22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PUJA SARASWATI BERSUMBER DARI TRADISI BHARATA WARSA (INDIA KUNO)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 5, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 5 September 2025

SUNGAI Saraswati (Sárasvatī-nadī́ ) adalah sungai mitologis alam dewata, pertama kali disebutkan dalam Rigveda dan kemudian dalam teks-teks Weda lainnya dan teks pasca-Weda. Sungai ini memainkan peran penting dalam para penganut berbagai aliran pemikiran dan kepercayaan yang berbasis Weda.

Rigveda (kitab suci yang telah ada sekitar 1500 – 1000 Sebelum Masehi) ini adalah sumber tertua yang menyebutkan Dewi Saraswati dengan berbagai puja mantra yang dijelaskan dengan sangat rinci. RV 7.95.1-2, menggambarkan Saraswati mengalir ke ‘samudra’. Dewi Sarawasti disebutkan dalam banyak pujian (himne) dalam Rigveda, dan ada tiga himne yang didedikasikan untuknya (6:61 secara eksklusif, dan 7:95–96 yang ia disebutkan bersama Sarasvant). Dalam Rigveda 2.41.16 ia disebut: “Ibu terbaik, sungai terbaik, dewi terbaik”.

Dalam Mandala (bagian buku) 10 (10.17) dari Rigveda, Saraswati dirayakan sebagai dewi penyembuhan dan pemurnian air. Dalam Atharva Veda perannya sebagai penyembuh dan pemberi kehidupan lebih dipertegas. Dalam berbagai sumber, termasuk Yajur Veda, Saraswasti digambarkan telah menyembuhkan Indra setelah dia minum terlalu banyak Soma.

Dewi Saraswati dalam Rig Weda disebutkan sebagai Dewi yang memberikan kekuatan pikiran dan wicara. Pikiran tajam jernih dan mulia adalah ‘dhi’. Wicara halus teratur dan luhur adalah bermuara pada ‘vac’. Saraswati sebagai Dewi mengatur dan pemberkah ‘dhī’ (Rigveda 1:3:12c.). ‘Dhī’ adalah pikiran yang diilhami (terutama yang dimiliki para rishi ), itu adalah intuisi atau kecerdasan – terutama yang terkait dengan kalimat suci dan agama. Saraswati dipandang sebagai dewi yang dapat memberikan dhī ( Rgveda 6:49:7c.) jika kita mohon dalam doa atau meditasi.

‘Dhi’ diperlukan untuk menuntun ‘Vac’. Ucapan (vac) membutuhkan pikiran yang diilhami, pikiran yang murni, dia juga terkait erat dengan ucapan dan dengan dewi ucapan, Vāc. Dalam kitab Shatapatha Brahmana, peran Saraswati-Vac meluas, menjadi jelas diidentifikasi dengan pengetahuan (yang dikomunikasikan melalui ucapan). Disebutkan bahwa Dewi Saraswasti adalah “ibu dari Weda ” serta Weda itu sendiri.

Shatapatha Brahmana menyatakan bahwa ”seperti semua air bertemu di lautan… maka semua ilmu pengetahuan (vidya) bersatu (ekayanam) dalam Vāc” (14:5:4:11).

Kitab-kitab Purana dan kitab lainnya yang ditulis di India menjelaskan dan memuliakan Dewi Saraswati.

Bukan hanya dalam ajaran Hindu dimuliakan. Dalam agama Buddha, Dewi Saraswati dihormati dalam banyak bentuk, termasuk Dewi Cinta Kasih dan identik dengan Dewi Tara. Dalam Jainisme, Saraswati dihormati sebagai dewi yang bertanggung jawab atas penyebaran ajaran dan khotbah Tirthankara.

Pemuliaan Dewi Saraswati Era Majapahit

KAKAWIN DHARMASUNYA dalam Wirama Ragakusuma secara jelas menulis bahwa yang disebut sebagai Pujangga Agung adalah seseorang yang batinnya telah dikuasai oleh Dewi Saraswati sungguh-sungguh tiada terpisahkan:

  1. Batin sang pujangga ulung jernih bagaikan samudera, bersinar suci bersih.
    Hendak bebas dari saripati keindahan yang menjadi kumpulan segala rasa.
    Pengetahuan Tertinggi merupakan puncak ajaran tertinggi. Beliau merupakan pendeta utama.
    Bagaikan lingga dunia, sebagai lampu, karyanya telah terkenal kemana-mana.
  2. Orang yang telah mahir dalam kenyataan seperti itu berhak menciptakan kakawin di masyarakat.
    Sungguh Hyang Siwa-Budha menganugrahi beliau tentang kesucian batin.
    Dan lagi Dewi Saraswati sungguh-sungguh telah menguasai batinnya tiada terpisahkan.
    Itulah sebabnya beliau berhasil dalam segala ucapannya. Beliau itulah dinamakan Pujangga Agung.

Dalam karya sastra Kawi lainnya yang ditulis era Kerajaan Majapahit keberadaan Dewi Saraswati sangat sentral menempati posisi inti dalam kependetaan dan kesusastraan. Kakawin Dharmasunya, kakawin didaktis dalam bahasa Jawa Kuno, yang diperkirakan ditulis pada pertengahan abad ke 15 Masehi, sebagai salah satu contoh.

Dalam tradisi suci penulisan Kakawin baik era kerajaan Majapahit atau sebelumnya, yang dipuja dan dimuliakan adalah Dewi Saraswasti sebagai ‘Weda’, sebagai pemberi kejernihan ‘Dhi’ dan ‘Vac’ — hanya ketika sang penyair atau Sang Kawi Sastra sudah ‘kesusupan’ atau telah mendapat anugrah Dewi Sarasawati atau Sang Hyang Sarasawati, atau Hyang Haji Sasraswati, baru disebutkan siddhi dan layak disebut Pujangga Agung. Karya KAKAWIN DHARMASUNYA bagian Wirama Ragakusuma di atas terang benderang menyebutkan hal tersebut. Kakawin-kakawin lain yang lebih tua, pun menyebutkan hal yang sama. Bahwa manusia yang pikiran dan batinnya mulia dan mampu berucap disebut sebagai diberkati ‘dhi’ dan ‘vac’ oleh Hyang Saraswati.

Bahkan kalau kita urai karya Jawa Kuno secara lebih jauh maka Dewi Saraswati menempati posisi penting dari tahun 800 Masehi dan selanjutnya bersambung ke tradisi sastra Kawi era Teguh Dharmawangsa dan Kerajaan Kediri, serta era setelahnya, Singosari dan Majapahit.

Pemuliaan Dewi Saraswati di Bali

Pemuliaan Dewi Saraswati diperkirakan dibawa serta ke Bali dari Jawa ketika tradisi Kakawin diperkenalkan dari Jawa ke Bali, setidaknya era Raja Udayana yang menikah dengan Ratu Mahendradatta (keturunan Mpu Sindok) yang disebutkan secara tradisi telah membawa Kitab Kakawin Ramayana dan karya-karya kakawin lain yang telah dikenal di Jawa di era ini.

Kalau dilihat dari gelar dan nama raja-raja Bali seperti Kesari dan Ugrasena bersumber dari tradisi teks yang sudah ada relief ceritanya di Candi Prambanan, ada kemungkinan pemuliaan Saraswati di Bali sudah dikenal di era tersebut.

”Sri, Ratih, Girisuta, Saraswati, nā sirānung atidibya dewatī..”

Demikian disebutkan dalam Kakawin Ramayana bahwa Saraswati adlaah dewati yang dimuliakan… Kakawin Ramayana, yang diperkirakan telah ditulis dalam era Mataram Hindu pada masa pemerinthan Dyah Balitung sekitar tahun 820-832 Saka atau sekitar tahun 870 M, dibawa salinanya ke Bali setidaknya di era Raja Udayana. Sekalipun belum ada bukti peninggalan atau pura pemujaan khusus atau bukti temuan arca Saraswati di Bali dari era Bali Kuno, tapi kemungkinan sudah dikenal setidaknya di kalangan bhujangga dan lingkar kerajaan.

Karya Sastra yang diwarisi di Bali sampai saat ini, seperti: Kakawin Sutasoma, Kakawin Bhomantaka, Tantri Kamandaka, Kakawin Arjunawijaya, Kakawin HARISRAYA, Kakawin- Adiparwa, Bhismaparwa, Tantu Panggelaran, Siwarätrikalpa, Sumanasantaka, Nawaruci, Kakawin Nirartha Prakreta, dll mengandung uraian pemuliaan Dewi Saraswati. Sekian banyak kakawin atau teks sastra yang memuliakan Saraswasti yang mengalir dari tradisi Kawi atau Jawa Kuno, tentu tidak lain merupakan kelanjutan aliran pemikiran Weda dan pemuliaan Saraswati yang bersumber dari tradisi Rigveda yang telah ada sekitar 1500 – 1000 Sebelum Masehi yang berkembang di tanah Bharata Warsa.

Karya-karya Kakawin tersebutlah yang menyusup menjiwai tradisi Hindu Bali. Bersama karya-karya Kakawin dan teks sastra Hindu di Nusantara tersebut terdalam pula lontar-lontar berisi kompilasi mantra dan mengandung secara khusus Mantra Puja Saraswasti.

Mantra yang pendek salahsatunya yang muncul dalam lontar mantra puja Saraswati:

OṂ Gaṅgā-Sarasvatī-Sindhuvatī-Vipāśā-Kośikā-Yamunā-Sarayū-yanamaḥ svāhā.

Mantra Pemercikan Tirta Saraswati:

OṂ SAṂ Sarasvatī-śveta-varṇāya[i] namaḥ svāhā
OṂ BAṂ Sarasvatī-rakta-varṇāya[i] namaḥ svāhā
OṂ TAṂ Sarasvatī-pīta-varṇāya[i] namaḥ svāhā
OṂ AṂ Sarasvatī-kṛṣṇa-varṇāya[i] namaḥ svāhā
OṂ IṂ Sarasvatī-viśva-varnāya[i] namaḥ svāhā

Tabik pikulun Hyang Dewi Saraswati, inilah mantra pemuliaan Saraswati yang teramat disucikan dan dipujakan untuk memuliakan dan memohon pemberkatan yang terdapat dalam lontar-lontar rahasya di Bali:

1. OṂ Sarasvatī namas tubhyaṃ, varade kāma-rūpiṇi
siddhārambhaṃ1 kariṣyāmi, siddhir bhavatu me sadā.

2. Praṇamya sarva-devāṃś ca, Paramâtmānam eva ca
rūpa-siddhi-prayuktā yā, Sarasvatīṃ namāmy aham.

3. Padma-pattra-viśālākṣī, padma-kesara-varṇinī4
nityaṃ padmālayā devī, sā māṃ pātu Sarasvatī.

4. Brahma-putrī mahā-devī, brahmaṇyā Brahma-nandinī6
Sarasvatī saṃjñayanī, prayānāya Sarasvatī.

5. Kāvyaṃ vyākaraṇaṃ tarkaṃ, veda-śāstra-purāṇakam
kalpa8-siddhīni tantrāni, tvat-prasādāt samārabhet9.

Terjemahannya:

1. Ya Dewī Saraswatī, sembah kehadapan-Mu,
Yang melimpahkan anugerah, Yang mengubah bentukMu atas kemauanMu;
Aku akan menjalankan / melakukan suatu usaha suci yang berhasil / sukses,
keberhasilan / sukses haruslah terus-menerus apa yang kulakukan (demi kebaikan).

2. Setelah menundukkan kepala kepada semua para dewa dan Sang Diri Tertinggi,
Aku menyembah Dewī Sarasvwtī, Yang indah mempesona nan pandai.

3. MataNya terbuka lebar bagaikan daun-daun bunga teratai,
warnaNya bagaikan kawat-pijar dari sekuntum teratai merah;
Oh Dewī terus-menerus berdiam di dalam sekuntum teratai.
Dewī Saraswatī ini kumohon perlindungan-Mu (lindungilah aku).

4. Putri Dewa Brahmā, Dewī nan Agung,
Yang mengabdikan diri kepada Brahman, Yang membuat bahagia dan bergembira Dewa Brahmā;
Dewī Saraswatī yang penuh dengan kebijaksanaan (?),
bagi suatu perjalanan / kepergian (?)3……………. saraswati.

5. Dengan keanggunanMu (sese-)orang boleh menjalankan / melakukan
studi (pendalaman) atas syair-syair, tatabahasa, logika (ilmu mantik)
Weda, peraturan-peraturan tatatertib (disiplin), Purāṇa-Purāṇa,
dan Tantra-tantra dari adat dan pengetahuan yang sempurna.

Demikianlah lontar-lontar suci di Bali dipenuhi pemuliaan akan Saraswati.

Selamat merayakan (setiap hari) Dewati yang membimbing ‘Dhi’ dan ‘Vac’, yang senantiasa memberikan terang pikiran dan kemurniaan penuh tulus dalam wicara ucapan kita sehari-hari. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS
Tags: Dewi SaraswatihinduindiaSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan, Kartu Pos dan Meneer Cohen

Next Post

Tanzer Dance Company, Ide Terbaik dalam Kompetisi Seni Pertunjukan dengan Inovasi Teknologi dari Yayasan Puri Kauhan Ubud

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails
Next Post
Tanzer Dance Company, Ide Terbaik dalam Kompetisi Seni Pertunjukan dengan Inovasi Teknologi dari Yayasan Puri Kauhan Ubud

Tanzer Dance Company, Ide Terbaik dalam Kompetisi Seni Pertunjukan dengan Inovasi Teknologi dari Yayasan Puri Kauhan Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co