26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan, Kebahagiaan, dan Rumah Berdaya: Seni Sebagai Terapi Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 29, 2025
in Pameran
Lukisan, Kebahagiaan, dan Rumah Berdaya: Seni Sebagai Terapi Jiwa

Pameran “Ekspresi Kebahagiaan” di Rumah Berdaya

Di Rumah Berdaya Denpasar, seniman penyintas skizofrenia dan anggota Bali Five menampilkan karya mereka dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan”, membuktikan bahwa seni bukan sekadar estetika, tetapi jembatan untuk menemukan kembali kebahagiaan dan kepercayaan diri.

Pagi cerah 27 September 2025, Rumah Berdaya Denpasar tampak berbeda. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan. Setiap goresan kuas seolah bercerita tentang perjalanan panjang menemukan kembali kebahagiaan. Pameran ini bukan sekadar pajangan, melainkan dialog antara seniman dan penikmat, serta ruang untuk mengekspresikan diri.

Pameran bertajuk “Ekspresi Kebahagiaan” menampilkan sekitar 20 karya, lahir dari tangan warga Rumah Berdaya dan anggota Bali Five. Di antaranya Nyoman Loka Suara, Gede Sukana Kariana, Agus Kama Loedin, Ni Wayan Sutariyani, Dian Dewi Reich, dan I Made Subrata. Ada juga wajah baru seperti I Nyoman Sudiasa, I Komang Sudiarta (Loster), Gus Lingga, Saka Rosanta, dan LostMan. Bagi dunia luar, mereka mungkin terasa asing, tapi bagi Rumah Berdaya, mereka adalah jiwa yang menemukan kembali suaranya melalui kuas dan kanvas.

Agung Gede Putra, pegiat seni dan budaya Bali, membuka pameran dengan senyum hangat. Menurutnya, kebahagiaan bukan sekadar keadaan eksternal, tetapi perjalanan menemukan keseimbangan dalam diri sendiri. Pameran ini, kata Putra, adalah percakapan antara pencipta dan penikmat, sekaligus ruang untuk mengekspresikan diri.

Putu Suasta pada pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Di sisi lain, Putu Suasta, intelektual Bali sekaligus pencinta seni menekankan bahwa tanpa orang yang mengurus pameran, karya terbaik pun bisa tenggelam. Ia menceritakan pengalaman panjangnya mengurus pameran internasional, dari Picasso hingga Basquiat, serta bagaimana pentingnya memastikan karya sampai ke penikmat yang tepat.

“Kalau seniman tidak hebat, orang tidak peduli,” ujar Suasta. Menurutnya, pameran harus sistematis agar karya diapresiasi, didokumentasikan, dan dikenali publik. Dengan pengelolaan yang tepat, sebuah karya seni bisa menjadi berharga, bukan sekadar objek visual.

Wayan Subrata, wartawan senior Bali sekaligus anggota Bali Five, menambahkan perspektif lain. Ia menekankan tujuan pameran adalah memberdayakan warga Rumah Berdaya. Menurut Subrata, seni bukan hanya untuk estetika atau terapi, tetapi juga sarana menemukan kembali jati diri bagi penyintas skizofrenia. “Mereka punya potensi seni rupa luar biasa. Melalui lukisan, mereka mengekspresikan kebahagiaan, bersosialisasi, dan kembali percaya diri. Ruang seperti ini penting agar mereka tidak merasa terasing,” kata Subrata.

Suasana pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Nyoman Loka Suara, salah satu seniman dan pendiri Bali Five, menuturkan pengalamannya mengikuti pameran ini: “Bagi saya, setiap goresan kuas adalah cara untuk menyampaikan perasaan yang tidak bisa diucapkan. Kami bukan hanya melukis, tapi berbicara lewat warna dan bentuk. Rumah Berdaya memberi kami ruang untuk mengekspresikan diri, dan pameran ini adalah cara untuk berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Ketika pengunjung tersenyum atau terhenti melihat karya kami, itu berarti pesan kami sampai,” katanya.

Setiap lukisan memiliki cerita tersendiri. Ada guratan warna riang yang memantulkan energi positif, goresan gelap yang menantang mata, dan bentuk abstrak yang memaksa penikmat merenung. Warna, garis, dan bentuk bukan sekadar estetika; mereka adalah bahasa batin yang sedang berbicara, menuntun penikmat untuk ikut merasakan.

Suasta kembali menekankan kontinuitas dan strategi pameran. Ia menekankan pentingnya frekuensi pertemuan antara seniman dan penikmat, serta pengelolaan oleh orang-orang yang tepat. Dengan cara itu, karya tidak hanya menjadi estetika, tetapi juga interaksi sosial dan budaya yang berkelanjutan. Menurutnya, pameran harus diurus dengan cermat agar karya menjadi berharga dan berdampak.

Suasana pagi itu hidup. Musik lembut dari Arusaji Band mengiringi pembacaan puisi Angga Wijaya. Pengunjung menikmati karya sambil berdiskusi dengan para seniman. Percakapan mengalir alami, serius namun hangat, penuh keinginan mengekspresikan diri dan membagikan kebahagiaan lewat seni.

Pameran ini juga menjadi laboratorium komunitas. Para seniman bisa saling mengenal, bertukar ide, dan belajar satu sama lain. Rumah Berdaya bukan sekadar galeri; ia adalah laboratorium kreativitas, kebahagiaan, dan interaksi sosial. Seni menjadi media pembelajaran, terapi, dan pemberdayaan. Pengalaman Suasta, Subrata, dan Loka Suara menunjukkan bahwa keberhasilan pameran bukan hanya soal karya, tapi kombinasi antara bakat, strategi, dan orang yang mengurus.

Pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Subrata menambahkan, kegiatan ini memberi ruang bagi seniman untuk merasakan kembali penghargaan. “Setiap karya adalah cara membangun rasa percaya diri dan kembali ke jati diri,” ujarnya. Ia berharap pameran ini membuka jalan bagi lebih banyak ruang seni bagi penyintas skizofrenia, agar mereka tidak lagi merasa terasing di masyarakat.

Selain karya visual, pameran menghadirkan atmosfer interaktif. Pengunjung tidak sekadar melihat, tetapi diajak berdialog dengan seniman. Ada yang menanyakan teknik melukis, pilihan warna, bahkan filosofi di balik goresan tertentu. Seorang pengunjung muda, mahasiswa seni rupa, tampak terpaku pada sebuah lukisan abstrak yang penuh garis dan warna berani. Ia bertanya kepada Nyoman Sudiasa tentang makna di balik goresan itu. Sudiasa tersenyum, menjawab, “Ini bukan hanya soal bentuk, tapi bagaimana perasaan saya tersalurkan di kanvas. Kalau kamu bisa merasakannya, berarti lukisan ini hidup,” jelas koordinator Rumah Berdaya Denpasar ini. 

Pernyataan seperti ini menegaskan bahwa pameran bukan sekadar hiburan visual. Ia adalah medium komunikasi antarjiwa, sebuah sarana untuk menyampaikan emosi dan pengalaman hidup yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di Rumah Berdaya, lukisan-lukisan itu adalah jembatan yang menghubungkan kehidupan penyintas skizofrenia dengan dunia luar yang seringkali sulit mereka masuki.

Menurut Subrata, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat belajar seni, tapi laboratorium kehidupan. Di sini, setiap seniman diajak menemukan kembali jati diri, mengasah bakat, dan merasakan pengakuan sosial. Aktivitas seperti ini juga memberi mereka ruang untuk mendapatkan apresiasi yang selama ini mungkin jarang mereka rasakan. “Setiap karya adalah cara membangun rasa percaya diri dan kembali ke jati diri,” ujar Subrata.

Suasana pameran hidup berkat kombinasi seni, musik, dan diskusi. Percakapan berlangsung hangat, kadang serius, kadang santai, namun selalu bertujuan memberi ruang bagi setiap ekspresi kebahagiaan yang lahir dari kanvas.

Suasta menekankan pentingnya keberlanjutan pameran, agar karya tidak hanya diapresiasi sekali, tapi menjadi bagian dari ekosistem seni yang berkelanjutan. “Seni tanpa pengelolaan yang tepat bisa sia-sia. Tapi dengan orang yang memahami, karya menjadi berharga dan berdampak,” jelasnya.

  • BACA JUGA:
Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Seni di Rumah Berdaya bukan sekadar estetika, tetapi juga media terapi. Lukisan menjadi cara menyalurkan emosi, membangun kembali rasa percaya diri, dan menghubungkan penyintas dengan masyarakat luas. Pameran ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, dukungan, dan pengakuan, seniman penyintas mampu menghasilkan karya yang luar biasa dan menginspirasi.

Seorang pengunjung, perempuan muda, menuturkan pengalamannya: “Melihat karya mereka membuat saya tersadar, kebahagiaan itu bisa diwujudkan dalam bentuk apapun, bahkan dari pengalaman sulit sekalipun. Seni mereka mengingatkan saya untuk lebih menghargai proses, bukan hanya hasil,” ucapnya.

Pameran berlangsung hingga 27 Oktober 2025. Setiap lukisan menjadi saksi perjalanan penyintas menemukan kembali diri, kebahagiaan, dan keberanian. Rumah Berdaya, dengan dinding-dinding putihnya yang menjadi kanvas ekspresi, membuktikan bahwa seni bukan sekadar hiburan atau pajangan, melainkan sarana komunikasi, pemberdayaan, dan terapi jiwa.

Ketika matahari menembus ruang galeri Rumah Berdaya, cahaya jatuh di atas kanvas-kanvas berwarna-warni. Setiap goresan, setiap warna, setiap bentuk abstrak menegaskan bahwa seni adalah kehidupan, kebahagiaan, dan keberanian—dalam satu bingkai yang sama. Pengalaman hari itu mengajarkan bahwa seni, bila diperlakukan dengan serius dan empati, mampu menjadi jembatan antara dunia internal dan eksternal, antara seniman dan penikmat, antara rasa sakit dan kebahagiaan.

Suasta menutup dengan refleksi panjang tentang masa depan seni di Bali: bagaimana pameran seperti ini harus diulang, dikembangkan, dan didukung oleh orang yang tepat, sehingga karya tidak hanya hidup di kanvas, tetapi juga hidup di hati masyarakat. Menurutnya, seni adalah investasi jangka panjang—untuk seniman, penikmat, dan masyarakat. “Barang yang dibuat dengan hati dan dikelola dengan tepat akan menjadi berharga,” ujarnya.

Subrata menekankan nilai sosial pameran ini. Rumah Berdaya bukan hanya ruang untuk memajang lukisan; ia adalah tempat membangun kembali kepercayaan diri, menumbuhkan kebahagiaan, dan menghubungkan penyintas dengan masyarakat. “Ini tentang memberi mereka ruang, memberi perhatian, dan mengakui karya mereka sebagai sesuatu yang berharga,” kata Subrata. Ia berharap pameran ini menjadi model bagi komunitas lain di Indonesia untuk memperluas ruang seni bagi penyintas skizofrenia.

Setiap pengunjung meninggalkan Rumah Berdaya dengan cerita baru. Mereka membawa pulang kesan mendalam tentang bagaimana seni bisa menjadi terapi, jembatan sosial, dan sarana mengekspresikan kebahagiaan. Bagi para seniman, pameran ini bukan hanya soal karya yang dipajang, tapi tentang pengakuan, dukungan moral, dan kesempatan untuk bersosialisasi serta membangun jaringan.

Karya yang dipamerkan dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan” | Foto: Angga Wijaya

Matahari sore mulai memudar, namun semangat pameran tetap hidup. Diskusi antarpengunjung dan seniman terus berlangsung, bahkan beberapa pengunjung memutuskan untuk membeli karya sebagai bentuk dukungan. Suasta tersenyum melihat itu semua. Menurutnya, itulah bukti bahwa pameran yang diurus dengan cermat dan diikuti orang-orang yang tepat bisa mengubah persepsi, menghargai karya, dan membangun ekosistem seni yang sehat.

Loka Suara menambahkan perspektifnya: “Bagi kami, pameran ini lebih dari sekadar menampilkan lukisan. Ini adalah kesempatan untuk berbagi cerita, menunjukkan bahwa setiap individu memiliki potensi, dan bahwa kebahagiaan bisa diwujudkan melalui ekspresi seni. Rumah Berdaya memberikan ruang bagi kami untuk mengekspresikan emosi yang seringkali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika orang menghargai karya kami, itu memberi energi positif dan dorongan untuk terus berkarya,” katanya.

Pada akhirnya, “Ekspresi Kebahagiaan” bukan sekadar pameran lukisan; ia adalah laboratorium seni, terapi jiwa, dan ruang pemberdayaan. Rumah Berdaya Denpasar telah menunjukkan bahwa ketika kreativitas, dukungan, dan pengakuan berpadu, seni mampu menjadi jembatan antara hati dan pikiran, antara rasa sakit dan kebahagiaan, antara individu dan masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwaPameran Seni Ruparumah berdayaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Next Post

Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Bangkit dari Pandemi, Satu Keluarga  di Tamblingan Hingga Kini Bertahan Hidup Bersama Camilan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co