4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
September 5, 2025
in Esai
Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Ilustrasi tatkala.co

Kawan yang baik,

Baiklah akan kita coba ungkap secuil tentang hubungan “seni, ideologi dan tubuh”.

Seperti yang pernah engkau tandaskan, “Bagaimana menjelaskan pernyataan bahwa seni rupa bisa menindas tubuh sebagai objek? Bukankah ungkapan “tubuh sebagai objek” itu dengan sendirinya si tubuh sudah takluk oleh si subjek? Tapi seperti apa penjelasannya yang tidak “mbulet” dan abstrak?”

Oke. Agar tidak abstrak marilah kita pakai setting waktu zaman kolonial.

Kita lihat sejarah seni visual dalam konteks manifestasi hasrat orientalistik pada lukisan, drawing, foto-foto, kartu pos dan sebagainya, yang menggambarkan tubuh perempuan pribumi – dalam pose tunggal maupun adegan di kerumunan – dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi “kepolosan” serta “ketelanjangan” berikut pancaran libidinal tubuh arkhaiknya sebagai bagian dari konstruksi kemurnian alam dan budaya-budaya “primitif”.

Kita ingat bahwa para pelukis dan fotografer zaman Hindia Belanda banyak yang membuat gambar figur perempuan pribumi telanjang maupun semi telanjang di alam terbuka seperti perempuan yang mandi atau mencuci pakaian di sungai pedalaman maupun di kota besar. (Dulu di Jakarta, banyak perempuan yang mencuci baju di sungai Ciliwung)

Dua seniman dari generasi yang berbeda misalnya, yakni A.A.J. Payen (1792-1853) melukis suasana pemandian umum tradisional di Minahasa, Sulawesi Utara, dan Abraham Salm (1857-1915) melukis pemandian di Wendit, Malang, Jawa Timur.

Sementara di Bali para pelukis Eropa beroleh ruang perayaan (sekaligus wahana ekstase) erotik dengan melukis perempuan pribumi semi telanjang berikut payudara terekspos dalam kehidupan sehari-hari (dalam kerangka primitivisme) maupun ketika perempuan-perempuan itu mandi di sungai atau di air terjun.

Tentu itu bukan hal yang aneh. Di mana-mana banyak pelukis yang menggambar ketelanjangan. Ya, benar. Tapi dalam konteks kolonialisme, dalam kadar tertentu, bentuk-bentuk visual tersebut lebih jelas menampakkan hasrat seksual patriarkhal atas sang “liyan” dalam keliaran tubuh perempuan “belum beradab” yang diselubungi pesona etniknya pula.

Kawan yang baik,

Coba cek lagi buku “Toekang Potret: 100 jaar fotografi e in Nederlands-Indie 1839-1939” karya Paul Faber dan kawan-kawan. Di situ ada kisah tentang salah satu fungsi tubuh perempuan dalam politik praktis kolonial.

Pada tahun 1887 gambar telanjang perempuan pribumi dijadikan wahana reklame untuk membujuk para pemuda Belanda (dan Belgia) agar mau mendaftarkan diri sebagai prajurit cadangan di Hindia Belanda.

Salah satu lelaki muda yang terbujuk iklan tersebut adalah Alexander Cohen yang sangat antusias mendaftar menjadi serdadu cadangan, tapi sesampainya di Hindia Belanda ia sangat marah dan kecewa karena menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa perempuan pribumi ternyata tidak secantik dan sesensual seperti yang digambarkan dalam iklan.

Ia kemudian menulis kritik keras di media massa sekaligus menyatakan bahwa pemerintah adalah penipu busuk sembari mengumumkan agar kaum muda di negeri Belanda tidak menjadi korban berikutnya. Jangan tertipu mentah-mentah.

Menurut Cohen, potret perempuan pribumi separuh telanjang atau telanjang itu ternyata dibuat di studio dengan model para pelacur dalam gaya menantang dan bahkan vulgar. Sebagian modelnya menatap kamera dengan pandangan malu-malu untuk menonjolkan kepolosannya.

Entah karena kritiknya pedasnya itu atau sebab lain ia dipecat dari dinas militer dan bahkan kemudian dijebloskan ke penjara.

Kawan yang baik,

Tentu, di luar foto-foto “propaganda” semacam itu, banyak juga foto karya fotografer profesional, salah satu yang paling digemari adalah serial foto berjudul “Souvenir de voyage”.

Serial ini laku keras, terutama yang menggunakan model telanjang perempuan pribumi berusia 14 tahun dengan pose menantang: kaki kiri diangkat bertumpu pada sebuah peti besi dan teko keramik di sebelahnya. Sang model memandang ke samping sementara di kaki kanannya terdapat sejumput juntaian kain tipis.

Foto-foto perempuan pribumi telanjang dengan eksekusi yang bagus itu kemudian dipajang dalam pameran “Exposition Universelle” di Paris tahun 1889 yang memicu antusiasme besar para pengunjung. Selain sebagai lahan bisnis, foto-foto telanjang itu juga dipakai untuk membuat klasifikasi atau tipologi etnografis oleh sebagian ilmuwan dan para fungsionaris pemerintahan.

Ihwal iklan dan kartu pos ini perlu diberi catatan khusus. Dalam buku “Indonesia: 500 Early Postcards”, Leo Haks dan Steven Wachlin, mengutip survei surat kabar “Bataviaasch Nieuwsblad” edisi 14 Januari 1901, yang menyatakan bahwa hingga 16 Agustus 1900 tercatat 10.128.569 kartu pos bergambar yang beredar di Jerman.

Jumlah tersebut diperkirakan juga beredar di Inggris dan Prancis. Dan pada edisi 7 November 1903, surat kabar tersebut menulis bahwa hingga tahun 1902 kurang lebih terdapat 900 juta kartu pos yang beredar di seluruh dunia, tidak termasuk Asia dan Afrika. Bisa dibayangkan besarnya peredaran kartu pos zaman itu.

Sementara menurut Stuart Hall dalam bukunya “Modernity and its Future”, berbagai wahana visual berupa lukisan, drawing, foto, iklan, kartu pos dan ilustrasi dalam buku pelajaran sekolah maupun brosur wisata semacam itu adalah manifestasi paling nyata dari “fantasi kolonial” dan bahkan cerminan hasrat masyarakat Barat secara umum terhadap apa yang disebut sebagai “otherness” sebagai bentuk pemenuhan kuasa oriental atas dunia dan kehidupan yang berada di wilayah-wilayah pinggiran yang masih “tertutup”.

Yakni suatu dunia murni yang secara etnis diyakini sebagai kebudayaan yang benar-benar tradisional serta belum tercemari oleh proyek besar modernisme. Dan semua itu harus diawetkan sebagai wahana untuk mereproduksi “sorga” yang nyaris lenyap dari kehidupan masyarakat Eropa sejak munculnya revolusi industri.

Begitu kawan. Salam. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: Ideologikartu posPerempuanSeniTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemuda Bahas Kebudayaan di CHANDI 2025, Mulai dari Green School Bali hingga Film Animasi

Next Post

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co