menjadi jembatan antara hati dan pikiran, antara rasa sakit dan kebahagiaan, antara individu dan masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwaPameran Seni Ruparumah berdayaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Next Post

Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
0
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

Read moreDetails

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

by Nyoman Budarsana
March 9, 2026
0
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam perupa dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar pameran bertajuk “Togetherness” di Artspace, ARTOTEL Sanur Bali. Pameran lukisan dan patung...

Read moreDetails

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

by tatkala
February 19, 2026
0
Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Foto-foto karya yang dipertunjukkan Bagus Made Irawan alias Piping dalam pameran Magic in the Waves di Warung Kubukopi, Denpasar, 18-28...

Read moreDetails

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

by I Gede Made Surya Darma
January 25, 2026
0
“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Pameran “Wianta & Legacy” resmi dibuka pada tanggal 23 Januari 2026 di Gallery of Art, The Apurva Kempinski Bali, menghadirkan...

Read moreDetails

Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

by tatkala
January 18, 2026
0
Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

RIUH ramai terdengar berbeda di salah satu venue Berbagi Ruang & Kopi, Denpasar, Sabtu 17 Januari 2026. Jika biasanya ia...

Read moreDetails

Menengok Lukisan Bercorak ‘Young Artist Style’ di The 1O1 Bali Oasis Sanur

by Nyoman Budarsana
January 17, 2026
0
Menengok Lukisan Bercorak ‘Young Artist Style’ di The 1O1 Bali Oasis Sanur

Wisatawan yang sedang melakukan check in ataupun check out di The 1O1 Bali Oasis Sanur tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka bukan...

Read moreDetails

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

by tatkala
January 5, 2026
0
Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

DI Kencu Ruang Seni di Kuta, Bali, pameran "Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif", sebuah rekonstruksi perjalanan kreatif...

Read moreDetails

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

by Made Chandra
January 4, 2026
0
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

---Sebuah catatan reflektif tentang pameran yang meleburkan batas-batas kelokalan MENJELANG satu purnama, sejak kami—para peraba mimpi—dipertemukan oleh sebuah perhelatan kebudayaan...

Read moreDetails
Next Post
Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co