3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konformitas Orang Baduy dalam Bentuk Pandangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 15, 2025
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

Pandangan tentang sekolah.

Sekolah formal dilarang oleh adat. Kuatnya keyakinan  masyarakat terhadap hukum adat dan rendahnya tingkat pendidikan, menjadikan  warga Baduy dilarang bersekolah secara formal (Kurnia dan Sihabudin, 2010:230).  

Alasan pertama, karena menurut Jaro (tokoh adat) Cibeo, cukup bagi orang Baduy mengurus wiwitan. Sekolah formal itu untuk mengurus negara, biarkan orang luar yang mengurus negara. Kedua, kalau orang sudah sekolah, nanti pintar, kalau sudah pintar nanti akan berbuat semaunya yang tidak etis.

Meskipun tidak berpendidikan formal menurut Mulyanto (2006), sebagian masyarakat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut dipelajari dari pengunjung yang datang ke Baduy. Bukti tulisan masyarakat Baduy terlihat pada kayu-kayu di rumahnya, yang ditulis menggunakan arang. Tulisan yang ditulis yaitu nama mereka sendiri.  Selain belajar dari interaksi dengan pengunjung, orang Baduy juga mengenal huruf dari abjad hanacaraka dan kolenjer (huruf-huruf Sunda kuno).

Mengenai pandangan KAT (Komunitas Adat Terpencil)  Baduy tentang alat transportasi, menjual padi, larangan hewan berkaki empat, dan pengobatan tradisionil, berikut saya ringkaskan hasil penelitian Mulyanto, Prihartanti, Moordiningsih, (2006) sebagai berikut:

Pandangan tentang penggunaan alat transportasi

Selain sekolah, keseragaman pandangan orang Baduy juga ada ketika merespons transportasi modern seperti mobil, motor atau kereta. Namun, konformitas terhadap larangan penggunaan alat transportasi ini hanya ada di Baduy Dalam saja. Bagi orang Baduy Dalam naik kendaraan merupakan salah satu pantangan, karena hal itu sudah melanggar adat dan akan dihukum adat.

Warga Baduy Dalam tetap berjalan kaki (Nguntuy) dari Desanya ke Pendopo Gubernur Banten | Foto Dok.Asep Kurnia

Larangan tersebut membuat para tokoh adat, termasuk puun (pemimpin adat tertinggi) melarang pula orang-orang tangtu (Baduy Dalam) berjalan terlalu jauh, seperti ke Jakarta atau ke Tangerang, karena khawatir jika nanti lelah kemudian naik mobil, lalu akhirnya terjadi pelanggaran adat. Meskipun tidak diikuti oleh para tokoh adat, orang Baduy akan mengaku sendiri jika dirinya melakukan kesalahan dengan naik kendaraan.

Pandangan tentang menjual padi

Prinsip dari orang Baduy adalah daripada menjual lebih baik membeli. Padi dari huma tidak difokuskan untuk makan sehari-hari tapi untuk antisipasi hari tua. Adanya konformitas pada prinsip ini membuat ketahanan pangan masyarakat Baduy menjadi sangat kuat.

Pandangan tentang larangan memelihara binatang berkaki empat

 Adat Baduy melarangmemelihara binatang berkaki empat. Alasannya karena hewan tersebut perilaku seperti maling, dapat merusak alam, kebun atau tanaman milik orang lain yang selama ini dijaga kelestariannya.

Pandangan tentang kesehatan

 Jaro Sami  menegaskan bahwa:”yang dicari tiap hari tiap malam oleh masyarakat kami baik secara lahir maupun batin dengan berdoa atau pakai jampi-jampi, tiada lain tiada bukan ingin sehat dan benar alias mencari kesehatan, bukan menolak kesehatan”.

Jembatan gantung di Kampung Gajeboh, Baduy | Foto Dok.Penulis

Penjelasan tokoh adat tersebut,  pandangan dan  konsep hidup sehat serta perilaku hidup sehat di masyarakat adat Baduy sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sejak kesukuan mereka lahir. Namun yang menjadi bahan pemikiran dan kajian kita sebenarnya lebih tertuju pada aspek penerapannya.

 Apakah penerapannya sudah menggunakan dan selaras dengan konsep-konsep ilmu kesehatan modern? Apakah pola-pola hidup mereka sudah memenuhi standar kesehatan? Kalau ya, sejak kapan mereka memulai pola hidup sehat dengan konsep ilmu kesehatan modern? Untuk memenuhi kejelasan jawaban atas pertanyaan di atas, maka penulis mencoba mencari informasi dan data-data ke pihak yang terkait.

Pandangan tentang pengobatan modernmenurut Mulyanto dkk (2006), pada dasarnya tidak ada larangan dalam masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit pada pengobatan modern.

Alam menyediakan kebutuhan keluarga warga Baduy | Foto Dok.Penulis

Berdasarkan paparan tentang perilaku konformitas yang terurai dalam bentuk aktivitas, penampilan, dan pandangan masyarakat Baduy di atas, maka terlihat jelas konformitas dalam masyarakat Baduy merupakan konformitas yang memiliki kedalaman makna dan mengandung kearifan lokal nilai-nilai hidup. Konformitas menjadi perilaku yang dianjurkan, bahkan dipandang penting sebagai prasyarat berfungsinya tatanan kehidupan, tatanan budaya dan hubungan interpersonal warga Baduy.

Konformitas sebagai Bentuk Kepatuhan

Sebagaimana pendapat Matsumoto (2004) bahwa dalam budaya-budaya tertentu, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik, hal itu bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya kebudayaan, kelompok dan hubungan interpersonal anggota budaya tersebut.

Adapun kondisi psikologis yang menyertai pelaku konformitas adalah:

  • Konformitas dilakukan berdasarkan kehendak pribadi dan bukan paksaan.
  • Warga tidak akan ikut campur bila ada yang nonkonformitas.
  • Warga tidak merasa tertekan, bahkan konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri.
  • Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik.
  • Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat.
  • Orang Baduy akan jujur, bila melakukan pelanggaran adat.

      Berdasarkan data kondisi psikologis dan uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sekurangnya ada empat faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy yaitu: 1) kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, 2) rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan dan pelanggaran, 3) kekompakan warga Baduy dan 4) besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat.

       Pertanyaannya sampai kapan konformitas ini akan bertahan? Hanya waktu yang akan menjawab. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.

      • Tulisan tentang Konformitas Orang Baduy selesai.

      Bahan Bacaan

      Adimihardja, Kusnaka. 2007. Dinamika Budaya Lokal. Bandung. CV. Indra Prahasta dan Pusat Kajian LBPB.

      ________.2000. Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia Air Pemelihara Sungai, Jakarta. Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Januari-April 2000, FISIP Universitas Indonesia.

      Djoewisno, MS., 1987. Potret Kehidupan Masyarkat Baduy. Jakarta: Khas Studio.

      Garna, Judistira, K. 1993a.  Masyarakat Baduy di Banten., dalam Koentjaraningrat (ed) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia.

      Iskandar, Johan. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia. Studi Kasus Dari Daerah Baduy Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Penerbit Djambatan.

      Mulyanto , Nanik Prihartanti, dan Moordiningsih. 2006. “Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy”. http: //eprints.ums.ac.id/650/1/1 PERILAKU KONFORMITAS Baduy.doc. download 19 Januari 2009.

      Sihabudin, Ahmad. 2009. Persepsi KAT Baduy Luar Terhadap Kebutuhan Keluarga di Kabupaten Lebak Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

      • BACA esai-esai tentang BADUY
      • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
      Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan
      Filosofi Perilaku Konformitas Orang Baduy
      Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
      ”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
      Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy
      Tags: masyarakat adatSuku Baduy
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      Kuliah di Tempat Sampah  |  Ini Kunjungan Mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja ke Galang Panji

      Next Post

      Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

      Ahmad Sihabudin

      Ahmad Sihabudin

      Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

      Related Posts

      Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

      by Vito Prasetyo
      October 2, 2026
      0
      Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

      KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

      Read moreDetails

      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

      by Ari Murdimanto
      October 2, 2026
      0
      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

      Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

      Read moreDetails

      Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

      by Tri Nugroho Adi
      October 2, 2026
      0
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

      SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

      Read moreDetails

      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

      by I Wayan Yudana
      October 1, 2026
      0
      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

      SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

      Read moreDetails

      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

      by Teguh Wahyu Pranata
      October 1, 2026
      0
      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

      ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

      Read moreDetails

      Manusia Purba di Kota Denpasar

      by Angga Wijaya
      October 1, 2026
      0
      Manusia Purba di Kota Denpasar

      SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

      Read moreDetails

      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

      by Agung Sudarsa
      September 30, 2026
      0
      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

      vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

      Read moreDetails

      Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

      by Chusmeru
      September 30, 2026
      0
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

      DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

      Read moreDetails

      Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

      by Putu Arya Nugraha
      September 29, 2026
      0
      Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

      PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

      Read moreDetails

      Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

      by Ahmad Hirzan Anwari
      September 29, 2026
      0
      Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

      PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

      Read moreDetails
      Next Post
      Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

      Di Melaka, Melihat Bangunan Tua, Laut dan Sungai, Saya Teringat Singaraja dan Pelabuhan Buleleng

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

        0 shares
        Share 0 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
      Esai

      Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

      KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

      by Vito Prasetyo
      October 2, 2026
      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
      Esai

      Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

      Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

      by Ari Murdimanto
      October 2, 2026
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
      Esai

      Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

      SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

      by Tri Nugroho Adi
      October 2, 2026
      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
      Esai

      Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

      SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

      by I Wayan Yudana
      October 1, 2026
      Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
      Khas

      Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

      Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

      by Rusdy Ulu
      October 1, 2026
      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
      Esai

      Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

      ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

      by Teguh Wahyu Pranata
      October 1, 2026
      Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
      Panggung

      Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

      PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

      by Nyoman Budarsana
      October 1, 2026
      Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
      Pop

      Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

      ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

      by Nyoman Budarsana
      October 1, 2026
      Manusia Purba di Kota Denpasar
      Esai

      Manusia Purba di Kota Denpasar

      SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

      by Angga Wijaya
      October 1, 2026
      Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
      Khas

      Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

      “CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

      by Dede Putra Wiguna
      October 1, 2026
      Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
      Olahraga

      Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

      KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

      by Jaswanto
      October 1, 2026
      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
      Esai

      Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

      vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

      by Agung Sudarsa
      September 30, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co