KETIKA balaganjur manggung di Pesta Kesenian Bali (PKB), orang-orang tua harap minggir. Ini zona Gen Z Bali, zona anak muda yang penuh gairah, ekspresif, dan siap memberontak dengan akal yang nakal tapi masuk akal.
Lihatlah di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis malam, 26 Juni 2025. Tribun penonton berkapasitas 10 ribu orang itu penuh sesak, bahkan penonton meluber hingga ke tepi-tepi pagar. Isinya, sebagian besar gen Z Bali, generasi Bali yang siap meneruskan Pesta Kesenian Bali dengan cara mereka sendiri.
Mereka–para pemilik masa depan Bali itu, bahkan datang sejak sore, sebelum lomba benar-benar dimulai. Mereka datang sejak awal karena takut tak kebagian tempat duduk. Pentas baleganjur, entah kenapa, sejak beberapa tahun belakangan ini, jadi begitu bergengsi di mata anak muda Bali, seperti sama bergengsinya dengan pentas musik dari grup-grup musik terkenal di Indonesia, bahkan dunia.
Dengan fenomena semacam itu, sepertinya orang-orang tua memang sebaiknya minggir. Jangan ikut ngerecoki kreativitas anak-anak muda itu. Jangan mencoba menilai, apalagi dengan standar penilaian yang ortodoks, penuh pesan moral yang membosankan. Gen Z, dalam hal pengembangan kreasi balaganjur, tak perlu dianggap bodoh.


Sekaa baleganjur yang tampil pada lomba baleganjur di Pesta Kesenian Bali 2025, Kamis 26 Juni | Foto: Tim Kreatif PKB 2025
Lihatlah karya-karya mereka yang tampil di atas panggung Ardha Candra itu. Mereka, meski punya gaya baru soal kreasi yang seringkali juga dipengaruhi pola-pola musik modern, bahkan postmodern, namun mereka tetap berpegang pada patokan-patokan musik tradisional, bahkan kadang menggali sumber sampai jauh ke akar-akar penciptaan masa lalu.
Dalam lomba (wimbakara) baleganjur serangkaian PKB ke-47 tahun 2025, pada Kamis malam itu, ada empat grup baleganjur dari empat kabupaten dan kota yang bertarung secara musikal di panggung Ardha Candra.
Ketika para duta-duta muda itu naik panggung, panggung Ardha Candra seakan bergetar. Deru kendang, gemuruh gong, tingtang cengceng, kecipak reong, dan gerak yang atraktif seakan membangkitkan energi penonton untuk tetap bertahan dan terus memandang ke depan. Seakan tak boleh ada satu momen pun yang terlewatkan. Decak kagum berhamburan, sorak sorai berderai-derai hingga memenuhi areal Taman Budaya Bali di Jalan Nusa Indah Denpasar itu.
Dari Kota Denpasar tampil Sekaa Gong Jaya Semara Banjar Lumintang dengan garapan “Kincang Kincung”. Dari judulnya, Kincang Kincung, banyak orang ingat pada pola gending-gending atau tarian lawas yang berkaitan dengan upacara-upacara dewa yadnya di Bali. Di tangan anak-anak Kota Denpasar ini, Klincang Kincung digarap dengan ritme yang dinamis, penuh semangat, tapi tetap memberi nuansa sakral sebagaimana gamelan yang biasa dimainkan dalam upacara-upacara sakral.
Duta Badung adalah Komunitas Seni Gong Gembyong Desa Adat Pangsan. Mereka menampilkan karya dahsyat “Perang Untek” yang menegangkan. Lalu dari Buleleng, ada Sanggar Seni Gelung Kumara Pemuteran yang menampilkan karya epik “Paripurnaning Madewa Ayu”. Lalu, duta Tabanan menutup lomba lewat Sekaa Gong Abinaya dengan garapan “Pengurip Gumi” yang menyentuh tema keseimbangan alam.


Sekaa baleganjur yang tampil pada lomba baleganjur di Pesta Kesenian Bali 2025, Kamis 26 Juni | Foto: Tim Kreatif PKB 2025
Jiwa anak muda tampak kentara pada tuangan karya-karya dari empat sekaa yang bermain di panggung Ardha Candra pada Kamis malam itu. Mereka, yang bermain itu memang anak muda, Gen Z. Para penggarapnya juga berasal dari seniman-seniman muda, namun kesetiaan mereka pada akar seni budaya yang diwariskan oleh leluhur tak perlu diragukan lagi. Mereka tetap setia, meski kesannya agak memberontak.
Tabuh “Paripurnaning Dewa Ayu” yang dimainkan anak-anak dari Buleleng misalnya, diangkat dari spirit kesakralan tradisi Madewa Ayu yang tetap lestari di Desa Pemuteran.
Tradisi ini merupakan ungkapan syukur dan permohonan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, sekaligus dipercaya sebagai sarana penyembuhan dan permohonan berkah yang abadi.
Jadi, hidup Gen Z Bali. Hidup, baleganjur! [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























