24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konformitas Orang Baduy dalam Bentuk Pandangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 15, 2025
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

Pandangan tentang sekolah.

Sekolah formal dilarang oleh adat. Kuatnya keyakinan  masyarakat terhadap hukum adat dan rendahnya tingkat pendidikan, menjadikan  warga Baduy dilarang bersekolah secara formal (Kurnia dan Sihabudin, 2010:230).  

Alasan pertama, karena menurut Jaro (tokoh adat) Cibeo, cukup bagi orang Baduy mengurus wiwitan. Sekolah formal itu untuk mengurus negara, biarkan orang luar yang mengurus negara. Kedua, kalau orang sudah sekolah, nanti pintar, kalau sudah pintar nanti akan berbuat semaunya yang tidak etis.

Meskipun tidak berpendidikan formal menurut Mulyanto (2006), sebagian masyarakat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut dipelajari dari pengunjung yang datang ke Baduy. Bukti tulisan masyarakat Baduy terlihat pada kayu-kayu di rumahnya, yang ditulis menggunakan arang. Tulisan yang ditulis yaitu nama mereka sendiri.  Selain belajar dari interaksi dengan pengunjung, orang Baduy juga mengenal huruf dari abjad hanacaraka dan kolenjer (huruf-huruf Sunda kuno).

Mengenai pandangan KAT (Komunitas Adat Terpencil)  Baduy tentang alat transportasi, menjual padi, larangan hewan berkaki empat, dan pengobatan tradisionil, berikut saya ringkaskan hasil penelitian Mulyanto, Prihartanti, Moordiningsih, (2006) sebagai berikut:

Pandangan tentang penggunaan alat transportasi

Selain sekolah, keseragaman pandangan orang Baduy juga ada ketika merespons transportasi modern seperti mobil, motor atau kereta. Namun, konformitas terhadap larangan penggunaan alat transportasi ini hanya ada di Baduy Dalam saja. Bagi orang Baduy Dalam naik kendaraan merupakan salah satu pantangan, karena hal itu sudah melanggar adat dan akan dihukum adat.

Warga Baduy Dalam tetap berjalan kaki (Nguntuy) dari Desanya ke Pendopo Gubernur Banten | Foto Dok.Asep Kurnia

Larangan tersebut membuat para tokoh adat, termasuk puun (pemimpin adat tertinggi) melarang pula orang-orang tangtu (Baduy Dalam) berjalan terlalu jauh, seperti ke Jakarta atau ke Tangerang, karena khawatir jika nanti lelah kemudian naik mobil, lalu akhirnya terjadi pelanggaran adat. Meskipun tidak diikuti oleh para tokoh adat, orang Baduy akan mengaku sendiri jika dirinya melakukan kesalahan dengan naik kendaraan.

Pandangan tentang menjual padi

Prinsip dari orang Baduy adalah daripada menjual lebih baik membeli. Padi dari huma tidak difokuskan untuk makan sehari-hari tapi untuk antisipasi hari tua. Adanya konformitas pada prinsip ini membuat ketahanan pangan masyarakat Baduy menjadi sangat kuat.

Pandangan tentang larangan memelihara binatang berkaki empat

 Adat Baduy melarangmemelihara binatang berkaki empat. Alasannya karena hewan tersebut perilaku seperti maling, dapat merusak alam, kebun atau tanaman milik orang lain yang selama ini dijaga kelestariannya.

Pandangan tentang kesehatan

 Jaro Sami  menegaskan bahwa:”yang dicari tiap hari tiap malam oleh masyarakat kami baik secara lahir maupun batin dengan berdoa atau pakai jampi-jampi, tiada lain tiada bukan ingin sehat dan benar alias mencari kesehatan, bukan menolak kesehatan”.

Jembatan gantung di Kampung Gajeboh, Baduy | Foto Dok.Penulis

Penjelasan tokoh adat tersebut,  pandangan dan  konsep hidup sehat serta perilaku hidup sehat di masyarakat adat Baduy sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sejak kesukuan mereka lahir. Namun yang menjadi bahan pemikiran dan kajian kita sebenarnya lebih tertuju pada aspek penerapannya.

 Apakah penerapannya sudah menggunakan dan selaras dengan konsep-konsep ilmu kesehatan modern? Apakah pola-pola hidup mereka sudah memenuhi standar kesehatan? Kalau ya, sejak kapan mereka memulai pola hidup sehat dengan konsep ilmu kesehatan modern? Untuk memenuhi kejelasan jawaban atas pertanyaan di atas, maka penulis mencoba mencari informasi dan data-data ke pihak yang terkait.

Pandangan tentang pengobatan modernmenurut Mulyanto dkk (2006), pada dasarnya tidak ada larangan dalam masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit pada pengobatan modern.

Alam menyediakan kebutuhan keluarga warga Baduy | Foto Dok.Penulis

Berdasarkan paparan tentang perilaku konformitas yang terurai dalam bentuk aktivitas, penampilan, dan pandangan masyarakat Baduy di atas, maka terlihat jelas konformitas dalam masyarakat Baduy merupakan konformitas yang memiliki kedalaman makna dan mengandung kearifan lokal nilai-nilai hidup. Konformitas menjadi perilaku yang dianjurkan, bahkan dipandang penting sebagai prasyarat berfungsinya tatanan kehidupan, tatanan budaya dan hubungan interpersonal warga Baduy.

Konformitas sebagai Bentuk Kepatuhan

Sebagaimana pendapat Matsumoto (2004) bahwa dalam budaya-budaya tertentu, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik, hal itu bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya kebudayaan, kelompok dan hubungan interpersonal anggota budaya tersebut.

Adapun kondisi psikologis yang menyertai pelaku konformitas adalah:

  • Konformitas dilakukan berdasarkan kehendak pribadi dan bukan paksaan.
  • Warga tidak akan ikut campur bila ada yang nonkonformitas.
  • Warga tidak merasa tertekan, bahkan konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri.
  • Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik.
  • Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat.
  • Orang Baduy akan jujur, bila melakukan pelanggaran adat.

      Berdasarkan data kondisi psikologis dan uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sekurangnya ada empat faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy yaitu: 1) kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, 2) rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan dan pelanggaran, 3) kekompakan warga Baduy dan 4) besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat.

       Pertanyaannya sampai kapan konformitas ini akan bertahan? Hanya waktu yang akan menjawab. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.

      • Tulisan tentang Konformitas Orang Baduy selesai.

      Bahan Bacaan

      Adimihardja, Kusnaka. 2007. Dinamika Budaya Lokal. Bandung. CV. Indra Prahasta dan Pusat Kajian LBPB.

      ________.2000. Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia Air Pemelihara Sungai, Jakarta. Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Januari-April 2000, FISIP Universitas Indonesia.

      Djoewisno, MS., 1987. Potret Kehidupan Masyarkat Baduy. Jakarta: Khas Studio.

      Garna, Judistira, K. 1993a.  Masyarakat Baduy di Banten., dalam Koentjaraningrat (ed) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia.

      Iskandar, Johan. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia. Studi Kasus Dari Daerah Baduy Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Penerbit Djambatan.

      Mulyanto , Nanik Prihartanti, dan Moordiningsih. 2006. “Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy”. http: //eprints.ums.ac.id/650/1/1 PERILAKU KONFORMITAS Baduy.doc. download 19 Januari 2009.

      Sihabudin, Ahmad. 2009. Persepsi KAT Baduy Luar Terhadap Kebutuhan Keluarga di Kabupaten Lebak Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

      • BACA esai-esai tentang BADUY
      • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
      Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan
      Filosofi Perilaku Konformitas Orang Baduy
      Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
      ”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
      Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy
      Tags: masyarakat adatSuku Baduy
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      Kuliah di Tempat Sampah  |  Ini Kunjungan Mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja ke Galang Panji

      Next Post

      Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

      Ahmad Sihabudin

      Ahmad Sihabudin

      Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

      Related Posts

      ‘Janji-janji Jepang’

      by Angga Wijaya
      April 23, 2026
      0
      ‘Janji-janji Jepang’

      SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

      Read moreDetails

      Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

      by Chusmeru
      April 23, 2026
      0
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

      RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

      Read moreDetails

      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

      by Agung Sudarsa
      April 22, 2026
      0
      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

      DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

      Read moreDetails

      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

      by Dodik Suprayogi
      April 21, 2026
      0
      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

      JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

      Read moreDetails

      Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      April 21, 2026
      0
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

      BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

      Read moreDetails

      NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

      by Dede Putra Wiguna
      April 20, 2026
      0
      NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

      PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

      Read moreDetails

      Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

      by Agung Sudarsa
      April 20, 2026
      0
      Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

      SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

      Read moreDetails

      Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

      by Asep Kurnia
      April 20, 2026
      0
      Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

      KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

      Read moreDetails

      Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

      by Jro Gde Sudibya
      April 20, 2026
      0
      Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

      Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

      Read moreDetails

      Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

      by Cindy May Siagian
      April 19, 2026
      0
      Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

      MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

      Read moreDetails
      Next Post
      Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

      Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

        0 shares
        Share 0 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      ‘Janji-janji Jepang’
      Esai

      ‘Janji-janji Jepang’

      SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

      by Angga Wijaya
      April 23, 2026
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
      Esai

      Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

      RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

      by Chusmeru
      April 23, 2026
      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
      Esai

      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

      DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

      by Agung Sudarsa
      April 22, 2026
      Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
      Opini

      PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

      PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

      by I Made Pria Dharsana
      April 22, 2026
      ‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
      Ulas Musik

      ‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

      SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

      by Dede Putra Wiguna
      April 22, 2026
      Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
      Khas

      Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

      “Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

      by I Wayan Sujana Suklu
      April 22, 2026
      Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
      Panggung

      Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

      GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

      by Dede Putra Wiguna
      April 22, 2026
      ‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
      Pameran

      ‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

      MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

      by Nyoman Budarsana
      April 21, 2026
      Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
      Pendidikan

      Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

      Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

      by tatkala
      April 21, 2026
      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
      Esai

      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

      JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

      by Dodik Suprayogi
      April 21, 2026
      ‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
      Lingkungan

      ‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

      KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

      by Son Lomri
      April 21, 2026
      I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
      Persona

      I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

      PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

      by Made Adnyana Ole
      April 21, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co