2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut Kita: Citra Sastra dan Sikap Penguasa-Pengusaha dalam Realita

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 3, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DARI hulu masa lalu hingga hilir masa kini, teks-teks sastra tidak hanya mewartakan laut sebagai sumber amreta ‘air suci kehidupan’. Dalam pustaka Yadu Parwa, keganasan laut bahkan dilukiskan dapat menenggelamkan satu negeri bernama Dwarawati. Situasi ini mirip seperti Tsunami yang juga meululuhlantahkan wilayah Aceh. Tidak hanya itu, menyimak pustaka Rogha Sanghara Bumi kita diingatkan bahwa laut memiliki potensi destruktif sakala-niskala. Sebab, pada bulan-bulan tertentu laut diyakini sumber penebar penyakit.  Sementara itu, melalui Kakawin Ramayana kita juga diberitahu bahwa laut juga tidak pernah luput dari kemelut. 

Kakawin Rāmāyana

Salah satu fragmen mengenai laut muncul ketika Rama bermaksud menyeberang menuju negeri Alengka. Rama yang telah lama berpisah dengan Sita, tak kuasa lagi menahan panah rindu yang telah ditancapkan oleh Dewa Kama. Dengan meminta bantuan kepada pasukan kera di bawah pimpinan Sugriwa, Raja Ayodya yang sedang mengalami pengasingan tersebut siap berperang dengan Rawana yang beristana di negeri Alengka. Hanoman yang telah diutus menjadi mata-mata Rama pun telah berhasil mencatat peta kerajaan Alengka di dalam pikirannya. Yang terpenting tentu tempat Dewi Sita disekap, yaitu di Taman Angsoka.

Rama yang gelap hatinya tanpa sinar cinta Sita ingin segera berperang melawan Rawana. Oleh sebab itu, laut yang membentang dihadapannya lebih dirasakannya sebagai pemisah, tinimbang penghubung. Memang demikian kata orang bijaksana, rindu asmara dan kasih sayang itu melahirkan duka cita ‘ikanang unĕng lawan asih maweh ilik’. Duka cita itu pulalah yang menyebabkan Rama lebih dominan dikuasai oleh sisi kemanusiaannya daripada sifat Wisnu yang sesungguhnya juga bersemayam di dalam dirinya. Rama marah kepada laut, karena laut juga dikiranya bersekongkol dengan Rawana untuk menghalangi dirinya untuk bertemu Sita. Kemarahan yang kuat menyebabkan Rama memutuskan untuk mengeringkan laut dengan panah apinya. 

Seluruh dunia bergetar ketika Rama mulai membentangkan panahnya. Laut bergemuruh kencang ketika panah api (astra bahni) tersebut dilepaskan. Laut terbelah, sedangkan ikan-ikan yang hidup di dalamnya menjadi kepanasan. Pengarang Kakawin Rāmāyana yang dalam tradisi Bali diyakini sebagai seseorang dengan kaliber Yogiswara ini dengan sangat mengagumkan menjelaskan kehidupan di laut yang tengah kepanasan. Ikan pesut, lumba-lumba, udang, penyu, kepiting, ikan layang-layang, ubur-ubur, dan lainnya seperti dimasak hidup-hidup di sebuah tempayan besar lautan. 

Bara api yang ada di ujung panah Rama itu ternyata sampai menebus lapisan dunia bawah atau sapta patala.  Hal itu menyebabkan Naga Basukih yang menghuni lapisan-lapisan tanah kepanasan lalu muncul ke permukaan. Menyadari hal itu, Dewa Baruna sebagai dewa laut bergegas ke permukaan untuk bertemu dengan Rama. Pada momentum inilah Baruna menyampaikan pesan penting untuk menjaga laut kepada Rama sebagai reinkarnasi Wisnu di dunia sekaligus pemimpin jagat. Baruna berpesan agar laut dan isinya senantiasa dijaga dengan ungkapan “He natha wyartha den ta haru hara umanah wwai ning jaladhi, sakweh ning rāt gawen tekana kita mangĕmit “wahai Raja, engkau tidak boleh membuat kekacauan dengan memanah air laut, [sebab] engkau adalah pencipta seluruh dunia, engkau juga yang wajib menjaganya”.   

Kembali menyadari hakikat dirinya, Rama kemudian memutuskan untuk mengikuti saran Baruna untuk menarik anak panahnya. Ia tidak lagi menggunakan cara pragmatis untuk sampai di Alengka. Ia mengurungkan keinginannya mengeringkan laut. Rama sadar bahwa dirinya adalah perwujudan Wisnu yang tidak berbeda dengan alir air termasuk laut ketika merawat kehidupan. Dengan kerja keras, ia bahu-membahu bersama pasukan kera untuk membangun jembatan dengan bebatuan yang dikumpulkan dari pegunungan. Meskipun Rama mampu mengeringkan laut untuk menyeberangkan pasukan kera agar dengan cepat sampai ke Alengka demi memperjuangkan cintanya, tetapi ia telah disadarkan Baruna. Hanya atas nama cinta dan kehidupan pribadinya, Rama merasa tidak boleh mematikan begitu banyak kehidupan. 

Berbeda dengan Realita

Itulah citra hubungan laut dengan seorang pemimpin arif bernama Rama dalam Kakawin Rāmāyana. Rama sadar bahwa laut adalah perwujudan dirinya di alam semesta yang harus dijaga beserta isinya. Di sisi lain, Sita sendiripun pasti tidak akan rela apabila ia diselamatkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai kesemestaan. Sebab, Rama adalah Wisnu yang berwujud air, sedangkan Sita adalah Sri yang berwujud tanah. Pertemuan keduanya menjadi muasal kehidupan.

Berbeda dengan kisah Rama dan Sita, hari ini dalam realita kita melihat bahwa laut di sebagian wilayah Indonesia tengah digadaikan oleh koalisi penguasa dan pengusaha. Laut dengan pagar bambu misteri di Tanggerang sepanjang 30 km belum ditemukan siapa pelaku di baliknya. Sementara di sisi lain, sertifikat hak guna bangunannya telah terbit dari otoritas pemerintah. Mereka berkilah bahwa pagar itu sebagai sarana mencegah abrasi sebagai alasan untuk membungkus kebusukannya.

Di Bali sendiri, tempat karya sastra Kakawin Ramayana disenandungkan hingga hari ini, perusakan laut terus terjadi. Pulau Serangan yang mungil dan memesona (sirangen) telah dikuasai pengusaha. Dengan alasan pengembangan wilayah tertinggal, kemudahan akses, dan kemajuan ekonomi, pulau yang dikenal sebagai stana Pura Sakenan itu direklamasi. Sembari menunggu tanah urug mengental dan siap dibanguni berbagai resort, villa, hotel dan akomodasi wisata lainnya, mereka  mulai memagari laut dari aktivitas nelayan dengan alasan keamanan. Masyarakat lokal dibuat semakin tak berdaya akibat penetapan kawasan itu sebagai KEK atau Kawasan Ekonomi Nasional. Dengan menasionalkan statusnya, tentu pihak pemerintah lokal tidak bisa berbuat banyak. Apalagi hanya suara-suara nelayan.

Kita belum tahu pasti bagaimana arus bawah laut ketika satu pulau diperluas sehingga berubah dari bentuk alaminya selama beratus-ratus tahun dalam keseimbangan. Meski demikian, dari sastra kita tahu pasti bahwa alam dan laut memiliki cara kerjanya sendiri. Yadhu Parwa dengan terang menarasikan bahwa laut bisa membuncah lebih tinggi dari bayangan, bahkan menenggelamkan satu pulau atau kerajaan. Apa yang menyebabkan laut demikian murka? Tiada lain dari kutukan Gandari yang kehilangan seratus putranya. Semoga rintik tangis ibu nelayan yang kehilangan mata pencaharian dan ibu dari ikan-ikan yang kehilangan tempat hidupnya tidak meluapkan laut seperti dalam Yadhu Parwa! [T]

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti
“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan
Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Tags: filosofi baliKakawin Ramayanalautrenungansastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Next Post

Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co