23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pemuteran Bay Festival” 4 Kali Masuk Karisma Event Nusantara: Rohnya Lingkungan, Budaya dan Wisata

Jaswanto by Jaswanto
March 6, 2025
in Panggung
Pemuteran Bay Fest 2023: Mempersembahkan Bhakti Baruna — Menyatukan Keindahan, Konservasi, dan Kebudayaan

Pemuteran Bay Festival | Foto: Istimewa

TERDAPAT dua festival yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 yang diumumkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Kemenkraf RI). Yakni, Lovina Festival dan Pemuteran Bay Festival. Pemuteran Bay Festival bahkan sudah empat kali masuk daftar KEN.

Lovina Festival sudah dibahas dalam artikel sebelumnya. (Baca: Fakta-fakta Unik tentang Lovina Festival yang Masuk dalam Karisma Event Nusantara 2025)

Mari kita bahas Pemuteran Bay Festival (PBF), dan apa-apa yang membuat festival itu masuk dalam daftar KEN 2025.

Meningkatkan Citra Pariwisata Desa Pemuteran di Bali Utara

PEMUTERAN Bay Festival (PBF)—juga dikenal sebagai Festival Teluk Pemuteran—merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali yang memadukan kegiatan konservasi lingkungan di kawasan Teluk Pemuteran dengan pelestarian seni budaya setempat. Festival ini digelar sejak 2015 oleh Pregina Art & Showbiz dan segenap masyarakat Pemuteran. Sebagai festival yang dibuat untuk mempromosikan destinasi wisata, PBF bisa dibilang telah sukses karena sudah diakui oleh Wonderful Indonesia dan masuk agenda 7 Calendar of Event Charisma Nusantara.

Pengakuan tersebut merupakan salah satu parameter kesuksesan Pemuteran Bay Festival. Atas dasar transformasi (perubahan lingkungan dan daerahnya), keterlibatan masyarakat setempat, serta unsur kebudayaan yang terlibat di dalamnya, PBF memang layak mendapat penghargaan tersebut. Selain itu, parameter kesuksesan PBF juga bisa dilihat dari lancarnya aktivitas festival, banyaknya pengunjung (mencapai 5000 pengunjung per harinya), serta komentar baik yang datang dari pengunjung maupun semua pihak yang terlibat.

Pemuteran Bay Festival | Foto: Istimewa

Pemuteran Bay Festival digelar atas dasar dan kesadaran untuk mempercepat laju perekonomian dan menghidupkan potensi pariwisata Desa Pemuteran. Belakangan, disadari bahwa teluk mulai rusak akibat aktivitas warga yang belum bisa merawat terumbu karang atau ekosistem teluk secara umum. Oleh karena itu, festival ini bertujuan untuk meningkatkan citra, pariwisata, budaya, ekonomi, serta memperkenalkan potensi Desa Pemuteran sebagai salah satu objek wisata dengan skema pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan—ecotourism, kegiatan pariwisata yang mengutamakan aspek konservasi alam.

Dikutip dari Strategi Pregina Art & Showbiz Dibalik Kesuksesan Acara Pemuteran Bay Festival Tahun 2022 yang terbit di Melodious Journal Of Music, PBF memiliki visi “festival yang dapat mempromosikan pariwisata dan budaya (musik, kuliner, wisata alam) Desa Pemuteran”. Oleh sebab itu, misi dari Pemuteran Bay Festival ini adalah (1) memanfaatkan, mengembangkan, dan melestarikan tempat wisata juga wilayah Desa Pemuteran seperti teluk dan area terumbu karangnya; (2) memasarkan hasil kreasi seni dan budaya, juga seniman Bali terutama di sekitar Kabupaten Buleleng melalui festival; (3) memasarkan dan mengembangkan usaha-usaha yang ada di sekitar Desa Pemuteran dengan mengandalkan festival; (4) mengapresiasi tokoh serta pihak-pihak yang terlibat dalam pelestarian dan pengembangan Desa Pemuteran.

Konsep dan tema Pemuteran Bay Festival berbeda-beda setiap tahun. Pada tahun 2022, misalnya, PBF memacam tema “Empowering Bayu Sabda Idep” yang berarti membangkitkan tiga unsur di dalam tubuh manusia, yaitu tenaga, suara, napas, serta pikiran. Jadi, filosofinya adalah apa yang ada di dalam tubuh manusia, juga ada di alam semesta—dan manusia akan membangkitkatnya. Berdasarkan tema tersebut, lahirlah konsep (1) live performance yang mewakilkan suara; (2) kegiatan aktif salah satunya konservasi terumbu karang yang mewakilkan tenaga; (3) olahraga, juga workshop yang mewakilkan napas dan pikiran.

Pemuteran Bay Festival biasanya digelar di kawasan Tanjung Budaya Dalem, Desa Pemuteran. Lahan khusus ini disumbangkan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia kepada Pregina Art & Showbiz sebagai hibah karena sudah berhasil mengembangkan pariwisata Desa Pemuteran melalui PBF.

Melestarikan Lingkungan dan Kebudayaan

Sebagaimana telah disinggung di atas, Pemuteran Bay Festival menaungi segala bentuk seni budaya dan pelestarian lingkungan seperti pelestarian terumbu karang berbasis masyarakat dengan technology biorock; heritage culture Gebug Ende; beach art parade; lomba-lomba seni dan budaya; pameran produksi seni dan kerajinan dalam rangka meningkatkan kualitas pariwisata berbasis masyarakat, budaya, berwawasan lingkungan. Pemuteran Bay Festival mempersembahkan selebrasi budaya dengan semangat komunitas dengan berlandaskan ecotourism.

Pemuteran yang berlokasi di Buleleng bagian barat memang dikenal memiliki pesona wisata bahari dengan kawasan pantai dan sekaligus berdekatan dengan perbukitan—seperti Bukit Kursi, Beratan, dan Ser. Di Teluk Pemuteran terdapat kawasan terumbu karang dan menjadi lokasi transplantasi terumbu karang dengan teknologi aliran listrik arus searah metode biorock.

Koordinator Nasional Biorock Indonesia Prawita Tasya Karissa mengatakan, metode biorock sudah diterapkan di belasan lokasi di Indonesia, di antaranya di Kepulauan Seribu Jakarta, Maluku, dan Bali.

Upaya pelestarian terumbu karang di Desa Pemuteran dikelola masyarakat melalui Yayasan Karang Lestari Bali dan menjadi model rehabilitasi terumbu karang di Indonesia. Pelestarian terumbu karang di Teluk Pemuteran sudah diakui kalangan dunia dan mendapatkan sejumlah penghargaan, baik berskala nasional maupun internasional, di antaranya Equator Prize 2012 dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).

  • BACA JUGA:
Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet

Pelestarian terumbu karang—pun lingkungan secara umum—di Pemuteran terhubung dengan penyelenggaraan Pemuteran Bay Festival. Biasanya, pada momen ini sejumlah penyelam setempat akan melakukan kegiatan penyelaman dalam rangka perawatan atau memang kerangka besi tampat bertumbuhnya terumbu karang. Bahkan, pada PBF 2017, vokalis Slank Akhadi Wira Satriaji alias Kaka, turut menyelam dalam pemasangan kerangka fondasi dan patung Garuda. Kaka menyatakan kagum setelah melihat terumbu karang yang ada di Teluk Pemuteran.

Pada tahun 2023 Festival Teluk Pemuteran mengangkat tema “Bhakti Baruna”, memadukan keindahan alam—khususnya laut di kawasan Bali Utara—dengan upaya-upaya konservasi lingkungan dan pelestarian seni dan budaya. “Pemuteran Bay Festival ini bukan hanya festival, melainkan pengalaman tak terlupakan yang memadukan keindahan alam, kearifan lokal, dan semangat konservasi,” ujar Ketua Komite Pemuteran Bay Festival Agung Bagus Mantra, sebagaimana dilansir dari Antara.

Festival tersebut juga menampilkan berbagai garapan seni budaya dan potensi UMKM masyarakat setempat sebagai wujud keterlibatan dan pemberdayaan dalam pertumbuhan destinasi wisata yang berkelanjutan. Menurut Bagus Mantra, Pemuteran tidak hanya sekadar destinasi pariwisata, tetapi menjadi cermin komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kebudayaan.

Kesenian seperti Gebug Ende nyaris tak pernah absen dalam setiap gelaran Festival Teluk Pemuteran. Gebug Ende berasal dari kata Gebug yang artinya menggebuk atau memukul (lawan) dan Ende yang berarti perisai atau tameng. Kesenian ini bisa kita sebut perang rotan. Sebuah warisan budaya leluhur yang bertahan sampai saat ini, di mana tradisi ini, dulu, digelar untuk memohon hujan pada musim kemarau. Gebug Ende biasanya digelar pada sasih kapat (kalender Hindu Bali) atau pada bulan Oktober-November.

Gebug Ende yang dipentaskan dalam Pemuteran Bay Festival | Foto: Istimewa

Gebug Ende diawali dengan sembahyang dengan berbagai banten atau sesaji, baru kemudian dilanjutkan dengan adu ketangkasan antara dua laki-laki. Kedua laki-laki tersebut akan saling serang menggunakan sebatang rotan dengan panjang 1,5 hingga 2 meter yang digunakan untuk memukul lawan dan perisai rotan bundar untuk menangkis serangan lawan. Selama Gebug Ende berlangsung, petarung akan diiringi dengan gamelan sehingga menambah ketegangan dan memacu adrenalin.

Pemuteran: Model Desa Wisata

Pemuteran merupakan sebuah model desa wisata di Bali yang dikembangkan dengan menerapkan konsep keberlanjutan ekowisata berbasis pada lokalitas. Selain itu, juga merupakan destinasi wisata dengan minat khusus. Tidak hanya mendongkrak kesejahteraan rakyat melalui pariwisata, desa ini juga aktif menerapkan upaya pelestarian lingkungan laut yang merupakan kekayaan mereka.

Pemuteran menjadi salah satu desa yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata melalui program Desa Wisata pada tahun 2009. Dukungan dari program itu, menurut Wawan Ode (panggilan akrab I Ketut Sutrawan Selamet), Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Pemuteran, antara lain digunakan untuk membangun fasilitas diving serta wisata air di sekitar desa tersebut.

Alam Pemuteran juga diakui sebagai salah satu dari 10 destinasi terbaik dunia. Atas dasar itu masyarakat memperoleh lapangan pekerjaan dan peluang usaha dengan swakelola sebagai sumber utama pemasukan masyarakat. Pemuteran menjadi Desa Wisata berbasis masyarakat dengan menggunakan role model social entrepreneur. Dan sampai hari ini, kawasan Desa Wisata Pemuteran sudah menerima 38 penghargaan, baik nasional maupun internasional.

Pemuteran hari ini jauh berbeda dengan Pemuteran 40 tahun lalu. Bahkan, pada tahun 2016, United Nation World Tourism Organization (UNWTO—Organisasi Pariwisata Dunia PBB—memberikan predikat juara kedua kepada Desa Pemuteran untuk kategori “Innovation in Non Govermental Organizations” dengan program “Coral Reef Reborn Pemuteran, Bali”. Suatu kemajuan yang patut diapresiasi.

Sementara itu, dalam membangun pariwisata Desa Pemuteran, Wan Ode menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan budaya dan spiritual berdasarkan konsep Tri Hita Karana. Dari konsep inilah masyarakat Pemuteran bahu-membahu menjadikan Pemuteran seperti hari ini. “Tri Hita Karana itu kan perpaduan interaksi antara Tuhan, manusia, dan alam. Jadi, dalam pembangunan pariwisata, peran agama dan budaya juga sangat penting,” jelas Ode.

Atas dasar filosofi tersebut, dalam rangka menyelamatkan lingkungan di Desa Pemuteran masyarakat melakukan berbagai hal, seperti menjaga lingkungan dengan melakukan pembersihan dan penghijauan; menjaga dan melestarikan penyu serta adopsi baby coral; menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan; menjaga destinasi yang sudah ada dan merencanakan atau membuat destinasi baru; dan terus melakukan promosi agar pariwisata Pemuteran semakin dikenal, sehingga mampu mendatangkan wisatawan.

“Khusus untuk menjaga ekosistem laut tetap lestari, Desa Pemuteran membentuk Pecalang Laut Pemuteran—traditional marine patrol. Pada 2015, kami mulai membuat even tahunan yang dinamakan Pemuteran Bay Fest. Ini juga salah satu bentuk promosi kami,” beber Wan Ode suatu kali di restoran sederhana miliknya.

Wan Ode mengatakan, dalam membangun pariwisata, setidaknya ada empat pihak yang harus bekerja sama. Pertama, masyarakat; kedua, pemerintah; ketiga, penguasa sosial dan bisnis; dan keempat, ilmuan atau ahli. Keempat pihak tersebut jika bisa berkolaborasi dengan baik, maka kemajuan pariwisata tidak mustahil untuk diraih.

Dengan gerakan-gerakan yang telah dijelaskan di atas, kunjungan wisatawan ke Pemuteran mengalamai kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2019, sebelum Covid-19, menurut data yang dihimpun oleh Pokdarwis Pemuteran, terdapat 13.532 wisatawan yang berkunjung ke Desa Pemuteran. Dari data tersebut, wisatawan yang datang ke Pemuteran kebanyakan melakukan aktivitas seperti snorkeling-diving, temple tour, cooking class, hiking, yoga, purification, cycling, fishing, dance class, Balinese life’s experience, conservation, education, sampai menikmati sunset di Bukit Batu Kursi dan Bukit Ser.

Wan Ode bersama Pokdarwis Pemuteran selalu berusaha untuk terus mempromosikan tempat wisata yang ada di Desa Pemuteran. Salah satu hal yang dilakukannya adalah dengan membuat paket-paket trip pariwisata di Pemuteran. Selama ini, paket trip dinilai efektif dalam mengembangkan pariwisara di Pemuteran.

Dari semua pencapaian tersebut, menurut Ode, selain atas komitemen masyarakat Pemuteran, juga dikarenakan adanya teknologi digital seperti media sosial atau platform-platform digital lainnya. Pada saat Pandemi Covid-19 menjadi mimpi buruk bagi seluruh sektor industri, terutama pariwisata, perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah bencana tersebut.

“Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik,” ucap Wan Ode sesaat setelah menyedot jus semangkanya. Ketiga kemampuan itu, sambungnya, sebenarnya sudah mulai diterapkan di Pemuteran melalui digital tourism.

  • BACA JUGA:
Desa Wisata Pemuteran Raih Penghargaan dari ASEAN Tourism Standard

Benar. Dalam hal distribusi, marketing, dan membangun citra pariwisata, peran media sosial menjadi sangat penting. Sejak adanya media sosial, proses distribusi pariwisata di Pemuteran menjadi lebih cepat dan efisien. Selain lebih mudah dalam menyebarkan informasi terkait potensi wisata, postingan-postingan positif dari wisatawan juga sangat berpengaruh dalam membangun citra di mata calon wisatawan. “Tapi juga sebaliknya, postingan-postingan negatif juga berpengaruh. Misalnya, ada tamu yang memosting sampah di pantai, itu juga memengaruhi citra,” jelas Ode.

Melalui akun media sosial pribadinya dan akun Pokdarwis Pemuteran, Wawan Ode tak pernah surut mempublikasikan, mendokumentasikan, dan menyebarkan potensi-potensi pariwisata Desa Pemuteran. “Selain menggunakan media sosial, setiap kali kami memiliki kesempatan untuk menghadiri undangan-undangan di kota maupun di luar kota, kami selalu mempromosikan Pemuteran,” imbuhnya.

Pada saat ditanya mengenai harapan terkait masa depan pariwisata di Desa Pemuteran, Wawan Ode menjawab, “Saya ingin Desa Pemuteran menjadi desa mandiri. Selama ini, kami tidak berani menarik tiket kepada wisatawan karena takut dianggap pungli. Akhirnya, desa tidak dapat PAD. Nah, dalam hal ini, saya berharap pemerintah hadir untuk membuat payung hukumnya, supaya kami memiliki pegangan kuat dalam membangun Pemuteran ke depan.” [T]

Reporter/Pengumpul Data: Tim Tatkala (Jas, Son, Rus, Ado)
Penulis: Jaswanto
Editior: Adnyana Ole

  • bACA JUGA:
Fakta-fakta Unik tentang Lovina Festival yang Masuk dalam Karisma Event Nusantara 2025
Desa Wisata Jangan Hanya Sibuk Kejar Juara
Jika di Bali Selatan Overtourism, Maka Datanglah ke Utara
Tags: bulelengBuleleng BaratDesa PemuteranfestivallingkunganPariwisataPemuteran Bay Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru Pada Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan di Yogyakarta

Next Post

Bupati Baru, Pasar Banyuasri, dan Rencana-rencana yang Tak Kunjung Terwujud

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Baru, Pasar Banyuasri, dan Rencana-rencana yang Tak Kunjung Terwujud

Bupati Baru, Pasar Banyuasri, dan Rencana-rencana yang Tak Kunjung Terwujud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co