6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Mulut, Beda Bicara

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 16, 2025
in Esai
Beda Mulut, Beda Bicara

Ilustrasi tatkala.co

SERINGKALI ketika berkumpul dengan kerabat atau sahabat, topik pembicaraan menyangkut orang lain, keluarga atau teman dekat. Budaya “ngomongin orang lain” tampaknya sudah melekat. Rasanya ada yang kurang jika pertemuan tanpa membahas kabar orang lain.

Kalau sekadar menanyakan kabar, itu wajar. Tapi ketika obrolan bergeser ke kekurangan atau keburukan, di situlah bahaya muncul. Ada istilah lama, yakni “termakan omongan”. Artinya, kita mudah hanyut oleh perkataan orang lain tentang saudara, kerabat, atau teman yang menjadi objek gosip.

Kita sering ikut menimpali, menambahkan pengalaman atau informasi yang kita tahu. Obrolan pun terasa hangat, bahkan seru. Tapi jika gosip menyasar diri kita sendiri, kemarahan, kesal, atau sedih bisa muncul begitu saja.

Padahal, jika kita cek dan ricek, kabar itu belum tentu benar. Omongan sering sudah “dibumbui” sedemikian rupa. Lidah yang “tidak bertulang” ini bisa dipakai untuk kebaikan, tapi juga untuk mengadu domba. Omongan yang satu bisa melebar menjadi cerita lain, berubah bentuk sesuai kepentingan si pembicara. Tahu bisa menjadi pizza, pizza bisa menjadi martabak, dan tiba-tiba kita semua ikut makan “cerita” itu.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana gosip bisa mengubah persepsi sekelompok orang. Dalam sebuah pertemuan keluarga, ada isu tentang seorang anggota keluarga yang kabarnya melakukan kesalahan. Cerita itu berkembang begitu cepat, setiap orang menambahkan versi mereka sendiri. Akhirnya, fakta asli hampir tidak terdengar, dan suasana menjadi tegang. Ini bukan sekadar soal salah paham, tapi tentang bagaimana lidah yang tidak terkendali mampu merusak persatuan keluarga yang terbangun sejak lama.

Tak heran jika seorang mistik kontemporer India membuat pedoman bagi muridnya. Pedoman pertama: tidak membicarakan orang lain, terutama jika mereka tidak ada. Lidah, kata dia, adalah hal pertama yang harus dikendalikan.

Saat kita berkumpul dan membicarakan orang lain, energi yang terasa sering negatif. Fakta bisa kabur atau sengaja dikaburkan. Lidah yang tak terkendali bisa menjadi fitnah yang merusak persahabatan, pertemanan, bahkan ikatan keluarga.

Dalam antropologi, gosip bukan sekadar obrolan ringan. Ia memiliki fungsi sosial yang kompleks. Banyak antropolog menyebutnya sebagai mekanisme pengaturan sosial–cara masyarakat menegakkan norma, mengawasi perilaku anggota, dan memperkuat ikatan komunitas.

Di masyarakat tradisional, gosip bisa menjadi pengingat perilaku yang diharapkan, menyebarkan kabar penting, atau menegaskan batasan antara anggota dan non-anggota komunitas. Misalnya, dalam beberapa studi etnografi, gosip digunakan untuk memberi “peringatan sosial” kepada mereka yang melanggar aturan adat. Tanpa sanksi formal, kabar yang beredar melalui gosip cukup efektif membuat individu sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Namun, gosip juga bisa menjadi alat kekuasaan dan manipulasi. Mereka yang lihai berbicara atau memiliki akses informasi sensitif dapat memengaruhi opini orang lain, membentuk reputasi seseorang secara tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bahwa gosip adalah cermin relasi sosial, bukan sekadar hiburan ringan.

Di era digital, gosip berkembang lebih cepat. Media sosial membuatnya tersebar luas, tetapi dampaknya tetap sama, yaitu memperkuat ikatan kelompok, tapi juga bisa menimbulkan konflik. Terkadang, gosip digital lebih kejam karena sulit dikontrol dan bisa menjangkau orang yang tidak pernah kita kenal secara langsung. Setiap like, share, atau komentar menjadi bagian dari rantai informasi yang membesar dan seringkali tidak lagi mengenal kebenaran.

Meski fungsinya jelas, gosip memiliki dampak buruk yang nyata. Ia bisa merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, atau memicu retaknya persahabatan dan keluarga. Omongan yang dibumbui membuat fakta kabur dan masyarakat salah persepsi. Orang yang menjadi objek gosip sering merasa diawasi, dikritik, atau dikucilkan, menimbulkan stres dan isolasi. Gosip juga bisa memperkuat prasangka, stigma, dan stereotip dalam kelompok masyarakat. Dalam jangka panjang, kepercayaan antar anggota komunitas bisa menurun, dan energi sosial habis untuk konflik dan kecurigaan.

Selain itu, gosip dapat mengubah perilaku orang. Individu yang sering menjadi objek gosip mungkin mulai menahan diri, tidak lagi terbuka, atau bahkan mengubah cara mereka bersosialisasi. Secara psikologis, ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan ketegangan sosial. Secara budaya, gosip yang tersebar luas dapat membentuk pandangan kolektif yang salah terhadap seseorang atau kelompok, bahkan mempengaruhi reputasi komunitas secara keseluruhan.

Dari perspektif antropologi, gosip memiliki dualitas. Di satu sisi alat pengikat sosial, di sisi lain senjata yang merusak tatanan masyarakat. Kesadaran ini mendorong kita untuk lebih bijak dalam berbicara, lebih kritis dalam mendengar, dan selalu melakukan konfirmasi sebelum mempercayai kabar tentang orang lain.

Jauh sebelum istilah hoaks atau berita bohong dikenal, kata “membual” sudah ada: omongan yang tampak menarik tapi kosong, penuh kebohongan dan keculasan. Memahami gosip sebagai fenomena sosial dan budaya mengingatkan kita bahwa lidah yang terkendali bukan sekadar soal etika, tapi juga menjaga harmoni, hubungan, dan energi positif di sekitar kita.

Di dunia yang cepat bergerak ini, lidah yang terkendali menjadi alat sederhana namun kuat untuk menahan fitnah, menjaga persahabatan, dan memberi ruang bagi percakapan yang membangun. Jadi, sebelum bicara tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri, apakah lidah kita membawa kebaikan, atau bara yang siap membakar hubungan?

Dan ingat, lidah bisa membuat kita tersedak jika tidak hati-hati. Bicara itu seperti menyeruput kopi panas; nikmati, tapi jangan sampai terbakar. Lebih dari itu, gosip juga memberi kita kesempatan untuk refleksi. Kita bisa belajar tentang diri sendiri, bahwa seberapa sering kita ikut menyebarkan cerita tanpa cek fakta, seberapa mudah kita termakan kabar yang belum tentu benar. Kesadaran ini adalah langkah pertama untuk menumbuhkan komunitas yang lebih sehat, hubungan yang lebih tulus, dan lingkungan sosial yang lebih damai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Tags: gosipkomunikasirumor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan

Next Post

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Mengintip Kesejukan “Kota Tembakau” di Lereng Sindoro-Sumbing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co