23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
February 23, 2025
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

SEPANJANG sejarah peradaban manusia, cinta memiliki tempatnya tersendiri seraya terabadikan dalam ragam kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi. Hampir di seluruh belahan dunia, memiliki kisahnya masing-masing tentang pertemuan dua anak manusia yang di dalamnya berkelindan dan penuh dialektika akan ketertarikan, keberbagian, dan rasa ingin memiliki satu sama lain, termasuk juga ketika rasa itu bertepuk sebelah tangan!

Cinta memang punya pesonanya tersendiri, dan terbukti dengan mudahnya dijumpai dalam penciptaan karya manusia di mana pun berada. Sebut saja kisah klasik dari negeri anak benua atau India, ada kisah tentang Resi Bhisma dan Dewi Amba, sebagaimana Rama dan Shinta dalam kisah Ramayana.

Maju sedikit ke masa pertengahan, di Eropa dengan penyair kenamaannya William Shakespeare yang meramu kisah Romeo Juliet. Atau, tidak perlu jauh-jauh, kisah dari negeri sendiri, mulai era awal abad dengan kisah kasih tak sampai-nyaSitti Nurbaya atau cerita Rara Mendut.

 Ini baru sebagian saja, dan baru dari  sub karya kesusastraan, belum lagi dalam bentuk puisi atau drama, bahkan dari lirik lagu yang didendangkan, dari lukisan, seni kriya yang tak berbilang jumlahnya. Termasuk, bisa dijumpai dalam karya warisan sejarah dunia dalam bentuk karya arsitektural, yakni Taj Mahal di India.

Belum lagi dalam versi budaya pop kontemporer seperti film dari seluruh wilayah budaya yang ada di dunia. Sebutlah yang kini sedang happening,  seperti film Korea, ada Business Proposal, World of Marriage, Love Scout atau dari negeri sendiri, Gadis Kretek, Ipar adalah Maut, The Most Beautiful in the World. Belum lagi karya dari sineas Hollywood yang juga tidak akan pernah habis untuk dihitung.

Semuanya membincangkan cinta adalah sebuah kata yang bisa dikatakan punya kisahnya tersendiri.  Selalu diasosiasikan sebagai perasaan yang menghadirkan rasa bahagia, sebagaimana kerap juga menjadi alasan seseorang terpuruk, jatuh, dan terluka. Kadang dia hadir sebagai penyemangat jiwa laksana asmaradahana, seperti juga dia membuat kegelisahan dan kesedihan yang membuat rasa merana.  Kesemuanya boleh jadi menjadi bukti, betapa cinta dengan segala artikulasinya, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tarikan nafas dan aliran darah manusia.

 ***

Apa sejatinya cinta itu dalam dan bagi kehidupan manusia? Sejatinya, membincangkan cinta tidaklah melulu tentang pertemuan dua insan yang, sebut saja; sedang “mabuk kepayang”. Narasi cinta yang disebutkan di atas, adalah satu dari ragam tafsir tentang cinta. Iya benar! Cinta itu punya banyak wajahnya, mulai dari yang bersifat spiritual, kemanusiaan, relasi orang tua dengan anak, hingga memuliakan tanah air, bangsa dan negara; semuanya juga sama-sama menggunakan terminologi cinta. Semuanya menggunakan kata cinta, dan menunjukkan betapa cinta adalah sesuatu yang bukan main-main tentunya!

Namun, untuk kali ini, cinta yang akan diangkat adalah lebih dalam konteks relasi dua anak manusia yang memiliki ketertarikan untuk saling dekat dan lekat satu sama lain, seraya menggenapkannya dalam rasa yang menolak untuk berjeda. Nah, uniknya ternyata cinta yang kerap diasosiasikan melulu emosional belaka, justru secara saintifik ada teori yang dapat menjelaskannya, yakni karya Robert Sternberg yang dikenal dengan Triangular theory of love ,  atau juga disebut dengan Segitiga Cinta ( Pastikan untuk tidak terbalik menjadi Cinta Segitiga!)

Menurut Sternberg, cinta adalah gabungan dari kepemilikan hasrat, keintiman dan komitmen. Hasrat adalah adanya rasa ketertarikan secara fisik sekaligus bernilai emosional yang membuat seseorang menginginkan untuk dekat dengan seseorang yang disukainya, untuk kemudian diartikulasikan dalam ekspresi romansa.  Lalu apa yang disebut dengan keintiman, sebagai kehendak seseorang untuk terhubung, menjadi dekat dan melekat satu sama lain sehingga merasa nyaman dalam kebersamaan tersebut. Serta, komitmen yakni kemauan untuk meniadakan kehadiran orang lain selain dirinya dalam satu ikatan yang kokoh dan tak berkesudahan.  

Cinta baru “sempurna” manakala ketiga sisi tersebut menjadi satu kesatuan. Cinta baru “meniscaya” manakala tak bertepuk sebelah tangan alias satu sama lain merasakan hal yang sama. Tanpa ketertarikan fisik, orang akan tergoda untuk melihat yang lain sebagai yang lebih menarik, meskipun fisik memiliki keterbatasan waktu.

Tanpa keintiman, sebuah hubungan akan kehilangan otentisitasnya karena lalai dengan menghadirkan kenyamanan, sebagaimana tanpa komitmen, maka sebuah hubungan pada muaranya menjadi sesuatu yang akan dipertanyakan. Atau dengan kata lain, memadukannya adalah sebuah cara yang logis untuk merawat sebuah hubungan, menjaganya sebagai sebuah keterberian sekaligus apa yang diperjuangkan.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cinta yang sempurna itu hadir? Sesungguhnya kesempurnaan cinta hanya terjadi ketika kita menjadi pribadi yang “tidak sempurna” sehingga pasangan kitalah yang menyempurnakan kehidupan kita. Menyempurna dengan menerima kedirian kita secara fisikal, dengan senantiasa mengelola komunikasi yang intens, mengedepankan kebersamaan dan menghargai ruang privat masing-masing, seraya merawat kesetiaan sebagai perjalanan menghayati ruang dan waktu yang mengasyikkan. 

Kesadaran akan ketidaksempurnaan tersebut, menjadikan kita tidak terjebak dengan sesuatu yang ragawi sekaligus tidak mengabaikan arti kenyamanan akan ketubuhan itu sendiri. Keniscayaan akan keintiman, menjadikan kita terus belajar untuk mengelola interaksi sebagai pertukaran pesan yang hangat dan mendewasakan, sebagaimana memuliakan komitmen sebagai tujuan sekaligus proses yang layak diperjuangkan dengan penuh sukacita.

Sehingga, tidak ada kata lain bila mendialogkan tentang cinta, maka sejatinya kita sedang belajar meniti rasa, menata jiwa. Meniti rasa, adalah sebuah perjalanan menuju sekaligus dialektika pada setiap episode perjumpaan, yang dimulai dari pertama kali rasa itu hadir, keberanian untuk menyatakan dalam mengartikulasikannnya, gelora bahagia atas penerimaannya, kesediaan untuk menerima perbedaan dan sisi-sisi uniknya.

Menata jiwa, hakikatnya adalah sebuah perayaan kebersyukuran atas apa yang dimiliki, yang boleh jadi rasa itu tidak atau belum dimiliki orang lain, sehingga kemudian mampu mengelola setiap godaan untuk bersetia sejak dalam alam pikir hingga perbuatan.

Cinta akan selalu menemukan jalannya untuk mengabadi dalam rasa dan tindakan nyata. Tidak selalu melulu romansa, karena mungkin akan ada onak duri, riak-riak yang kadang membuat kita terbersit untuk lelah akan rasa itu.

Memperjuangkan cinta adalah memuliakan pasangan dengan sepenuh hormat, menjadikan dirinya sebagai pelabuhan jiwa tempat bersandar, menambatkannya sebagai tempat bersauh untuk selamanya. Selama dia menjadi energi hidup yang menghidupkan, maka itulah cinta yang sesungguhnya, sebagaimana dia membuat kita merasa bahagia, maka disitulah ada cinta. [T]

Penulis: Wisnu Widjanarko
Editor: Adnyana Ole

Cinta Itu Oksimoron, Tapi Musik Duet Menyatukannya: Playlist Valentine Untuk Mereka yang Merayakan

                                                                       

Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm
Semua Karena Cinta
Tags: cinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Matemuang Samaya” dari Teater Genta Malini SMAN 1 Gianyar: Bicara Cinta, Bicara Tanah

Next Post

TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman

TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co