4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
September 5, 2025
in Esai
Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Ilustrasi tatkala.co

Kawan yang baik,

Baiklah akan kita coba ungkap secuil tentang hubungan “seni, ideologi dan tubuh”.

Seperti yang pernah engkau tandaskan, “Bagaimana menjelaskan pernyataan bahwa seni rupa bisa menindas tubuh sebagai objek? Bukankah ungkapan “tubuh sebagai objek” itu dengan sendirinya si tubuh sudah takluk oleh si subjek? Tapi seperti apa penjelasannya yang tidak “mbulet” dan abstrak?”

Oke. Agar tidak abstrak marilah kita pakai setting waktu zaman kolonial.

Kita lihat sejarah seni visual dalam konteks manifestasi hasrat orientalistik pada lukisan, drawing, foto-foto, kartu pos dan sebagainya, yang menggambarkan tubuh perempuan pribumi – dalam pose tunggal maupun adegan di kerumunan – dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi “kepolosan” serta “ketelanjangan” berikut pancaran libidinal tubuh arkhaiknya sebagai bagian dari konstruksi kemurnian alam dan budaya-budaya “primitif”.

Kita ingat bahwa para pelukis dan fotografer zaman Hindia Belanda banyak yang membuat gambar figur perempuan pribumi telanjang maupun semi telanjang di alam terbuka seperti perempuan yang mandi atau mencuci pakaian di sungai pedalaman maupun di kota besar. (Dulu di Jakarta, banyak perempuan yang mencuci baju di sungai Ciliwung)

Dua seniman dari generasi yang berbeda misalnya, yakni A.A.J. Payen (1792-1853) melukis suasana pemandian umum tradisional di Minahasa, Sulawesi Utara, dan Abraham Salm (1857-1915) melukis pemandian di Wendit, Malang, Jawa Timur.

Sementara di Bali para pelukis Eropa beroleh ruang perayaan (sekaligus wahana ekstase) erotik dengan melukis perempuan pribumi semi telanjang berikut payudara terekspos dalam kehidupan sehari-hari (dalam kerangka primitivisme) maupun ketika perempuan-perempuan itu mandi di sungai atau di air terjun.

Tentu itu bukan hal yang aneh. Di mana-mana banyak pelukis yang menggambar ketelanjangan. Ya, benar. Tapi dalam konteks kolonialisme, dalam kadar tertentu, bentuk-bentuk visual tersebut lebih jelas menampakkan hasrat seksual patriarkhal atas sang “liyan” dalam keliaran tubuh perempuan “belum beradab” yang diselubungi pesona etniknya pula.

Kawan yang baik,

Coba cek lagi buku “Toekang Potret: 100 jaar fotografi e in Nederlands-Indie 1839-1939” karya Paul Faber dan kawan-kawan. Di situ ada kisah tentang salah satu fungsi tubuh perempuan dalam politik praktis kolonial.

Pada tahun 1887 gambar telanjang perempuan pribumi dijadikan wahana reklame untuk membujuk para pemuda Belanda (dan Belgia) agar mau mendaftarkan diri sebagai prajurit cadangan di Hindia Belanda.

Salah satu lelaki muda yang terbujuk iklan tersebut adalah Alexander Cohen yang sangat antusias mendaftar menjadi serdadu cadangan, tapi sesampainya di Hindia Belanda ia sangat marah dan kecewa karena menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa perempuan pribumi ternyata tidak secantik dan sesensual seperti yang digambarkan dalam iklan.

Ia kemudian menulis kritik keras di media massa sekaligus menyatakan bahwa pemerintah adalah penipu busuk sembari mengumumkan agar kaum muda di negeri Belanda tidak menjadi korban berikutnya. Jangan tertipu mentah-mentah.

Menurut Cohen, potret perempuan pribumi separuh telanjang atau telanjang itu ternyata dibuat di studio dengan model para pelacur dalam gaya menantang dan bahkan vulgar. Sebagian modelnya menatap kamera dengan pandangan malu-malu untuk menonjolkan kepolosannya.

Entah karena kritiknya pedasnya itu atau sebab lain ia dipecat dari dinas militer dan bahkan kemudian dijebloskan ke penjara.

Kawan yang baik,

Tentu, di luar foto-foto “propaganda” semacam itu, banyak juga foto karya fotografer profesional, salah satu yang paling digemari adalah serial foto berjudul “Souvenir de voyage”.

Serial ini laku keras, terutama yang menggunakan model telanjang perempuan pribumi berusia 14 tahun dengan pose menantang: kaki kiri diangkat bertumpu pada sebuah peti besi dan teko keramik di sebelahnya. Sang model memandang ke samping sementara di kaki kanannya terdapat sejumput juntaian kain tipis.

Foto-foto perempuan pribumi telanjang dengan eksekusi yang bagus itu kemudian dipajang dalam pameran “Exposition Universelle” di Paris tahun 1889 yang memicu antusiasme besar para pengunjung. Selain sebagai lahan bisnis, foto-foto telanjang itu juga dipakai untuk membuat klasifikasi atau tipologi etnografis oleh sebagian ilmuwan dan para fungsionaris pemerintahan.

Ihwal iklan dan kartu pos ini perlu diberi catatan khusus. Dalam buku “Indonesia: 500 Early Postcards”, Leo Haks dan Steven Wachlin, mengutip survei surat kabar “Bataviaasch Nieuwsblad” edisi 14 Januari 1901, yang menyatakan bahwa hingga 16 Agustus 1900 tercatat 10.128.569 kartu pos bergambar yang beredar di Jerman.

Jumlah tersebut diperkirakan juga beredar di Inggris dan Prancis. Dan pada edisi 7 November 1903, surat kabar tersebut menulis bahwa hingga tahun 1902 kurang lebih terdapat 900 juta kartu pos yang beredar di seluruh dunia, tidak termasuk Asia dan Afrika. Bisa dibayangkan besarnya peredaran kartu pos zaman itu.

Sementara menurut Stuart Hall dalam bukunya “Modernity and its Future”, berbagai wahana visual berupa lukisan, drawing, foto, iklan, kartu pos dan ilustrasi dalam buku pelajaran sekolah maupun brosur wisata semacam itu adalah manifestasi paling nyata dari “fantasi kolonial” dan bahkan cerminan hasrat masyarakat Barat secara umum terhadap apa yang disebut sebagai “otherness” sebagai bentuk pemenuhan kuasa oriental atas dunia dan kehidupan yang berada di wilayah-wilayah pinggiran yang masih “tertutup”.

Yakni suatu dunia murni yang secara etnis diyakini sebagai kebudayaan yang benar-benar tradisional serta belum tercemari oleh proyek besar modernisme. Dan semua itu harus diawetkan sebagai wahana untuk mereproduksi “sorga” yang nyaris lenyap dari kehidupan masyarakat Eropa sejak munculnya revolusi industri.

Begitu kawan. Salam. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: Ideologikartu posPerempuanSeniTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemuda Bahas Kebudayaan di CHANDI 2025, Mulai dari Green School Bali hingga Film Animasi

Next Post

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co