6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Jari dan Telinga Kiri  |  Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
September 6, 2025
in Cerpen
Gunung Jari dan Telinga Kiri  |  Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co

TAK ada yang benar-benar mengerti kenapa gunung itu diberi nama Jari. Bentuknya biasa saja. Tak melengkung seperti jari, tak pula menunjuk ke mana-mana. Tapi semua orang di lembah menamainya begitu dan menyepakati diam-diam. Lebih baik tak banyak tanya soal sejarah nama. Konon, di lereng timurnya ada sepasang telinga batu, tertancap di tanah, setengah tertutup lumut. Salah satunya, yang kiri, katanya bisa mendengar suara masa lalu, asal kau berani tidur di dekatnya tanpa alas, tanpa selimut, dan tanpa harapan.

Gunung Jari bukan tempat wisata. Tak ada tenda berwarna neon, tak ada influencer menyapa kamera. Yang datang ke sini biasanya orang-orang yang ingin mengubur diam-diam, mungkin dosa, dendam, atau sekadar nama palsu. Di sisi barat ada batu-batu berlumut menyerupai kursi taman yang ditinggalkan, dan di timur, telinga batu itu berdiri bagai juru dengar tua yang malas menanggapi. Ada mitos, jika kau tidur di situ dalam keadaan marah, yang datang bukan suara masa lalu, melainkan sesuatu yang tak bisa kembali ke masa kini. Dan orang-orang yang mendengarnya, akan berjalan pulang sambil bicara sendiri. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang tak pernah sampai ke rumah.

Ranu tinggal di sisi barat gunung itu. Sudah lima tahun, semenjak keluar dari Akademi Bela Negara dengan nilai pas-pasan dan luka di betis. Ia tidak pernah cerita soal luka itu. Orang-orang desa hanya tahu, ia dulunya tentara, dan sekarang mengurus warung kecil di dekat jalan setapak, menjual kopi, rokok linting, dan kabar-kabar murahan. Kadang ia membuka lapak doa, tapi hanya saat bulan gelap atau ketika wangsit bertiup dari utara.

Warungnya bernama Kalah. Nama yang ia pasang sendiri, katanya, “supaya orang-orang tak berharap terlalu banyak.” Tapi anehnya, warung itu selalu ramai. Para pendaki mampir, para pencari wangsit nongkrong, dan kadang petugas dari ibukota yang menyaru sebagai peneliti lingkungan mampir minta air hangat.

Sore itu, hujan rintik turun di sela-sela kabut. Ranu sedang menggiling kopi saat seorang perempuan muda masuk. Rambutnya basah, celananya robek di lutut, dan wajahnya bagai orang yang baru saja menelan kekalahan besar.

“Ada kamar kosong?” tanyanya.

“Ini warung, bukan losmen,” sahut Ranu. Tapi ia tahu, tak ada tempat lain sejauh tiga kilometer ke arah barat, dan gadis ini terlalu letih untuk berdebat.

“Boleh numpang tidur dekat telinga kiri?” tanya gadis itu, tiba-tiba.

Ranu berhenti menggiling. Suaranya terdengar seperti suara yang pernah ia dengar sepuluh tahun lalu, saat rekan satu pasukannya ditinggal mati karena sandi yang ia sampaikan salah tafsir.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Liris,” jawab gadis itu. Ia tersenyum samar, seolah sadar betapa asing namanya di tempat seasing itu.

Malam datang tanpa aba-aba. Ranu menyiapkan kopi untuk dirinya sendiri, dan teh manis hangat untuk si gadis. Mereka duduk di depan warung, menatap kabut yang menggantung.

“Aku ke sini untuk bertapa,” ucap Liris.

Ranu mengamati tangan gadis itu, kuku-kuku terkelupas, jemari gemetar tipis, dan ada bekas luka kecil yang belum mengering di punggung tangan kirinya. Ia mengenal luka itu, bekas ikatan borgol yang terlalu lama. Ia tak bertanya. Tak perlu. Karena di tempat itu, pertanyaan adalah bentuk agresi yang terlalu modern. Yang datang ke Gunung Jari tak butuh interogasi. Mereka cuma ingin berada di tempat di mana waktu tidak mencatat, dan kehadiran bukan untuk dikenali. Ranu menyeduh teh, memecah keheningan dengan suara sendok mengaduk pelan. Di luar, kabut turun makin rendah. Liris diam, tapi bahunya sedikit melandai, seakan rasa takutnya meleleh bersama uap teh.

“Kamu pikir ini tempat para resi?” tanya Ranu.

“Tidak. Kupikir ini tempat di mana suara masa lalu lebih jujur daripada suara pemerintah.”

Ranu tertawa pendek. Ia menyukai gadis itu, atau lebih tepatnya, ia menyukai keberanian orang yang tahu dirinya kalah tapi tetap datang ke gelanggang.

“Aku pernah jadi tukang fitnah,” ucap Liris.

Ranu mengangkat alis.

“Ayahku dituduh makar. Aku diam. Bahkan saat surat tuduhan dibacakan, aku ikut mengangguk. Karena aku takut kehilangan pekerjaan. Tapi sekarang aku kehilangan ayah, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan alasan untuk tetap diam.”

Ranu menyesap kopinya perlahan. Ia tak bertanya lebih jauh. Ia tahu, orang yang datang ke telinga kiri bukan untuk didengarkan, tapi untuk membiarkan dirinya tenggelam.

Malam itu, Liris tidur di dekat batu telinga kiri. Ia tidak pakai tikar, tidak membawa jaket, dan menolak diberi lampu senter. Ia bilang, kalau gunung itu mau bicara, maka ia akan mendengarkan dengan mata tertutup dan perut kosong.

Pagi harinya, Liris kembali ke warung. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala. “Aku mendengar seseorang menyebut namaku,” ucapnya. “Tapi itu bukan suara ayahku. Itu suara seseorang yang mati muda karena aku.”

Ranu tak menanggapi. Ia tahu suara itu. Ia juga pernah tidur di situ, lima tahun lalu. Dan yang ia dengar adalah suara anak-anak kecil yang mati karena tembakan peringatan yang ia lepaskan terlalu rendah.

Hari ketiga, kabar mulai menyebar, seorang pengacara dari kota datang ke desa. Ia mencari seorang perempuan bernama Liris Madyaningrum, dicurigai menyimpan dokumen rahasia negara.

Warga desa pura-pura tak tahu. Di Warung Kalah, Ranu duduk sendiri. Liris sedang naik ke puncak gunung, katanya untuk menulis surat terakhir. Ia bilang, surat itu akan ia bakar, lalu abunya ia biarkan terbawa angin ke arah tenggara, tempat ibukota berdiri, tempat para jaksa makan siang sambil menonton drama pengadilan.

Pengacara itu akhirnya menemukan Warung Kalah. Ia bertubuh besar, membawa koper, dan mengenakan sepatu kulit yang menginjak batu-batu licin tanpa sedikit pun rasa kasihan. “Pernah lihat perempuan ini?” tanyanya, sambil menunjukkan sebuah foto.

Ranu melihat sebentar. “Kalau pun iya, dia bukan penjahat. Dia hanya penyesal.”

“Penyesal adalah ancaman bagi negara. Karena mereka bisa berubah menjadi pembongkar.”

Ranu tertawa. “Mungkin kau benar. Tapi di sini, orang-orang lebih takut pada gunung longsor daripada rahasia negara.”

Liris tak pernah kembali dari puncak. Tiga hari berlalu, dan hanya secarik kain yang ditemukan tertancap di dahan cemara, berisi satu kalimat aneh: Telinga kiri hanya mendengar yang belum pernah dikatakan.

Ada yang bilang, Liris berubah wujud jadi embun yang membungkus rumput puncak tiap pagi. Ada juga yang bilang ia kembali ke kota dengan wajah baru dan identitas segar, menyusup ke jantung birokrasi dan membuat mesin negara batuk-batuk tanpa tahu penyebab. Tapi yang paling sering didengar Ranu adalah versi yang lebih absurd, bahwa Liris masih di puncak, tapi waktu di sana berhenti. Ia hidup di detik yang sama berulang-ulang, memegang secarik surat dan menyaksikan awan tak pernah bergerak. Versi itu terdengar konyol, tapi siapa yang berani menyangkalnya? Di Gunung Jari, realitas bukan soal logika, tapi soal apa yang berani kau percayai tanpa bukti.

Warga desa menganggapnya mati. Pemerintah menyebutnya buron. Ranu tetap membuka warungnya. Ia menamai kopi buatannya Kopi Liris, rasanya pahit dan membuat jantung berdetak cepat.

Sepuluh tahun kemudian, Warung Kalah jadi tempat ziarah. Orang-orang dari kota datang, berharap bisa mendengar masa lalu mereka di telinga kiri. Beberapa pulang dengan tangis. Beberapa pulang dengan tawa. Beberapa tak pernah pulang.

Suatu malam, datang seorang lelaki tua. Ia mengenakan jubah putih, mata sayu, dan mulutnya selalu menggigit sepotong roti basi. Ia bilang, dulu ia seorang raja hukum, kini pengembara mencari damai. Ia tidur di telinga kiri. Dan pagi harinya, ia menghilang. Yang tersisa hanyalah roti basi itu, utuh di dekat telinga batu, dan jejak telapak kaki yang mengarah ke timur, ke arah jurang.

Di Warung Kalah, kini ada plakat kecil: Selamat datang di tempat kalah. Di sini, semua pemenang hanya sedang menunda kekalahan.

Dan di dinding belakang, ada foto lama, seorang gadis bermata menyala, dan seorang lelaki dengan luka di betis. Tak ada keterangan. Tak ada tanggal. Orang-orang suka berdebat, siapa mereka sebenarnya? Tapi Ranu, yang sekarang lebih banyak diam, hanya menjawab pendek setiap kali ditanya: “Yang satu pembisik, yang satu pendengar.”

Kadang, pendaki muda datang dan duduk berlama-lama di warung. Mereka bertanya tentang sejarah perlawanan, tentang sabotase, tentang perempuan muda yang menghilang. Ranu tak pernah menjawab dengan pasti. Ia hanya menggeser asbak, mengisi ulang termos air, dan membiarkan mereka menyusun kesimpulan masing-masing.

Suatu kali, ada yang menyodorkan kertas berisi laporan rahasia yang bocor dari kementerian. Di sana, nama Liris tertulis sebagai target operasi yang dibatalkan karena hilang secara spiritual. Ranu membacanya pelan, lalu membakar kertas itu di atas kompor. “Di tempat ini,” katanya, “yang terbakar lebih gampang dimengerti daripada yang masih utuh.”

Dan ketika ada yang bertanya siapa yang mati di puncak, Ranu biasanya menjawab: “Tidak ada yang mati. Tapi semua orang kehilangan sesuatu.” [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

Next Post

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co