DI sebuah bangunan sederhana berdinding bambu dengan atap seng, seorang nelayan berusia 57 tahun dengan cekatan memberikan pakan ikan kepada ratusan tukik. Kulitnya yang sawo matang sering terpapar matahari, tangan yang keriput, dan rambut yang memutih tak mengurangi kegesitannya.
Setiap pagi dan sore, I Gusti Bagus Cakra Wijaya sudah sibuk di Oemah Penyu, sebuah konservasi pelestarian penyu berbasis masyarakat di hamparan pasir Pantai Umeanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali. Rutinitas ini ia jalani selama tiga belas tahun mengabdi sebagai relawan di Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Umeanyar, di mana sepuluh tahun hingga sekarang mengemban sebagai ketua.
“Ini panggilan hati, bukan pekerjaan,” ujar Cakra, pria yang lebih akrab disapa dengan namanya itu.
Pengabdian Cakra dan rekan-rekannya di Pokmaswas Umeanyar adalah murni kerelawanan. Tak ada sepeser pun gaji yang mengalir dan jarang mendapat bantuan dari pemerintah, meskipun kegiatan mereka didukung penuh oleh berbagai instansi seperti PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan), BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), Dinas Pariwisata Buleleng, hingga Pemerintah Desa Umeanyar.


I Gusti Bagus Cakra Wijaya, relawan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Umeanyar, sedang sibuk mengurus penyu dan tukik-tukik di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja
Seluruh biaya operasional untuk merawat tukik dan penyu, terutama untuk pakan dan kesehatan, ditopang oleh donasi dari para pengunjung domestik dan mancanegara. Bagi mereka, upah yang paling berharga adalah melihat tukik berenang bebas ke lautan dan antusiasme pengunjung yang peduli terhadap kelestarian penyu.
“Penyu itu memiliki insting yang luar biasa kuat. Semua jenis penyu yang kami lepas di Pantai Umeanyar ini, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, pasti akan kembali untuk bertelur di sini, di kampung halamannya,” jelas Cakra.
Keyakinan inilah yang menjadi bahan bakar semangatnya. Namun, di usianya yang tak lagi muda, sebuah kekhawatiran mulai menggelayut, soal regenerasi. “Sekarang mencari anak muda yang aktif di desa itu susah. Banyak yang sudah bekerja jauh dari desa, ada yang kuliah. Saya ingin sekali mencari bibit-bibit unggul anak muda yang serius untuk menjadi relawan penerus,” tuturnya.


I Gusti Bagus Cakra Wijaya, relawan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Umeanyar, sedang sibuk mengurus penyu dan tukik-tukik di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja
Dari Patroli Malam hingga Ruang Perawatan Intensif
Tugas Pokmaswas Umeanyar jauh melampaui kegiatan bersih-bersih pantai yang rutin mereka lakukan bersama masyarakat dan anak-anak sekolah. Misi utama mereka adalah mengawasi dan melindungi seluruh ekosistem pesisir.
“Tugas kita itu mengawasi terumbu karang supaya tidak ada yang mengambil. Tahun lalu pernah ada kejadian, ada yang mengambil karang di barat. Itu tugas kami sebagai Pokmaswas untuk menindak,” ungkapnya. Pengawasan mereka tak terbatas, menyisir sepanjang garis pantai untuk memastikan biota laut yang dilindungi undang-undang tetap aman.
Fokus utama mereka tentu saja adalah penyu. Proses penyelamatan dimulai dari patroli malam hari di sepanjang pantai.
“Kalau kita patroli malam, bisa ketemu langsung dengan induknya yang sedang bertelur. Jika patroli kepagian sekitar jam lima pagi, biasanya sudah ada jejaknya. Jejak siripnya itu,” cerita Cakra.
Dari jejak itulah mereka melacak lokasi sarang. Menggunakan tongkat kayu, mereka mencari titik lunak di pasir hingga kedalaman sekitar empat puluh senti meter. Setiap butir telur kemudian dipindahkan dengan sangat hati-hati ke Oemah Penyu.


Oemah Penyu, tempat konservasi pelestarian penyu berbasis masyarakat di hamparan pasir Pantai Umeanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng | Foto: tatkala.co/Puja
“Telur tidak boleh dipindahkan lebih dari satu jam setelah diambil, karena jika terlalu lama di luar, telur akan dingin dan potensi menetasnya menurun drastis,” terangnya.
Di lokasi penangkaran, sarang buatan disiapkan semirip mungkin dengan kondisi alam liar, ditanam di dalam pasir, bukan inkubator. Setiap sarang diberi papan tanda yang berisi informasi penting: nomor sarang, tanggal pemindahan, dan lokasi asli penemuan telur.
Setelah 45 hingga 50 hari masa inkubasi, satu per satu tukik akan mulai menetas dan merangkak naik ke permukaan pasir. Tukik-tukik ini kemudian dipindahkan ke bak-bak perawatan. Di sinilah ruang perawatan intensif dimulai. Selama kurang lebih tiga bulan, mereka dirawat layaknya bayi.
“Air laut di bak harus diganti setiap hari karena kami tidak menggunakan pompa sirkulasi. Kalau tidak diganti, air akan cepat kotor dan bau karena sisa pakan,” kata Cakra. Makannya pun harus dijaga, sehari dua kali, pagi dan sore. Dengan beri ikan-ikan kecil seperti teri atau kembung yang dicincang halus.

Sarang buatan tempat penetasan telur-telur penyu di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja
Bahkan, ada dokter hewan yang ikut serta untuk memastikan kesehatan tukik. Penyakit umum seperti parasit menjadi tantangan, tapi kebersihan dan pengawasan rutin membuat tukik di sini relatif sehat.
Stres juga menjadi masalah serius bagi tukik. Jika stres, mereka akan kehilangan nafsu makan dan rentan mati. Namun, jika sudah terbiasa adaptasi, tukik akan langsung mangap begitu diberi makan. “Kayak bayi, kalau lapar, dia langsung buka mulut,” kata Cakra sambil tertawa.
Penyu, Dibayangi Ancaman
Di Oemah Penyu, dua jenis penyu dominan dirawat: Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). “Penyu Lekang ada di mana-mana. Tapi yang istimewa di sini, tahun ini dominan Penyu Sisik. Di pesisir Buleleng lain, baik di timur maupun barat, jarang sekali ditemukan Penyu Sisik yang mendarat,” tutur Cakra.
Sebelum Pokmaswas berdiri, perburuan telur dan bahkan induk penyu adalah pemandangan biasa. “Dulu terang-terangan dijual di pasar, ada lawar penyu, sate penyu. Bahkan induknya diambil untuk dimasak,” kenangnya getir. Kulit Penyu Sisik yang bermotif indah juga diburu untuk dijadikan aksesori seperti tusuk konde dan sisir.
Kini, ancaman terbesar datang dari bentuk yang berbeda. “Predator paling jahat saat ini manusia dengan sampahnya,” tegas Cakra. Sampah plastik yang mengapung di laut seringkali disangka makanan oleh penyu dan akhirnya dimakan. Belum lagi ancaman terjerat sampah plastik yang bisa berakibat fatal. Tumpukan sampah di pantai juga dapat menghalangi induk penyu untuk naik dan bertelur.
Pantai Umeanyar memiliki ekosistem pendukung yang lengkap yaitu lamun (jenis tumbuhan laut yang menjadi makanan utama penyu), dan lapisan pasir yang cocok untuk bertelur. Namun, keberadaan lamun ini sangat rentan terhadap sedimentasi akibat banjir dan pencemaran sampah.

Dua penyu remaja berusia 3 tahun di Oemah Penyu. Sebelah kanan Penyu Lekang sebelah kiri Penyu Sisik | Foto: tatkala.co/Puja
Cakra menjelaskan bahwa adanya bendungan Titab membuat banjir dan endapan lumpur dari gunung kini lebih jarang turun ke laut. Hal ini membawa dampak positif karena lamun bisa tumbuh lebih subur. “Kalau lamun hilang, penyu juga akan pergi,” katanya tegas.
Tantangan lain datang dari aktivitas nelayan. Terkadang, penyu tak sengaja terjerat jaring. “Tapi astungkara, sekarang nelayan di Buleleng sudah banyak yang mengerti. Jika ada yang kena jaring, mereka akan melepaskannya kembali. Kami terus melakukan sosialisasi,” katanya.
Harapan dari Pesisir Umeanyar
Hingga pertengahan tahun ini, sekitar 700 ekor tukik telah menetas di Oemah Penyu, dengan 300 di antaranya sudah dilepasliarkan bersama berbagai pihak, mulai dari siswa sekolah, aparat pemerintah, hingga tamu-tamu domestik hingga mancanegara.
Saat rilis, tukik-tukik mungil itu dibawa mendekati bibir pantai, hanya dua hingga tiga meter dari tepi pantai. Di situlah mereka dilepas, mengenal kembali rumah asalnya. “Biar tukik bisa beradaptasi dari proses saat tukik merangkak menuju laut hingga akhirnya tersapu ombak,” ujar Cakra pelan.
Tingkat keberhasilan penetasan di penangkaran ini sangat tinggi, mencapai 85-90 persen per sarang. Angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan jika telur-telur itu dibiarkan di alam liar, rentan terhadap predator seperti anjing dan biawak, serta risiko gagal menetas karena tertindih.

Tukik-tukik di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja
Di bak biru yang besar, dua penyu remaja berusia tiga tahun sengaja dipelihara untuk edukasi. “Ini agar pengunjung tetap bisa melihat penyu, bahkan saat datang di luar musim bertelur induknya yang berlangsung dari Januari hingga Agustus,” jelas Cakra.
Oemah Penyu di pesisir Umeanyar, Cakra Wijaya dan para relawan lainnya tidak hanya merawat tukik. Mereka merawat harapan, memastikan bahwa suatu hari nanti, para penjelajah lautan itu akan menepati janjinya untuk kembali pulang—ke tempat di mana ia dirawat seperti anak sendiri.[T]
Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Jaswanto
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
- BACA JUGA:



























