BEBERAPA waktu lalu, saya naik ke panggung monolog. Bukan karena saya merasa siap. Tapi karena seorang teman, Kadek Sonia Piscayanti, memilih saya menjadi bagian dari proyeknya—Proyek Monolog 100 Perempuan, sebuah rangkaian pementasan monolog yang ia tulis dan sutradarai sendiri. Saya adalah perempuan ke-13. Angka yang ganjil. Tapi terasa pas.
Saya menerima draft awal naskah sebulan sebelum pentas. Lanjutannya baru datang sehari sebelum tampil. Itu saja sudah cukup bikin gemetar. Tapi yang paling mengejutkan adalah isi naskah itu: sebagian besar tentang hidup saya. Ditulis dari sudut pandang Sonia, tapi terasa seperti suara saya yang lama hilang. Seperti seseorang membacakan isi kepala saya sebelum sempat saya tulis sendiri.
Saya merasa telanjang. Tetapi bukan tanpa makna.
Ini adalah monolog pertama saya. Dan saya nervous—bukan karena takut lupa naskah, tapi karena naskah ini terlalu dekat. Terlalu nyata. Seperti berjalan di atas panggung sambil membawa jantung sendiri di telapak tangan. Basah dan berdetak.
Apa yang akan orang-orang pikir? Apakah saya akan tampak terlalu jujur? Terlalu berani? Terlalu… perempuan?
Langit malam itu hujan.
Di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025. Acara Mahima March March March 2025.
Ruang pertunjukan kecil dan intim. Lampu sempat dipadamkan, lalu menyala kembali saat giliran saya tampil.
Dan saat itu, saya merasa: saya tidak sedang memerankan siapa-siapa. Saya sedang menjadi saya sendiri. Dengan suara yang utuh. Dengan luka yang tidak saya bungkus.
Panggung sebagai Ruang Napas
Di panggung itu, saya bisa bernapas lebih lebar. Lucunya, di ruang intim, di depan penonton, di bawah sorot lampu yang tidak terlalu terang, justru saya merasa paling bebas. Tidak ada yang menuntut saya untuk sopan, kuat, atau sabar. Saya tidak harus menjelaskan siapa saya, tidak harus menurunkan suara, tidak harus tersenyum untuk menghindari konflik.
Saya berdiri. Saya bicara. Saya jujur.
Dan dunia tidak runtuh.

Pranita Dewi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025|Foto: Dok. Komunitas Mahima
Panggung adalah satu-satunya tempat di mana saya tidak merasa harus meminta maaf karena menjadi diri sendiri. Saya bisa menceritakan utang. Menceritakan hasrat. Menceritakan kelelahan sebagai ibu tunggal yang mencicil hidup satu hari sekali. Saya bisa menyebut nama-nama kebutuhan sehari-hari seperti mantra: susu, gas, tisu basah, baby oil, laundry, kuota.
Saya bisa tertawa saat menyebut alat pemuas hasrat, dan tidak merasa perlu menyensor bagian itu. Karena di atas panggung, tubuh saya bukan lagi objek yang harus dikendalikan orang lain. Ia adalah milik saya. Dan saya berhak bercerita tentangnya.
Tidak ada yang protes. Tidak ada yang menutup telinga.
Mungkin karena semua orang, diam-diam, sedang kelelahan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Dan ketika saya bicara jujur—tentang cicilan, tentang tubuh, tentang keinginan yang tak pernah diajarkan di buku sekolah—mereka pun diam. Mungkin mereka tahu, di balik diam itu, ada sesuatu yang retak. Dan retakan itu terasa familiar.
Kejujuran Adalah Lakon Paling Sulit
Banyak orang mengira yang paling sulit dari sebuah pertunjukan adalah menghapal naskah. Atau mengatur ekspresi. Atau menguasai panggung. Bukan. Yang paling sulit adalah menjadi jujur. Bukan karena saya tidak tahu caranya, tapi karena terlalu lama saya diajari untuk menyembunyikan. Terlalu sering saya diajak bicara pelan-pelan soal luka, seolah jika diucapkan terlalu keras, ia bisa melukai orang lain. Tapi di atas panggung, saya harus berkata apa adanya. Tanpa sensor. Tanpa emoji penenang.

Pranita Dewi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025|Foto: Dok. Komunitas Mahima
Saya menyebutkan angka utang. Menyebutkan rasa frustrasi. Menyebutkan nama-nama kebutuhan hidup yang tidak pernah absen setiap bulan. Dan di saat yang sama, saya juga menyebutkan keinginan-keinginan yang biasanya hanya hidup di bayangan larut malam. Di aplikasi. Di saku rahasia seorang ibu yang terlihat “baik-baik saja”.
Dan anehnya, saat saya mengucapkan semua itu, suara saya tidak bergetar. Bukan karena saya tidak takut. Tapi karena saya lelah takut.
Menjadi Puisi yang Bernyawa
Saya tidak sedang memerankan tokoh. Saya sedang menghidupi napas saya sendiri—yang lama tertahan di antara rutinitas dan kewajiban.

Pranita Dewi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025|Foto: Dok. Komunitas Mahima
Saat saya melafalkan kalimat-kalimat itu di atas panggung, saya merasa sedang membaca puisi… yang ternyata adalah saya. Bukan metafora. Bukan kiasan. Tapi benar-benar saya—dengan semua kegetiran dan geli, tawa dan trauma yang tidak sempat dibereskan.
Ada jeda. Ada ritme. Ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh perasaan. Dan di situ, saya sadar: mungkin memang selama ini saya bukan hanya penulis puisi. Saya adalah puisinya.
Puisi yang belum selesai ditulis, tapi sudah harus dibaca keras-keras di hadapan orang banyak.
Puisi yang kadang keliru titik komanya, tapi tetap bernyawa. Tetap bergerak. Tetap hidup. Dan panggung adalah tempat di mana saya diizinkan—untuk tidak rapi, untuk tidak sempurna, untuk tidak selesai. Tapi mencoba beri arti.
Bicara Soal Tubuh, Hasrat, dan Hak untuk Tidak Tabu
Saya menyebut alat pemuas hasrat di atas panggung. Saya melihat beberapa mata menyala. Seolah mereka sedang menyaksikan sesuatu yang sudah lama ingin mereka dengar, tapi tak ada yang berani mengatakannya. Sebagian penonton mungkin tersenyum kaget, tapi tidak pergi. Karena mereka tahu—ini bukan tentang seks. Ini tentang tubuh. Tentang hak. Tentang pengakuan bahwa perempuan juga punya keinginan, dan itu bukan aib.
Saya tumbuh dalam dunia yang selalu menempatkan tubuh perempuan sebagai misteri yang harus ditutupi, dikontrol, atau dibentuk agar “layak.”

Pranita Dewi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025|Foto: Dok. Komunitas Mahima
Tapi malam itu, saya memutuskan untuk menyebutnya. Menyebut hasrat saya. Menyebut kebutuhan saya. Menyebut bahwa saya bisa puas tanpa harus mencocokkan diri dalam kerangka yang digariskan orang lain. Dan jujur saja—rasanya seperti mencabut duri dari dalam dada.
Karena ketika tubuh tidak lagi jadi hal yang memalukan, kita bisa mulai mengenalnya sebagai rumah. Dan saya ingin tinggal di rumah saya sendiri, dengan lampu menyala, tidak ada ruangan yang dikunci.
Perempuan, Puisi, dan Keutuhan Diri
Monolog ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah perjalanan pulang—ke diri saya sendiri.
Selama bertahun-tahun, saya terbiasa jadi banyak hal untuk banyak orang: ibu, pekerja, manajer, penulis, pejuang tagihan. Tapi malam itu, di atas panggung, saya berhenti jadi “siapa pun” dan kembali jadi “saya”.
Dan ternyata, saya cukup.
Saya cukup sebagai perempuan yang punya kisah rumit. Saya cukup sebagai manusia yang tidak selalu bisa mengatur hidupnya. Saya cukup, bahkan saat saya bicara tentang hal-hal yang dunia anggap tabu. Saya cukup menjadi penjahat yang banyak menyakiti hati orang lain.
Dan dari tempat itu—dari ruang yang remang tapi penuh cahaya jujur—saya merasa utuh. Bukan sempurna, tapi utuh. Dengan semua luka dan tawa getir, semua cicilan dan pelukan anak, semua keberanian dan rasa takut yang datang bersamaan.

Pranita Dewi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025|Foto: Dok. Komunitas Mahima
Saya ingin perempuan lain juga punya panggung seperti ini. Entah panggung itu di depan penonton, di halaman buku, atau di cermin kamar mandi. Panggung di mana kita bisa berdiri, bicara, dan tidak merasa perlu minta maaf karena menjadi diri sendiri.
Karena kita bukan hanya layak didengar.
Kita adalah puisi yang bernyawa.
Dan dunia harus tahu bunyinya.
Untuk Sonia
Saya tahu, tak mudah menulis tentang hidup orang lain. Apalagi menulisnya dengan jujur, penuh empati, tanpa menghilangkan sudut tajam dan kelokannya. Tapi Sonia melakukannya—dengan keberanian yang sunyi dan ketajaman yang lembut.
Ia bukan hanya menulis naskah untuk saya. Ia menulis saya.
Dan saya merasa dilihat, dipahami, dan diizinkan untuk hadir secara utuh—tanpa harus menjadi versi yang lebih rapi dari diri saya. Terima kasih, Sonia Piscayanti, karena sudah menjadi pena yang tidak menutup luka, tapi justru membuatnya bersinar. Karena sudah menjadi ruang aman tempat suara saya bisa lahir kembali. Dan karena sudah percaya, bahwa perempuan bisa menjadi puisi… dan panggung adalah tempat ia mulai bernapas lagi. [T]
Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole