4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wartawan Belakang Meja

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 30, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Om Angga kerjanya santai, ya?” Ibu pemilik sebuah warung makan berkata pada saya, sekitar dua bulan lalu. Pertanyaan itu terlontar, mungkin, karena saya sering makan di warungnya saat orang kebanyakan bekerja, atau hendak berangkat kerja. Di warung tersebut, saya juga duduk  dan nongkrong agak lama; membalas chat, koordinasi kerja, menulis catatan, dan lain-lain.

Saya jelaskan padanya, meski sebelumnya ia tahu saya seorang wartawan, bahwa saya hampir setiap hari bangun pada dini hari pukul 01.30/02.00/02.30, lalu menulis dan mengedit berita dan artikel hingga pukul 05.00/05.30. Kemudian, tidur sebentar dan saat pagi tiba mulai beraktivitas lagi. Jika ada jadwal liputan, pagi hingga siang, lanjut menulis berita. Lalu pada malam hari (jika tidak sangat mengantuk), mengedit dan menulis berita atau artikel lagi. Jika mengantuk, saya tidur lebih awal untuk kemudian bangun pada dini hari. Begitu seterusnya.


Bedanya, jika menulis lepas, waktu saya tidak berbuah upah/materi secara langsung. Itu datang ketika tulisan saya kumpulkan menjadi buku dan dijual. Pun saat menjadi kontributor sebuah media online setahun belakangan ini; tak ada gaji, hanya honor liputan. Syukurlah, kini saya mendapat pekerjaan sebagai wartawan media online yang memberi gaji bulanan. Setidaknya ada kepastian akan terpenuhinya kebutuhan hidup setiap bulan; bayar kos,  makan/minum, kuota internet, BBM sepeda motor, rekreasi dan jalan-jalan, serta juga mentraktir tunangan.

Santai? Hanya jam kerja yang berbeda dengan orang kantoran. Maka itu, pesan saya terutama pada anak muda jika mereka meminta saran: pilihlah pekerjaan yang tidak banyak orang lakukan. Persentase yang kecil bila dibandingkan jenis pekerjaan umum di masyarakat.

Jadi penulis? penyair? wartawan? boleh saja, jika kalian suka. Bakat nomor kesekian. Percuma punya bakat, jika tak dilatih juga akan berkarat; menyisakan sikap jumawa dan memuja kenangan serta prestasi masa lalu. Merasa hebat, ‘punya nama’, padahal karyanya tak ada kemajuan baik mutu maupun kualitas. Mandeg. Stagnan.

“Jika saya santai, apalagi tak punya penghasilan, mana ada perempuan yang mau pada saya, Bu!,” ucap saya terkekeh, usai membayar makanan dan minuman di warung dengan menu lezat dan murah tersebut. Ibu pemilik warung tersenyum, sebelum saya meninggalkan warungnya.

Profesi Wartawan

Berkenalan dengan jurnalisme saat mengikuti pelatihan jurnalistik ketika SMA pada 2001, dan bergaul dengan para wartawan lokal di Negara, Jembrana—kampung halaman saya, memberi pemahaman pada saya yang saat itu remaja, bahwa apapun profesi yang kita pilih, asalkan dilakoni dengan tekun, pasti akan membuat kita bahagia. Tidak hanya sekadar nyaman.

Pada 2008 saat tahun-tahun terakhir kuliah, dari sebuah iklan lowongan pekerjaan di koran, saya melamar pada sebuah perusahaan media di Denpasar Timur. Kala itu belum ada media online seperti sekarang. Hanya ada koran, majalah, dan tabloid. Perusahaan media yang saya tuju memproduksi tabloid, milik pejabat penting di Bali kala itu.

Setelah proses wawancara oleh pemimpin redaksi, saya langsung diterima bekerja sebagai wartawan. Teori-teori jurnalistik yang saya dapatkan saat SMA menjadi bekal penting ketika saya terjun langsung dalam dunia kerja. Rekan kerja yang baik dan solid, ditambah koordinasi dan komunikasi dengan redaktur serta pemimpin redaksi yang lancar menambah semangat saya.

Hanya saja, saya tidak lama bekerja di sana. Tidak sampai setahun, saya mengajukan permohonan mengundurkan diri. Sebabnya, saya ingin fokus menyelesaikan kuliah. Saya merasa kewalahan membagi waktu antara bekerja dan menyelesaikan studi yang hanya tinggal mengulang tiga mata kuliah dan menyelesaikan skripsi. Kuliah Kerja Nyata sudah saya jalani.

Waktu itu saya mengalami krisis mental. Emosi yang rapuh karena baru berpisah dengan sang kekasih, ditambah uang bulanan yang diputus dari keluarga karena sebuah sebab, mengharuskan saya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Maka itu saya mencari pekerjaan. Sementara profesi wartawan saya jalani dengan kurang fokus dan total. Saya merasa lelah baik fisik dan mental. Tahun-tahun itu benar-benar berat, hingga akhirnya saya mengalami gangguan mental skizofrenia pada 2009, yang membuat kuliah tidak bisa saya rampungkan.

Sebenarnya, bisa saja keluarga mengajukan cuti kuliah untuk saya. Setelah saya agak pulih bisa kembali ke kampus dan menamatkan kuliah. Namun hal itu tidak dilakukan. Saya disuruh kembali ke kampung halaman, setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit jiwa. Perasaan saya waktu itu benar-benar hancur. Gagal menjadi sarjana, dianggap tak punya masa depan, saya bagaikan pesakitan dan orang yang gagal. Sedih sekali rasanya. Saya hanya bisa pasrah.

Pada 2015 saya kembali ke kota yang pernah lama saya tinggali: Denpasar. Sebelumnya saya sempat bekerja menjadi guru bahasa Inggris sebuah yayasan sosial di Tejakula, Buleleng. Kemudian saya memutuskan untuk pindah ke Denpasar. Pekerjaan pertama saya adalah wartawan sebuah tabloid budaya dan spiritual Bali yang berkantor di Renon. Tidak mudah untuk bekerja kembali setelah lama sakit. Bahkan pengobatan juga tidak terlalu tepat, karena obat psikiatri yang saya konsumsi terlalu “berat” dan tidak dievaluasi sesuai kondisi terkini.

Perkenalan dengan seorang calon psikiater kala itu banyak membantu saya dalam pengobatan yang tepat. Sudah sepuluh tahun kami bersahabat, hingga kini kami sama-sama “populer”. Dia menjadi psikiater yang banyak menjadi rujukan di Bali, sementara saya menjadi penulis dan wartawan yang punya kompetensi dan prestasi—sering memenangkan lomba jurnalistik.

“Belakang Meja”

Menekuni profesi wartawan secara aktif sejak 2015, dimana saya menemukan jalan hidup sebagai wartawan sekaligus seorang pengarang, sangat membantu untuk pulih dan stabil. Dukungan dari tunangan semenjak lama membuat saya sangat bersyukur atas segala pencapaian yang saya raih. Tidak selalu dalam bentuk materi. Lebih dari itu; ketenangan batin, kesehatan, kebahagiaan, dan keberlimpahan akan cinta-kasih. Tentu para pembaca setuju bahwa itu lebih penting dari materi, yang bisa dicari tetapi tidak bisa menjamin kita mendapatkan empat hal itu.

Sebagai wartawan, memang saya “kalah jauh” dengan para wartawan muda yang tangkas, penuh semangat, penuh vitalitas dalam mobilitas mencari dan meliput berita. Jujur saya akui, saya memang jarang terjun langsung ke lapangan untuk misalnya meliput sebuah peristiwa atau pertemuan penting para tokoh. Berita-berita yang saya hasilkan proses dari tulis ulang atau re-write dari rilis-rilis pers, baik itu dari intansi pemerintahan maupun swasta, sekolah/universitas maupun dari kiriman agensi media, baik yang ada di Bali maupun di luar Bali, semisal Jakarta.

Saya berpikir, wartawan pada zaman sekarang sangat berbeda keadaannya dengan wartawan pada zaman dahulu. Wartawan sekarang, dalam mencari sumber berita, tidak harus menemui langsung narasumber atau orang-orang yang terkait dalam sebuah peristiwa. Berrbeda dengan wartawan zaman dahulu dalam mencari berita mesti datang langsung pada sebuah kejadian, kebakaran, misalnya. Atau kriminalitas semacam kasus pencurian maupun pembunuhan.

Meskipun, cara kerja jurnalistik tidak begitu jauh berlainan, wartawan zaman sekarang bisa menemukan sumber berita melalui internet dan media sosial—yang bahkan kini menjadi “sumber pertama” dalam mengabarkan sebuah kejadian atau peristiwa, pada masa setiap orang punya “kemampuan” bak seorang wartawan; menulis teks atau menayangkan video bahkan secara real time atau langsung. Media sosial juga jadi rujukan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, walaupun sebenarnya tidak semua merupakan produk jurnalistik.

Wartawan—terutama media online, kemudian tinggal mengutip atau melakukan konfirmasi kepada pihak terkait lalu menayangkan/memuat di media online tempatnya bekerja (atau media online sendiri jika bagi mereka yang punya media sendiri).

Alhasil, wartawan sekarang tidak lagi perlu berpanas-panas dan berpeluh untuk liputan secara langsung. Semua bisa dilakukan di “belakang meja”. Sambil menyeruput kopi atau teh di sebuah kafe, atau sambil menyantap makanan di warung makan. Apalagi, dengan ponsel pintar semua bisa dikerjakan dari jarak jauh atau remote. Koordinasi dengan rekan kerja dan atasan bahkan mengirim berita pun kini bisa dilalukan melalui grup pesan WhatsApp. Canggih dan maju.

Tapi, seperti yang banyak wartawan terutama dari generasi terdahulu sampaikan, kualitas berita maupun karya jurnalistik wartawan zaman sekarang banyak yang buruk. Berita yang sensasional, hanya mengejar viewer untuk menjadi viral, bahkan melanggar kode etik jurnalistik memang kini banyak kita jumpai. Namun, tidak semua wartawan seperti itu. Masih ada banyak wartawan baik usia muda, menengah, maupun tua yang punya integritas dan kualitas bagus. Semua kembali berpulang pada wartawan itu sendiri. Mau terus belajar dan mengembangkan diri atau hanya ingin mencari uang (saja) dengan menjadi wartawan ala kadarnya, bahkan bekerja pada media tidak resmi atau abal-abal, yang justru merusak nama baik wartawan dan pers di masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Wartawan Dulu, Kreator Konten Kemudian
“Nguber Berita ka Nusa”, Drama Teater Persembahan Wartawan Budaya
5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan
Menulis Berita Kisah: Merdeka Menjadi Wartawan
Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan
Tags: jurnalisjurnalismewartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Proyek Kota dalam Teater 2025 — Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota

Next Post

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co