24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
September 5, 2025
in Esai
Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Ilustrasi tatkala.co

Kawan yang baik,

Baiklah akan kita coba ungkap secuil tentang hubungan “seni, ideologi dan tubuh”.

Seperti yang pernah engkau tandaskan, “Bagaimana menjelaskan pernyataan bahwa seni rupa bisa menindas tubuh sebagai objek? Bukankah ungkapan “tubuh sebagai objek” itu dengan sendirinya si tubuh sudah takluk oleh si subjek? Tapi seperti apa penjelasannya yang tidak “mbulet” dan abstrak?”

Oke. Agar tidak abstrak marilah kita pakai setting waktu zaman kolonial.

Kita lihat sejarah seni visual dalam konteks manifestasi hasrat orientalistik pada lukisan, drawing, foto-foto, kartu pos dan sebagainya, yang menggambarkan tubuh perempuan pribumi – dalam pose tunggal maupun adegan di kerumunan – dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi “kepolosan” serta “ketelanjangan” berikut pancaran libidinal tubuh arkhaiknya sebagai bagian dari konstruksi kemurnian alam dan budaya-budaya “primitif”.

Kita ingat bahwa para pelukis dan fotografer zaman Hindia Belanda banyak yang membuat gambar figur perempuan pribumi telanjang maupun semi telanjang di alam terbuka seperti perempuan yang mandi atau mencuci pakaian di sungai pedalaman maupun di kota besar. (Dulu di Jakarta, banyak perempuan yang mencuci baju di sungai Ciliwung)

Dua seniman dari generasi yang berbeda misalnya, yakni A.A.J. Payen (1792-1853) melukis suasana pemandian umum tradisional di Minahasa, Sulawesi Utara, dan Abraham Salm (1857-1915) melukis pemandian di Wendit, Malang, Jawa Timur.

Sementara di Bali para pelukis Eropa beroleh ruang perayaan (sekaligus wahana ekstase) erotik dengan melukis perempuan pribumi semi telanjang berikut payudara terekspos dalam kehidupan sehari-hari (dalam kerangka primitivisme) maupun ketika perempuan-perempuan itu mandi di sungai atau di air terjun.

Tentu itu bukan hal yang aneh. Di mana-mana banyak pelukis yang menggambar ketelanjangan. Ya, benar. Tapi dalam konteks kolonialisme, dalam kadar tertentu, bentuk-bentuk visual tersebut lebih jelas menampakkan hasrat seksual patriarkhal atas sang “liyan” dalam keliaran tubuh perempuan “belum beradab” yang diselubungi pesona etniknya pula.

Kawan yang baik,

Coba cek lagi buku “Toekang Potret: 100 jaar fotografi e in Nederlands-Indie 1839-1939” karya Paul Faber dan kawan-kawan. Di situ ada kisah tentang salah satu fungsi tubuh perempuan dalam politik praktis kolonial.

Pada tahun 1887 gambar telanjang perempuan pribumi dijadikan wahana reklame untuk membujuk para pemuda Belanda (dan Belgia) agar mau mendaftarkan diri sebagai prajurit cadangan di Hindia Belanda.

Salah satu lelaki muda yang terbujuk iklan tersebut adalah Alexander Cohen yang sangat antusias mendaftar menjadi serdadu cadangan, tapi sesampainya di Hindia Belanda ia sangat marah dan kecewa karena menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa perempuan pribumi ternyata tidak secantik dan sesensual seperti yang digambarkan dalam iklan.

Ia kemudian menulis kritik keras di media massa sekaligus menyatakan bahwa pemerintah adalah penipu busuk sembari mengumumkan agar kaum muda di negeri Belanda tidak menjadi korban berikutnya. Jangan tertipu mentah-mentah.

Menurut Cohen, potret perempuan pribumi separuh telanjang atau telanjang itu ternyata dibuat di studio dengan model para pelacur dalam gaya menantang dan bahkan vulgar. Sebagian modelnya menatap kamera dengan pandangan malu-malu untuk menonjolkan kepolosannya.

Entah karena kritiknya pedasnya itu atau sebab lain ia dipecat dari dinas militer dan bahkan kemudian dijebloskan ke penjara.

Kawan yang baik,

Tentu, di luar foto-foto “propaganda” semacam itu, banyak juga foto karya fotografer profesional, salah satu yang paling digemari adalah serial foto berjudul “Souvenir de voyage”.

Serial ini laku keras, terutama yang menggunakan model telanjang perempuan pribumi berusia 14 tahun dengan pose menantang: kaki kiri diangkat bertumpu pada sebuah peti besi dan teko keramik di sebelahnya. Sang model memandang ke samping sementara di kaki kanannya terdapat sejumput juntaian kain tipis.

Foto-foto perempuan pribumi telanjang dengan eksekusi yang bagus itu kemudian dipajang dalam pameran “Exposition Universelle” di Paris tahun 1889 yang memicu antusiasme besar para pengunjung. Selain sebagai lahan bisnis, foto-foto telanjang itu juga dipakai untuk membuat klasifikasi atau tipologi etnografis oleh sebagian ilmuwan dan para fungsionaris pemerintahan.

Ihwal iklan dan kartu pos ini perlu diberi catatan khusus. Dalam buku “Indonesia: 500 Early Postcards”, Leo Haks dan Steven Wachlin, mengutip survei surat kabar “Bataviaasch Nieuwsblad” edisi 14 Januari 1901, yang menyatakan bahwa hingga 16 Agustus 1900 tercatat 10.128.569 kartu pos bergambar yang beredar di Jerman.

Jumlah tersebut diperkirakan juga beredar di Inggris dan Prancis. Dan pada edisi 7 November 1903, surat kabar tersebut menulis bahwa hingga tahun 1902 kurang lebih terdapat 900 juta kartu pos yang beredar di seluruh dunia, tidak termasuk Asia dan Afrika. Bisa dibayangkan besarnya peredaran kartu pos zaman itu.

Sementara menurut Stuart Hall dalam bukunya “Modernity and its Future”, berbagai wahana visual berupa lukisan, drawing, foto, iklan, kartu pos dan ilustrasi dalam buku pelajaran sekolah maupun brosur wisata semacam itu adalah manifestasi paling nyata dari “fantasi kolonial” dan bahkan cerminan hasrat masyarakat Barat secara umum terhadap apa yang disebut sebagai “otherness” sebagai bentuk pemenuhan kuasa oriental atas dunia dan kehidupan yang berada di wilayah-wilayah pinggiran yang masih “tertutup”.

Yakni suatu dunia murni yang secara etnis diyakini sebagai kebudayaan yang benar-benar tradisional serta belum tercemari oleh proyek besar modernisme. Dan semua itu harus diawetkan sebagai wahana untuk mereproduksi “sorga” yang nyaris lenyap dari kehidupan masyarakat Eropa sejak munculnya revolusi industri.

Begitu kawan. Salam. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: Ideologikartu posPerempuanSeniTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemuda Bahas Kebudayaan di CHANDI 2025, Mulai dari Green School Bali hingga Film Animasi

Next Post

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co