23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Otot dan Rahasia Bugar di Usia Senja

Putu Lina Kamelia by Putu Lina Kamelia
August 15, 2024
in Esai
Otot dan Rahasia Bugar di Usia Senja

Dokter Lina Kamelia

JIKA ada kemewahan sejati yang kita dambakan sebagai manusia di usia senja tentu jawabannya tidak lain tidak bukan adalah kesehatan. Bisa dibayangkan jika di usia senja kita masih mampu berjalan naik turun tangga tanpa keluhan yang berarti, mampu bersepeda, berlari, mengangkat belanjaan, menggendong cucu. Sungguh suatu kemewahan yang tak terbeli dengan apapun!

Sayangnya, sebagai makhluk hidup yang dibekali kecerdasan, sikap kita tidak serta merta mendukung untuk mendapatkan kemewahan itu. Sedari muda kita terlampau biasa menomorduakan segala sesuatu yang justru bisa menjamin kesehatan di hari tua secara sadar atau tidak. Kita mengorbankan waktu tidur kita untuk hang out dan party atau sekedar begadang menonton pertandingan.

Kita juga menyia-nyiakan ¾ kebutuhan tubuh kita untuk mendapat makanan sehat. Lebih dari 6 jam kita larut dalam duduk, mengorbankan waktu aktif kita untuk suatu sedentary life style. Tapi kita menaruh harapan terlalu tinggi di saat menua, lebih dari apapun kita berharap bisa hidup sehat sentosa di kala tua tanpa ada upaya memadai untuk mencapai tujuan tersebut. Sungguh ironis memang sapiens ini.

Untuk mencapai kehidupan berkualitas secara fisik dan mental, sapiens yang telah menempuh evolusi berjuta tahun lamanya sehingga menjadi rupa dan fungsi seperti saat ini tentunya memiliki pijakan-pijakan kuat. Terciptanya produk evolusi yang sukses tidak lepas dari terpenuhinya empat pilar dasar wellbeing.

Pilar itu sederhana saja, eat well, sleep right, move, stress management. Namun seolah hanya sebagai quote pemanis hidup, ada saja alasan kita untuk menunda. Entah kita terjebak di mode kemalasan atau suatu procrastination.  Kita selalu meng-excuse diri untuk mengamini semua kealpaan kita tapi cenderung menuntut banyak pada tubuh agar selalu sehat tanpa perlu berkorban apapun.

Dan, boom..terciptalah ledakan-ledakan penyakit metabolik yang seakan sengaja diciptakan oleh kita sendiri. Revolusi industri mempermudah hidup manusia dalam mendapatkan barang dan jasa telah berjalan sesuai matlamatnya, namun seolah ada harga yang dibayar untuk semua kemudahan itu, dan tentu saja terlalu mahal. Kesehatan kita!

Satu hal yang pasti, untuk dapat melaksanakan aktivitas harian dengan nyaman dibutuhkan kekuatan motorik yang optimal. Salah satu penjamin aktivitas motorik, baik tenaga maupun tonus yang baik adalah optimalnya struktur anatomi dan fisiologi otot-otot kita. Baik itu otot lurik, polos maupun otot jantung kita sebagai manusia. Fungsi jantung yang baik, demikian pula dengan fungi pencernaan serta organ-organ dalam lainnya sangat bergantung dari seberapa aktif kita bergerak. Dalam artian, gerakan yang dibentuk oleh otot rangka/lurik menjadi salah satu parameter baik buruknya homeostasis (baca: keseimbangan fungsi) tubuh.

Otot adalah kunci pergerakan, pernapasan, dan catat; postur tubuh yang baik. Otot pun menyimpan energi yang bisa kita gunakan untuk melakukan semua aktivitas tubuh secara berdaya guna.

Otot rangka adalah organ terbesar dalam tubuh manusia. Terdapat sekitar 600 otot yang menyumbang hampir 50% dari total berat badan. Agar organ vital yang sering dianak tirikan ini berfungsi dengan semestinya tentunya memiliki term and condition tertentu yang sejalan dengan nature tapi sekali lagi, sebagai sapiens yang cenderung manipulatif, kita seringkali hanya ingin hasil maksimal dengan usaha secukupnya saja. Kita malas bergerak, olahraga menjadi momok, bukan lagi disadari sebagai kebutuhan.

Menurut perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran saat ini, otot diyakini pula sebagai organ endokrin. Otot rangka menghasilkan suatu protein yaitu myokines yang telah dibuktikan oleh berbagai research memiliki efek positif pada proses metabolisme tubuh, jantung dan pembuluh darah, otak dan mental, serta imunologi (kekebalan tubuh).

Pada saat kita berolahraga, sebagian besar otot akan berkontraksi, menghasilkan myokines yang nantinya merangsang otot-otot tersebut mengalami hipertrofi atau pembesaran ukuran. Jadi jika kita ingin tubuh lebih muskular dan lean, upaya untuk menjaga massa otot harus terus dipelihara dengan bertambahnya usia.

Age ‘destroy’ almost everything, karena hingga saat ini belum ada obat atau metode yang dapat memutar balik proses penuaan. Untuk menunda agar penuaan tak progresif, masih dimungkinkan. Scientist yang mendalami antiaging medicine memahami hal ini dengan sebaik-baiknya. Kita masih berpola lama dengan menganggap bahwa penuaan identik dengan uban, keriput, pikun, keropos tulang, masalah jantung dan gejala popular lainnya.

Kita alpa menyadari bahwa salah satu gejala utama penuaan dini adalah hilangnya massa otot rangka. Pada orang normal, massa otot akan bertambah secara mantap sejak lahir hingga dewasa dan mencapai puncak di usia 30-35 tahun. Setelah itu kinerja otot akan menurun perlahan dan berkurang progresif di usia di atas 60 tahun untuk wanita, 70 tahun untuk pria. Jika diakumulasikan, manusia akan mengalami penurunan massa otot sekitar 30% sepanjang hidupnya.

Selain ukuran, komposisi otot pun semakin mengalami perubahan. Semakin tua kita semakin akrab jaringan lemak menyelimuti sebagian besar otot kita. Tidak terbilang bagian tubuh seperti perut, paha, muka, lengan atas merupakan tempat bergelantungan paling favorit dari lemak yang sejatinya merupakan semacam survival armor bagi tubuh.

“If you don’t use it, you lose it!” Sebuah quote yang patut direnungkan mendalam. Semakin tua kita semakin lelah dan enggan untuk banyak beraktivitas sehingga atrofi (pengecilan ukuran) ototlah ganjarannya. Penuaan juga identik dengan menurunnya kekuatan.

Proses ini menyebabkan manusia semakin rentan. terhadap kondisi stres fisik maupun psikis. Lansia cenderung lebih mudah sakit karena kemampuan menghadapi stres berkurang (lack of resilient). Secara klinis peningkatan kerentanan terjadi karena cadangan dan fungsi zat mengalami degradasi pula. Hormon berkurang, utamanya pada wanita, terjadi degradasi estrogen yang nyata, meningkatnya hormon stres yang akhirnya memicu penurunan massa otot. Kerentanan ini merupakan frailty syndrome. Suatu kondisi yang dimanifestasikan sebagai suatu kondisi kurangnya kemampuan bergerak, poor strength, poor endurance dan seperti yang kita pahami bahwa otot rangkalah yang memegang peranan dalam frailty syndrome ini.

Seiring dengan bertambahnya usia perubahan hormon diduga menyebabkan beberapa masalah yang terlihat pada yang menimbulkan kelemahan otot. Jika estrogen menurun pada wanita, maka testosteronpun demikian, ia akan menurun pada laki-laki. Testosteron berkurang karena penuaan maka penurunan massa otot pasti terjadi. Kortisol (hormone stres) dan penurunan kadar vitamin D yang memiliki peran krusial dalam regenerasi otot rangka serta mempertahankan metabolisme dalam mitondria yang merupakan cell powerhouse.

Penurunan massa otot fisiologis yang mencapai 2-3% per tahun semenjak kita berusia sekitar 50 tahunan itu merupakan fakta yang mencengangkan sekaligus mengerikan.  Kehilangan massa otot tentunya akan mempengaruhi performa dan resilliance kita dalam melakukan aktivitas harian. Pada begitu banyak orang dengan habit buruk, sedentary life style sehingga bahkan berjalan pun menjadi suatu hal yang sulit dilakukan di usia senja.

Beberapa pertanyaan berikut perlu diajukan pada diri sendiri Apakah terdapat rasa lelah yang lebih cepat jika beraktivitas dibanding sebelumnya?Apakah terdapat kesulitan berjalan? Apakah sulit melakukan kegiatan yang berhubungan dengan weight bearing misalnya bangun dari tempat duduk, bangun dari posisi berbaring?Apakah ada gangguan keseimbangan? Apakah berat badan cenderung bertambah dan sulit turun? Jika jawaban semuanya iya maka sangat mungkin kita mengalami sarcopenia.

Penurunan fungsi otot linier dengan konsep sarcopenia. Istilah ini berasal dari kata Yunani, “Sarcos” berarti daging, dan “penia” berarti kekurangan. Sarcopenia berakibat turunnya kemampuan ambulasi, mobilitas, dan kemandirian fungsional. Kekurangan gizi, minimnya fungsi fisik dituding sebagai penyebab fenomena ini. Hilangnya massa otot selama proses penuaan penting secara klinis karena mengurangi kekuatan dan kapasitas exercise seseorang. Per definisi sarcopenia merupakan hilangnya massa dan fungsi otot rangka terkait usia, dikaitkan dengan meningkatnya beban kelemahan, kemampuan dan kematian pada lansia. Pergerakan tubuh secara aktif termasuk misalnya olahraga adalah salah satu faktor yang mendukung potensi kekuatan otot yang berguna untuk mencegah sarcopenia.

Bisa dikatakan bahwa semakin kita aktif menggunakan otot untuk bergerak maka akan semakin tinggi peluang untuk mencapai longevity (umur panjang). Otot yang terjaga mempermudah adaptasi sistemik tubuh terhadap semua kemunduran fungsi sel akibat penuaan. Kita tak hanya diberi harapan hidup lebih lama tapi juga wellbeing karena tujuan hidup paripurna tak hanya mengejar panjangnya usia semata.

Menariknya, pada individu lanjut usia yang baru memulai olahraga pada usia lanjut menunjukkan progresifitas respon terjaganya massa otot yang baik. Bukan suatu yang luar biasa jika dikatakan bahwa olahraga adalah metode yang mumpuni yang berkontribusi untuk mencapai harapan hidup lebih lama.

Pentingnya massa otot tidaklah hanya hiperbola semata. Otot tidak hanya melulu mengenai kebugaran atau kekuatan fisik. Namun jauh lebih penting dari semua itu, massa otot memainkan peranan penting dalam fungsi kognitif manusia. Sebuah studi yang menarik menunjukkan bahwa olahraga yang dilakukan secara rutin oleh warga senior akan memberikan efek baik yang signifikan pada hipokampus orang yang bersangkutan.

Hipokampus adalah bagian kecil dari otak yang merupakan salah satu pembentuk sistem limbik, generator animal instinc manusia, yang berperanan dalam menyimpan memori dan pengolahan memori jangka panjang, pembelajaran. Tak lupa juga fungsi terpenting lainnya adalah regulasi emosi. Sederhananya, jika massa otot kita terjaga dengan keaktifan tubuh melalui Latihan maka demikian pula fungsi otak kita dalam berbagi proses penting. Tidak berlebihan jika ditarik suatu kesimpulan massa otot yang preserve dan optimal akan mencegah kita mengalami kemunduran memori (early onset dementia).

Tidak ada istilah terlalu tua untuk bergerak! Latihan dalam bentuk apapun yang dapat menguatkan massa otot menjadi semacam investasi luar biasa yang kita tabung sedikit demi sedikit sebelum usia kita mencapai sekitar 50 tahunan. Saat usia sudah sangat menu akita akan sulit menabung massa otot karena secara fisiologis karena berbagai faktor termasuk hormonal, massa otot kita semakin berkurang dan digantikan oleh lemak.

Bagi lansia yang terlambat menyadari pentingnya massa otot sebagai salah satu rahasia umur panjang maka tidak ada kata terlambat untuk memulai. Fakta membuktikan bahwa lansia yang baru aktif, di kemudian hari mereka menunjukkan peningkatan fisik dan mental yang lebih besar daripada rekan-rekan mereka yang lebih muda tapi mager.

Latihan atau exercise tidak selalu harus dimaknai dengan aktivitas di gym, gerakan sulit dan menantang dan segala aktivitas instagramable lainnya. Aktivitas fisik sedang seperti berjalan, berkebun, naik turun tangga memberi pengaruh yang baik untuk status kesehatan seorang lansia.

Mengapa aktivitas ini seakan-akan tidak penting dan tidak pernah di endorse oleh health professional? Menawarkan sesuatu tidak popular dan tidak instan tentunya jauh lebih memerlukan perjuangan dan effort yang berkesinambungan. Suatu hal yang tidak disukai oleh kita semua. Tidak disukai berarti tidak menjual dan tidak akan laku. Sungguh ironi yang kesekiankalinya.

Hal penting lain yang layak diketahui dan diperbincangkan adalah adanya hubungan antara Gut Brain Axis (GBA), suatu jaras yang dibentuk olah persarafan enterik di usus halus dengan otak. Mikrobiota usus yang ada dalam tubuh host (dalam hal ini manusia) berperanan sangat besar dalam meregulasi sistem kekebalan tubuh, metabolisme berbagai fungsi tubuh, menghasilkan neurotransmitter (misalnya dopamin, serotonin, dan sebagainya), dan dalam perkembangan otot rangka melalui komunikasi bidireksional melalui GBA tadi. Bahkan digadang-gadang ada tambahan aksis lain dari jalur tersebut yang melibatkan otot rangka, The Brain-Gut-Muscles axis. Myokine, yang sudah disinggung sebelumnya, merupakan mediator yang diperlukan dalam kelangsungan hubungan komunikasi organ-organ itu. Koloni mikrobiota baik akan mempengaruhi pula massa otot rangka kita sehingga menghasilkan otot yang berkualitas secara anatomi dan fungsi.

Entah bagaimana E.C Segar di tahun 1929 terinspirasi dengan konsep Gut Brain Muscle axis yang saat itu belum ditemukan sehingga bisa menciptakan tokoh kartun Popeye yang mendapat manfaat kekuatan dan hipertrofi otot dengan makan bayam. Dari kartun sarat nostalgia tersebut kita dapat memetik hikmah bahwa dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi protein serta tinggi serat adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk pemebentukan lean muscles.

Makanan-makanan ramah mikrobiota usus termasuk pula prebiotik dan probiotik merupakan asupan yang dapat melawan sarcopenia. Hal ini tentu saja karena mikrobiota usus juga terlibat dalam perkembangan kehilangan otot selama penuaan. Kombinasi program latihan yang tepat dan intervensi diet yang ditujukan untuk memodifikasi mikrobiota usus sangat menjanjikan untuk menangkal sarcopenia.

Olahraga dalam bentuk apapun adalah tantangan bagi fisik juga mental manusia. Rasa malas memulai, ketidakkonsistenan merupakan batu sandungan utama untuk mencapai habituasi tubuh. Latihan fisik dalam bentuk apapun adalah cara yang cukup ‘berbahaya’ (karena sesungguhnya dengan berlatih/berolahraga kita menempatkan fisik di situasi tidak nyaman dan dalam kadar tertentu menyebabkan luka pada jaringan otot (microtears) sehingga terjadi inflamasi (keradangan) lokal.  Saat luka mikro itu menyembuh kita mendapatkan massa otot dan kekuatan. Fase penyembuhan microtears pasca inflamasi memerlukan waktu 24-48 jam pasca latihan otot optimal.

Bagaimana orang tua bisa mulai berolahraga dengan aman? Mulailah secara bertahap untuk memberi tubuh kita waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas latihan baru. Bisa dicoba dengan aktivitas jangka pendek, intensitas rendah selama beberapa minggu. Berusaha membuat rutinitas fisik hingga sekitar 30 menit setiap hari.

Jika tidak sanggup, bahkan beberapa menit aktivitas saja sudah mendatangkan manfaat ketika kita berusaha memulai. Selalu biasakan untuk memulai dengan pemanasan yang cukup dan tak lupa pendinginan sesudah latihan inti. Bagi lansia dengan gangguan keseimbangan penting untuk memperhatikan sekitar, apakah ada benda yang membahayakan. Lantai licin dan barang-barang yang bisa mencederai sebaiknya disingkirkan.

Minumlah air sebelum, selama, dan setelah sesi latihan bahkan jika tidak merasa haus. Tidak lupa berilah dukungan terhadap gaya hidup sehat yang dipilih oleh lansia kita. Dukungan dalam bentuk apresiasi, pujian, dan menjadi number one supporter amat bermakna sebagai placebo effect bagi lansia kita untuk mencapai sekali lagi, longevity dan wellbeing. [T]

Sumber :

  • Srikanthan, P., Karlamangla,AS. 2014. Muscle Mass Index As a Predictor of Longevity in Older Adults. The American Journal of Medicine. 127(6) http://dx.doi.org/10.1016/j.amjmed.2014.02.007
  • Batsis, JA., Buscemi, S. Sarcopenia. 2011. Sarcopenic Obesity and Insulin Resistance in Medical Complications of Type 2 Diabetes. http://dx.doi.org/10.5772/22008
Dokter Arya: Kesehatan, Bukan Hanya Harus Dijaga, Tapi Juga Harus Ditulis
Tags: gaya hidup sehatkesehatanlansiaLina Kameliaotot
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

Next Post

Pilkada Serentak, Harapan dan Tantangan Rakyat Pemilih

Putu Lina Kamelia

Putu Lina Kamelia

Luh Putu Lina Kamelia, atau dengan happy bisa dipanggil Lina atau Putu Lina. Penyuka puisi dan berbagai genre tulisan sejak kecil. Kegemarannya terhadap buku sama hebatnya dengan kecintaannya terhadap musik dan menyanyi. Ia yang selalu bangga menjadi wanita biasa ini sehari-hari, mengisi waktu luang (menurutnya) sebagai dokter spesialis neurologi di RSUD Kabupaten Buleleng, tempat kerja yang merupakan ‘dream come true’ baginya. Di waktu luang lainnya, dengan senang hati ia mengajar, menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Undiksha. Keinginan terbesarnya untuk berbagi informasi tentang healthy life style, kesehatan secara holistik maupun tingkah polah manusia dari perspektif neurosains menghantarkannya untuk menekuni lagi hobi lama yang terpendam selama belasan tahun yaitu, menulis. Wanita pemuja Rumi dan Maya Angelou ini selalu meyakini bahwa selayaknya wanita dapat menerima dan mencintai diri sendiri dahulu kemudian menularkan kecintaan itu pada orang lain. “Falling in love with your ownself first then spreading the love and taking care of others!”

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Pilkada Serentak, Harapan dan Tantangan Rakyat Pemilih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co