3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta Itu Oksimoron, Tapi Musik Duet Menyatukannya: Playlist Valentine Untuk Mereka yang Merayakan

Pry S. by Pry S.
February 10, 2025
in Esai
Cinta Itu Oksimoron, Tapi Musik Duet Menyatukannya: Playlist Valentine Untuk Mereka yang Merayakan

Ilustrasi tatkala.co | Satya Saputra

ISTILAH cinta sering kali membingungkan. Ia bisa ditulis dengan tanda petik, diawali dengan huruf C kapital, atau bahkan dibubuhi tanda dicoret di atasnya, seolah-olah setiap bentuknya membawa makna berbeda. Sepanjang sejarah, cinta telah didefinisikan dan dikisahkan dari berbagai sudut pandang: ia kerap dipuja setinggi langit, tetapi seringnya juga dicela tanpa ampun. Seakan-akan cintalah yang menguatkan manusia sekaligus melemahkannya. Bagaimana mungkin?

Dari Erich Fromm yang menyebut cinta sebagai seni dalam gagasan filsafat mazhab Frankfurt, hingga cerpenis Maroeli Simbolon yang memaki cinta sebagai “tai kucing” lewat kisah fiksinya, semua menunjukkan cinta sebagai sesuatu yang oksimoron, ia saling bertolak belakang namun tetap hadir bersamaan.

Di usia paruh baya, setelah mengalami berbagai kesuksesan dan kegagalan dalam hubungan, saya curiga jangan-jangan saya hanya menikmati cinta saat harmonis, lalu berubah sinis saat patah hati. Yang jadi pertanyaan, apakah pantas jika saya memuja cinta karena sedang mendapatkan manfaatnya, tapi di lain hari bisa juga berbalik menghujat cinta, hanya karena situasi mana yang lebih menguntungkan saya? Apakah memang cinta boleh se-pragmatis itu, ataukah ia merupakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kefanaan pengalaman duniawi saya yang seringnya receh ini?

Saat mendalami ilmu Agile, saya pernah membaca referensi yang mengatakan bahwa cinta, seperti banyak hal dalam hidup, juga bisa dipandang sebagai proses yang terus berkembang. Dalam konteks ini, Agile tentu bukan lagi sekedar metode teknis yang digunakan para developer dalam pengembangan perangkat lunak, tetapi juga sebuah mindset yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk relasi. Dan di zaman yang serba cepat dan penuh ketidakpastian (VUCA: volatile, uncertain, complex, ambiguous), cinta mungkin tidak cukup hanya mengandalkan perasaan semata, tetapi ia juga membutuhkan pemahaman, adaptasi, dan usaha bersama.

Sebagai seseorang yang menerapkan prinsip Agile bahkan dalam kehidupan sehari-hari, saya percaya bahwa cinta adalah suatu praktik empiris yang harus didahului dengan pengalaman eksistensial, alih-alih janji-janji dan perencanaan di awal. Karenanya, ia tidak cukup hanya dirasakan, tetapi juga perlu diuji, dipahami, dan terus dikembangkan. Sebagaimana kepercayaan dalam suatu sistem hanya dapat dibangun melalui transparansi, refleksi (inspection), dan adaptasi, hemat saya cinta pun demikian. Ia harus dimulai dengan keterbukaan antar pasangan, diperiksa secara berkala untuk memahami dinamika hubungan dan menghindari kesalahan berulang, serta terus berkembang seiring perjalanan waktu.

Dengan keseimbangan ini, cinta dapat menjadi ruang yang saling menguatkan, membebaskan manusia dari ketergantungan yang membelenggu. Dalam rangka inilah empirisme cinta adalah jalan untuk memanusiakan manusia, memerdekakannya dari perbudakan (baca: bucin) dan mewujudkan apa yang dulu pernah digagas Plato pada zaman Yunani Kuno tentang cinta platonis.

Plato sendiri menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang berangkat dari ketertarikan fisik, tetapi seiring waktu berkembang menjadi penghargaan terhadap keindahan intelektual dan spiritual. Dengan memperlakukan cinta sebagai praktik menuju kebaikan yang lebih tinggi, cinta menurut versinya dapat membawa seseorang untuk berkembang secara intelektual dan spiritual: ini adalah bentuk cinta yang mendorong manusia untuk mencapai versi terbaik dari dan bagi dirinya sendiri. Dalam rangka ini, cinta tak hanya mensyaratkan kolaborator (baca: pasangan) yang agile, tapi juga saling kolaboratif.

Jika ini terdengar terlalu muluk-muluk, konsep cinta platonis dan kolaboratif sebenarnya telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari kita, salah satunya lewat musik. Lihatlah bagaimana lagu-lagu duet menyajikan kisah cinta dalam format yang unik. Lagu-lagu tersebut memiliki karakteristik khas: liriknya dilantunkan secara bersahut-sahutan seperti dialog, saling melengkapi, dan menghasilkan estetika yang tak lengkap jika hanya dinyanyikan satu pihak saja.

Karena itulah, dalam rangka merayakan kasih sayang yang jatuh pada hari ini, saya mengumpulkan selusin lebih nomor legendaris dari berbagai era yang menurut saya patut disambangi lagi hari ini.

Sila dengarkan playlist ini, semoga bisa menjadi hiburan baru bagi teman-teman, baik dinikmati sendiri maupun bersama pasangan.

Happy Valentine!

***

Hujan Gerimis – Benyamin S. & Ida Royani

Duet ikonik yang memadukan humor dan romansa khas Betawi. Seperti cinta, kadang manis, kadang bikin manyun.

Usah Kau Lara Sendiri – Katon Bagaskara & Ruth Sahanaya

Lagu pengingat bahwa cinta sejati hadir dalam suka maupun duka. Kadang yang paling kita butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengar.

Kulakukan Semua Untukmu – Fatur & Nadila

Bukti bahwa cinta adalah kesediaan untuk berkorban, tanpa harus kehilangan diri sendiri. Nada 90-an yang hangat ini membawa nostalgia tersendiri.

Amin Paling Serius – Sal Priadi & Nadin Amizah

Doa yang dinyanyikan dalam nada, harapan yang dibisikkan lewat melodi. Sebuah pengingat bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk tumbuh bersama.

Mungkinkah Terjadi – Trie Utami & Utha Likumahua

Cinta yang diragukan, rindu yang tak terjawab. Ada kisah yang hanya bisa dihidupi dalam angan-angan.

Biar Menjadi Kenangan – Reza Artamevia & Masaki Ueda

Saat cinta tak bisa dipertahankan, kenangan adalah satu-satunya yang tersisa. Lagu ini membuktikan bahwa perpisahan pun bisa terdengar indah.

Jika – Melly Goeslaw & Ari Lasso

Sebuah percakapan tentang keinginan untuk tetap bersama. Lagu ini mengajarkan bahwa cinta butuh keyakinan lebih dari sekadar kata-kata.

My Heart – Acha Septriasa & Irwansyah

Bagi yang tumbuh di era 2000-an, lagu ini adalah definisi cinta remaja. Simpel, polos, tapi melekat di hati.

Cinta Mati – Ahmad Dhani & Agnez Monica

Dramatis, penuh emosi, dan seintens kisah cinta yang berapi-api. Tidak semua cinta sehat, tapi semuanya punya pelajaran.

Berartinya Dirimu – Anang Hermansyah & Krisdayanti

Romansa era 90-an yang sarat akan janji dan pengorbanan. Lagu ini membuktikan bahwa duet yang harmonis tak selalu bertahan selamanya.

Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa

Puitis dan surealis, lagu ini seperti kisah cinta yang melampaui batas duniawi. Beberapa pasangan memang ditakdirkan untuk terbang lebih tinggi.

Terbiasa – Glue & Maria Stereomantic

Lagu underrated yang menggambarkan transisi dari cinta menjadi kebiasaan. Kadang, kita baru sadar berharganya seseorang setelah kehilangan.

Sampai Jadi Debu – Rara Sekar & Ananda Badudu

Cinta yang sederhana, tapi penuh janji kekekalan. Lagu ini seperti selimut hangat di tengah malam yang dingin.

Penulis: Pry S.
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Valentinelagulagu cintapenyanyi duet
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

Next Post

Cuaca Ekstrem, Warung di Pantai Panimbangan Buka-Tutup: Takut Badai, Tapi Ingat Cicilan

Pry S.

Pry S.

Mantan jurnalis, aktif menulis esai dan resensi musik di Jakartabeat, Pop Hari Ini dan Serunai. Menggeluti dunia programming dan Agile Framework. Kini tinggal dan bekerja di Denpasar.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Cuaca Ekstrem, Warung di Pantai Panimbangan Buka-Tutup: Takut Badai, Tapi Ingat Cicilan

Cuaca Ekstrem, Warung di Pantai Panimbangan Buka-Tutup: Takut Badai, Tapi Ingat Cicilan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co