PUKUL 12.45 saya sampai di Kota Probolingo. Kilometer di cyclocomputer baru menunjuk angka 115 dari Gresik. Setelah mengambil beberapa foto, saya menelepon kawan yang tinggal di kota tersebut, berkabar tentang kedatangan saya.
Saya hanya bertamu di rumahnya tidak lebih dari 15 menit. Tawaran untuk menginap saya tolak, karena harus mengejar agar tidak kesorean sampai di SPBU Utama Raya. Target saya pada hari pertama, bermalam di hotel kecil di dekat SPBU yang terletak tidak jauh dari gerbang Kabupaten Situbondo tersebut.
Beberapa bagian tubuh saya masih nyeri. Tapi tetap saya paksa terus melaju. Beberapa belas kilometer kemudian, perut mulai terasa lapar.
Saya makan lagi di Kecamatan Gending, sambil berupaya mengatasi nyeri di pergelangan kaki, paha dan telapak tangan. Saya mengurutnya dengan obat gosok.
Semula rasa sakit berkurang. Tapi setelah menempuh beberapa kilometer nyeri dan ngilu muncul lagi. Saya tidak mau terjadi kram pada kaki. Jika itu terjadi, perjalanan 1000 kilometer bisa berakhir pada hari pertama.
Hujan ringan mulai turun ketika saya masuk Pajarakan. Nyeri pada paha kiri merembet ke pangkal paha. Saya mengayuh dengan timpang, sehingga laju sepeda melambat. Saya putuskan untuk istirahat dan bermalam di kecamatan tersebut.

Memasuki gerbang Kota Probolinggo | Foto: Dok. Wirya
Di depan saya melihat papan nama sebuah hotel. Saya langsung masuk ke halaman hotel tersebut. Hotel melati dengan banyak kamar di lantai 1, yang langsung menghadap ke halaman.
Penginapan seperti itu yang selalu saya cari ketika saya bersepeda. Karena dimungkinkan sepeda bisa masuk ke dalam kamar. Hal ini semata karena alasan keamanan dari kemungkinan pencurian.
Setelah membayar untuk sehari dan meninggalkan KTP, sepeda saya tuntun dan saya masukkan ke teras kamar.
“Pak, sepeda diparkir di belakang. Tidak boleh di teras,” kata staf hotel, anak muda seusia anak sulung saya.
“Wah, saya malah ingin memasukkan sepeda ke dalam kamar.”
“Maaf, tidak boleh, Pak.”
“Sepeda saya tidak akan merusak kamar. Pun jika mengotori, saya bersedia membayar biaya kebersihan.”
Staf hotel tersebut menoleh ke arah cafetaria, karena ada suara berat dari lelaki yang sedang bermain catur.
“Ada apa!? Bilang saja, sepeda diparkir di belakang! Tidak boleh dimasukkan kamar!”
Kemungkinan lelaki setengah baya itu pemilik hotel. Tubuhnya besar dengan kumis tebal melintang di bibir.
“Demi keamanan, bagaimana jika sepeda saya masukkan ke dalam kamar.”
“Tidak boleh! Jika sepeda hilang akan saya ganti!”
Kali ini si kumis tebal menjawab dengan keras, serasa menghardik. Ya sudah, saya tidak mau berdebat. Saya urungkan untuk menginap di hotel yang tidak ramah bagi pesepeda itu. Uang dan KTP saya dikembalikan.
Saya melanjutkan perjalanan dengan rasa sakit di beberapa bagian tubuh yang semakin menyiksa. Saya harus sampai di SPBU Utama Raya, apapun yang terjadi. Di depan, saya masih harus menghadapi tanjakan Paiton.
Dengan susah payah akhirnya saya sampai juga di puncak tanjakan Paiton, pukul 16.45 WIB. Setelah berhenti sejenak untuk membuat foto, saya lanjutkan perjalanan. Jalan yang menurun membantu saya untuk mengistirahatkan raga.
Hujan ringan masih terus mengguyur. Karena enggan menggunakan jas hujan, pakaian saya kuyup. Beberapa kali saya harus membersihkan lensa kacamata yang buram karena terpaan air hujan.
Setelah masuk gerbang Kabupaten Situbondo, perjalanan hari pertama berakhir di hotel kecil di dekat SPBU Utama Raya. Saya lihat jam di ponsel, sudah pukul 17.20 WIB. Saya baru menempuh 169,59 kilometer. Perjalanan masih sangat jauh. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda31-750x375.jpeg)


























