24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gen Z Lemah atau Dunia yang Bikin Lelah?

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
April 26, 2025
in Esai
”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella

Komang Puja Savitri

ADA satu mantera modern yang nyaris diucapkan serentak di lorong-lorong kantor atau di grup WhatsApp keluarga: “Anak Gen Z ini lho… lemah, nggak bisa kerja, dikit-dikit ngelawan, baperan, dituding boros gara-gara kopi susu kekinian, hobi healing padahal dompet tipis!” Cap ini melekat, dibumbui dengan kekesalan atau mungkin sekadar keheranan dari generasi-generasi sebelumnya yang (katanya) lebih tangguh, lebih loyal, dan lebih… “normal”.

Sungguh mudah melabeli. Seperti mencetak stempel pada selembar kertas yang masih kosong. Generasi Z, sang template baru dalam dunia kerja, seolah datang dengan instruksi manual yang berbeda, membingungkan para pengguna lama. Mereka dibilang tidak tahan banting. Cepat berontak saat ditekan. Air mata mudah tumpah karena kritik. Gaji bulanan habis entah ke mana, tapi kalau diajak lembur, jawabnya: “Maaf, saya butuh healing.”

Eits…Tapi, tunggu dulu. Sebelum kita ramai-ramai menghakimi sambil menyeruput kopi (yang mungkin juga kekinian), mari kita berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Bukankah Gen Z ini produk dari rahim Baby Boomers dan didikan Millennials? Jika mereka dianggap gagal, bukankah ada andil dari generasi pendahulunya dalam membentuk mereka? Menyalahkan Gen Z sepenuhnya terasa seperti mencuci tangan dari tanggung jawab kolektif.

Lebih penting lagi, daripada sekadar adu kuat argumen dengan contoh “ponakan saya rajin kok” atau “karyawan Gen Z saya malas banget”, mari kita lihat gambaran besarnya. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Gen Z adalah salah satu generasi paling rentan secara mental. Disebutkan bahwa pada tahun 2023, tingkat depresi mereka sebesar 2%, bersaing tipis dengan kelompok usia lansia di atas 75 tahun.

Wow. Apakah ini hanya karena TikTok dan FOMO (Fear of Missing Out)? Mungkin sebagian. Akses informasi tanpa batas dan tekanan eksistensi di dunia maya memang punya andil. Dunia digital menawarkan pelarian sekaligus penjara; “halu” bisa jadi mekanisme pertahanan dari realitas yang keras.

Namun, menyalahkan internet dan media sosial saja terlalu menyederhanakan masalah. Mari kita perkenalkan tersangka utama yang seringkali luput dari perhatian ketika membahas keluhan generasi muda yaitu kapitalisme dalam bentuknya yang paling ganas.

Sistem ini, dirancang untuk terus tumbuh, seringkali dengan mengorbankan kesejahteraan pekerjanya. Gen Z memasuki dunia kerja di era ketika pekerjaan stabil nan aman adalah sebuah kemewahan. Model outsourcing merajalela, kontrak kerja jangka pendek tanpa jenjang karier yang jelas menjadi norma.

Rasa aman? Itu barang langka. Loyalitas perusahaan? Bagaimana bisa loyal jika perusahaan tidak menawarkan jaminan masa depan? Alih-alih cepat melawan, mungkin Gen Z lebih cepat sadar bahwa loyalitas buta pada sistem yang eksploitatif adalah tindakan bunuh diri pelan-pelan. Mereka tahu boundaries, batas mana yang tidak boleh dilewati demi menjaga kewarasan. Apakah itu salah?

Lalu, mari bicara soal “boros” dan “healing“. Kapitalisme tidak hanya menghisap tenaga, tapi juga kewarasan. Ia menciptakan kekosongan makna yang kemudian coba kita isi dengan konsumsi. Kita didorong untuk percaya bahwa kebahagiaan bisa dibeli—gadget terbaru, pakaian trendi, liburan instagrammable, dan ya, kopi susu seharga makan siang.

Ketika jiwa terasa hampa dan lelah oleh tekanan kerja serta ketidakpastian hidup, membeli barang atau scroll media sosial berjam-jam menjadi pelarian termudah. Kita berusaha menghibur diri sampai mati, terjebak dalam siklus pencarian kesenangan instan yang tak pernah benar-benar memuaskan. Bukannya bahagia, kita malah makin terperosok dalam keputusasaan. Healing menjadi kebutuhan, bukan sekadar gaya hidup, sebagai respons terhadap sistem yang membuat kita sakit.

Sekarang, tambahkan faktor ekonomi makro. Harga rumah melambung gila-gilaan. Generasi sebelumnya mungkin masih bisa mencicil rumah dengan gaji standar, tapi bagi Gen Z, mimpi punya rumah sendiri terasa seperti fantasi. Gaji cenderung stagnan, tidak sebanding dengan inflasi dan biaya hidup yang terus meroket. Suku bunga pinjaman? Jangan ditanya, tinggi banget!

Bagaimana generasi muda tidak pesimis jika fondasi dasar kehidupan yang layak—pekerjaan aman dan rumah terjangkau—tampak begitu jauh dari jangkauan, bahkan meski sudah mati-matian menabung dan menahan diri dari godaan kopi susu? Tanpa privilese atau bantuan, mimpi hidup sejahtera dan bebas depresi itu seperti menunggu hujan di musim kemarau.

Jadi, ketika asyik melabeli dan menertawakan, atau bahkan “membela” mereka dengan kisah sukses satu-dua orang, bukankah lebih produktif jika kita mulai berpikir bersama? Bagaimana caranya memperbaiki sistem yang membuat satu generasi merasa begitu tertekan, begitu tidak aman, dan begitu pesimistis tentang masa depan? Bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, akses ke kesehatan mental yang lebih mudah, dan kesempatan ekonomi yang lebih adil?

Mungkin PR-nya bukan “membetulkan” Gen Z agar sesuai dengan standar generasi sebelumnya, tapi “membetulkan” dunia yang kita tinggali bersama ini, agar semua generasi, termasuk Gen Z, punya kesempatan yang layak untuk sejahtera dan tidak perlu healing melulu karena kelelahan batin. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
”Nyoman” dan ”Ketut”: Antara Lestari Nama, Nambah Anak, atau Nambah Beban Perempuan
”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella
Tiga Tips Menggunakan Kecerdasan Buatan Agar Tidak Terjerat Dehumanisasi
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?
ChatGPT, Solusi Cerdas atau Sekadar Jalan Pintas?
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme
Tags: Diksi Mudagaya hidupGen Zgenerasi mudakaum millennialzaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Napak Pertiwi” di Pura Desa Adat Beringkit-Mengwi: Limpahan Anugerah Melalui Ritus “Masolah”

Next Post

Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Harmoni di Yogyakarta: Galungan yang Melampaui Batas Geografis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co