PADA hari ketiga saya berencana untuk bermalam di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana. Saya tidak memaksakan diri untuk langsung ke Denpasar. Sebab jarak dari Asembagus ke Denpasar sekitar 195 kilometer.
Dari Asembagus ke Pulukan hanya sekitar 120 kilometer, jarak ideal untuk sehari. Sisanya akan saya tempuh hari berikutnya, sebelum recovery di Denpasar selama 2 malam.
Taman Nasional Bali Barat bisa saya lalui dengan tanpa masalah berarti, meskipun suhu udara terasa panas. Beberapa kali saya harus berhenti di toko swalayan untuk mengisi bidon. Saya sering minum agar tidak dehidrasi.
Selepas dari Taman Nasional Bali Barat, siksaan dimulai. Saya dihajar tanjakan demi tanjakan yang diperparah dengan terpaan angin depan yang cukup kencang.
Tapi semuanya saya lalui dengan lancar. Sebab sejak dari penginapan di dekat SPBU Utama Raya, saya sudah kembali merasakan kegembiraan bersepeda.
Sampai di Pulukan pukul 17.11 WITA. Mata saya jelalatan mencari penginapan murah di pinggir jalan. Karena belum juga ketemu, saya bertanya pada pedagang buah.
“Bapak kembali lagi ke timur sekitar 1 kilometer. Setelah perempatan ada toko besar sebelah kanan jalan. Penginapan ada di belakang toko,” ujarnya.
Setelah sampai di tempat yang dimaksud, ternyata semua kamar penuh. Pemilik penginapan tersebut merekomendasikan penginapan milik kawannya, sekitar 2 kilometer ke arah barat.
“Dari jalan raya, Bapak masuk gang lagi sejauh sekitar 500 meter. Hotelnya punya banyak kamar. Saya yakin masih banyak yang kosong.”
“Terima kasih, Pak.”
Saya ikuti apa yang dikatakan oleh lelaki paruh baya itu. Semoga apa yang disampaikannya tidak salah dan saya tidak bolak-balik lagi.
Senja sudah turun ketika saya sampai di penginapan yang dimaksud.
Lokasinya jauh dari warung makan dan toko swalayan. Hotel yang benar-benar sepi di dalam dan di luar. Saya perhatikan tidak ada satupun tamu yang menginap.
Jika saya paksakan bermalam di hotel itu, saya akan kesulitan untuk makan malam. Apalagi saya juga belum sempat beli air minum dan camilan untuk besok pagi.
Setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk setempat, saya mendapatkan penginapan yang lokasinya ideal. Homestay murah yang tidak jauh dari Pantai Pulukan.
Tepat di depan penginapan dengan 5 kamar itu, ada warung yang menjual nasi, kopi dan air minum. Saya segera pesan 1 kamar yang terletak paling depan.
Lokasi homestay demikian tenang, tidak terdengar hiruk-pikuk knalpot brong. Saking sepinya, deru kendaraan besar yang melintas di jalan raya Jembrana-Denpasar terdengar pada malam hari.
Setelah makan malam di warung depan homestay pada pukul 17.30 WITA, saya mencoba tidur lebih awal. Tapi mata tidak segera terpejam karena spreinya terasa gatal di kulit.
Kemungkinan karena imbas pandemi Covid-19, masih belum banyak tamu di penginapan tersebut, sehingga kasurnya berdebu. Baru sekitar pukul 23.00 WITA saya bisa memejamkan mata dan bangun pukul empat pagi.
Untuk yang kedua kali tidur saya tidak nyenyak. Tapi karena kali ini saya bangun dengan kegembiraan, raga saya tetap fit dan siap melanjutkan perjalanan.
Hari masih gelap ketika saya meninggalkan penginapan. Sebelum berangkat saya menyiapkan lampu depan dan belakang. Kemungkinan akan ada banyak kendaraan besar menuju Denpasar.
Setelah mengayuh sepeda sekitar 800 meter melewati jalan kampung, tepat pukul 05.28 WITA saya kembali mengaspal di jalan raya.
Baru beberapa menit berjalan, saya menghadapi tanjakan terjal dan berkelok di Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana. Tapi saya tidak mengalami kesulitan berarti. Sebab, sekali lagi, saya menikmati perjalanan ini
Keluar dari Kabupaten Jembrana pukul 06.24 WITA. Ketika sarapan di Desa Batu Lumbang, Selemadeg Barat, Tabanan, pukul 07.20 WITA, saya mendapat pesan WA dari salah satu senior saya di tempat kerja dulu. Lansia yang tinggal di Abiansemal itu menanyakan posisi saya sudah sampai di mana.
Semalam kami memang sudah janjian. Saya diminta mampir ke rumahnya, di Abiansemal. Jaraknya dari tempat saya sarapan, sekitar 32 kilometer lagi.
Tepat pukul 09.45 WITA saya masuk kota Tabanan. Setelah istirahat sekalian beli minum dan camilan di Jl. A.Yani, Tabanan, saya melanjutkan perjalanan menuju Mengwi.
Rumah senior saya itu di dalam kompleks puri yang cukup luas. Posisinya terletak di belakang. Saya ditunjukkan rumah tua milik leluhurnya, sebelum diajak ke rumah pribadinya.
Setelah ngobrol dan menikmati suguhan, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Denpasar. Langit terlihat gelap, sepertinya hujan akan segera turun. Sebelum berangkat saya mengenakan jas hujan.
Beberapa meter setelah keluar dari puri, hujan mengguyur dengan sangat deras. Sepeda saya kayuh pelan menuju ke Taman Baca Kesiman, Denpasar. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [6]–Sprei Penginapan yang Membuat Gatal Seluruh Tubuh](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda6-750x375.jpeg)


























