10 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat

Arif Wibowo by Arif Wibowo
December 27, 2024
in Ulas Pentas
Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat

Pertunjukan "Meksiko, Meksiko, Meksiko". Koreografer: Shohifur Ridho’i. Foto: Amrita Dharma.

“Kita semua adalah kuli…”

Adalah kata-kata yang melekat di benak kepala saya yang ketika pernyataan ini disampaikan oleh Shohifur Ridho’i melalui speaker megaphone yang dibawanya. Menjelang akhir pertunjukan, Ridho membawakan narasi sejarah panjang tentang sejarah migrasi orang-orang Madura sejak zaman Kolonial, khususnya di Pulau Jawa. Melalui pertujunjukan Meksiko, Meksiko, Meksiko, Ridho berupaya membongkar ulang fenomena koreografi Jamet Kuproy yang berkembang di kalangan anak muda Madura Kontemporer. Di balik tarian Jamet Kuproy tersimpan relik-relik arsip tentang gugatan atas kelas dan identitas yang selama ini dianggap liyan. “Kita semua adalah kuli”, memantik kesadaran para penonton melihat kembali ke-kulian-nya di tengah ketakberdayaanya atas, ketimpangan kelas, hegemoni dan kekuasaan suprastruktur dan kapitalisme akut yang membelenggu.

***

APA yang Anda bayangkan dengan tarian Jamet Kuproy dari Madura yang cukup viral beberapa waktu lalu itu? Tarian ini cukup viral di platform media sosial itu, salah satunya Boger Bajinov dengan follower mencapai 35 ribu. Sambil menonton pertunjukan ini dalam hati saya bergumam, akhirnya orang-orang kota ini juga bisa larut dalam tarian ini  melalui pertunjukkan bertajuk Meksiko, Meksiko, Meksiko yang tampil pada B-PART ((Bali Performing Arts Meeting)  2024 pada Sabtu (30/11/2024). Betapa tidak, yang saya tahu tarian Jamet Kuproy ini begitu banyak mengundang cibiran negatif dengan citra ndeso-nya oleh komentar netizen.

Pertunjukan Meksiko, Meksiko, Meksiko digagas oleh Shohifur Ridho’i, seniman asal Madura yang menempa kesenimanan-nya di Yogyakarta.  Karya ini berangkat dari fenomena tarian Jamet Kuproy yang berkembang di kalangan anak muda Madura belakangan ini. Fenomena koreografi ini berkembang secara vernakular di tengah kehidupan anak muda yang dianggap pinggiran. Melalui penyelidikan artistik menggunakan modus salin-tinampil (reenactment), Ridho mencoba mengembangkan tarian ini menyentuh dimensi politis dari kolektifitas Jamet Kuproy.

Karya ini lahir dari proses pengembangan artistik melalui program PAIRING (Performing Arts Incubation Trajectory) salah satu dari rangkaian program Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON) 2024. Ridho mengembangkan pertunjukan ini berkoloborasi bersama Agus Wiratama (Bali) sebagai produser dan Raymizard Alifian Firmansyah sebagai periset. Sedangkan pada pemanggungan pada BPART 2024, ia berkolaborasi  bersama seniman Bali,  Adi Gunawan dan Oka Pratama.

Jamet Kuproy dan Fenomena Kontemporer anak muda Madura

Beberapa waktu lalu, beranda media sosial kita melalui platform TikTok dan Instagram diramaikan oleh video tarian Jamet Kuproy, Pemuda dari Madura bernama Boger Bajinov sapaan populernya. Ia merupakan salah satu sosok yang viral di membawakan tarian ini. Secara rutin, ia dan kawan-kawannya membagikan konten video tarian Jamet di akun pribadanya. Followers dan konten kreator lain pun berdatangan, berkolaborasi membuat konten video sehingga membawanya berada di puncak popularitas. Di tengah popularitasnya itu, juga banyak netizen yang berkomentar miring dengan aksi Boger. Komentar miring itu dilontarkan netizen dengan mengaitkan citra penampilannya yang dinilai pinggiran dalam kacamata standar anak muda perkotaan. Bahkan, komentar stereotype identitas Madura yang dianggap bertolak belakang dengan standar nilai-nilai kejawaan dan perkotaan juga kerap kali hadir mewarnai.

Boger hadir di media sosial tampil apa adanya seperti kebanyakan anak muda di pedesaan Madura. Tampilan dengan kaos over size dan rambut panjang menjadi ciri khasnya yang menonjol. Musik remix DJ dengan beat yang dinamis ala klub malam menjadi pengiring koreografinya yang heroik itu. Penampilan dan cara berpakaian Boger diidentikkan seperti kuli proyek alias “kuproy”.

Ia memanfaatkan ruang-ruang di sekitar tempat tinggalnya untuk menari. Rumah sederhana berdinding batu putih kerap kali mencuri perhatian saya. Batu bata putih itu memang menjadi material bangunan yang umum digunakan oleh masyarakat di Pulau Madura. Bentang alam berkapur menghasilkan material batu bata putih yang melimpah, sehingga masyarakat mudah mendapatkannya. Suasana lansekap pedesaan Madura mewarnai setting pertunjukannya.

Apa hubungan Jamet Kuproy, Madura dan Meksiko?

Tarian Jamet Kuproy merupakan fenomena kontemporer anak muda Madura. Kemudahan akses teknologi informasi dalam genggaman tangan mengakibatkan arus pertukaran informasi begitu cepat melalui media sosial. Latar belakang inilah yang membuat siapa saja bisa menyebarkan ide, gagasan, maupun ekspresi termasuk Boger Bajinov dkk lewat tarian Jamet Kuproy-nya. Julukan Kuproy telah melekat kepada para pegiat koreografi ini. Namun julukan itu sungguh sangat dilematis. Kuproy merujuk stereotyping citra kuli atau pekerja kasar yang merujuk pada pengkategorian kelas sosial sebagai warga kelas dua.

Sejalan dengan itu, Identitas etnis Madura juga kerap kali diidentikkan dengan tatapan negatif baik melalui candaan hingga stigma negatif yang serius. Penggambaran negatif kelompok etnis Madura kerap kali diidentikan dengan karakter yang keras, sulit diatur, udik hingga sering kali menjadi bahan candaan. Fenomena ini terus menerus direproduksi melalui berbagai kanal media dengan beragam medium konten.

Di Surabaya misalnya, stereotyping Madura yang negatif begitu terasa. Surabaya bagian utara yang berhadapan langsung dengan Pulau Madura yang banyak dihuni oleh masyarakat etnis Madura. Surabaya Utara sering disebut sebagai Meksiko-nya Surabaya, atau kadang disebut sebagai blok M yang merujuk pada Madura dan Meksiko. Ada beberapa kesamaan mengapa sebutan Madura ini dikaitkan dengan Meksiko. Antara lain, keberadaan Jembatan Suramadu yang disamakan dengan Golden Gate Bridge di Amerika dimana kawasan ini banyak dihuni warga keturunan Meksiko. Selain itu, Meksiko disamakan dengan Surabaya Utara dengan kondisi kota yang semrawut dipenuhi dengan kendaraan truk yang lalu Lalang[1].

Madura dan Meksiko keduanya sebagai kelompok sosial masyarakat yang memiliki kesamaan latar belakangan sejarah di masa lalu. Di masa kolonial, warga Madura banyak melakukan migrasi ke Jawa tepatnya pada abad 19. Pemerintah Kolonial Belanda memperkerjakan orang-orang Madura sebagai buruh pada industri perkebunan di beberapa wilayah di Jawa Timur[2]. Kehadiran masyarakat etnis Madura di Jawa Timur ini akhirnya juga membentuk formasi etnis Pendhalungan yang muncul atas interaksi sosial dan budaya antara masyarakat Jawa dan Madura[3].

Fenomena rasisme dan diskriminasi juga banyak terjadi di Amerika. Masyarakat Amerika keturunan Meksiko kerap kali menjadi sasaran rasisme dan diskriminasi di negara ini. Gelombang migrasi besar-besaran masyarakat Meksiko ke Amerika terjadi dalam beberapa dekade belakangan. Bahkan, kelompok masyarakat Meksiko menduduki peringkat migran terbesar menduduki angka 23 persen dari total kelompok migran lain[4]. Kedatangan orang-orang Meksiko ke negara adi daya ini juga dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi untuk kehidupan yang lebih baik daripada di negara asalnya.  Kehadiran orang-orang Meksiko yang kemudian mengalami integrasi sosial melalui perkawinan dengan masyarakat kulit putih menghasilkan generasi campuran.

Rasisme dan diskriminasi umumnya terjadi karena adanya sentimen negatif masyarakat kulit putih kepada kelompok diluarnya. Ketidaksetaraan pendidikan juga mempengaruhi masyarakat keturunan Meksiko mendapatkan askes ekonomi dan kesempatannya berpartisipasi pada sektor strategis. Fenomena ini telah melanggengan fenomena diskriminasi dan rasisme terhadap kelompok masyarakat keturunan Meksiko[5].

Sebagai orang Jawa Timur, saya perlu meluruskan tatapan kita tentang Madura. Superioritas Jawa yang selama ini menghegemoni kerap kali menempatkan posisi suborndinat Madura sebagai objek inferior. Walaupun hubungan Jawa – Madura telah terbangun lama, namun pada sebagian masyarakat konservatif masih saja muncul segregasi kebudayaan di antara keduanya. Wacana sejarah yang selama ini diamini juga turut membentuk pandangan inferior terhadap Madura dan para perantaunya. Di kalangan sejarahwan-antropolog seperti Kuntowijoyo misalnya pada karya Madura (2002) yang menulis sejarah Madura dalam bayang-bayang Jawa. Ia menempatkan Jawa pada posisi hirarkis yang lebih tinggi turut membentuk asumsi terhadap sejarah Madura sehingga terjebak dalam kolonialisasi historigrafis. Sebuah problem utama dalam penulisan sejarah di negara pasca-kolonial[6].

Kodifikasi Koreografi Vernakular dan Ruang Negosiasi

Pertunjukan “Meksiko, Meksiko, Meksiko”. Koreografer: Shohifur Ridho’i | Foto: Amrita Dharma

Fenomena tari Jamet Kuproy yang berkembang di kalangan anak muda Madura itu merupakan fenomena tari yang berkembang secara vernakular. Kata vernakular berasal dari bahasa latin “vernaculus” yang berarti lokal, asli atau domestik. Istilah vernakular banyak digunakan di bidang arsitektur, seperti istilah “arsitektur vernakular” yang merujuk pada sistem pengetahuan arsitektur yang diciptakan tanpa tenaga ahli arsitek profesional melainkan tumbuh dari pengetahun masyarakat. Arsitektur vernakular diyakini mamapu beradaptasi pada konteks kesetempatan baik iklim, ekologi maupun nilai ekonomi, sosial dan budaya masyarakat[7].

Meminjam kacamata pengetahuan arsitektur seperti diatas, maka tari Jamet Kuproy merupakan bagian dari produk koreografi vernakular yang tumbuh dari masyarakat yang tidak berlatar belakang pendidikan koreografi secara formal dibawah bimbingan profesional. Namun, justru menjadi fenomena koreografi yang berkembang secara organik di tengah masyarakat.

Ridho sebagai seniman pertunjukan mencoba untuk “meminjam” koreografi ini untuk kemudian dibaca ulang dan direkonstruksi menjadi sebuah pertunjukan yang mampu berbicara secara gamblang hingga menyentuh pada aspek politis-estetis. Jika koreografi Jamet Kuproy yang dibawakan Boger Bajinov tumbuh untuk memenuhi kepentingan praktis kelompok pendukungnya di akar rumput. Maka Koreografi Jamet Kuproy pada pertunjukan Meksiko, Meksiko, Meksiko ini berusaha untuk menegosiasikan kepentingan yang bersifat konstruktif dalam rangka menyusun ulang aspek-aspek yang hadir berkelindan dibalik kemunculan fenomena koreografi Jamet Kuproy. Baik itu pada aspek bentuk dan kosa gerak maupun-aspek “politis-estetis” seperti pesan tentang ketimpangan kelas dan marginalisasi identitas kebudayaan yang selama ini dialami oleh etnis Madura.

Ridho memiliki pengalaman ketubuhan yang melekat sebagai orang Madura (insider) ditengah persinggungannya dengan kehidupan kosmopolitan urban Jogja. Dengan membawa koreografi Jamet Kuproy kepada khalayak yang lebih luas, telah menjembatani koreografi Jamet Kuproy yang selama ini dianggap pinggiran kemudian dapat diterima oleh khalayak urban-terdidik. Tak hanya itu, hadirnya koreografi vernakular yang pinggiran ini ditengah kultur urban ini juga menjadi tamparan atas realitas ketimpangan yang menganga lebar. Karya ini menjadi ruang negosiasi untuk menghadirkan pertunjukan yang menampar dengan mengkompromikan estetika kota-desa, terdidik-tak terdidik, Jawa-Madura, elit-pinggiran.

Sebagai catatan, alangkah menariknya jika pertunjukan juga menghadirkan representasi penari atau penampil yang berakar. Misalnya Boger Bajinov sebagai pelaku utama yang bersuara dalam pertunjukan ini. Selain itu, sebagai upaya kodifikasi, perlu adanya babak yang membongkar anatomi kosa gerak koreografi Jamet Kuproy yang dipresentasikan kepada khalayak untuk memahami dan mengiterpretasi tarian Jamet Kuproy ini secara komprehensif.

Terlepas dari catatan diatas, karya ini memberikan keseriuasan dalam upaya membaca peluang koreografi kontemporer yang dianggap pinggiran atau koreografi vernakular menjadi sebuah rangkaian repertoar yang mampu menegosiasikan posisinya sebagai gagasan artistik yang diterima khalayak lebih luas. Lebih dari itu, penonton diajak lebih dekat memahami Madura ditengah tatapan bias yang selama ini dihadapi oleh komunitasnya. [T]

  • Ulasan pertunjukan ini ditulis dibawah program Arts Equator Fellowship 2024

[1] “Dilema Surabaya Utara : Dijuluki Meksikonya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif” : https://mojok.co/terminal/dilema-kawasan-surabaya-utara/

[2] Muji Hartanto, “Migarsi Orang-Orang Madura di Ujung Timur Jawa Timur: Suatu Kajian Sosial-Ekonomi”, Jurnal ISTORIA, Vol.8 No.1 (2010).

[3] Mochamad Ilham, Orang Pendalungan (Jakarta: Penerbit BRIN, 2024), hlm.35-39.

[4] Mexican Immigrants in the United States : https://www.migrationpolicy.org/article/mexican-immigrants-united-states

[5] Vilma Ortiz dan Edward Telles, “Racial Indentity and Racial Treatment of Mexican Americans”, National Institite of Health, Race Soc Probl. 2012 April ; 4(1): . doi:10.1007/s12552-012-9064-8.

[6] Syaiful Anam, Demaduralogi: Manusia Madura, Kemewaktuan, dan Memori (Malang: Edisi Mori, 2023), hlm. 8.

[7] Ira Mentayani, Ikaputra dan Putri Rahima Muthia, “Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas”, Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017, hlm. 109.

  • BACA artikel lain dari ARIF WIBOWO
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri
Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu
Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”

Tags: B-PartMadurapeformance artseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Peta Tanpa Arah”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha dengan Beragam Gagasan Kritis

Next Post

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng
Pemerintahan

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng

DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial....

by tatkala
March 9, 2026
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026
Panggung

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan
Opini

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini...

by Jro Gde Sudibya
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Esai

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

by Satria Aditya
March 9, 2026
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah
Panggung

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini
Opini

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026
Panggung

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

HARI itu, Minggu pagi, 8 Maret 2026, langkah-langkah kecil berbaris rapi. Lapangan Puputan Badung, Denpasar berubah menjadi arena budaya yang...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026
Panggung

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

PULUHAN sketsa, tapel, dan ogoh-ogoh mini berjajar di dalam tenda pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Di...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’
Esai

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti...

by Angga Wijaya
March 9, 2026
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia
Esai

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

DALAM bentang sejarah musik rock di tanah air, sulit membayangkan struktur megah genre ini berdiri kokoh tanpa menyebut satu nama...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co