23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seberapa Pantas Seseorang Disebut Cendekiawan?

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 2, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

SIAPAKAH yang pantas kita sebut sebagai cendekiawan?. Kita tidak bisa mengaku-ngaku sebagai ilmuwan, cendekiawan, ilmuwan, apalagi mengatakan di depan publik saya ini, kami ini, adalah ilmuwan. Setahu saya ilmuwan atau cendekiawan itu pengakuan dari publik atas apa yang telah mereka kerjakan untuk masyarakat luas, dan mafaatnya dapat dirasakan baik lahir maupun batin.

Seseorang disebut ilmuwan, cendekiawan atau intelektual harus mengacu pada pemahaman umum atau batasan yang biasa masyarakat gunakan. Cendekiawan atau intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, menggagas, serta mempertanyakan dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Dalam bahasa Inggris, cendekiawan dikenal sebagai “scholar” atau “intellectual”.

Intelektual berarti seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Secara umum, intelektual adalah orang yang terlibat dalam kegiatan intelektual seperti berpikir, belajar, dan menggagas ide-ide baru. Intelektual juga dapat merujuk pada kemampuan untuk memperoleh informasi, berpikir abstrak, menalar, dan bertindak secara efisien.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikemukakan, intelektual memiliki beberapa ciri khas: cerdas dan berakal, memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan berpikir secara rasional. Berpengetahuan luas, memiliki pengetahuan yang luas di berbagai bidang, terutama bidang yang menjadi minatnya. Berpikir kritis, mampu menganalisis masalah dengan mendalam dan mengidentifikasi solusi yang efektif. Mampu mengkomunikasikan ide, mampu menyampaikan pemikiran dan gagasan dengan jelas dan persuasif.  Berdedikasi pada pengembangan diri, selalu berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. 

Terus apa dan siapa yang disebut ilmuwan itu?. Dalam kamus yang sama dikemukakan, ilmuwan adalah orang yang mendalami, menguasai, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk mencari kebenaran dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Mereka adalah ahli dalam bidang ilmu tertentu, melakukan penelitian, eksperimen, dan pengembangan untuk memahami alam dan dunia di sekitar kita.

Dalam Wikapedia, ilmuwan (scientist) batasannya adalah orang yang ahli atau memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Dalam arti yang lain, ilmuwan adalah orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan. 

Contoh beberapa ilmuwan terkenal termasuk Albert Einstein (fisikawan), Marie Curie (fisikawan dan kimiawan), Isaac Newton (fisikawan dan matematikawan), Nikola Tesla (insinyur dan fisikawan), dan BJ. Habiebie. Mereka telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi , dan peradaban manusia. Ini pengertian yang dapat saya pahami perihal predikat ilmuwan.

                                       ***

Menuliskan hal ini tidak bermaksud mengajari khalayak, hanya bagian sikap tanggung jawab sebagai akademisi pendidik, dan berbagi sudut pandang perihal tiga istilah tersebut. Saya pribadi  tidak berani mengatakan diri ini mengklaim sebagai ilmuwan, karena belakangan ini tiba-tiba saja ada yang mengaku-ngaku dirinya, kelompoknya, adalah ilmuwan, peneliti, berusaha mengobok-obok kerukunan persatuan bangsa, pemerintah kita, melalui “Isu Ijazah Palsu” Presiden ke-7 Joko Widodo.

Kelompok yang mengaku ilmuwan tersebut dalam pandangan saya yang mungkin keliru, sama sekali tidak mencerminkan perilaku sebagai ilmuwan, intelektual, atau cendekiawan sebagaimana pengertian batasan ilmuwan. Karena mereka bekerja atas dasar perasaan tidak suka, benci pada sosok pemilik ijazah dan keluarganya, untuk tujuan dan orientasi politik yang sarat kepentingan kelompok dan ambisi individu, padahal ilmuwan harus terbebas dari semuanya itu.

Selain perilaku kelompok yang mengatasnamakan ilmuwan dan peneliti tersebut, dalam menyampaikan apa yang mereka klaim sebagai “temuan” perihal ijazah Jokowi, seharusnya mendiskusikan, mendialogkan dalam suatu forum resmi; ada penelaah, peserta dialog lazimnya seminar hasil penelitian.

Bukan langsung dengan cara menyiarkan melalui media, dengan gaya memprovokasi, menghasut masyarakat luas melalui berbagai platform media sosial, acara-acara podcast di berbagai saluran yang cenderung ”saluran kelompok pembenci Jokowi”, teriak-teriak di jalan, juga di acara media televisi nasional, dengan narasi-narasi tuduhan, tidak menerima perbedaan pendapat, “pokoknya” temuan mereka yang paling valid.

Narasi mereka tidak mempercayai institusi-institusi resmi negara ini, mulai KPU, Universitas Gajah Mada, institusi resmi yang mengeluarkan ijazah bahkan mengobok-obok martabat perguruan tinggi yang sangat terhormat ini. Terakhir mereka tidak memepercayai hasil laboratorium forensik Bareskim Polri yang menyatakan ijazah Jokowi identik dengan sampel yang diuji, Bareskrim menyatakan  itu sah dan asli ijazah tersebut.

Perilaku mereka dengan narasi menolak semua keterangan dari sumber resmi, ini bukan perilaku ilmuwan, intelektual, cendekiawan, tapi perilaku orang yang sudah dipenuhi dengan sifat hasad, yaituperasaan dengki atau iri hati terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, disertai dengan keinginan agar nikmat tersebut hilang atau berpindah kepada dirinya. 

Hasad adalah sifat tercela yang harus dihindari karena dapat merusak kebaikan seseorang dan menimbulkan berbagai dampak negatif. Contohnya perilaku mereka sampai saat ini masih terus saja menarasikan keterangan merekalah yang benar; telinga, mata, dan hatinya seperti telah dibutakan.    

 Mereka bukan mencerminkan sikap seorang ilmuwan tetapi lebih kelompok orang-orang hasad, hatinya sudah ”menghitam”. Perilaku mereka dapat kita lihat dengan mendatangi Komnas HAM, dengan dalih mereka telah dikriminalisasi oleh pelapor, padahal mereka bekerja untuk ”kebenaran”, setelah mereka melakukan berbagai hinaan, sehina-hinanya kepada Presiden ke-7 RI. Mereka tidak terima dan mengadu pada Komnas HAM, ini menurut saya ”ganjil” dan lucu; ilmuwan kok tidak percaya diri, tidak yakin pada kebenaran yang mereka simpulkan.

Mereka mengatakan sudah dikriminalisasi oleh ”pelapor” alasannya mereka sedang bekerja sebagai ilmuwan untuk mencari kebenaran, padahal yang dikerjakannya adalah memfitnah, menyebarkan narasi bohong kepada publik, menghina, mencemarkan nama baik dan menghina martabat kelurga Jokowi. Itulah yang mereka kerjakan. Ruang publik NKRI jadi ”polusi” oleh sumpah serapah orang-orang yang mengaku-ngaku ilmuwan.

Padahal mengadukan mereka kepada yang berwenang Bareskrim Polri adalah hak setiap warga negara. Setelah dilaporkan oleh Jokowi, mereka mengaku sebagai korban kezaliman dan dikriminalisaasi; luar biasa memang ”ilmuwan”ini. Semoga UGM juga dapat melakukan langkah yang sama mengadukan mereka, karena institusi ini sudah mereka degradasi harkat martabatnya dengan narasi-narasi busuk mereka, dituduh sebagai institusi yang mengeluarkan ijazah palsu. Akhir tulisan ini kita berharap semoga selalu diberikan petunjuk dan hidayah oleh Allah SWT, dalam setiap melangkah di bumiNya dengan tidak menyombongkan diri. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screen Time vs Quality Time: Pilihan Berkata Iya atau Tidak dari Rayuan Dunia Digital

Next Post

GEMO FEST #5 : Mahasiswa Wujudkan Aksi, Bukan Sekadar Teori

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
GEMO FEST #5 : Mahasiswa Wujudkan Aksi, Bukan Sekadar Teori

GEMO FEST #5 : Mahasiswa Wujudkan Aksi, Bukan Sekadar Teori

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co