23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dongeng tentang Banteng Takut Jadi Kerbau dan Para Tetangga

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 7, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

MENGAWALI tulisan ini saya angkat dongeng yang berjudul “Si Banteng Galau di Bilang Kerbau” yang pernah tayang di Kompasiana.com dengan kreator Melvin Firman. Dongeng ini sudah cukup lama tayang, tiga belas tahun silam yaitu 2012, saya kutip dari Kompasiana (https://www.kompasiana.com/melvin2012/54f74816a33311580f8b4764/si-banteng-galau-di-bilang-kerbau).

Alasan saya angkat kembali dongeng ini, sepertinya hampir mirip suasana keadaan batin “Banteng” saat ini. Banteng yang seperti kebingungan melangkah; jalan salah, berlari sakit, diam saja pun terasa nyeri, dan senut-senut.

Banyak tetangga Banteng yang menjauh, karena mungkin Banteng lebih banyak seradak-seruduk saat berjalan, karena mungkin tubuhnya merasa lebih besar, dan merasa paling kuat dibandingkan tetangga sebelahnya. Dengusannya kadangkala membuat tetangga mencibir, setengah senyum sinis, karena bikin panas suasana.

Sebetulnya para tetangga itu maunya akur-akur saja, cuma mungkin Banteng ini salah mendapatkan asupan vitamin untuk kesehatan lahir batinnya. Jadinya Banteng ini mau menang sendiri saja, tidak peduli para tetangga yang sebetulnya baik hati semuanya. Karena memang mengolah sawah Nusantara ini tidak dapat sendiri harus bersama-sama, bergotong-royong. Berikut dongeng yang saya sebutkan di awal tulisan.

Suatu ketika di dunia antah berantah, tampak seekor Banteng sedang melamun di pinggir kali Ciliwung. Tampak dari tatapannya yang sayu dan tidak percaya diri seakan ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Tiba-tiba datang sekolompok pasukan Nanas Demplon menghampiri si Banteng dan bertanya:

Pasukan Nanas demplon: “Hai Sobat Banteng, sedang apa gerangan kamu melamun di pinggir kali?“

Banteng:” Eh, Bro ! Aku sedang memikirkan sesuatu yang kemaren dikatakan oleh Garuda teman lamaku.“

Pasukan Nanas Demplon: “Emangnya Si Garuda ngomong apa ama kamu sehingga kamu menjadi seperti ini.“

Banteng : “Ceritanya kemaren sewaktu aku dan 2 teman lamaku Garuda dan Beringin sedang makan bareng di sebuah kafe di Mall, kami ngobrol tentang rencana membuat sebuah grup Band. Band ini akan di ikutkan dalam sebuah festival band beberapa bulan ke depan. Namun nampaknya Garuda tidak sepakat, jika aku bergabung dengan mereka.Cerita seperti ini:

Garuda:” Eh Bro, kayaknya elu nggak cocok ama kita. Aku lebih cocok duet ama Beringin, Karena bisa saling membantu dan menguatkan. Beringin memberi tempat berlindung bagi aku, dan Beringin akan terlihat gagah karena ada Garuda di dadanya. Sementara jika aku duet ama elu Banteng. Aku akan terlihat seperti burung pipit sawah, yang sukanya hanya membersihkan kutu-kutu di punggung kerbau sawah. Nggak asyik khan, bro, masa gue dari Garuda menjadi pipit, sementara elu dari Banteng jadi kerbau..iya khan bro ?”

Banteng: “Iya juga sich ! Tapi Gimana kalo aku ama Beringin saja?”

Beringin :”Eit..itu sama saja akan terkesan mengecilkan elu. Coba sini berdiri dekat gue. Tuch khan, elu nggak gagah lagi layaknya Banteng tetapi seperti seekor kerbau yang di tambatkan oleh si pemilik kerbau di sebuah pohon.”

Banteng : “Jadi gue harus ama sipa donk?”

Beringin : “ Ya sudah, khan elu udah bikin genk ama Nanas Demplon. Bikin aja duo dulu siapa tahu ntar si Bola Dunia akan bergabung ama elu.”

Akhirnya kami pun bubar jalan, dan aku sendiri masih kepikiran ama kata-kata si Garuda dan Beringin tadi, makanya aku duduk termenung di tepi kali Ciliwung ini.

Nanas Demplon : “Sudah lah mas bro aku akan tetap menjadi sahabat baikmu, aku akan selalu membuat engkau terlihat lebih gagah karena bersanding dengan gadis demplon kayak gue. Iya nggak bro ?” Ayolah kita cabut aja, kita temui Bola Dunia di rumahnhya siapa tau di mau ikut bikin group band ama kita. Lagi pula ngapain juga elu mikirin kata si Garuda ama Beringin. Jangan sibuk ama kata orang dach, mendingan kita pikirin bagaimana ke depannya, waktu pedaftaran menuju festival semakin dekat bro, sebaiknya kita cepat-cepat temui si Bola Dunia dan bentuk grup, terus kita daftarin dech grup kita. Lebih cepat lebih bagus khan. OK nggak Bro !!!”

Banteng : “OK Bro !!! , Aku sich Rapopo lah sekarang. Yuk kita berangkat temui Bola Dunia!!”.

***

Dongeng dari negeri antah-berantah di atas, seperti mewakili kisah “kandang Banteng” saat ini. Periode ini ada beberapa kandang Banteng yang hilang di daerah, seperti kandangnya di Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Utara, Sumatra Utara hilang, dipakai sarang Garuda bertelur. Di Jakarta juga hampir tergeser kandangnya. Kandang-kandang kecilnya juga ada beberapa yang dipakai untuk bersarang dan tumbuh dari grup-grup band yang baru terbentuk.

Situasi ini membuat warga kampung Banteng banyak membuat serudukan, manuver, mendengus-dengus dengan mata yang memerah, menyalahkan para tetangganya atas hilangnya kendang-kandang Banteng-nya. Salah mereka padahal tidak menjaga kepercayaan pemilik kedaulatan  yang sesungguhnya, yaitu rakyat. Wong cilik mereka mungkin sudah malas juga menjaganya karena mungkin sudah jarang disapa oleh warga Banteng.

Kegalauan Banteng hari ini bertambah, rasa nyeri senut-senut sudah hampir dua bulan ini susah dihilangkan, padahal sudah dapat tukang pijit yang super. Tambah lagi mendatangkan lead vocals yang pernah jadi vocalis di group band sebelah, setelah warga elit kepala kantor kandang Banteng di sangkakan, ditetapkan sebagai tersangka.

Vocalis baru ini memang luar biasa mampu mengarensemen lagu-lagu lama untuk dinyanyikan dengan gaya, yang agak Nge-beat, tapi lebih sering menyanyikannya dengan teriakan-teriakan bergaya penyanyi heavy metal rock. Meskipun suaranya sumbang arensemen rada-rada ngaco, ujungnya warga elit Banteng ini tetap ditahan alias dikurungin dulu dua puluh hari menurut orang yang punya kurungan.

Warga Banteng tambah kalang kabut waktu itu, lead vocal cabutan tadi mendadak dipecat, juga para backing vocal-nya dari vokalis, jadi suruh mingkem dulu. Dari vokalis suruh ngurusin peralatan lampu (lightingman) buat konser besar nanti, biar terang tapi adem. Karena selama ini nyanyinya semaunya aja yang penting teriak kenceng. Teriakannya justru membuat pemilik tiket kedaulatan semakin menjauh. Boro-boro mau dengerin suara sumbangnya yang nggak ketulungan,  justru bikin warga pemilik tiket suara sejatinya, banyak yang tidak simpati.

Gara-gara vokalis yang pada sumbang itu, ibu pemilik kandang Banteng besar juga terprovokasi dengan mengeluarkan titah lewat singel hits surat perintah pada warga banteng yang menjadi kepala daerah yang baru dilantik untuk tidak mengikuti musyawarah yang digelar oleh Garuda Pancasila, untuk menyamakan suara dalam membangun Nusantara raya ini. Titahnya untuk putar balik,  berhenti, bila sudah menuju tempat musyawarah stop atret dulu, untuk menunggu perintah selanjutnya.

Sontak saja jagat bumi yang cinta musyawarah ini kaget oleh serudukan Banteng. Jagat merasa aneh atas titah tersebut, dianggap sumbang karena semua warga dari berbagai warna tadi sudah menyatu di bawah Garuda Pancasila, yang siap dalam sumpahnya untuk mengabdikan jiwa raganya untuk kemakmuran dan memakmurkan warga Nusantara raya ini.

Jagat menilai titah itu sebagai serudukan yang “kebabalasan” dan keliru, apa pun alasannya. Makanya kemudian warga Banteng berusaha memperbaiki jalan lenggak lenggoknya, sikapnya untuk tidak asal seruduk.

Menurut para Resi kalau terus menyeruduk tidak ada arah, ini lama-lama wibawa Banteng kedaton ini bisa hilang, dapat bermetamorfosa dari Banteng jadi Kerbau. Dan para tetangga tambah malas ber-say hello. Karena titahnya tidak mencerminkan seorang negarawan, apalagi untuk disebut seorang Resi. Rakyat yang berdaulat juga tahu ini titah tidak beres, hanya menunjukkan kesombongan sang Banteng yang egois. Lama-lama bisa ditinggalkan oleh penontonnya, yang masih gandrung pada adu Banteng.

Garuda Pancasila mengadakan musyawarah besar, maksudnya ingin menyatukan satu garis komando, tidak ada lagi Beringin, Bulan, Bintang, Bola Dunia, Segi tiga, Segi empat, tapi komando dari Garuda Pancasila, karena sudah menjadi abdi negara, bukan lagi abdi kelompok lagi. Semoga para adipati negeri ini mampu membawa Garuda Pancasila tersenyum. Sampai di sini dulu dongeng warga Banteng yang sedang galau, yang takut jadi Kerbau. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN

Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan
Tags: dongengPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gede Utama, Seniman dari Sari Mekar, Totalitas Sebagai Penabuh Kendang

Next Post

Ketika ASN Dinas Pertanian Buleleng Balap Traktor: Bak Petani, Mereka Berkeringat dan Berlumpur

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika ASN Dinas Pertanian Buleleng Balap Traktor: Bak Petani, Mereka Berkeringat dan Berlumpur

Ketika ASN Dinas Pertanian Buleleng Balap Traktor: Bak Petani, Mereka Berkeringat dan Berlumpur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co