GIGIL ketakutan saat perjumpaan dengan anak muda, yang saya pikir begal itu, masih tersisa. Kondisi tersebut baru sirna setelah matahari muncul kemerahan di cakrawala timur. Saat saya melihat hamparan rumput cukup luas di kiri dan kanan jalan.
Pemandangan alam yang menyihir itu menghentikan perjalanan saya. Sepeda saya hentikan, kemudian mengamati sekeliling. Sunyi. Hanya ada beberapa kerbau yang sedang merumput.
Di depan terlihat jalan berkelok-kelok menuju ke arah perbukitan, dengan tanjakan ringan. Saya melanjutkan perjalanan setelah mengambil beberapa foto.
Saya sampai di perbatasan Sumbawa-Dompu pukul 06.45 WITA. Di sisi kiri jalan saya melihat warung kecil. Saya belokkan sepeda ke arah warung itu. Anak muda yang sedang minum kopi di teras warung melempar senyum.
“Hendak ke mana, Om?” tanyanya.
“Labuan Bajo.”
“Sendiri!?”
“Iya,” jawab saya sambil menepuk pundaknya.
Ternyata warung itu tidak menyediakan makanan selain mie instan dan kopi kemasan. Saya keluar dan bergabung dengan anak muda itu. Ternyata dia dari Senggigi hendak ke Bima dengan bersepeda motor.
“Di Manggalewa ada warung, Om.”
“Dari sini jauh?”
“Enggak, sekitar 3 kilometer.”
Saya meneruskan perjalanan, karena harus segera mencari warung nasi. Perut saya sudah sangat lapar. Sementara bekal biskuit yang saya bawa dari Sumbawa Besar sudah habis.
Setelah berjalan 5 kilometer saya menemukan warung di Desa Kwangko, Kecamatan Manggalewa. Tapi ternyata warung itu belum buka.
“Masih belum buka, Pak. Istri saya belum pulang dari pasar. Ini hanya ada lauk dan nasi kemarin,” kata pemilik warung, lelaki berumur sekitar 45 tahun.
“Lauk apa?”
“Ayam goreng.”
“Saya sangat lapar, tapi tidak makan ayam.”
Hening beberapa saat. Lelaki itu melihat ke arah sepeda saya.
“Bapak dari mana?”
“Jawa.”
“Naik sepeda dari Jawa? Sendiri?”
“Iya, Pak.”
“Saya gorengkan telur ya. Bapak makan seadanya.”
Lelaki itu ke dapur, kemudian menggoreng telur dengan gegas.
“Bapak ambil sendiri nasinya. Kasih kecap biar nasi bisa ditelan,” ujarnya sambil meniriskan telur mata sapi yang sudah matang.
Saya makan dengan lahap. Setelah nasi tandas, saya beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan.
“Berapa, Pak?”
“Tidak usah bayar. Kasihan Bapak jauh-jauh dari Jawa.”
“Saya harus bayar, Pak.”
“Tidak usah. Saya ikhlas.”
“Baik, terima kasih atas kebaikan Bapak.”
Saya kembali mengayuh sepeda dengan perut kenyang. Nanga Tumpu tinggal 12 kilometer lagi.
Pukul 09.00 WITA saya mulai masuk tanjakan Nanga Tumpu. Ternyata yang saya khawatirkan tidak terjadi. Saya berhasil melewati beberapa tanjakan yang cukup berat dengan aman.
Setelah melalui beberapa kelokan, saya sampai di puncak Nanga Tumpu pukul 09.35 WITA. Selebihnya saya hanya mengandalkan kekuatan gravitasi hingga sampai di jalan datar menuju Dompu.
Selama perjalanan menuju Dompu saya tidak menemukan kendala berarti. Hanya saja, pemandangan di sepanjang jalan agak membosankan.
Tepat pukul 13.05 WITA saya masuk Kota Dompu, disambut dengan udara yang sangat panas.[T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/Made-Wirya-2-750x375.jpg)


























