2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekosistem Pertanian dan Pariwisata, Jalan Tengah Versi Dunia Pendidikan

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
August 25, 2025
in Esai
Ekosistem Pertanian dan Pariwisata, Jalan Tengah Versi Dunia Pendidikan

Penyiapan lahan agro-eco-eduwisata | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

BERBICARA Bali, pikiran orang umumnya lebih terfokus kepada pariwisata. Pariwisata Bali memang tak terbantahkan di Indonesia bahkan di dunia. Dari ketenaran Bali ini, menjadikan orang Bali sangat bangga dengan eksotisme pulau mereka. Ada pantai yang indah dan pura yang sakral. Bahkan bangga pula bercerita tentang sunset yang bikin pasangan muda mudi tiba-tiba mendadak romantis.

Akan tetapi, mari kita bicara jujur. Apakah semua itu cukup untuk masa depan pariwisata Bali? Apa jadinya kalau jalan-jalan ke objek wisata rusak, kemacetan bikin wisatawan lebih lama di jalan daripada menikmati ombak, atau kalau pura dipenuhi selfie stick alih-alih kekhusyukan? Bisa-bisa, turis lebih memilih scrolling TikTok ketimbang liburan ke Bali.

Dari fenomena ini, yang diperlukan adalah atraksi baru, segar, dan tentu saja berakar pada kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Lalu, apa yang lebih otentik daripada pertanian Bali dengan subak, sawah, kebun kopi, dan ladang cabai yang kadang lebih pedas dari komentar netizen? Pariwisata tidak bisa lepas dari pertanian, dan pertanian akan semakin hidup bila bertemu pariwisata.

Area RPS Perhotelan | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Bayangkan jika wisatawan bisa menginap di penginapan kecil yang dikelola siswa perhotelan, lalu sarapan pagi dengan produk organik hasil kebun siswa agribisnis, ditemani kopi robusta lokal yang diseduh ala barista kekinian. Setelah itu, tamu diajak “tur memanen cabai” yang pedasnya bukan hanya di lidah, tapi juga jadi simbol perjuangan petani. Bukankah ini lebih berkesan daripada sekadar berfoto di pinggir kolam renang hotel berbintang?

Nah, di sinilah kita perlu berpikir jernih. Pariwisata tidak bisa hidup hanya dengan menjual pemandangan saja. Ia butuh ekosistem. Dari situ, bagian paling sering terlupakan adalah pertanian. Cobalah bayangkan! Apa jadinya hotel berbintang kalau tidak ada nasi di piring, kopi di cangkir, atau sayur segar di salad? Tanpa petani, turis bisa saja check-in di hotel mewah, mereka sarapan, lunch dan dinner. Di situlah pertanian itu hadir dan mempunyai veliu.

Untuk pengembangan ini, dari manakah harus dimulai? Jawabnya adalah dari dunia pendidikan. Berbicara pendidikan, terutama yang bergerak di bidang pariwisata dan pertanian tampaknya belum ada keseimbangan. Bidang pariwisata, perhotelan dan kuliner bertumbuh sangat pesat. Di sisi lain, bidang pertanian seolah mati suri. Pada hal di sini ada peluang besar.

Dengan melihat besarnya peluang tersebut, SMKN 1 Petang membuka kedua program ini: pertanian dan perhotelan. Dua dunia yang kelihatannya berbeda kutub. Akan tetapi sejatinya adalah pasangan ideal. Bila pariwisata adalah panggung maka pertanian adalah dapurnya. Bila pariwisata adalah tarian maka pertanian adalah musik pengiringnya.

Kunjungan pelaku pertanian organik | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Belum lama ini, owner BMW Agro Kampung Tani Baturiti, seorang pemilik kebun organik dan retail besar di Bali, Bapak Jefry, berkunjung ke SMKN 1 Petang. Menurutnya, pariwisata dan pertanian tidak bisa dipisahkan.

Pertanian memberi bahan, pariwisata memberi nilai tambah. Bayangkan ada turis diajak menanam cabai, memetik jeruk, atau panen sayur organik langsung dari kebun SMKN 1 Petang, lalu setelah itu mereka menikmati hasil panen tersebut dalam hidangan yang dimasak siswa jurusan perhotelan. Itulah ekosistem pariwisata-baru yang segar, edukatif, dan berkelanjutan.

Lebih dari itu, pendidikan pertanian bisa menjadi solusi strategis. Anak muda tidak lagi melihat pertanian sebagai “pekerjaan di lumpur” yang ketinggalan zaman, melainkan sebagai peluang emas untuk masa depan pariwisata hijau. Kalau ini berhasil, Bali tidak hanya menjual sunset dan keindahan pura, tetapi juga pengalaman wisata berbasis alam dan budaya yang autentik. Dan percayalah, sunset bisa membosankan. Akan tetapi rasa sambal matah dari cabai hasil tanam sendiri, tidak pernah gagal bikin kangen.

Jadi, kalau hari ini kita masih berpikir pariwisata hanya tentang pantai, mari mulai melirik kebun di belakang rumah. Karena tanpa petani, tidak ada pariwisata. Demikian pula, tanpa pendidikan pertanian yang visioner, tidak ada masa depan. SMKN 1 Petang sudah berada di jalur yang tepat. Sekolah ini telah mulai merangkai ekosistem pariwisata yang ditopang pertanian, sebuah duet romantis yang tidak bisa dipisahkan.

SMKN 1 Petang punya peluang besar menjadi pionir ekosistem ini. Sekolah bisa menjadi laboratorium nyata, tempat pertanian dan pariwisata saling menguatkan. Hasil pertanian tidak lagi hanya berakhir di pasar dengan harga jatuh, tetapi bisa naik kelas menjadi produk wisata yang bernilai tinggi. Sementara pariwisata tak lagi sekadar menjual pemandangan, tetapi juga menawarkan pengalaman autentik tentang bagaimana alam Bali bekerja memberi kehidupan.

Foto bersama di sela kunjungan wisata ke SMKN 1 Petang | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Kembali saya tegaskan, persoalan klasik yang dihadapi Bali adalah tarik-menarik antara pariwisata dan pertanian. Di satu sisi, pariwisata menjadi penggerak ekonomi, di sisi lain pertanian adalah penopang pangan, budaya, dan keseimbangan ekologi. Ironisnya, banyak generasi muda enggan terjun ke dunia pertanian karena dianggap kuno, melelahkan, dan kurang menjanjikan. Padahal, tanpa pertanian tidak akan ada keberlanjutan pariwisata itu sendiri.

Di tengah tarik-menarik antara pesona pariwisata dan tantangan mempertahankan sektor pertanian, dunia pendidikan vokasi menawarkan jalan tengah yang lebih visioner. SMK Negeri 1 Petang telah mulai mencoba meretas jalur ekosistem pertanian dan pariwisata berbasis ekologi. Bukan hanya sekadar wacana, melainkan sebagai model nyata yang bisa ditiru. Upaya ini lahir dari kesadaran bahwa pertanian tidak boleh hanya menjadi kenangan romantis masa lalu dan pariwisata pun tidak bisa hanya dipandang sebagai mesin ekonomi yang serba instan. Keduanya harus disinergikan agar keberlanjutan tetap terjaga.

Kunjungan tamu wisata ke SMKN 1 Petang | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Di sekolah ini, kolaborasi lintas keahlian menjadi pintu masuk utama dalam dimensi “segi tiga emas”. Program Agribisnis Tanaman menghadirkan praktik bercocok tanam organik yang berkelanjutan. Sementara Program Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian mengolah produk lokal agar siap masuk ke rantai pasar modern. Pada saat yang sama, Program Perhotelan menyiapkan siswa untuk mengelola layanan akomodasi dan kuliner dengan standar industri, namun tetap menekankan penggunaan hasil tani lokal. Sinergi inilah yang membangun narasi praktis bahwa pertanian bukan lagi sektor yang berjalan sendiri, melainkan bisa dihidupkan kembali lewat pariwisata edukatif dan berkelanjutan.

Konteks inilah yang membuat SMKN 1 Petang berani menawarkan model eco-edu-wisata sebagai solusi. Alih-alih hanya belajar di ruang kelas, siswa diposisikan sebagai aktor untuk menanam, merawat, mengolah, hingga menyajikan hasil kebun kepada wisatawan. Lahan sekolah dijadikan laboratorium terbuka, ruang praktik ditata layaknya destinasi wisata edukasi, dan siswa dibiasakan memandu tamu yang ingin mengalami proses “from farm to table.” Dengan begitu, sekolah tidak hanya menyiapkan tenaga kerja siap pakai, tetapi juga calon wirausaha muda yang berdaya saing sekaligus berjiwa ekologis.

Penyiapan lahan agro-eco-edu wisata | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Bila dirunut lebih jauh, jalan tengah yang ditawarkan dunia pendidikan ini sebenarnya sederhana namun berdampak besar. Di dalamnya terjadi proses memadukan kekuatan pariwisata dengan martabat pertanian. Bali memang tak bisa dipisahkan dari pariwisata, tetapi Bali juga akan kehilangan jati dirinya bila melupakan pertanian. Karena itu, SMKN 1 Petang mencoba memberi teladan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan, saling menopang, dan tidak saling mengorbankan. Dari ekosistem kecil di sekolah inilah, diharapkan lahir model pembangunan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bermakna secara ekologis dan kultural.

Dengan model integrasi ini, pendidikan vokasi tidak sekadar mengikuti arus, tetapi justru menawarkan jalan tengah yang berkeadilan secara ekologis. Pertanian tetap lestari, pariwisata semakin berdaya tarik, dan pendidikan menjadi garda depan perubahan.

Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung mengelola “miniatur ekosistem” pertanian-pariwisata. Siapa tahu, dari SMKN 1 Petang lahir generasi muda yang tidak minder jadi petani, dan tidak pula lupa diri jadi pelaku pariwisata.

Di sinilah pendidikan vokasi mencoba hadir sebagai jembatan. Sekolah kejuruan tidak sekadar menyiapkan tenaga kerja, tetapi membangun ekosistem yang menyatukan pertanian dan pariwisata berbasis ekologi. Jalan tengah ini bukan retorika, melainkan bisa diwujudkan melalui langkah-langkah teknis.

Jadi, kalau ada yang masih bilang pertanian dan pariwisata itu dua dunia berbeda, mungkin dia belum pernah lihat cabe merah bersinar di lereng bukit sambil ditemani senyum hangat siswa perhotelan yang menyajikan jus segar hasil kebun. Itulah masa depan—dan SMKN 1 Petang sedang bersiap menjemputnya.[T]

Reporter/Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Jaswanto

Tags: Agro-eco-edu wisataPariwisatapertanianSMKN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pamer Koleksi, Usaha Mendekatkan Arsip Sejarah kepada Gen Z

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co