6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Fatris dari Pinggir

Pranita Dewi by Pranita Dewi
November 3, 2024
in Persona
Melihat Fatris dari Pinggir

Fatris MF di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

SIANG itu, saya dan Sonia (Kadek Sonia Piscayanti, penulis) datang ke Indus dengan terburu-buru. Udara Ubud yang biasanya tenang, rasanya malah seperti ikut mengejar kami. Mungkin karena acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun 2024 ini punya magnet tersendiri, atau mungkin juga karena kami sedang mengejar sesuatu yang kami nanti-nantikan sendiri.

Tapi begitulah kami, suka tersesat dan terkadang terlambat, tapi selalu terkekeh menyaksikan apa yang membentang di hadapan kami.

Itu Sabtu, 26 Oktober 2024. UWRF sedang ramai-ramainya. Di depan kami, tangga putih menjulang, seperti jalur khusus untuk kami yang ingin mencicipi kejutan apa yang menanti di dalam. Itu adalah jalur menuju Indus Restaurant, salah satu tempat penyelenggaraan diskusi yang cukup istimewa di UWRF 2024.

Di ruang transit, ada deretan buku yang mengundang kami untuk berhenti sejenak. Buku-buku ini mengalihkan pandangan kami. Tapi misi kami sudah jelas: panel diskusi. Setelah puas melirik-lirik koleksi di rak, kami segera turun lagi menuju ruang panel.

Saat kami masuk, di panggung, ada sosok yang dari dulu namanya sering terdengar dan ceritanya sering kami baca, tapi baru kali ini wajahnya terpampang jelas di depan kami—Fatris MF. Ia duduk di tengah, wajahnya tampak segar.

Di sampingnya, duduk Juli Sastrawan (penulis) sebagai moderator, dan di sisi lain duduk Chriswan, si penerjemah legendaris UWRF, yang terkenal dengan gaya santainya: kaos putih, celana pendek cokelat, dan sandal jepit.

Chriswan adalah penerjemah yang cekatan dengan kata-katanya, lincah dan cepat, tanpa basa-basi.

Dari kiri: Juli Sastrawan, Fatris MF dan Chriswan dalam sesi diskusi Indonesia from The Edge | Foto: tatkala.co/Pranita Dewi

Dalam diskusi bertajuk “Fatris MF: Indonesia from The Edge” itu Fatris membuka cerita tentang petualangannya melintasi Indonesia yang jarang disorot media. Dari pulau-pulau yang hanya dikenal oleh mereka yang tinggal di sana, hingga desa-desa di mana tradisi terasa begitu kuat meski dunia semakin modern.

Kami—saya dan Sonia—berusahan duduk serius agak di pinggir, mendengar dan mencoba membaca sepenuh hati apa-apa yang dikatakan Fatris.

Salah satu cerita yang mencuri perhatian adalah tentang Lamalera, sebuah wilayah yang masih mempraktikkan tradisi berburu paus. “Lemafa,” katanya.

Dan saya mulai memperhatikan, mungkin saja ini nama yang hanya akan kita dengar di acara seperti ini. Lemafa bukan sekadar tokoh atau kisah, tapi sebuah simbol dari ketangguhan. Ia adalah sebutan bagi seorang ahli bidik paus di Larantuka—pemberani yang mampu menaklukkan ikan besar di laut dalam.

Tapi ini bukan soal pamer kekuatan, melainkan sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun. Bagi Lemafa, berburu paus adalah soal hidup bersama alam, tentang keseimbangan yang sulit dipahami orang kota.

Dalam tulisan Fatris pun, ia menuliskan bahwa pertarungan ini adalah pertarungan hidup dan mati, sehingga tidak susah menemukan Lamafa yang pulang dengan satu kaki, satu tangan, atau tubuh dengan luka sayatan.

Ini ang menarik. Di tengah cerita Fatris, ada yang bertanya tentang genre bukunya.

“Kalau buku ini masuk perpustakaan, rak mana yang cocok?”

Fatris sempat terdiam sejenak, tapi kemudian ia tersenyum dan menjawab, “Ini bukan buku ‘Travel How To’ yang cocok menghiasi ruang tamu Anda. Letakkan saja di mana pun, yang penting ada. Buku saya ini untuk mereka yang ingin tahu lebih dari sekadar pemandangan cantik.”

Ruangan langsung penuh dengan tawa ketika ia melanjutkan, “Indonesia ini bukan hanya Jakarta. Banyak sekali yang tak terlihat di luar sana, tapi hidupnya jauh lebih kaya dari yang kita kira.”

Fatris MF pada sesi diskusi yang berbeda di Rumah Kayu, UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Di sesi selanjutnya, Fatris menceritakan pertemuannya dengan seorang ibu di salah satu desa kecil. Ini salah satu cerita yang ia ingat betul dan tak pernah ia lupakan.

“Dulu, air bersih ada di mana-mana. Suamiku menjala ikan sebentar saja, dan itu cukup buat makan dua hari. Tapi sekarang? Ikan dibeli, air pun dibeli. Uang ada, tapi yang dulu gratis sekarang harus bayar,” ujar Fatris, menirukan keluhan si ibu dengan mimik serius, tapi penuh kesadaran.

Kata-kata itu terngiang di kepala saya. Ada ibu-ibu di luar sana yang mendadak harus beradaptasi dengan perubahan, bukan karena keinginan, tapi karena lingkungan yang tak lagi sama.

Mendengar cerita itu, saya bisa membayangkan bagaimana wajah ibu tersebut; matanya yang letih, mungkin sedikit kecewa, tapi tetap tangguh menghadapi realitas.

Tak lama kemudian, dalam diskusi itu, seorang bule mengangkat tangan dan bertanya tentang buku apa yang sebaiknya dibaca oleh pemerintah.

Pertanyaan itu membuat Fatris tertawa lepas. Dengan nada yang agak bercanda tapi tegas, dia menjawab, “Saya nggak tahu harus rekomendasi buku apa buat pemerintah. Saya nggak terbiasa ‘menjilat-jilat’ mereka,” ucapnya lantang, dan kami pun tertawa.

Chriswan dengan sigap menerjemahkan, “I do not want to ‘lick the ass’ of the government.”

Lagi-lagi ruangan penuh tawa.

Sesi diskusi Fatris yang selalu ramai di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Menyaksikan Fatris berbicara, rasanya seperti mendengar suara Indonesia yang mungkin tak pernah kita dengar sehari-hari—suara dari pinggir yang jarang sekali mendapat tempat.

Ia berbicara tentang realitas, tentang tanah air yang kaya akan budaya dan kisah, tapi sering kali hanya dilihat dari sudut yang sempit. Fatris bukan sekadar seorang penulis perjalanan, dia adalah penggali kisah, pendengar yang sabar, dan penyampai pesan yang jujur.

Melalui ceritanya, kami tidak hanya melihat pemandangan, tapi juga mendengar napas, melihat wajah, dan merasakan hidup mereka yang berada di pinggir-pinggir negeri ini. [T]

Reporter/Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole

Saya Emerging Writer UWRF 2024, Namun Hidup Harus Tetap Berjalan: Sebuah Refleksi
Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Tags: Fatris MfUbudUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masima Krama Toska: Membangun Kebersamaan

Next Post

Menikmati Musik dan Merayakan Motor Antik di Bali Rockin Blues Festival 2024

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Musik dan Merayakan Motor Antik di Bali Rockin Blues Festival 2024

Menikmati Musik dan Merayakan Motor Antik di Bali Rockin Blues Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co