24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
September 5, 2025
in Esai
Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Ilustrasi tatkala.co

Kawan yang baik,

Baiklah akan kita coba ungkap secuil tentang hubungan “seni, ideologi dan tubuh”.

Seperti yang pernah engkau tandaskan, “Bagaimana menjelaskan pernyataan bahwa seni rupa bisa menindas tubuh sebagai objek? Bukankah ungkapan “tubuh sebagai objek” itu dengan sendirinya si tubuh sudah takluk oleh si subjek? Tapi seperti apa penjelasannya yang tidak “mbulet” dan abstrak?”

Oke. Agar tidak abstrak marilah kita pakai setting waktu zaman kolonial.

Kita lihat sejarah seni visual dalam konteks manifestasi hasrat orientalistik pada lukisan, drawing, foto-foto, kartu pos dan sebagainya, yang menggambarkan tubuh perempuan pribumi – dalam pose tunggal maupun adegan di kerumunan – dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi “kepolosan” serta “ketelanjangan” berikut pancaran libidinal tubuh arkhaiknya sebagai bagian dari konstruksi kemurnian alam dan budaya-budaya “primitif”.

Kita ingat bahwa para pelukis dan fotografer zaman Hindia Belanda banyak yang membuat gambar figur perempuan pribumi telanjang maupun semi telanjang di alam terbuka seperti perempuan yang mandi atau mencuci pakaian di sungai pedalaman maupun di kota besar. (Dulu di Jakarta, banyak perempuan yang mencuci baju di sungai Ciliwung)

Dua seniman dari generasi yang berbeda misalnya, yakni A.A.J. Payen (1792-1853) melukis suasana pemandian umum tradisional di Minahasa, Sulawesi Utara, dan Abraham Salm (1857-1915) melukis pemandian di Wendit, Malang, Jawa Timur.

Sementara di Bali para pelukis Eropa beroleh ruang perayaan (sekaligus wahana ekstase) erotik dengan melukis perempuan pribumi semi telanjang berikut payudara terekspos dalam kehidupan sehari-hari (dalam kerangka primitivisme) maupun ketika perempuan-perempuan itu mandi di sungai atau di air terjun.

Tentu itu bukan hal yang aneh. Di mana-mana banyak pelukis yang menggambar ketelanjangan. Ya, benar. Tapi dalam konteks kolonialisme, dalam kadar tertentu, bentuk-bentuk visual tersebut lebih jelas menampakkan hasrat seksual patriarkhal atas sang “liyan” dalam keliaran tubuh perempuan “belum beradab” yang diselubungi pesona etniknya pula.

Kawan yang baik,

Coba cek lagi buku “Toekang Potret: 100 jaar fotografi e in Nederlands-Indie 1839-1939” karya Paul Faber dan kawan-kawan. Di situ ada kisah tentang salah satu fungsi tubuh perempuan dalam politik praktis kolonial.

Pada tahun 1887 gambar telanjang perempuan pribumi dijadikan wahana reklame untuk membujuk para pemuda Belanda (dan Belgia) agar mau mendaftarkan diri sebagai prajurit cadangan di Hindia Belanda.

Salah satu lelaki muda yang terbujuk iklan tersebut adalah Alexander Cohen yang sangat antusias mendaftar menjadi serdadu cadangan, tapi sesampainya di Hindia Belanda ia sangat marah dan kecewa karena menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa perempuan pribumi ternyata tidak secantik dan sesensual seperti yang digambarkan dalam iklan.

Ia kemudian menulis kritik keras di media massa sekaligus menyatakan bahwa pemerintah adalah penipu busuk sembari mengumumkan agar kaum muda di negeri Belanda tidak menjadi korban berikutnya. Jangan tertipu mentah-mentah.

Menurut Cohen, potret perempuan pribumi separuh telanjang atau telanjang itu ternyata dibuat di studio dengan model para pelacur dalam gaya menantang dan bahkan vulgar. Sebagian modelnya menatap kamera dengan pandangan malu-malu untuk menonjolkan kepolosannya.

Entah karena kritiknya pedasnya itu atau sebab lain ia dipecat dari dinas militer dan bahkan kemudian dijebloskan ke penjara.

Kawan yang baik,

Tentu, di luar foto-foto “propaganda” semacam itu, banyak juga foto karya fotografer profesional, salah satu yang paling digemari adalah serial foto berjudul “Souvenir de voyage”.

Serial ini laku keras, terutama yang menggunakan model telanjang perempuan pribumi berusia 14 tahun dengan pose menantang: kaki kiri diangkat bertumpu pada sebuah peti besi dan teko keramik di sebelahnya. Sang model memandang ke samping sementara di kaki kanannya terdapat sejumput juntaian kain tipis.

Foto-foto perempuan pribumi telanjang dengan eksekusi yang bagus itu kemudian dipajang dalam pameran “Exposition Universelle” di Paris tahun 1889 yang memicu antusiasme besar para pengunjung. Selain sebagai lahan bisnis, foto-foto telanjang itu juga dipakai untuk membuat klasifikasi atau tipologi etnografis oleh sebagian ilmuwan dan para fungsionaris pemerintahan.

Ihwal iklan dan kartu pos ini perlu diberi catatan khusus. Dalam buku “Indonesia: 500 Early Postcards”, Leo Haks dan Steven Wachlin, mengutip survei surat kabar “Bataviaasch Nieuwsblad” edisi 14 Januari 1901, yang menyatakan bahwa hingga 16 Agustus 1900 tercatat 10.128.569 kartu pos bergambar yang beredar di Jerman.

Jumlah tersebut diperkirakan juga beredar di Inggris dan Prancis. Dan pada edisi 7 November 1903, surat kabar tersebut menulis bahwa hingga tahun 1902 kurang lebih terdapat 900 juta kartu pos yang beredar di seluruh dunia, tidak termasuk Asia dan Afrika. Bisa dibayangkan besarnya peredaran kartu pos zaman itu.

Sementara menurut Stuart Hall dalam bukunya “Modernity and its Future”, berbagai wahana visual berupa lukisan, drawing, foto, iklan, kartu pos dan ilustrasi dalam buku pelajaran sekolah maupun brosur wisata semacam itu adalah manifestasi paling nyata dari “fantasi kolonial” dan bahkan cerminan hasrat masyarakat Barat secara umum terhadap apa yang disebut sebagai “otherness” sebagai bentuk pemenuhan kuasa oriental atas dunia dan kehidupan yang berada di wilayah-wilayah pinggiran yang masih “tertutup”.

Yakni suatu dunia murni yang secara etnis diyakini sebagai kebudayaan yang benar-benar tradisional serta belum tercemari oleh proyek besar modernisme. Dan semua itu harus diawetkan sebagai wahana untuk mereproduksi “sorga” yang nyaris lenyap dari kehidupan masyarakat Eropa sejak munculnya revolusi industri.

Begitu kawan. Salam. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: Ideologikartu posPerempuanSeniTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemuda Bahas Kebudayaan di CHANDI 2025, Mulai dari Green School Bali hingga Film Animasi

Next Post

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co