2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut Kita: Citra Sastra dan Sikap Penguasa-Pengusaha dalam Realita

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 3, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DARI hulu masa lalu hingga hilir masa kini, teks-teks sastra tidak hanya mewartakan laut sebagai sumber amreta ‘air suci kehidupan’. Dalam pustaka Yadu Parwa, keganasan laut bahkan dilukiskan dapat menenggelamkan satu negeri bernama Dwarawati. Situasi ini mirip seperti Tsunami yang juga meululuhlantahkan wilayah Aceh. Tidak hanya itu, menyimak pustaka Rogha Sanghara Bumi kita diingatkan bahwa laut memiliki potensi destruktif sakala-niskala. Sebab, pada bulan-bulan tertentu laut diyakini sumber penebar penyakit.  Sementara itu, melalui Kakawin Ramayana kita juga diberitahu bahwa laut juga tidak pernah luput dari kemelut. 

Kakawin Rāmāyana

Salah satu fragmen mengenai laut muncul ketika Rama bermaksud menyeberang menuju negeri Alengka. Rama yang telah lama berpisah dengan Sita, tak kuasa lagi menahan panah rindu yang telah ditancapkan oleh Dewa Kama. Dengan meminta bantuan kepada pasukan kera di bawah pimpinan Sugriwa, Raja Ayodya yang sedang mengalami pengasingan tersebut siap berperang dengan Rawana yang beristana di negeri Alengka. Hanoman yang telah diutus menjadi mata-mata Rama pun telah berhasil mencatat peta kerajaan Alengka di dalam pikirannya. Yang terpenting tentu tempat Dewi Sita disekap, yaitu di Taman Angsoka.

Rama yang gelap hatinya tanpa sinar cinta Sita ingin segera berperang melawan Rawana. Oleh sebab itu, laut yang membentang dihadapannya lebih dirasakannya sebagai pemisah, tinimbang penghubung. Memang demikian kata orang bijaksana, rindu asmara dan kasih sayang itu melahirkan duka cita ‘ikanang unĕng lawan asih maweh ilik’. Duka cita itu pulalah yang menyebabkan Rama lebih dominan dikuasai oleh sisi kemanusiaannya daripada sifat Wisnu yang sesungguhnya juga bersemayam di dalam dirinya. Rama marah kepada laut, karena laut juga dikiranya bersekongkol dengan Rawana untuk menghalangi dirinya untuk bertemu Sita. Kemarahan yang kuat menyebabkan Rama memutuskan untuk mengeringkan laut dengan panah apinya. 

Seluruh dunia bergetar ketika Rama mulai membentangkan panahnya. Laut bergemuruh kencang ketika panah api (astra bahni) tersebut dilepaskan. Laut terbelah, sedangkan ikan-ikan yang hidup di dalamnya menjadi kepanasan. Pengarang Kakawin Rāmāyana yang dalam tradisi Bali diyakini sebagai seseorang dengan kaliber Yogiswara ini dengan sangat mengagumkan menjelaskan kehidupan di laut yang tengah kepanasan. Ikan pesut, lumba-lumba, udang, penyu, kepiting, ikan layang-layang, ubur-ubur, dan lainnya seperti dimasak hidup-hidup di sebuah tempayan besar lautan. 

Bara api yang ada di ujung panah Rama itu ternyata sampai menebus lapisan dunia bawah atau sapta patala.  Hal itu menyebabkan Naga Basukih yang menghuni lapisan-lapisan tanah kepanasan lalu muncul ke permukaan. Menyadari hal itu, Dewa Baruna sebagai dewa laut bergegas ke permukaan untuk bertemu dengan Rama. Pada momentum inilah Baruna menyampaikan pesan penting untuk menjaga laut kepada Rama sebagai reinkarnasi Wisnu di dunia sekaligus pemimpin jagat. Baruna berpesan agar laut dan isinya senantiasa dijaga dengan ungkapan “He natha wyartha den ta haru hara umanah wwai ning jaladhi, sakweh ning rāt gawen tekana kita mangĕmit “wahai Raja, engkau tidak boleh membuat kekacauan dengan memanah air laut, [sebab] engkau adalah pencipta seluruh dunia, engkau juga yang wajib menjaganya”.   

Kembali menyadari hakikat dirinya, Rama kemudian memutuskan untuk mengikuti saran Baruna untuk menarik anak panahnya. Ia tidak lagi menggunakan cara pragmatis untuk sampai di Alengka. Ia mengurungkan keinginannya mengeringkan laut. Rama sadar bahwa dirinya adalah perwujudan Wisnu yang tidak berbeda dengan alir air termasuk laut ketika merawat kehidupan. Dengan kerja keras, ia bahu-membahu bersama pasukan kera untuk membangun jembatan dengan bebatuan yang dikumpulkan dari pegunungan. Meskipun Rama mampu mengeringkan laut untuk menyeberangkan pasukan kera agar dengan cepat sampai ke Alengka demi memperjuangkan cintanya, tetapi ia telah disadarkan Baruna. Hanya atas nama cinta dan kehidupan pribadinya, Rama merasa tidak boleh mematikan begitu banyak kehidupan. 

Berbeda dengan Realita

Itulah citra hubungan laut dengan seorang pemimpin arif bernama Rama dalam Kakawin Rāmāyana. Rama sadar bahwa laut adalah perwujudan dirinya di alam semesta yang harus dijaga beserta isinya. Di sisi lain, Sita sendiripun pasti tidak akan rela apabila ia diselamatkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai kesemestaan. Sebab, Rama adalah Wisnu yang berwujud air, sedangkan Sita adalah Sri yang berwujud tanah. Pertemuan keduanya menjadi muasal kehidupan.

Berbeda dengan kisah Rama dan Sita, hari ini dalam realita kita melihat bahwa laut di sebagian wilayah Indonesia tengah digadaikan oleh koalisi penguasa dan pengusaha. Laut dengan pagar bambu misteri di Tanggerang sepanjang 30 km belum ditemukan siapa pelaku di baliknya. Sementara di sisi lain, sertifikat hak guna bangunannya telah terbit dari otoritas pemerintah. Mereka berkilah bahwa pagar itu sebagai sarana mencegah abrasi sebagai alasan untuk membungkus kebusukannya.

Di Bali sendiri, tempat karya sastra Kakawin Ramayana disenandungkan hingga hari ini, perusakan laut terus terjadi. Pulau Serangan yang mungil dan memesona (sirangen) telah dikuasai pengusaha. Dengan alasan pengembangan wilayah tertinggal, kemudahan akses, dan kemajuan ekonomi, pulau yang dikenal sebagai stana Pura Sakenan itu direklamasi. Sembari menunggu tanah urug mengental dan siap dibanguni berbagai resort, villa, hotel dan akomodasi wisata lainnya, mereka  mulai memagari laut dari aktivitas nelayan dengan alasan keamanan. Masyarakat lokal dibuat semakin tak berdaya akibat penetapan kawasan itu sebagai KEK atau Kawasan Ekonomi Nasional. Dengan menasionalkan statusnya, tentu pihak pemerintah lokal tidak bisa berbuat banyak. Apalagi hanya suara-suara nelayan.

Kita belum tahu pasti bagaimana arus bawah laut ketika satu pulau diperluas sehingga berubah dari bentuk alaminya selama beratus-ratus tahun dalam keseimbangan. Meski demikian, dari sastra kita tahu pasti bahwa alam dan laut memiliki cara kerjanya sendiri. Yadhu Parwa dengan terang menarasikan bahwa laut bisa membuncah lebih tinggi dari bayangan, bahkan menenggelamkan satu pulau atau kerajaan. Apa yang menyebabkan laut demikian murka? Tiada lain dari kutukan Gandari yang kehilangan seratus putranya. Semoga rintik tangis ibu nelayan yang kehilangan mata pencaharian dan ibu dari ikan-ikan yang kehilangan tempat hidupnya tidak meluapkan laut seperti dalam Yadhu Parwa! [T]

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti
“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan
Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Tags: filosofi baliKakawin Ramayanalautrenungansastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Next Post

Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co