23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekosistem Pertanian dan Pariwisata, Jalan Tengah Versi Dunia Pendidikan

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
August 25, 2025
in Esai
Ekosistem Pertanian dan Pariwisata, Jalan Tengah Versi Dunia Pendidikan

Penyiapan lahan agro-eco-eduwisata | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

BERBICARA Bali, pikiran orang umumnya lebih terfokus kepada pariwisata. Pariwisata Bali memang tak terbantahkan di Indonesia bahkan di dunia. Dari ketenaran Bali ini, menjadikan orang Bali sangat bangga dengan eksotisme pulau mereka. Ada pantai yang indah dan pura yang sakral. Bahkan bangga pula bercerita tentang sunset yang bikin pasangan muda mudi tiba-tiba mendadak romantis.

Akan tetapi, mari kita bicara jujur. Apakah semua itu cukup untuk masa depan pariwisata Bali? Apa jadinya kalau jalan-jalan ke objek wisata rusak, kemacetan bikin wisatawan lebih lama di jalan daripada menikmati ombak, atau kalau pura dipenuhi selfie stick alih-alih kekhusyukan? Bisa-bisa, turis lebih memilih scrolling TikTok ketimbang liburan ke Bali.

Dari fenomena ini, yang diperlukan adalah atraksi baru, segar, dan tentu saja berakar pada kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Lalu, apa yang lebih otentik daripada pertanian Bali dengan subak, sawah, kebun kopi, dan ladang cabai yang kadang lebih pedas dari komentar netizen? Pariwisata tidak bisa lepas dari pertanian, dan pertanian akan semakin hidup bila bertemu pariwisata.

Area RPS Perhotelan | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Bayangkan jika wisatawan bisa menginap di penginapan kecil yang dikelola siswa perhotelan, lalu sarapan pagi dengan produk organik hasil kebun siswa agribisnis, ditemani kopi robusta lokal yang diseduh ala barista kekinian. Setelah itu, tamu diajak “tur memanen cabai” yang pedasnya bukan hanya di lidah, tapi juga jadi simbol perjuangan petani. Bukankah ini lebih berkesan daripada sekadar berfoto di pinggir kolam renang hotel berbintang?

Nah, di sinilah kita perlu berpikir jernih. Pariwisata tidak bisa hidup hanya dengan menjual pemandangan saja. Ia butuh ekosistem. Dari situ, bagian paling sering terlupakan adalah pertanian. Cobalah bayangkan! Apa jadinya hotel berbintang kalau tidak ada nasi di piring, kopi di cangkir, atau sayur segar di salad? Tanpa petani, turis bisa saja check-in di hotel mewah, mereka sarapan, lunch dan dinner. Di situlah pertanian itu hadir dan mempunyai veliu.

Untuk pengembangan ini, dari manakah harus dimulai? Jawabnya adalah dari dunia pendidikan. Berbicara pendidikan, terutama yang bergerak di bidang pariwisata dan pertanian tampaknya belum ada keseimbangan. Bidang pariwisata, perhotelan dan kuliner bertumbuh sangat pesat. Di sisi lain, bidang pertanian seolah mati suri. Pada hal di sini ada peluang besar.

Dengan melihat besarnya peluang tersebut, SMKN 1 Petang membuka kedua program ini: pertanian dan perhotelan. Dua dunia yang kelihatannya berbeda kutub. Akan tetapi sejatinya adalah pasangan ideal. Bila pariwisata adalah panggung maka pertanian adalah dapurnya. Bila pariwisata adalah tarian maka pertanian adalah musik pengiringnya.

Kunjungan pelaku pertanian organik | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Belum lama ini, owner BMW Agro Kampung Tani Baturiti, seorang pemilik kebun organik dan retail besar di Bali, Bapak Jefry, berkunjung ke SMKN 1 Petang. Menurutnya, pariwisata dan pertanian tidak bisa dipisahkan.

Pertanian memberi bahan, pariwisata memberi nilai tambah. Bayangkan ada turis diajak menanam cabai, memetik jeruk, atau panen sayur organik langsung dari kebun SMKN 1 Petang, lalu setelah itu mereka menikmati hasil panen tersebut dalam hidangan yang dimasak siswa jurusan perhotelan. Itulah ekosistem pariwisata-baru yang segar, edukatif, dan berkelanjutan.

Lebih dari itu, pendidikan pertanian bisa menjadi solusi strategis. Anak muda tidak lagi melihat pertanian sebagai “pekerjaan di lumpur” yang ketinggalan zaman, melainkan sebagai peluang emas untuk masa depan pariwisata hijau. Kalau ini berhasil, Bali tidak hanya menjual sunset dan keindahan pura, tetapi juga pengalaman wisata berbasis alam dan budaya yang autentik. Dan percayalah, sunset bisa membosankan. Akan tetapi rasa sambal matah dari cabai hasil tanam sendiri, tidak pernah gagal bikin kangen.

Jadi, kalau hari ini kita masih berpikir pariwisata hanya tentang pantai, mari mulai melirik kebun di belakang rumah. Karena tanpa petani, tidak ada pariwisata. Demikian pula, tanpa pendidikan pertanian yang visioner, tidak ada masa depan. SMKN 1 Petang sudah berada di jalur yang tepat. Sekolah ini telah mulai merangkai ekosistem pariwisata yang ditopang pertanian, sebuah duet romantis yang tidak bisa dipisahkan.

SMKN 1 Petang punya peluang besar menjadi pionir ekosistem ini. Sekolah bisa menjadi laboratorium nyata, tempat pertanian dan pariwisata saling menguatkan. Hasil pertanian tidak lagi hanya berakhir di pasar dengan harga jatuh, tetapi bisa naik kelas menjadi produk wisata yang bernilai tinggi. Sementara pariwisata tak lagi sekadar menjual pemandangan, tetapi juga menawarkan pengalaman autentik tentang bagaimana alam Bali bekerja memberi kehidupan.

Foto bersama di sela kunjungan wisata ke SMKN 1 Petang | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Kembali saya tegaskan, persoalan klasik yang dihadapi Bali adalah tarik-menarik antara pariwisata dan pertanian. Di satu sisi, pariwisata menjadi penggerak ekonomi, di sisi lain pertanian adalah penopang pangan, budaya, dan keseimbangan ekologi. Ironisnya, banyak generasi muda enggan terjun ke dunia pertanian karena dianggap kuno, melelahkan, dan kurang menjanjikan. Padahal, tanpa pertanian tidak akan ada keberlanjutan pariwisata itu sendiri.

Di tengah tarik-menarik antara pesona pariwisata dan tantangan mempertahankan sektor pertanian, dunia pendidikan vokasi menawarkan jalan tengah yang lebih visioner. SMK Negeri 1 Petang telah mulai mencoba meretas jalur ekosistem pertanian dan pariwisata berbasis ekologi. Bukan hanya sekadar wacana, melainkan sebagai model nyata yang bisa ditiru. Upaya ini lahir dari kesadaran bahwa pertanian tidak boleh hanya menjadi kenangan romantis masa lalu dan pariwisata pun tidak bisa hanya dipandang sebagai mesin ekonomi yang serba instan. Keduanya harus disinergikan agar keberlanjutan tetap terjaga.

Kunjungan tamu wisata ke SMKN 1 Petang | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Di sekolah ini, kolaborasi lintas keahlian menjadi pintu masuk utama dalam dimensi “segi tiga emas”. Program Agribisnis Tanaman menghadirkan praktik bercocok tanam organik yang berkelanjutan. Sementara Program Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian mengolah produk lokal agar siap masuk ke rantai pasar modern. Pada saat yang sama, Program Perhotelan menyiapkan siswa untuk mengelola layanan akomodasi dan kuliner dengan standar industri, namun tetap menekankan penggunaan hasil tani lokal. Sinergi inilah yang membangun narasi praktis bahwa pertanian bukan lagi sektor yang berjalan sendiri, melainkan bisa dihidupkan kembali lewat pariwisata edukatif dan berkelanjutan.

Konteks inilah yang membuat SMKN 1 Petang berani menawarkan model eco-edu-wisata sebagai solusi. Alih-alih hanya belajar di ruang kelas, siswa diposisikan sebagai aktor untuk menanam, merawat, mengolah, hingga menyajikan hasil kebun kepada wisatawan. Lahan sekolah dijadikan laboratorium terbuka, ruang praktik ditata layaknya destinasi wisata edukasi, dan siswa dibiasakan memandu tamu yang ingin mengalami proses “from farm to table.” Dengan begitu, sekolah tidak hanya menyiapkan tenaga kerja siap pakai, tetapi juga calon wirausaha muda yang berdaya saing sekaligus berjiwa ekologis.

Penyiapan lahan agro-eco-edu wisata | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Bila dirunut lebih jauh, jalan tengah yang ditawarkan dunia pendidikan ini sebenarnya sederhana namun berdampak besar. Di dalamnya terjadi proses memadukan kekuatan pariwisata dengan martabat pertanian. Bali memang tak bisa dipisahkan dari pariwisata, tetapi Bali juga akan kehilangan jati dirinya bila melupakan pertanian. Karena itu, SMKN 1 Petang mencoba memberi teladan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan, saling menopang, dan tidak saling mengorbankan. Dari ekosistem kecil di sekolah inilah, diharapkan lahir model pembangunan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bermakna secara ekologis dan kultural.

Dengan model integrasi ini, pendidikan vokasi tidak sekadar mengikuti arus, tetapi justru menawarkan jalan tengah yang berkeadilan secara ekologis. Pertanian tetap lestari, pariwisata semakin berdaya tarik, dan pendidikan menjadi garda depan perubahan.

Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung mengelola “miniatur ekosistem” pertanian-pariwisata. Siapa tahu, dari SMKN 1 Petang lahir generasi muda yang tidak minder jadi petani, dan tidak pula lupa diri jadi pelaku pariwisata.

Di sinilah pendidikan vokasi mencoba hadir sebagai jembatan. Sekolah kejuruan tidak sekadar menyiapkan tenaga kerja, tetapi membangun ekosistem yang menyatukan pertanian dan pariwisata berbasis ekologi. Jalan tengah ini bukan retorika, melainkan bisa diwujudkan melalui langkah-langkah teknis.

Jadi, kalau ada yang masih bilang pertanian dan pariwisata itu dua dunia berbeda, mungkin dia belum pernah lihat cabe merah bersinar di lereng bukit sambil ditemani senyum hangat siswa perhotelan yang menyajikan jus segar hasil kebun. Itulah masa depan—dan SMKN 1 Petang sedang bersiap menjemputnya.[T]

Reporter/Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Jaswanto

Tags: Agro-eco-edu wisataPariwisatapertanianSMKN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pamer Koleksi, Usaha Mendekatkan Arsip Sejarah kepada Gen Z

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co