6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 15, 2025
in Panggung
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Rabu Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja

Di bangku paling belakang
Aku duduk malu
Menatap bayangan
Dari sela jendela waktu
Senyummu, getar pertama dalam sunyi

ITU puisi yang dibaca Rara, mahasiswa bahasa Inggris di Undiksha dalam acara Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi, Singaraja, Rabu malam, 18 Juni 2025.

Puisi itu karya Rara. Judulnya “Kau yang Tumbuh Bersama Waktu”. Mahasiswa asal Blitar memang sedang giat-giatnya belajar menulis puisi, selain juga membaca puisi-puisi dari penyair terkenal di Indonesia maupun di dunia.

Di atas panggung Rabu Puisi itu Rara yang bernama lengkap Baiq Almira Siang Ratrika itu membacakan dua puisi. Puisi pertama berjudul “Love is More Thicker than Forget” karya E.E Cummings. Ia membaca puisi itu dalam bahasa Inggris.

Rara saat baca puisi dalam acara Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Malam itu, Rabu Puisi memang mengambil tema tentang cinta. Dan Rara pun menulis puisi cinta juga.

Puisi karyanya sendiri yang berjudul “Kau yang Tumbuh Bersama Waktu” itu dibaca dengan nada suara agak bergetar. Ia sangat menghayatinya.

Tentu saja. Sebagaimana dikatakan Rara, puisi yang ditulisnya tahun 2024 itu memang ditulis untuk seseorang yang pernah ia suka. Tapi sekarang, kata Rara, ia sudah berada di tahap move on, walaupun, agaknya, usahanya masih on off.

“Aku menulis puisi ini sebenernya buat kado ulang tahun seseorang. He’s my first love yuhuuuu,” kata Rara dengan humor setelah sedikit tremor.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Acara Rabu Puisi itu digagas Komunitas Mahima di Singaraja. Acara itu sudah tergelar sembilan kali pertemuan sejak bulan April pada tanggal 16 dan 30, dan di bulan Mei pada tanggal 7, 14, 21 dan 28, kemudian di bulan Juni tanggal 4, 11 dan 18.

Dan di pertemuan yang kesembilan acara Rabu Puisi cukup berbeda. Yang biasanya dilakukan di Rumah Belajar Komunitas Mahima di Jalan Jl. Pantai Indah Singaraja, kali itu dilakukan di Sudut Rumah Kopi, Jalan Tanjung, Banyuasri, Singaraja dengan support penuh oleh Diah Krisna, Sudut Rumah Kopi, Men Cobek Resto, dan Top Spot.

Alternatif Penyembuhan

Puisi menjadi satu alternatif sebagai penyembuhan, obat yang tak mesti ditelan. Puisi cukup dibaca, dihayati setiap bait yang ditawarkan oleh si penyair tentang sesuatu.

Serunya suasana Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Seperti pada puisi-puisinya milik Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, WS. Rendra, Amir Hamzah, Umbu Landu Paranggi, Joko Pinurbo, dan Subagio Sastrowardoyo itu, memiliki makna sangat dalam, dibacakan dan didiskusikan dalam setiap acara Rabu Puisi.

Memang hal sepertilah yang digagas Komunitas Mahima untuk membumikan kembali puisi pada generasi muda, dengan tema “Menyembuhkan Semesta dengan Puisi”.

Tak hanya dari penyair tanah air yang dibacakan dan dibahas di setiap Rabu Puisi, tetapi penyair luar—seperti Pablo Neruda, Dorothy Parker, Carol Anna Duffy, dan E.E. Cummings, Lang Leav, dan William Morris, juga dibicarakan.

Dan biasanya para peserta hanya membawakan satu puisi berbahasa Indonesia dan satu puisi berbahasa Inggris, malam itu para peserta yang berlatar mahasiswa, selain datang membawakan beberapa puisi dari penyair lain, tetapi juga puisinya sendiri.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Pada malam Rabu malam di Sudut Rumah Kopi itu ]ada 33 peserta yang datang ketika itu, dan beberapa di antara mereka seperti Santun Pandyameikadewi, Damai Pertiwi, Syareth J Kezia Sumbayak dan Rara, membawakan dengan berani puisi karya sendiri.

Selain Rara yang membaca puisi sendiri, ada juga Syareth J Kezia Sumbaya, mahasiswa Undiksha asal Bandung, yang juga membawakan satu puisi karya sendiri.

Kezia naik ke panggung menyapa semua yang hadir—melempar senyum. Perempuan dengan lukisan di wajahnya itu, membawa puisi berjudul “Rindu”, pernah ditulisnya tahun 2020, di Sukabumi.

Aku benci jarak yang menghalangi kita
Dan yang menyisakan kerinduan yang belum pasti
Aku gak tau kamu sampai kapan meninggalkan aku

Setelah puisi itu selesai dibacakan, Kezia tampaknya merasa enjoy dan lepas, seakan berguguran pula kerinduan dalam puisi miliknya.

Kezia merasa acara malam itu sangat menarik, karena mengembalikan gairah berpuisinya yang sudah lama layu gara-gara Covid-19. Ia suka pada puisi sejak sekolah SD, dan kembali menyala malam itu.

“Tadi kan berkesempatan bisa ngebacain salah satu puisi aku. Senang sih apalagi pas dari setelah Covid tuh udah enggak pernah lagi nulis puisi. Jadi kayak pas tadi ngebacain tuh puas banget sih,” kata Kezia.

Puisi Cinta

Di malam itu, penyair senior Made Adnyana Ole, sedikitnya berkomentar tentang puisi cinta, yang dibuat oleh beberapa peserta. Bahwa dalam percintaan, belum apa-apa jika belum nyeri (pake) banget.

Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti, pendiri Komunitas Mahima dan penggagas Rabu Puisi | Foto: tatkala.co/Son

Kenyerian yang ngeri dalam perjuangan cinta—tapi nihil hasilnya, itu bisa menjadi satu suplemen bagaimana puisi itu bisa digarap dengan jiwa sedang basah, lebih hidup.

Patah cinta, atau sedang jatuh cinta, semua itu adalah bahan bakar puisi. Dan belum dikatakan patah cinta kalau dada belum dirasa seperti ada benda bercair masuk ke dalam tubuh melumuri ulu ati, dan menyelinap ke dalam perut—dengan rasa nyeri luar biasa.

Bahan bakar itulah, juga yang membuat puisi Chairil Anwar sangat dahsyat, seperti pada judul puisinya yang berjudul “Tak Sepadan”.

“Dalam puisi itu, pengalaman hidup dan puisi bagi si penyair tidak bisa dipisahkan. Pengalaman patah cinta, kehilangan, adalah kekayaan batin bagi seorang penyair—yang memperkaya nilai puisinya,” kata Made Adnyana Ole.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Dan bagaimana rasa patah cinta seorang Chairil Anwar, ia tunggangi untuk menjelaskan nilai kehidupan yang tidak dilihat dari orang lain, tidak sebatas medium katarsis, atau tempat menumpah perasaan sendiri, tapi ada hal lain yang disampaikan—untuk bisa dikonsumsi sebagai nilai universal.

Kemudian, Kadek Sonia Piscayanti—yang juga penyair, dan kebetulan istrinya Made Adnyana Ole, menyebut mereka yang menyukai puisi adalah kutukan.

“Sebab, puisi adalah seni paling murni, ia ditulis oleh jiwa manusia. Manusia terkutuk—yang menumpahkan hidup dalam makna, melalui puisi.” Kata Kadek Sonia Piscayanti.

Penyair dan Mata Puitiknya

Ada hal-hal yang ngeri atau lebih indah dari hidup yang tidak bisa ditangkap oleh manusia yang tidak pernah tersentuh hidupnya dengan puisi.

Lantas Made Adnyana Ole kemudian memberikan gambaran soal itu, bahwa cara pandang penyair berbeda dengan cara pandang—bukan penyair, dalam proses membuat sajak, ya.

Ketika ombak laut menghantam karang, bagaimana perasaan kita pada sesuatu, patah cinta misalnya, seperti ombak itu menghantam dada kita.

Komang Panji Febrianta, Ni Kadek Andika Yanti, Ni Komang Damai Pertiwi Sanjivani, Trihapsari Utami Azahra dan I Made Anndi Mustika, pemenang nominasi pembaca puisi terbaik Rabu Puisi ke-9 | Foto: tatkala.co/ Son

“Kita bisa merasakan itu di dalam tubuh kita, di dalam badan di dalam hati kita bahwa gelombang itu, adalah menghantam karang yang ada di dalam diri kita.” kata Made Adnyana Ole.

Kemudian ia memberikan contoh yang lembut agar tidak ngeri terus, dalam soal jatuh cinta, misalnya, ketika pada mata kekasih kita atau mata pasangan kita itu berbinar-binar, kita bisa ambil metafora dari alam yang ada di luar diri kita dan kita taruh di mata kekasih kita.

 “Gelombang laut mengalir di dalam matamu,” kata Pak Ole, panggilan akrab dari Made Adnyana Ole memberi contoh sederhana tentang metafora dalam puisi.

Puisi bisa dibuat dari perumpamaan yang mudah ditemui, dan kekayaan pada puisi digantungkan pada apa yang diramu sebagai ornamen, dan fenomena yang tak klise.

Di kehidupan sehari-hari, ada banyak kejadian yang puitik, dan kejadian yang tidak puitik tetapi sebenarnya puitik. Senja adalah fenomena puitik, tapi bagaimana sesuatu yang tidak dianggap puitik, penyair bisa mengangkatnya ke permukaan bisa lebih puitik dari senja, tergantung bagaimana keterampilan si penyair menangkap fenomena itu.

Membaca Puisi

Sementara dalam urusan membaca puisi, puisi yang baik itu dibacakan dengan jujur, dan usaha untuk memberi kekuatan pada “kata”.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, para penyair, telah menghidupkan puisi mereka di kesunyian, dan bahkan bisa bertapa bertahun-tahun untuk memilih kata mana yang tepat untuk puisinya.

Sementara perjuangan seorang penampil atau pembaca puisi, adalah bagaimana puisi itu ketika dibacakan bisa menyihir suasana menjadi hening. Itu tantangannya. Artinya, si pembaca juga mesti ikut serta menghidupkan puisi itu penuh kehati-hatian.

Dan pada malam itu, Rabu Puisi yang ke-9 di Kedai Kopi Sudut Kopi, ada Panji, Damai Pertiwi, Anika, Trihapsari, dan Andi Mustika terpilih sebagai penampil, yang tergolong bagus dalam membaca puisi.

Serunya suasana Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Bagi yang terpilih itu, mereka akan diundang kembali di Rabu Puisi selanjutnya, dan akan diseleksi kembali untuk satu pembaca terbaik. Bagi yang terpilih lagi, akan diberikan hadiah satu buku terbitan Mahima Institut. Mereka bebas memilih buku itu di rak, sesuka hati yang penting satu jumlahnya.

“Panji, ketika ia tampil memiliki penghayatan yang pas. Tidak berlebihan, keutuhan puisinya bagus, vokalnya juga. Kemudian Damai, dia menulis puisinya sendiri, yah, dan ketika dibawakan juga cukup bagus vokalnya.” kata Kadek Sonia Piscayanti sebagai juri menemani Sanne Breimmer, seorang jurnalis yang sedang mengembangkan jurnalisme dekolonialism.

Sedang untuk Trihapsari dan Andi Mustika, memiliki pengkhayatan yang cukup baik, dan tidak terlalu melebih-lebihkan dalam mengekspresikan puisi yang dibawakan.

Begitupun dengan Anika, Kadek Sonia Piscayanti, menilai Anika cukup serius. Ia merasa kagum dengan pembacaan puisinya Anika, dalam membawakan karya Elizabeth Barrett Broaning.

“Karena puisinya Elizabeth Barrett Broaning itu cukup sulit ketika dibacakan, walaupun sebenarnya sederhana sajaknya, tapi itu cukup sulit ketika dibacakan. Dan Anika membawakannya sangat pas,” kata Kadek Sonia Piscayanti, Founder Komunitas Mahima.

Panji, atau bernama lengkap Komang Panji Febrianta, merasa kaget ketika dirinya disebut menjadi pembaca puisi cukup baik. Ketika itu ia membawakan “Dewa Telah Mati” dari Subagio Sastrowardoyo, dan “Don’t go far off” milik Pablo Nerruda.

“Karena sebelumnya saya tidak memiliki ekpektasi untuk menjadi salah satu orang yang terpilih, karena sebelumnya saya juga merasa tidak terlalu siap dalam membawakan puisi yang saya pilih tadi. Dan jujur tadi ketika giliran saya maju sebenarnya saya merasa ragu dan sempat gemeteran karena melihat banyak orang yang hadir,” kata Panji setelah turun dari panggung.

Tapi setelah adanya pengumuman siapa yang terpilih, lanjut Panji, ada rasa kepuasan tersendiri karena rupanya ia juga masuk dalam nominasi itu.

Walaupun di satu sisi ia juga merasa sedikit kecewa dengan penampilannya sendiri, karena ia menilai, penampilan dirinya masih kurang memuaskan ketika di atas panggung. Dan di acara Rabu Puisi selanjutnya, ia akan memperbaiki apa yang dinilainya masih kurang.

Berbeda dengan Andi Mustika, salah satu penyabet nominasi pembaca terbaik malam itu, ia membawakan puisi Chairil Anwar berjudul “Rumahku” dengan cukup meresapi.

Dan setelah turun dari panggung dengan sorak tepuk tangan cukup meriah, ia bercerita, ketika tampil ia memasukan perasaan kerinduannya pada kampung halaman. Rumahnya ada di Karangasem, dan ia lama tidak pulang. Tentu, di sini, ia merasa terobati dengan puisi Chairil itu yang kemudian selesai dibacakan.

Sedang di puisi ke dua, Andi Mustika membacakan puisi berjudul “I Do Not Love You” karya Pablo Neruda.

Di puisi itu, ia memilih puisi Pablo Neruda, hanya karena tema malam itu adalah tentang cinta, dan ia tahu jika Pablo Neruda telah membuat banyak puisi cinta.

Ketika Panji, Anika, Trihapsari, dan Andi Mustika membawakan puisi karya penyair besar dan sabet nominasi, Damai Pertiwi justru membawakan puisinya sendiri, dan masuk di antara mereka yang membawakan puisi penyair besar. Puisi karyanya itu berjudul “Learn to Love Me”.

“Puisi ini terinspirasi dari diri saya sendiri, yang mungkin bisa dibilang dulu saya tidak mencintai diri saya karena fisik. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa di dalam diri saya terdapat hal yang berharga, dan layak untuk dicintai!” kata Damai Pratiwi.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Rusdy Ulu sebagai penanggungjawab acara mengatakan puisi selalu punya cara menghubungkan segala hal dan memberi makna kepada setiap yang hidup.

“Entah kebetulan atau tidak, puisi menghubungkan kita satu sama lain,  bahkan menghubungkan kita dengan sesuatu yang lebih luas lagi, anak senja nih sering menyebutnya semesta,” kata Rusdy. 

Melalui Rabu Puisi, kata Rusdy, ia ingin terus terhubung dengan kawan-kawan setiap minggu. Bahwa keterhubungan puisi dan manusia, adalah obat untuk diri dan semesta.

Rusdy mencontohkan puisi yang dibuat Damai Pratiwi. “Melihat puisi yang dibuat oleh Damai, puisi seperti sebuah meditasi yang mendamaikan si pemilik jiwanya!” dawuh Rusdi Ulu. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Jalan Suara”, Musikalisasi Puisi Yayasan Kesenian Sadewa Bali dan Komunitas Disabilitas Tunanetra
Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Next Post

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co