2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dongeng tentang Banteng Takut Jadi Kerbau dan Para Tetangga

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 7, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

MENGAWALI tulisan ini saya angkat dongeng yang berjudul “Si Banteng Galau di Bilang Kerbau” yang pernah tayang di Kompasiana.com dengan kreator Melvin Firman. Dongeng ini sudah cukup lama tayang, tiga belas tahun silam yaitu 2012, saya kutip dari Kompasiana (https://www.kompasiana.com/melvin2012/54f74816a33311580f8b4764/si-banteng-galau-di-bilang-kerbau).

Alasan saya angkat kembali dongeng ini, sepertinya hampir mirip suasana keadaan batin “Banteng” saat ini. Banteng yang seperti kebingungan melangkah; jalan salah, berlari sakit, diam saja pun terasa nyeri, dan senut-senut.

Banyak tetangga Banteng yang menjauh, karena mungkin Banteng lebih banyak seradak-seruduk saat berjalan, karena mungkin tubuhnya merasa lebih besar, dan merasa paling kuat dibandingkan tetangga sebelahnya. Dengusannya kadangkala membuat tetangga mencibir, setengah senyum sinis, karena bikin panas suasana.

Sebetulnya para tetangga itu maunya akur-akur saja, cuma mungkin Banteng ini salah mendapatkan asupan vitamin untuk kesehatan lahir batinnya. Jadinya Banteng ini mau menang sendiri saja, tidak peduli para tetangga yang sebetulnya baik hati semuanya. Karena memang mengolah sawah Nusantara ini tidak dapat sendiri harus bersama-sama, bergotong-royong. Berikut dongeng yang saya sebutkan di awal tulisan.

Suatu ketika di dunia antah berantah, tampak seekor Banteng sedang melamun di pinggir kali Ciliwung. Tampak dari tatapannya yang sayu dan tidak percaya diri seakan ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Tiba-tiba datang sekolompok pasukan Nanas Demplon menghampiri si Banteng dan bertanya:

Pasukan Nanas demplon: “Hai Sobat Banteng, sedang apa gerangan kamu melamun di pinggir kali?“

Banteng:” Eh, Bro ! Aku sedang memikirkan sesuatu yang kemaren dikatakan oleh Garuda teman lamaku.“

Pasukan Nanas Demplon: “Emangnya Si Garuda ngomong apa ama kamu sehingga kamu menjadi seperti ini.“

Banteng : “Ceritanya kemaren sewaktu aku dan 2 teman lamaku Garuda dan Beringin sedang makan bareng di sebuah kafe di Mall, kami ngobrol tentang rencana membuat sebuah grup Band. Band ini akan di ikutkan dalam sebuah festival band beberapa bulan ke depan. Namun nampaknya Garuda tidak sepakat, jika aku bergabung dengan mereka.Cerita seperti ini:

Garuda:” Eh Bro, kayaknya elu nggak cocok ama kita. Aku lebih cocok duet ama Beringin, Karena bisa saling membantu dan menguatkan. Beringin memberi tempat berlindung bagi aku, dan Beringin akan terlihat gagah karena ada Garuda di dadanya. Sementara jika aku duet ama elu Banteng. Aku akan terlihat seperti burung pipit sawah, yang sukanya hanya membersihkan kutu-kutu di punggung kerbau sawah. Nggak asyik khan, bro, masa gue dari Garuda menjadi pipit, sementara elu dari Banteng jadi kerbau..iya khan bro ?”

Banteng: “Iya juga sich ! Tapi Gimana kalo aku ama Beringin saja?”

Beringin :”Eit..itu sama saja akan terkesan mengecilkan elu. Coba sini berdiri dekat gue. Tuch khan, elu nggak gagah lagi layaknya Banteng tetapi seperti seekor kerbau yang di tambatkan oleh si pemilik kerbau di sebuah pohon.”

Banteng : “Jadi gue harus ama sipa donk?”

Beringin : “ Ya sudah, khan elu udah bikin genk ama Nanas Demplon. Bikin aja duo dulu siapa tahu ntar si Bola Dunia akan bergabung ama elu.”

Akhirnya kami pun bubar jalan, dan aku sendiri masih kepikiran ama kata-kata si Garuda dan Beringin tadi, makanya aku duduk termenung di tepi kali Ciliwung ini.

Nanas Demplon : “Sudah lah mas bro aku akan tetap menjadi sahabat baikmu, aku akan selalu membuat engkau terlihat lebih gagah karena bersanding dengan gadis demplon kayak gue. Iya nggak bro ?” Ayolah kita cabut aja, kita temui Bola Dunia di rumahnhya siapa tau di mau ikut bikin group band ama kita. Lagi pula ngapain juga elu mikirin kata si Garuda ama Beringin. Jangan sibuk ama kata orang dach, mendingan kita pikirin bagaimana ke depannya, waktu pedaftaran menuju festival semakin dekat bro, sebaiknya kita cepat-cepat temui si Bola Dunia dan bentuk grup, terus kita daftarin dech grup kita. Lebih cepat lebih bagus khan. OK nggak Bro !!!”

Banteng : “OK Bro !!! , Aku sich Rapopo lah sekarang. Yuk kita berangkat temui Bola Dunia!!”.

***

Dongeng dari negeri antah-berantah di atas, seperti mewakili kisah “kandang Banteng” saat ini. Periode ini ada beberapa kandang Banteng yang hilang di daerah, seperti kandangnya di Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Utara, Sumatra Utara hilang, dipakai sarang Garuda bertelur. Di Jakarta juga hampir tergeser kandangnya. Kandang-kandang kecilnya juga ada beberapa yang dipakai untuk bersarang dan tumbuh dari grup-grup band yang baru terbentuk.

Situasi ini membuat warga kampung Banteng banyak membuat serudukan, manuver, mendengus-dengus dengan mata yang memerah, menyalahkan para tetangganya atas hilangnya kendang-kandang Banteng-nya. Salah mereka padahal tidak menjaga kepercayaan pemilik kedaulatan  yang sesungguhnya, yaitu rakyat. Wong cilik mereka mungkin sudah malas juga menjaganya karena mungkin sudah jarang disapa oleh warga Banteng.

Kegalauan Banteng hari ini bertambah, rasa nyeri senut-senut sudah hampir dua bulan ini susah dihilangkan, padahal sudah dapat tukang pijit yang super. Tambah lagi mendatangkan lead vocals yang pernah jadi vocalis di group band sebelah, setelah warga elit kepala kantor kandang Banteng di sangkakan, ditetapkan sebagai tersangka.

Vocalis baru ini memang luar biasa mampu mengarensemen lagu-lagu lama untuk dinyanyikan dengan gaya, yang agak Nge-beat, tapi lebih sering menyanyikannya dengan teriakan-teriakan bergaya penyanyi heavy metal rock. Meskipun suaranya sumbang arensemen rada-rada ngaco, ujungnya warga elit Banteng ini tetap ditahan alias dikurungin dulu dua puluh hari menurut orang yang punya kurungan.

Warga Banteng tambah kalang kabut waktu itu, lead vocal cabutan tadi mendadak dipecat, juga para backing vocal-nya dari vokalis, jadi suruh mingkem dulu. Dari vokalis suruh ngurusin peralatan lampu (lightingman) buat konser besar nanti, biar terang tapi adem. Karena selama ini nyanyinya semaunya aja yang penting teriak kenceng. Teriakannya justru membuat pemilik tiket kedaulatan semakin menjauh. Boro-boro mau dengerin suara sumbangnya yang nggak ketulungan,  justru bikin warga pemilik tiket suara sejatinya, banyak yang tidak simpati.

Gara-gara vokalis yang pada sumbang itu, ibu pemilik kandang Banteng besar juga terprovokasi dengan mengeluarkan titah lewat singel hits surat perintah pada warga banteng yang menjadi kepala daerah yang baru dilantik untuk tidak mengikuti musyawarah yang digelar oleh Garuda Pancasila, untuk menyamakan suara dalam membangun Nusantara raya ini. Titahnya untuk putar balik,  berhenti, bila sudah menuju tempat musyawarah stop atret dulu, untuk menunggu perintah selanjutnya.

Sontak saja jagat bumi yang cinta musyawarah ini kaget oleh serudukan Banteng. Jagat merasa aneh atas titah tersebut, dianggap sumbang karena semua warga dari berbagai warna tadi sudah menyatu di bawah Garuda Pancasila, yang siap dalam sumpahnya untuk mengabdikan jiwa raganya untuk kemakmuran dan memakmurkan warga Nusantara raya ini.

Jagat menilai titah itu sebagai serudukan yang “kebabalasan” dan keliru, apa pun alasannya. Makanya kemudian warga Banteng berusaha memperbaiki jalan lenggak lenggoknya, sikapnya untuk tidak asal seruduk.

Menurut para Resi kalau terus menyeruduk tidak ada arah, ini lama-lama wibawa Banteng kedaton ini bisa hilang, dapat bermetamorfosa dari Banteng jadi Kerbau. Dan para tetangga tambah malas ber-say hello. Karena titahnya tidak mencerminkan seorang negarawan, apalagi untuk disebut seorang Resi. Rakyat yang berdaulat juga tahu ini titah tidak beres, hanya menunjukkan kesombongan sang Banteng yang egois. Lama-lama bisa ditinggalkan oleh penontonnya, yang masih gandrung pada adu Banteng.

Garuda Pancasila mengadakan musyawarah besar, maksudnya ingin menyatukan satu garis komando, tidak ada lagi Beringin, Bulan, Bintang, Bola Dunia, Segi tiga, Segi empat, tapi komando dari Garuda Pancasila, karena sudah menjadi abdi negara, bukan lagi abdi kelompok lagi. Semoga para adipati negeri ini mampu membawa Garuda Pancasila tersenyum. Sampai di sini dulu dongeng warga Banteng yang sedang galau, yang takut jadi Kerbau. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN

Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan
Tags: dongengPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gede Utama, Seniman dari Sari Mekar, Totalitas Sebagai Penabuh Kendang

Next Post

Ketika ASN Dinas Pertanian Buleleng Balap Traktor: Bak Petani, Mereka Berkeringat dan Berlumpur

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketika ASN Dinas Pertanian Buleleng Balap Traktor: Bak Petani, Mereka Berkeringat dan Berlumpur

Ketika ASN Dinas Pertanian Buleleng Balap Traktor: Bak Petani, Mereka Berkeringat dan Berlumpur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co