24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wartawan Belakang Meja

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 30, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Om Angga kerjanya santai, ya?” Ibu pemilik sebuah warung makan berkata pada saya, sekitar dua bulan lalu. Pertanyaan itu terlontar, mungkin, karena saya sering makan di warungnya saat orang kebanyakan bekerja, atau hendak berangkat kerja. Di warung tersebut, saya juga duduk  dan nongkrong agak lama; membalas chat, koordinasi kerja, menulis catatan, dan lain-lain.

Saya jelaskan padanya, meski sebelumnya ia tahu saya seorang wartawan, bahwa saya hampir setiap hari bangun pada dini hari pukul 01.30/02.00/02.30, lalu menulis dan mengedit berita dan artikel hingga pukul 05.00/05.30. Kemudian, tidur sebentar dan saat pagi tiba mulai beraktivitas lagi. Jika ada jadwal liputan, pagi hingga siang, lanjut menulis berita. Lalu pada malam hari (jika tidak sangat mengantuk), mengedit dan menulis berita atau artikel lagi. Jika mengantuk, saya tidur lebih awal untuk kemudian bangun pada dini hari. Begitu seterusnya.


Bedanya, jika menulis lepas, waktu saya tidak berbuah upah/materi secara langsung. Itu datang ketika tulisan saya kumpulkan menjadi buku dan dijual. Pun saat menjadi kontributor sebuah media online setahun belakangan ini; tak ada gaji, hanya honor liputan. Syukurlah, kini saya mendapat pekerjaan sebagai wartawan media online yang memberi gaji bulanan. Setidaknya ada kepastian akan terpenuhinya kebutuhan hidup setiap bulan; bayar kos,  makan/minum, kuota internet, BBM sepeda motor, rekreasi dan jalan-jalan, serta juga mentraktir tunangan.

Santai? Hanya jam kerja yang berbeda dengan orang kantoran. Maka itu, pesan saya terutama pada anak muda jika mereka meminta saran: pilihlah pekerjaan yang tidak banyak orang lakukan. Persentase yang kecil bila dibandingkan jenis pekerjaan umum di masyarakat.

Jadi penulis? penyair? wartawan? boleh saja, jika kalian suka. Bakat nomor kesekian. Percuma punya bakat, jika tak dilatih juga akan berkarat; menyisakan sikap jumawa dan memuja kenangan serta prestasi masa lalu. Merasa hebat, ‘punya nama’, padahal karyanya tak ada kemajuan baik mutu maupun kualitas. Mandeg. Stagnan.

“Jika saya santai, apalagi tak punya penghasilan, mana ada perempuan yang mau pada saya, Bu!,” ucap saya terkekeh, usai membayar makanan dan minuman di warung dengan menu lezat dan murah tersebut. Ibu pemilik warung tersenyum, sebelum saya meninggalkan warungnya.

Profesi Wartawan

Berkenalan dengan jurnalisme saat mengikuti pelatihan jurnalistik ketika SMA pada 2001, dan bergaul dengan para wartawan lokal di Negara, Jembrana—kampung halaman saya, memberi pemahaman pada saya yang saat itu remaja, bahwa apapun profesi yang kita pilih, asalkan dilakoni dengan tekun, pasti akan membuat kita bahagia. Tidak hanya sekadar nyaman.

Pada 2008 saat tahun-tahun terakhir kuliah, dari sebuah iklan lowongan pekerjaan di koran, saya melamar pada sebuah perusahaan media di Denpasar Timur. Kala itu belum ada media online seperti sekarang. Hanya ada koran, majalah, dan tabloid. Perusahaan media yang saya tuju memproduksi tabloid, milik pejabat penting di Bali kala itu.

Setelah proses wawancara oleh pemimpin redaksi, saya langsung diterima bekerja sebagai wartawan. Teori-teori jurnalistik yang saya dapatkan saat SMA menjadi bekal penting ketika saya terjun langsung dalam dunia kerja. Rekan kerja yang baik dan solid, ditambah koordinasi dan komunikasi dengan redaktur serta pemimpin redaksi yang lancar menambah semangat saya.

Hanya saja, saya tidak lama bekerja di sana. Tidak sampai setahun, saya mengajukan permohonan mengundurkan diri. Sebabnya, saya ingin fokus menyelesaikan kuliah. Saya merasa kewalahan membagi waktu antara bekerja dan menyelesaikan studi yang hanya tinggal mengulang tiga mata kuliah dan menyelesaikan skripsi. Kuliah Kerja Nyata sudah saya jalani.

Waktu itu saya mengalami krisis mental. Emosi yang rapuh karena baru berpisah dengan sang kekasih, ditambah uang bulanan yang diputus dari keluarga karena sebuah sebab, mengharuskan saya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Maka itu saya mencari pekerjaan. Sementara profesi wartawan saya jalani dengan kurang fokus dan total. Saya merasa lelah baik fisik dan mental. Tahun-tahun itu benar-benar berat, hingga akhirnya saya mengalami gangguan mental skizofrenia pada 2009, yang membuat kuliah tidak bisa saya rampungkan.

Sebenarnya, bisa saja keluarga mengajukan cuti kuliah untuk saya. Setelah saya agak pulih bisa kembali ke kampus dan menamatkan kuliah. Namun hal itu tidak dilakukan. Saya disuruh kembali ke kampung halaman, setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit jiwa. Perasaan saya waktu itu benar-benar hancur. Gagal menjadi sarjana, dianggap tak punya masa depan, saya bagaikan pesakitan dan orang yang gagal. Sedih sekali rasanya. Saya hanya bisa pasrah.

Pada 2015 saya kembali ke kota yang pernah lama saya tinggali: Denpasar. Sebelumnya saya sempat bekerja menjadi guru bahasa Inggris sebuah yayasan sosial di Tejakula, Buleleng. Kemudian saya memutuskan untuk pindah ke Denpasar. Pekerjaan pertama saya adalah wartawan sebuah tabloid budaya dan spiritual Bali yang berkantor di Renon. Tidak mudah untuk bekerja kembali setelah lama sakit. Bahkan pengobatan juga tidak terlalu tepat, karena obat psikiatri yang saya konsumsi terlalu “berat” dan tidak dievaluasi sesuai kondisi terkini.

Perkenalan dengan seorang calon psikiater kala itu banyak membantu saya dalam pengobatan yang tepat. Sudah sepuluh tahun kami bersahabat, hingga kini kami sama-sama “populer”. Dia menjadi psikiater yang banyak menjadi rujukan di Bali, sementara saya menjadi penulis dan wartawan yang punya kompetensi dan prestasi—sering memenangkan lomba jurnalistik.

“Belakang Meja”

Menekuni profesi wartawan secara aktif sejak 2015, dimana saya menemukan jalan hidup sebagai wartawan sekaligus seorang pengarang, sangat membantu untuk pulih dan stabil. Dukungan dari tunangan semenjak lama membuat saya sangat bersyukur atas segala pencapaian yang saya raih. Tidak selalu dalam bentuk materi. Lebih dari itu; ketenangan batin, kesehatan, kebahagiaan, dan keberlimpahan akan cinta-kasih. Tentu para pembaca setuju bahwa itu lebih penting dari materi, yang bisa dicari tetapi tidak bisa menjamin kita mendapatkan empat hal itu.

Sebagai wartawan, memang saya “kalah jauh” dengan para wartawan muda yang tangkas, penuh semangat, penuh vitalitas dalam mobilitas mencari dan meliput berita. Jujur saya akui, saya memang jarang terjun langsung ke lapangan untuk misalnya meliput sebuah peristiwa atau pertemuan penting para tokoh. Berita-berita yang saya hasilkan proses dari tulis ulang atau re-write dari rilis-rilis pers, baik itu dari intansi pemerintahan maupun swasta, sekolah/universitas maupun dari kiriman agensi media, baik yang ada di Bali maupun di luar Bali, semisal Jakarta.

Saya berpikir, wartawan pada zaman sekarang sangat berbeda keadaannya dengan wartawan pada zaman dahulu. Wartawan sekarang, dalam mencari sumber berita, tidak harus menemui langsung narasumber atau orang-orang yang terkait dalam sebuah peristiwa. Berrbeda dengan wartawan zaman dahulu dalam mencari berita mesti datang langsung pada sebuah kejadian, kebakaran, misalnya. Atau kriminalitas semacam kasus pencurian maupun pembunuhan.

Meskipun, cara kerja jurnalistik tidak begitu jauh berlainan, wartawan zaman sekarang bisa menemukan sumber berita melalui internet dan media sosial—yang bahkan kini menjadi “sumber pertama” dalam mengabarkan sebuah kejadian atau peristiwa, pada masa setiap orang punya “kemampuan” bak seorang wartawan; menulis teks atau menayangkan video bahkan secara real time atau langsung. Media sosial juga jadi rujukan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, walaupun sebenarnya tidak semua merupakan produk jurnalistik.

Wartawan—terutama media online, kemudian tinggal mengutip atau melakukan konfirmasi kepada pihak terkait lalu menayangkan/memuat di media online tempatnya bekerja (atau media online sendiri jika bagi mereka yang punya media sendiri).

Alhasil, wartawan sekarang tidak lagi perlu berpanas-panas dan berpeluh untuk liputan secara langsung. Semua bisa dilakukan di “belakang meja”. Sambil menyeruput kopi atau teh di sebuah kafe, atau sambil menyantap makanan di warung makan. Apalagi, dengan ponsel pintar semua bisa dikerjakan dari jarak jauh atau remote. Koordinasi dengan rekan kerja dan atasan bahkan mengirim berita pun kini bisa dilalukan melalui grup pesan WhatsApp. Canggih dan maju.

Tapi, seperti yang banyak wartawan terutama dari generasi terdahulu sampaikan, kualitas berita maupun karya jurnalistik wartawan zaman sekarang banyak yang buruk. Berita yang sensasional, hanya mengejar viewer untuk menjadi viral, bahkan melanggar kode etik jurnalistik memang kini banyak kita jumpai. Namun, tidak semua wartawan seperti itu. Masih ada banyak wartawan baik usia muda, menengah, maupun tua yang punya integritas dan kualitas bagus. Semua kembali berpulang pada wartawan itu sendiri. Mau terus belajar dan mengembangkan diri atau hanya ingin mencari uang (saja) dengan menjadi wartawan ala kadarnya, bahkan bekerja pada media tidak resmi atau abal-abal, yang justru merusak nama baik wartawan dan pers di masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Wartawan Dulu, Kreator Konten Kemudian
“Nguber Berita ka Nusa”, Drama Teater Persembahan Wartawan Budaya
5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan
Menulis Berita Kisah: Merdeka Menjadi Wartawan
Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan
Tags: jurnalisjurnalismewartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Proyek Kota dalam Teater 2025 — Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota

Next Post

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co