MASUKLAH ke ruang kenangan yang membuat diri mampu merenungi apa yang telah terjadi. Siapa diri kita sebenarnya? Dan beranikah kita berbicara dari hati ke hati sebelum menyatakan apa yang kita kehendaki, ingin dicapai, apa yang ingin diraih untuk mewujudkan keinginan?
Setiap manusia membawa frekuensinya atau gelombang tersendiri. Secara umum, frekuensi mengukur seberapa sering suatu siklus atau getaran terjadi dalam satu detik. Kita bisa menyebutnya sebagai getaran yang membangkitkan jiwa, yang juga mampu memancarkan kebenaran dalam batin.
Dalam teater, frekuensi ini bisa disejajarkan. Sama seperti menangkap gelombang radio, frekuensinya harus pas dan tepat agar tidak terjadi imbas dari frekuensi lain yang berbeda. Kemudian istilah “sefrekuensi” sering digunakan atau dilontarkan dalam pergaulan sehari-hari untuk menggambarkan kesamaan atau kecocokan dalam pola pikir, hobi, atau pandangan hidup. Ini adalah gambaran hubungan yang erat dan nyaman.
Ini adalah gambaran hubungan yang erat dan nyaman.
> Pengalaman ini sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Bayangkan sebuah ruangan yang dipenuhi percakapan santai, namun tiba-tiba getaran yang berbeda masuk. Mungkin ada sekelompok orang yang membicarakan keburukan orang lain, menciptakan getaran negatif. Suasana seketika menjadi beku, komunikasi terasa kaku dan tidak lancar.
Namun, bagi seseorang yang terbiasa membawa frekuensi positif, ia dapat melihat situasi ini sebagai peluang untuk tidak larut dalam getaran tersebut. Ia tahu bagaimana menempatkan dirinya agar tidak terpengaruh oleh ‘noise’ (kebisingan) frekuensi lain.”
Dalam konteks teater, frekuensi adalah tingkat kecocokan atau chemistry antara anggota tim produksi, pemain, dan bahkan penonton. Hubungan yang harmonis ini dimulai dari hal paling dasar: memahami naskah drama bersama, berdiskusi, dan menyerapnya secara mendalam. Bukan hanya sutradara dan pemain, tetapi juga seluruh tim yang terlibat, seperti lighting, artistik, sound man, makeup, hingga konsumsi. Semua harus berada dalam satu gelombang yang sama.
Lalu, bagaimana kita menyatukan semua gelombang ini?
Mari kita bayangkan sebuah piring nasi goreng. Ada nasi, kecap, bumbu, telur, dan bahan lainnya. Nasi goreng yang lezat tidak hanya sekadar mengenyangkan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam. Nasi goreng buatan orang tua yang penuh perhatian, nasi goreng restoran yang cantik dan estetik, atau nasi goreng pedagang pinggir jalan yang penuh pertunjukan saat memasaknya—masing-masing memiliki “rasa” yang berbeda, namun semuanya dibuat dengan gelombang yang sama: mengenal bumbu, meraciknya dengan semangat, dan menyajikannya dengan cinta.
Begitu juga dalam teater. Pertunjukan yang berkesan lahir dari latihan dasar yang matang, yang kita kenali sebagai Wirama, Wiraga, dan Wirasa.
* Wirama (Vokal): Ini adalah unsur suara, intonasi, dan nada. Sama seperti irama musik yang pas untuk menggoreng nasi, vokal harus kuat dan mampu menghadirkan emosi, entah itu jeritan sakit, kemarahan yang membara, atau kelembutan yang menenangkan.
* Wiraga (Tubuh): Ini adalah gerak dari keseluruhan tubuh. Tubuh kita harus memiliki irama yang senada dengan vokal. Gerakan yang tepat akan menjadi “tarian” yang responsif dan mampu menyampaikan makna.
* Wirasa (Rasa): Ini adalah ekspresi dan perasaan yang dihadirkan lewat tubuh. Jika nasi goreng tanpa bumbu hanya akan terasa hambar, teater tanpa rasa hanya akan menjadi gerakan tanpa jiwa. Ekspresi wajah, gerakan tangan, atau gestur kecil lainnya adalah bumbu yang membuat cerita menjadi hidup.
Ketiga unsur ini, Wirama, Wiraga, dan Wirasa, adalah bumbu dasar yang tidak bisa dipisahkan. Jika gerak (Wiraga) sudah senada dengan vokal (Wirama), maka rasa (Wirasa) akan menyatu di dalamnya, menciptakan pertunjukan yang utuh.
Jadi, tujuan dari semua latihan dasar ini adalah untuk menemukan frekuensi yang sama. Seperti bahan nasi goreng yang berbeda-beda, seluruh unsur dalam teater harus ditakar dan diolah bersama. Sebuah gelombang yang berbeda disatukan dan ditempatkan dalam frekuensi yang sama agar pertunjukan yang dihadirkan menjadi jelas dan berkesan. Inilah hakikat dari proses kreatif dan proses kebersamaan dalam teater. [T]
- Tulisan ini di buat untuk agenda latihan dasar teater bagi pemula.
Penulis: Kardanis Mudawi Jaya
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























