SEBELUM atau sesudah lebaran Idul Fitri, sejumlah komunitas umat Muslim di Bali memiliki tradisi yang unik untuk merayakan hari gembira itu. Di tengah pusaran keberagaman budaya setempat, terutama budaya Hindu Bali, umat muslim—sebagai minoritas, juga tak kalah menariknya memiliki tradisinya yang khas. Bahkan, lebih menariknya lagi, kerap umat Hindu ikut serta di dalamnya.
Berikut beberapa tradisi unik yang dilakukan oleh komunitas umat muslim di Bali.
1. Tradisi Ketog Semprong Syawalan
Tradisi ini cukup menarik perhatian siapa saja, karena dilakukan setelah satu minggu lebaran, atau setelah orang-orang nyaris redup suasana raya di rumahnya. Dalam tradisi ini, masyarakat biasanya membawa banyak makanan ke suatu tempat, menggelar tikar, makan bersama. Tak hanya itu, juga dilakukan pergi ke Masjid dengan acara Megibung Sagi setelah doa selamat selesai digelar.
Tradisi ini bisa ditemukan di Banjar Candi Kuning di Tabanan. Walaupun tampak sederhana, hanya megibung (makan bersama), jangan salah, sudah ada lho festivalnya.
Di festival itu masyarakat berbondong membawa makanan mereka, lalu duduk dan makan bersama. Tak terbayang, begitu serunya festival ini diikuti, apalagi ada banyak pentas seni dipertunjukkan di sana, juga saudara umat Hindu di sana ikut serta terlibat.
2. Tradisi Mekila
Jika tradisi Ketog Semprong masyarakat tumpah di Masjid lalu megibung usai pembacaan doa, maka berbeda dengan tradisi mekila. Tradisi mekila juga dilakukan oleh pengurus masjid, namun mereka datang ke setiap rumah warga dan melakukan pembacaan Dzikir Alhamduliman dan doa.
Tradisi ini dilakukan selama dua hari, setelah Lebaran terlewat. Tradisi ini ada di Kampung Kajanan, Singaraja. Satu per satu rumah didatangi oleh para takmir, dan beberapa orang yang memang sengaja untuk ikut. Di sana, tuan rumah biasanya sudah siap menanti mereka sebagai tamu, disambut, disediakan jajanan dan seabrek makanan. Sebab itulah, acara itu dilakukan dua hari berturu-turut, dan boleh diikutik siapa saja yang mau ikut.
3. Tradisi Ngotek
Jika di Tabanan ada festival Ketog Semprong, di Jembrana ada festival musik sahur. Festival ini dilakukan di sela bulan puasa, atau sebelum Hari Raya Idul Fitri. Festival ini dikhususkan oleh banyak anak muda, terkhusus di Desa Loloan.
Jadi, anak-anak itu akan berkeliling ke rumah-rumah warga membangunkan sahur, dan berhenti ketika kumandang azan subuh terdengar. Tapi ini bukan lagi tentang mereka membangunkan sahur, tapi bagaimana cara membangunkan sahur itu, dijadikan sebuah festival musik rakyat, tentu, ini sangat unik.
4. Tradisi Ngejot
Jika tadi setelah Lebaran, kali ini tradisi dilakukan sebelum Lebaran tiba. Yakni tradisi ngejot. Ngejot diartikan banyak orang “memberi”, jadi, dalam tradisi ini masyarakat melakukan saling memberi. Dan biasanya, tradisi ini dilakukan menejlang Hari Raya Idul Fitri, Hari Nyepi dan Hari Raya Galungan.
Di waktu itu orang-orang banyak memberi seperti kue kering, buah-buahan hingga makanan berat seperti nasi dengan lauk pauknya yang maknyus. Tradisi ini biasanya dilakukan di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Walaupun dilakukan oleh dua umat beragama, Islam dan Hindu, tapi masyarakat sama-sama mengerti, misalnya, yang umat Hindu memberi saudara muslim makanan yang halal, seperti opor, begitupun yang Muslim, memberi mereka yang halal versi Hindu. Ya, sama-sama opor mereka saling beri. Uh, enaknya, asiknya.
5. Tradisi Ziarah
Mari kita tinggalkan pesta ria makanan, dan musik di sela sahur. Mari kita renungkan tentang kematian setelah hari raya itu. Eh, maksudnya, pergi berziarah…
Umumnya, jika ziarah setelah Hari Raya Idul Fitri dilakukan oleh umat Muslim ke pemakaman sanak saudara mereka yang mendahului. Di Denpasar ada yang berbeda, ada yang tak biasa dari kegiatan ziarah ini.
Di sana, umat Hindu di Bali yang memiliki keluarga muslim, mereka juga ikut pergi berziarah. Di Denpasar, mereka biasanya pergi ke pemakamanan Muslim Wanasari. Dan tradisi ini mengandung nilai toleransi yang cukup kuat. dan tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. ya, semoga terus ada. Panjang umur toleransi. Panjang umur kebaikan.
Sebenarnya masih banyak lagi terdapat tradisi umat muslim di Bali yang unik dan menarik. Tapi, itu lima dulu ya. Nanti kita sambung lagi. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah (dari berbagai sumber)
Editor: Adnyana Ole