12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sajak-sajak Angga Wijaya | Topi Terjatuh di Jalan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 25, 2025
in Puisi
Sajak-sajak Angga Wijaya | Topi Terjatuh di Jalan

Angga Wijaya

HUJAN SEBENTAR DI KOTA

“Hujan sehari menghapus panas setahun.
Berkhianat atas banyak hal. Kurang apa aku
pada dirimu? Engkau mengecewakanku.”

Ayah pernah marah pada diriku saat remaja
Dia pamanku yang mengasuhku sejak bayi.
Bersama bibi, orang tua baik hati, seperti
malaikat –selamatkan aku dari kematian.

Aku tahu yang sebenarnya dari tetangga.
Merundungku dengan ejekan menganggu.
Aku lalu paham meskipun hati terguncang.

Hingga skizofrenia menjadi musibah diri.
Usia 25. Kuliah tidak bisa aku selesaikan.
Pulang ke kampung halaman, kembali ke
keluarga asal—ibu dan ayah kandungku.

Adaptasi amat tidak mudah. Selalu terjaga
di malam hari, tak bisa melanjutkan tidur.
Obat bertahun-tahun aku minum. Takut
jika tiba-tiba kekambuhan datang. Aku
tak mau lagi dirawat di rumah sakit jiwa.

Ruangan berterali bersama ODGJ lainnya
Saat haus, aku selalu meminum air keran.
Disakiti atau menyakit, kemungkinan ada.

Bersiaga akan bahaya menghampiri.
Halusinasi menghantui hari-hariku.
Bahkan setelah belasan tahun berlalu
Berdamai dengan bisikan-bisikan itu.
Tak nyata namun terasa amat nyata.

Puisi selamatkan aku dari kegagalan
Penulis muda telah terbitkan 13 buku
Aku dikenal banyak orang, setidaknya
itu mengembalikan kepingan berserak.
Bersatu kembali dalam jiwa yang utuh.

Hujan di kota tempatku tinggal hanya
sebentar. Hujan punya arti mendalam.
Ia tak menghapus cuaca panas, seperti
perkataan ayahku. Tiga tahun sudah
aku tak pulang. –rindu ini begitu besar.
Aku akan pulang, temui kenangan pada
potret orang tua dan berdoa untuknya.

2024

TOPI TERJATUH DI JALAN

Melihat topi terjatuh, di jalan sering kulalui.
Milik siapakah itu, aku hanya bisa menebak

Buruh proyek yang tentu tidak memakai helm
Jarak tidak terlalu jauh dari lokasi dia bekerja

Topi itu punya banyak kenangan, membawanya
Pada banyak tempat dengan ciri khas tersendiri

Itu semacam biografi, jika kita menyebut buku
Tetapi topi itu tidak lagi berada di kepala buruh

Dia tidak menyadari hingga telah jauh berkendara
Topi dilindas kendaraan berlalu tidak mau peduli

Sebenarnya dia bisa membeli pengganti topi itu
Kenangan tentu tidak bisa digantikan oleh uang

Topi menandakan keringat juga perjuangan kerja
Jauh dari anak-istri demi kehidupan lebih bagus.

Siap dipanggil oleh siapa saja dan dimana saja
Di pulau ini dia menemukan ketenangan jiwa

Seperti topi yang telah lama ia kenakan selalu
Bekerja pada pagi hari dan pulang saat malam.

2024

BERTEMU PELUKIS JALANAN


–– untuk Edi Bonetski

Tuangkan kesedihan kita dalam kanvas
Pelukis yang tidak mau disebut pelukis.
Tawamu menambah hangat suasana pagi
Jauh engkau mengembara di pelosok hati
Terjatuh, terjatuh, bangkit, bangun kembali.

Manusia kehilangan kemanusiaan sejak dulu
Kau tak suka melihat kekerasan, kemunafikan
Jiwa kanak-kanak kau cari lagi sepanjang jalan
Bersama teman-teman seirama musik kau suka

Orde berganti, nasib seniman tak pernah berubah
Miskin, dibiarkan miskin, mencari uang sendiri.
Negara mestinya menjamin kesejahteraan semua
Tidak terkecuali bagi seni, kesenian, kebudayaan.

Percakapan kita mengalir sedemikian panjang
Aku pamit karena belum makan sejak semalam
Temanku datang mengajakku ke suatu tempat
Mengisi perut kelaparan sebagai penyair muda

2024

DI PASAR TIWANAKU KAMI BERTEMU

Bolivia, suatu hari di bulan ketujuh,
kami berjumpa dengan penuh rasa
canggung.”Hidupmu kini bagus,
sudah punya mobil baru,” kataku.
Biasa saja, itu hasil perjuangan
bertahun-tahun,” jawabnya.

Aku ingat, dulu kami bertemu saat dia
dan keluarganya hidup susah. Kontrakan
saja berpindah-pindah. Temanku membuka
usaha laundry--“Di Bali jenis usaha ini laku ya?
Di kota asalku, orang-orang lebih suka mencuci
pakaian sendiri!”. Aku katakan itu padanya.

Kami bertemu di pasar, jauh dari negeri yang
baru usai pemilihan umum –aku tak terlalu
suka bicara politik; hanya bikin persaudaraan
hancur, juga pada banyak belahan dunia lain.

Tiwanaku, pasar ini unik; tidak ada jual-beli,
warga sejak ratusan tahun lalu memilih sistem
barter. Aku juga terkadang ingin menukar nasib,
jika boleh. Tapi mana bisa? Orang kaya baru selalu
bilang; kalau mau berhasil, ya, kerja keras! Itu aku
dengar juga dari temanku. Kala itu aku datang
minta pertolongan padanya; saat aku terlilit utang
pinjaman online. Tak ada bantuan, hanya orasi–
mirip aktivis atau pemain teater zaman dahulu.

Kami bertemu, kini, setelah kami sama-sama
bisa ke luar negeri. Sudah sepuluh tahun aku
bekerja di Bolivia. Senang bertemu saudara
setahah-air. Aku teringat air mata usai bertemu
dia dulu. Setelah kejadian itu aku menjauh.
Di pasar ini kami saling menukar kabar—
tidak menukar yang lain. Tiwanaku.

2024

ORANG-ORANG MEDIA SOSIAL

Lekatkan terus matamu di layar, tulislah
kata-kata menarik beserta foto rupawan.
Agar semua orang tahu, engkau masih
ada dan disebut sebagai manusia maju.

Tengoklah cerita dari kawan-kawanmu,
sedang apa, dimana, lalu engkau bersedih
karena hidupmu menyedihkan, tidak bahagia
seperti orang lain tampak di layar ponsel pintar.

Engkau mungkin tahu, media sosial tidak lebih
dari sebuah etalase. Penuh tipu-daya juga kepalsuan.
Mereka hanya menampilkan hal-hal baik saja.
Hanya penyair dan seniman berani jujur pada diri
dan juga dunia. Mereka bercerita tentang diri sendiri;
baik dan buruk. Kepolosan mereka begitu indah!

Keculasan tak menyukai mereka. Kejujuran dianggap
berbahaya, pada masa kebohongan begitu dipuja-puja
dan sangat dipercaya. Delusi menjangkiti kita semua.

Semenjak pagi hingga dini hari, ponsel pintar mengajari
kita semua cara untuk hidup di zaman penuh kegilaan.
Tak ada yang memujimu jika mempunyai buku baru.
Mereka senang jika engkau punya ponsel baru:
itu rumah bagi orang-orang modern sekarang.

2024

KEMATIAN SENI DI MATAKU

28 derajat Celcius. Kota dingin, matahari cerah.
Layar ponsel kabarkan hujan akan turun sebentar
Baiknya kita urungkan niat untuk keluar rumah—
minum kopi murah di warung dekat kontrakan.
Bicara tentang kucing-kucing kita yang lucu.

Kelucuan juga tentang seni; hanya soal lingkaran
pertemanan: orang-orang itu saja dengan karya buruk.
Membaca puisi di panggung, ditonton orang asing—
merasa sudah di atas angin. Racauan dianggap puisi,
aneh sekali. Tepuk tangan untukmu begitu palsu.

Ramalan tentang kiamat tak tamat. Mati hanya
soal waktu –juga kematian seni, sudah lama terjadi.
Kembalikan puisi pada kehidupan alami; pasar, sekolah,
jalanan kota yang ramai. Bukan pada perhelatan mahal,
tidak memberi dampak apa-apa. Kita hanya penonton.

Untuk apa seni? Mari menjawab dengan jujur
tanpa diskusi panjang di media sosial –etalase
mutakhir orang-orang yang konon pemikir,
tetapi tak tahu cara berpikir. Narsissus
terlahir kembali. Jatuh cinta diri sendiri.

2024

SIMULASI KRONOLOGI

Andai waktu sirna,
Angka tahun
Tak jua berganti

Jalanan macet
terlalu banyak
kendaraan di sini.

Bus kota berjalan
tanpa penumpang
–dianggap gagal.

Kronologi kehidupan
kota tak pernah ditulis
kematian koran-koran

Menyala bagai api
petasan di tangan
membakar kenangan.

Tahun berganti
begitu tergesa
doa-doa hening

Bukan sendiri
keramaian itu
terasa sepi

Simulasi hari
tak ada cerita
perubahan.

Langit kota
terang sekali
satu malam ini

Ponsel pintar
Siaran langsung
Kesia-sian kita!

2024

RADIO TIDAK KUMATIKAN

Kudengar radio, hampir setiap hari.
Di kamar yang sepi, bersama
buku-buku dan dua kucing yang ingin kawin.
Suara radio tenggelamkan percakapan tetangga
(mereka suka bergunjing, aku tak suka).

Lagu-lagu keluar dari kotak ajaib itu.
Aku membelinya lima bulan lalu,
dari lelaki yang membawa masa lalu.

“Radio tak akan punah, orang-orang
akan merindukannya,” katanya penuh arti.

Radio memahami kegelisahanku.
Sambil menjual buku atau menulis,
radio menemaniku hingga
sore hari, atau saat kantuk
membuatku ingin sejenak tidur.

Kadang radio seperti mengajakku
bercakap-cakap. Itu jika aku lupa
minum obat. Skizofrenia mirip iblis,
merampas kewarasanku.
Dia sudah aku jadikan sahabat;
aku tahu cara mengatasinya.

Sudah lama aku menyukai radio.
Pernah ingin menjadi penyiar, tetapi
hidup menjadikanku seorang penyair.
Ah, penyiar dan penyair berbeda sedikit huruf.
—Ini pasti bukan satu kebetulan, bukan?

Radio ditemukan oleh Marconi.
Buku pelajaran sekolah dulu
memberitahuku. Dia pasti
orang hebat. Menciptakan teman
bagi manusia sunyi di kamar.

Radio tidak kumatikan, tidak
seperti Dorothea tulis dalam
sajaknya. Dia pasti juga
suka radio, hanya berbeda cerita.

2025


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Komang Berata  |  Cara Menghukum Pengkhianat
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu
Puisi-puisi Muhammad Hadriansyah | Hutan Kabut, Kumbang Koksi
Puisi-puisi Novita Dina | Stasiun Kata-kata
Puisi-puisi M. Allan Hanafi | Kucing, Dendam, Ibu
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kusala Sastra Khatulistiwa Kembali Digelar Tahun Ini

Next Post

Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails
Next Post
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi

Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co