4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wartawan Belakang Meja

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 30, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Om Angga kerjanya santai, ya?” Ibu pemilik sebuah warung makan berkata pada saya, sekitar dua bulan lalu. Pertanyaan itu terlontar, mungkin, karena saya sering makan di warungnya saat orang kebanyakan bekerja, atau hendak berangkat kerja. Di warung tersebut, saya juga duduk  dan nongkrong agak lama; membalas chat, koordinasi kerja, menulis catatan, dan lain-lain.

Saya jelaskan padanya, meski sebelumnya ia tahu saya seorang wartawan, bahwa saya hampir setiap hari bangun pada dini hari pukul 01.30/02.00/02.30, lalu menulis dan mengedit berita dan artikel hingga pukul 05.00/05.30. Kemudian, tidur sebentar dan saat pagi tiba mulai beraktivitas lagi. Jika ada jadwal liputan, pagi hingga siang, lanjut menulis berita. Lalu pada malam hari (jika tidak sangat mengantuk), mengedit dan menulis berita atau artikel lagi. Jika mengantuk, saya tidur lebih awal untuk kemudian bangun pada dini hari. Begitu seterusnya.


Bedanya, jika menulis lepas, waktu saya tidak berbuah upah/materi secara langsung. Itu datang ketika tulisan saya kumpulkan menjadi buku dan dijual. Pun saat menjadi kontributor sebuah media online setahun belakangan ini; tak ada gaji, hanya honor liputan. Syukurlah, kini saya mendapat pekerjaan sebagai wartawan media online yang memberi gaji bulanan. Setidaknya ada kepastian akan terpenuhinya kebutuhan hidup setiap bulan; bayar kos,  makan/minum, kuota internet, BBM sepeda motor, rekreasi dan jalan-jalan, serta juga mentraktir tunangan.

Santai? Hanya jam kerja yang berbeda dengan orang kantoran. Maka itu, pesan saya terutama pada anak muda jika mereka meminta saran: pilihlah pekerjaan yang tidak banyak orang lakukan. Persentase yang kecil bila dibandingkan jenis pekerjaan umum di masyarakat.

Jadi penulis? penyair? wartawan? boleh saja, jika kalian suka. Bakat nomor kesekian. Percuma punya bakat, jika tak dilatih juga akan berkarat; menyisakan sikap jumawa dan memuja kenangan serta prestasi masa lalu. Merasa hebat, ‘punya nama’, padahal karyanya tak ada kemajuan baik mutu maupun kualitas. Mandeg. Stagnan.

“Jika saya santai, apalagi tak punya penghasilan, mana ada perempuan yang mau pada saya, Bu!,” ucap saya terkekeh, usai membayar makanan dan minuman di warung dengan menu lezat dan murah tersebut. Ibu pemilik warung tersenyum, sebelum saya meninggalkan warungnya.

Profesi Wartawan

Berkenalan dengan jurnalisme saat mengikuti pelatihan jurnalistik ketika SMA pada 2001, dan bergaul dengan para wartawan lokal di Negara, Jembrana—kampung halaman saya, memberi pemahaman pada saya yang saat itu remaja, bahwa apapun profesi yang kita pilih, asalkan dilakoni dengan tekun, pasti akan membuat kita bahagia. Tidak hanya sekadar nyaman.

Pada 2008 saat tahun-tahun terakhir kuliah, dari sebuah iklan lowongan pekerjaan di koran, saya melamar pada sebuah perusahaan media di Denpasar Timur. Kala itu belum ada media online seperti sekarang. Hanya ada koran, majalah, dan tabloid. Perusahaan media yang saya tuju memproduksi tabloid, milik pejabat penting di Bali kala itu.

Setelah proses wawancara oleh pemimpin redaksi, saya langsung diterima bekerja sebagai wartawan. Teori-teori jurnalistik yang saya dapatkan saat SMA menjadi bekal penting ketika saya terjun langsung dalam dunia kerja. Rekan kerja yang baik dan solid, ditambah koordinasi dan komunikasi dengan redaktur serta pemimpin redaksi yang lancar menambah semangat saya.

Hanya saja, saya tidak lama bekerja di sana. Tidak sampai setahun, saya mengajukan permohonan mengundurkan diri. Sebabnya, saya ingin fokus menyelesaikan kuliah. Saya merasa kewalahan membagi waktu antara bekerja dan menyelesaikan studi yang hanya tinggal mengulang tiga mata kuliah dan menyelesaikan skripsi. Kuliah Kerja Nyata sudah saya jalani.

Waktu itu saya mengalami krisis mental. Emosi yang rapuh karena baru berpisah dengan sang kekasih, ditambah uang bulanan yang diputus dari keluarga karena sebuah sebab, mengharuskan saya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Maka itu saya mencari pekerjaan. Sementara profesi wartawan saya jalani dengan kurang fokus dan total. Saya merasa lelah baik fisik dan mental. Tahun-tahun itu benar-benar berat, hingga akhirnya saya mengalami gangguan mental skizofrenia pada 2009, yang membuat kuliah tidak bisa saya rampungkan.

Sebenarnya, bisa saja keluarga mengajukan cuti kuliah untuk saya. Setelah saya agak pulih bisa kembali ke kampus dan menamatkan kuliah. Namun hal itu tidak dilakukan. Saya disuruh kembali ke kampung halaman, setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit jiwa. Perasaan saya waktu itu benar-benar hancur. Gagal menjadi sarjana, dianggap tak punya masa depan, saya bagaikan pesakitan dan orang yang gagal. Sedih sekali rasanya. Saya hanya bisa pasrah.

Pada 2015 saya kembali ke kota yang pernah lama saya tinggali: Denpasar. Sebelumnya saya sempat bekerja menjadi guru bahasa Inggris sebuah yayasan sosial di Tejakula, Buleleng. Kemudian saya memutuskan untuk pindah ke Denpasar. Pekerjaan pertama saya adalah wartawan sebuah tabloid budaya dan spiritual Bali yang berkantor di Renon. Tidak mudah untuk bekerja kembali setelah lama sakit. Bahkan pengobatan juga tidak terlalu tepat, karena obat psikiatri yang saya konsumsi terlalu “berat” dan tidak dievaluasi sesuai kondisi terkini.

Perkenalan dengan seorang calon psikiater kala itu banyak membantu saya dalam pengobatan yang tepat. Sudah sepuluh tahun kami bersahabat, hingga kini kami sama-sama “populer”. Dia menjadi psikiater yang banyak menjadi rujukan di Bali, sementara saya menjadi penulis dan wartawan yang punya kompetensi dan prestasi—sering memenangkan lomba jurnalistik.

“Belakang Meja”

Menekuni profesi wartawan secara aktif sejak 2015, dimana saya menemukan jalan hidup sebagai wartawan sekaligus seorang pengarang, sangat membantu untuk pulih dan stabil. Dukungan dari tunangan semenjak lama membuat saya sangat bersyukur atas segala pencapaian yang saya raih. Tidak selalu dalam bentuk materi. Lebih dari itu; ketenangan batin, kesehatan, kebahagiaan, dan keberlimpahan akan cinta-kasih. Tentu para pembaca setuju bahwa itu lebih penting dari materi, yang bisa dicari tetapi tidak bisa menjamin kita mendapatkan empat hal itu.

Sebagai wartawan, memang saya “kalah jauh” dengan para wartawan muda yang tangkas, penuh semangat, penuh vitalitas dalam mobilitas mencari dan meliput berita. Jujur saya akui, saya memang jarang terjun langsung ke lapangan untuk misalnya meliput sebuah peristiwa atau pertemuan penting para tokoh. Berita-berita yang saya hasilkan proses dari tulis ulang atau re-write dari rilis-rilis pers, baik itu dari intansi pemerintahan maupun swasta, sekolah/universitas maupun dari kiriman agensi media, baik yang ada di Bali maupun di luar Bali, semisal Jakarta.

Saya berpikir, wartawan pada zaman sekarang sangat berbeda keadaannya dengan wartawan pada zaman dahulu. Wartawan sekarang, dalam mencari sumber berita, tidak harus menemui langsung narasumber atau orang-orang yang terkait dalam sebuah peristiwa. Berrbeda dengan wartawan zaman dahulu dalam mencari berita mesti datang langsung pada sebuah kejadian, kebakaran, misalnya. Atau kriminalitas semacam kasus pencurian maupun pembunuhan.

Meskipun, cara kerja jurnalistik tidak begitu jauh berlainan, wartawan zaman sekarang bisa menemukan sumber berita melalui internet dan media sosial—yang bahkan kini menjadi “sumber pertama” dalam mengabarkan sebuah kejadian atau peristiwa, pada masa setiap orang punya “kemampuan” bak seorang wartawan; menulis teks atau menayangkan video bahkan secara real time atau langsung. Media sosial juga jadi rujukan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, walaupun sebenarnya tidak semua merupakan produk jurnalistik.

Wartawan—terutama media online, kemudian tinggal mengutip atau melakukan konfirmasi kepada pihak terkait lalu menayangkan/memuat di media online tempatnya bekerja (atau media online sendiri jika bagi mereka yang punya media sendiri).

Alhasil, wartawan sekarang tidak lagi perlu berpanas-panas dan berpeluh untuk liputan secara langsung. Semua bisa dilakukan di “belakang meja”. Sambil menyeruput kopi atau teh di sebuah kafe, atau sambil menyantap makanan di warung makan. Apalagi, dengan ponsel pintar semua bisa dikerjakan dari jarak jauh atau remote. Koordinasi dengan rekan kerja dan atasan bahkan mengirim berita pun kini bisa dilalukan melalui grup pesan WhatsApp. Canggih dan maju.

Tapi, seperti yang banyak wartawan terutama dari generasi terdahulu sampaikan, kualitas berita maupun karya jurnalistik wartawan zaman sekarang banyak yang buruk. Berita yang sensasional, hanya mengejar viewer untuk menjadi viral, bahkan melanggar kode etik jurnalistik memang kini banyak kita jumpai. Namun, tidak semua wartawan seperti itu. Masih ada banyak wartawan baik usia muda, menengah, maupun tua yang punya integritas dan kualitas bagus. Semua kembali berpulang pada wartawan itu sendiri. Mau terus belajar dan mengembangkan diri atau hanya ingin mencari uang (saja) dengan menjadi wartawan ala kadarnya, bahkan bekerja pada media tidak resmi atau abal-abal, yang justru merusak nama baik wartawan dan pers di masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Wartawan Dulu, Kreator Konten Kemudian
“Nguber Berita ka Nusa”, Drama Teater Persembahan Wartawan Budaya
5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan
Menulis Berita Kisah: Merdeka Menjadi Wartawan
Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan
Tags: jurnalisjurnalismewartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Proyek Kota dalam Teater 2025 — Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota

Next Post

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co