SENIN, 13 Januari 2025 menjadi hari yang membekas dalam ingatan saya. Malam itu berbeda dari biasanya. Dengan membawa beban cerita yang lama tersimpan di sudut-sudut pikiran, saya datang ke panggung Natya Mandala ISI Denpasar yang kini sudah berubah menjadi ISI Bali.
Dan tepat pada pukul 19.30 Wita saya memulai sebuah perjalanan untuk mengakhiri masa belajar saya selama 3,5 tahun di program studi Seni Pedalangan. Sebuah keresahan terhadap krisis ekologis tentang Tanah Bali hadir menjadi pemantik saya untuk mewujudkan sebuah garapan Teater Pakeliran dengan judul ”Bibi Anu”.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna
Dinamika Alih Fungsi Lahan di Bali
Sejak lama, tanah di Bali memiliki dimensi yang lebih dari sekadar ruang ekonomi. Ia merupakan bagian integral dari kosmologi masyarakat Bali, yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana: keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
Tanah di Bali tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai objek pemuliaan dan penghormatan. Tradisi dan ritual yang dilakukan mencerminkan keyakinan bahwa tanah memiliki kekuatan spiritual yang mendalam. Dengan memuliakan tanah, masyarakat Bali melestarikan praktik-praktik yang telah ada selama berabad-abad.
Mereka memahami bahwa keberlanjutan tanah adalah kunci untuk mempertahankan keseimbangan ekologis dan budaya mereka. Melalui berbagai praktik adat dan spiritual, masyarakat Bali memastikan bahwa tanah tetap subur dan berfungsi sesuai dengan nilai-nilai budaya.
Pada beberapa dekade terakhir, Bali mengalami transformasi drastis akibat pertumbuhan pariwisata yang pesat. Di satu sisi pariwisata mempercepat pengembangan ekonomi lokal dengan menciptakan berbagai peluang kerja di sektor perhotelan, restoran, dan layanan wisata, yang berdampak positif pada taraf hidup masyarakat setempat.
Investasi yang masuk dari sektor pariwisata juga telah memperbaiki infrastruktur, seperti pembangunan jalan, peningkatan fasilitas kesehatan, dan pengembangan layanan pendidikan. Selain itu, pariwisata memfasilitasi dan memberikan platform bagi budaya Bali untuk dikenal secara global, serta mendorong inovasi dalam industri kreatif.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna
Di sisi lain, dampak negatif dari pariwisata juga sangat nyata. Dapat dilihat dari konversi lahan pertanian menjadi fasilitas wisata seperti hotel dan vila mengancam sistem subak yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.
Hilangnya lahan pertanian yang subur tidak hanya berdampak pada produksi pangan tetapi juga merusak ekosistem yang mendukung kehidupan masyarakat Bali. Lebih jauh lagi, tanah Bali semakin dikuasai oleh pihak asing dan investor luar, membuat masyarakat Bali semakin terasing di tanah mereka sendiri.
Soethama dalam bukunya berjudul Dari Bule Jadi Bali menuliskan “…Orang Bali kini semakin menyadari, kekuasaan mereka akan tanah kelahiran semakin melorot. Semakin hari kian banyak orang yang berniat menguasai Bali…”.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna
Petani di Bali menghadapi perjuangan berat untuk bertahan hidup di tengah arus perubahan yang kian mengancam kelangsungan pertanian. Biaya produksi yang terus meningkat, hasil panen yang tidak selalu stabil, serta harga jual yang sering kali tidak sebanding dengan jerih payah, membuat bertani menjadi pilihan yang semakin sulit.
Dilema terbesar yang mereka hadapi adalah memilih antara mempertahankan lahan pertanian yang sering kali tidak menguntungkan atau menjual tanah mereka untuk mendukung pariwisata dan pembangunan yang kian masif. Tawaran tinggi dari pengembang untuk lahan pertanian kerap menjadi godaan yang sulit ditolak, apalagi ketika kebutuhan ekonomi mendesak.
Namun, mengikuti arus pembangunan ini berarti melepaskan hubungan spiritual dengan tanah, air, dan kehidupan agraris yang menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai manusia Bali. Tentu sebagai anak dari seorang bapak yang keseharinnya hidup sebagai petani saya merasakan hal ini juga, dan dengan mewujudkan karya ini, menjadi salah satu cara saya menyampaikan keresahan pada lebih banyak orang.
Teater Pakeliran Bibi Anu
Garapan teater pakeliran Bibi Anu merupakan garapan yang mengangkat tema ketidakpastian lahan di Bali yang muncul akibat alih fungsi lahan intensif yang disebabkan oleh perkembangan pariwisata. Karya ini secara garis besar berupaya mengilustrasikan dampak sosial dan ekologis dari perubahan penggunaan lahan, di mana lahan pertanian yang subur diubah menjadi berbagai fasilitas yang lebih mengedepankan keuntungan jangka pendek. Judul Bibi Anu menjadi pintu masuk untuk memahami gagasan di balik karya ini.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna
Kata Bibi merujuk pada sosok perempuan yang dalam keseharian masyarakat Bali dikenal sebagai pengasuh, pendamping, sekaligus penjaga kehidupan. Ia lekat dengan peran merawat, menjaga, dan menumbuhkan, sebagaimana tanah dipersonifikasikan sebagai Ibu Pertiwi dan Garbha Kahuripan, yaitu rahim kehidupan yang memberi, memelihara, dan menopang keberlangsungan makhluk hidup. Sedangkan kata Anu mewakili ketidakjelasan, sesuatu yang samar, mengandung banyak kemungkinan tafsir, dan sulit dipastikan arahnya.
Dalam konteks karya ini, ia menggambarkan situasi tanah Bali hari ini. Gabungan kedua kata ini menjadi simbol ambiguitas tentang sesuatu yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, tetapi kini menghadapi ancaman kehilangan makna.
Karya ini terbagi dalam tiga babak yang mewakili perjalanan perubahan hubungan antara manusia Bali dan tanahnya. Setiap babak menghadirkan rentetan peristiwa yang menggambarkan perjalanan dari harmoni masa lalu menuju kekacauan dan ketidakpastian masa kini.
Garapan ini diformat dengan bentuk sederhana. Saya mencoba memvisualisakan wayang tanpa adanya dialog apa pun, dan saat adegan monolog ditampilkan di tengah panggung dengan hanya duduk tanpa visualisasi wayang apa pun. Hal ini saya hadirkan dengan harapan bahwa pada saat visualisasi wayang, penonton mau menarasikan adegan itu dengan interpretasinya sendiri. Begitu pula saat narasi, saya berharap pononton berimajinasi dengan bayangan yang ada dalam pemikirannya.
Tentu apa yang dibayangkan setiap orang berbeda-beda, perbedaan itulah yang saya rasa menarik. Karena jika mengacu pada pemahaman terhadap wayang adalah sebuah bayangan, tentu bayangan yang muncul dalam interpretasi setiap individu berbeda-beda, dan ia bebas untuk membayangkan apa dan seperti apa, sehingga garapan hanya menjadi dorongan terhadap munculnya bayangan tersebut—walaupun saya tak tahu apakah itu berhasil di tangkap penonton atau tidak.
Dialog teater hanya hadir pada adegan petani yang di hasut oleh makelar dan siluet ketegangan antara petani dan bapaknya dalam usahanya menjual tanah warisan yang ia miliki. Iringan karya ini pun hanya menggunakan beberapan instrumen, yaitu nyongnyong dan penem petuduh pada selonding dan 6 pencon reong gong kebyar yang semuanya hanya dimainkan oleh 2 orang penabuh. Sementara siluet wayang digerakkan oleh 6 orang dan 3 orang operator scenery. Dan ada 3 orang penari sebagai visualisasi ambiguitas yang terjadi

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna
Dalam karya ini, saya mencoba pula memfungsikan sudut pandang saya sebagai jembatan suara yang merefleksikan pengalaman nyata yang terjadi di masyarakat. Saya mencoba menggambarkan keresahan dan kegelisahan yang muncul akibat perubahan yang cepat, serta mempertanyakan nilai-nilai yang telah dijunjung sejak lama. Sepenuhnya, dalam karya ini saya tidak ingin berbicara tentang benar dan salah. Saya hanya menyodorkan keresahan saya lalu membebaskan setiap orang yang melihat berasumsi sesuai bingkai pandangnya masing masing.
Saya tidak ingin terjebak oleh apa yang saya buat di saat ini, karena bisa jadi di masa yang akan datang apa yang saya khawatirkan adalah sebuah kekeliruan. Dalam karya ini, saya hanya mencoretkan gambar yang bebas dimaknai seperti apa. Satu hal yang terpenting dalam diri saya, saya sepakat jika wayang adalah bayangan dan karya ini sebagai bentuk renungan rasa dalam membayangkan Bali di masa mendatang.[T]
Ubud 27 agustus 2025
Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Jaswanto











![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-75x75.jpg)















