2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gen Z Lemah atau Dunia yang Bikin Lelah?

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
April 26, 2025
in Esai
”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella

Komang Puja Savitri

ADA satu mantera modern yang nyaris diucapkan serentak di lorong-lorong kantor atau di grup WhatsApp keluarga: “Anak Gen Z ini lho… lemah, nggak bisa kerja, dikit-dikit ngelawan, baperan, dituding boros gara-gara kopi susu kekinian, hobi healing padahal dompet tipis!” Cap ini melekat, dibumbui dengan kekesalan atau mungkin sekadar keheranan dari generasi-generasi sebelumnya yang (katanya) lebih tangguh, lebih loyal, dan lebih… “normal”.

Sungguh mudah melabeli. Seperti mencetak stempel pada selembar kertas yang masih kosong. Generasi Z, sang template baru dalam dunia kerja, seolah datang dengan instruksi manual yang berbeda, membingungkan para pengguna lama. Mereka dibilang tidak tahan banting. Cepat berontak saat ditekan. Air mata mudah tumpah karena kritik. Gaji bulanan habis entah ke mana, tapi kalau diajak lembur, jawabnya: “Maaf, saya butuh healing.”

Eits…Tapi, tunggu dulu. Sebelum kita ramai-ramai menghakimi sambil menyeruput kopi (yang mungkin juga kekinian), mari kita berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Bukankah Gen Z ini produk dari rahim Baby Boomers dan didikan Millennials? Jika mereka dianggap gagal, bukankah ada andil dari generasi pendahulunya dalam membentuk mereka? Menyalahkan Gen Z sepenuhnya terasa seperti mencuci tangan dari tanggung jawab kolektif.

Lebih penting lagi, daripada sekadar adu kuat argumen dengan contoh “ponakan saya rajin kok” atau “karyawan Gen Z saya malas banget”, mari kita lihat gambaran besarnya. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Gen Z adalah salah satu generasi paling rentan secara mental. Disebutkan bahwa pada tahun 2023, tingkat depresi mereka sebesar 2%, bersaing tipis dengan kelompok usia lansia di atas 75 tahun.

Wow. Apakah ini hanya karena TikTok dan FOMO (Fear of Missing Out)? Mungkin sebagian. Akses informasi tanpa batas dan tekanan eksistensi di dunia maya memang punya andil. Dunia digital menawarkan pelarian sekaligus penjara; “halu” bisa jadi mekanisme pertahanan dari realitas yang keras.

Namun, menyalahkan internet dan media sosial saja terlalu menyederhanakan masalah. Mari kita perkenalkan tersangka utama yang seringkali luput dari perhatian ketika membahas keluhan generasi muda yaitu kapitalisme dalam bentuknya yang paling ganas.

Sistem ini, dirancang untuk terus tumbuh, seringkali dengan mengorbankan kesejahteraan pekerjanya. Gen Z memasuki dunia kerja di era ketika pekerjaan stabil nan aman adalah sebuah kemewahan. Model outsourcing merajalela, kontrak kerja jangka pendek tanpa jenjang karier yang jelas menjadi norma.

Rasa aman? Itu barang langka. Loyalitas perusahaan? Bagaimana bisa loyal jika perusahaan tidak menawarkan jaminan masa depan? Alih-alih cepat melawan, mungkin Gen Z lebih cepat sadar bahwa loyalitas buta pada sistem yang eksploitatif adalah tindakan bunuh diri pelan-pelan. Mereka tahu boundaries, batas mana yang tidak boleh dilewati demi menjaga kewarasan. Apakah itu salah?

Lalu, mari bicara soal “boros” dan “healing“. Kapitalisme tidak hanya menghisap tenaga, tapi juga kewarasan. Ia menciptakan kekosongan makna yang kemudian coba kita isi dengan konsumsi. Kita didorong untuk percaya bahwa kebahagiaan bisa dibeli—gadget terbaru, pakaian trendi, liburan instagrammable, dan ya, kopi susu seharga makan siang.

Ketika jiwa terasa hampa dan lelah oleh tekanan kerja serta ketidakpastian hidup, membeli barang atau scroll media sosial berjam-jam menjadi pelarian termudah. Kita berusaha menghibur diri sampai mati, terjebak dalam siklus pencarian kesenangan instan yang tak pernah benar-benar memuaskan. Bukannya bahagia, kita malah makin terperosok dalam keputusasaan. Healing menjadi kebutuhan, bukan sekadar gaya hidup, sebagai respons terhadap sistem yang membuat kita sakit.

Sekarang, tambahkan faktor ekonomi makro. Harga rumah melambung gila-gilaan. Generasi sebelumnya mungkin masih bisa mencicil rumah dengan gaji standar, tapi bagi Gen Z, mimpi punya rumah sendiri terasa seperti fantasi. Gaji cenderung stagnan, tidak sebanding dengan inflasi dan biaya hidup yang terus meroket. Suku bunga pinjaman? Jangan ditanya, tinggi banget!

Bagaimana generasi muda tidak pesimis jika fondasi dasar kehidupan yang layak—pekerjaan aman dan rumah terjangkau—tampak begitu jauh dari jangkauan, bahkan meski sudah mati-matian menabung dan menahan diri dari godaan kopi susu? Tanpa privilese atau bantuan, mimpi hidup sejahtera dan bebas depresi itu seperti menunggu hujan di musim kemarau.

Jadi, ketika asyik melabeli dan menertawakan, atau bahkan “membela” mereka dengan kisah sukses satu-dua orang, bukankah lebih produktif jika kita mulai berpikir bersama? Bagaimana caranya memperbaiki sistem yang membuat satu generasi merasa begitu tertekan, begitu tidak aman, dan begitu pesimistis tentang masa depan? Bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, akses ke kesehatan mental yang lebih mudah, dan kesempatan ekonomi yang lebih adil?

Mungkin PR-nya bukan “membetulkan” Gen Z agar sesuai dengan standar generasi sebelumnya, tapi “membetulkan” dunia yang kita tinggali bersama ini, agar semua generasi, termasuk Gen Z, punya kesempatan yang layak untuk sejahtera dan tidak perlu healing melulu karena kelelahan batin. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
”Nyoman” dan ”Ketut”: Antara Lestari Nama, Nambah Anak, atau Nambah Beban Perempuan
”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella
Tiga Tips Menggunakan Kecerdasan Buatan Agar Tidak Terjerat Dehumanisasi
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?
ChatGPT, Solusi Cerdas atau Sekadar Jalan Pintas?
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme
Tags: Diksi Mudagaya hidupGen Zgenerasi mudakaum millennialzaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Napak Pertiwi” di Pura Desa Adat Beringkit-Mengwi: Limpahan Anugerah Melalui Ritus “Masolah”

Next Post

Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co