22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tantangan dan Tips Menjadi Pemimpin Perempuan di Era Society 5.0

Pipit Kusniati by Pipit Kusniati
March 25, 2024
in Esai
Tantangan dan Tips Menjadi Pemimpin Perempuan di Era Society 5.0

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

DI era Society 5.0, peran perempuan menjadi semakin penting dan harus diperluas. Society 5.0 adalah konsep yang menggabungkan teknologi digital dan fisik untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, lebih berkelanjutan, dan lebih inklusif. Oleh karena itu, perempuan harus terwakili dalam politik dan pengambilan keputusan, baik dalam ranah publik maupun domestik—untuk mencapai tujuan ini.

Dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi, peran perempuan di ruang intelektual berdasarkan pendidikan maupun dalam luar kerja juga semakin meningkat. Namun, perempuan masih menghadapi banyak tantangan untuk memasuki posisi manajerial.

Data menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi konflik akibat dari perbedaan pendapat, atau akibat dari tidak adanya suport women dan tidak jarang karena adanya relasi kuasa di dalamnya. Hal itu memang kerap terjadi di ranah pendidikan, seperti organisasi inter maupun ekstra kampus.

Selain dari pada itu, perbedaan gender dalam gaji, kemajuan, dan peluang karir di berbagai bidang dalam ruang kerja juga masih terdapat kesenjangan. Hal ini menunjukkan masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap perempuan yang perlu diubah dan dihilangkan.

Perempuan harus diberi kesempatan dan kebebasan yang sama dalam berpendapat—dan dalam hal mengimpikan dan diimpikan menjadi seorang pemimpin. Sebagai perempuan, kita harus mampu melihat potensi diri kita berdasarkan pengetahuan maupun pengalaman. Sebab untuk memantaskan diri menjadi seorang pemimpin bukan hanya dipersiapkan dalam waktu yang singkat, namun dalam jangka waktu yang lama.

Bukan karena ingin merasa diri lebih, tetapi tanggung jawab menjadi seorang pemimpin itu sangatlah besar, bukan sekadar harus bisa menaklukkan hati saja, namun menjadi seorang pemimpin harus multitalent, siap siaga dalam bentuk intelektual dan kerja nyata yang cerdas, yang mampu mengayomi dan menjadikan orang yang memandang termotivasi akan hal yang dicapai.

Selain kesempatan untuk mengembangkan potensi diri, perempuan juga harus diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memajukan pencapaian dan karir mereka dan mencapai posisi kepemimpinan tanpa memandang latar belakang yang menjadi batasan untuk bermimpi.

Namun, perempuan tidak harus menunggu pengakuan dan kesempatan. Perempuan bisa menjadi pemimpin dengan membangun karir yang solid dan mengembangkan keterampilan kepemimpinannya sendiri.

Di era Society 5.0 yang semakin maju dan kompleks, peran pemimpin perempuan menjadi semakin penting. Perempuan memiliki peluang besar untuk memimpin dan membawa perubahan positif di berbagai sektor, mulai dari politik hingga bisnis.

Namun, perempuan terus menghadapi stigma dan diskriminasi dari kalangan mereka sendiri, yaitu perempuan, baik dalam ruang lingkup apapun dan di berbagai lapisan masyarakat, termasuk posisi kepemimpinan, hingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang tidak sehat, seperti “soal kriteria bisa menyusul dan siapa yang lebih dekat, siapa yang berasal dari kalangan kami maka itu yang pantas, bukan tentang siapa yang mempunyai potensi, pengalaman, serta memenuhi kriteria.”

Pemikiran seperti itu akan menimbulkan konflik dari pihak-pihak tertentu dengan adanya primodial yang melahirkan cara-cara kotor hingga cara-cara yang inskonstitusional untuk mencapai suatu tujuan yang primodial. Pemimpin yang lahir dari inskonstitusional akan membentuk kader-kader yang menganggap aturan mudah dilanggar sesuai dengan arahan dan relasi belaka.

Seperti kita ketahui bersama bahwa seorang pemimpin bukan hanya sekadar mampu mengayomi, namun harus mampu menerapkan dan memiliki jiwa netralitas dalam menjalankan amanah yang di berikan, baik dalam bentuk apapun.

Berbicara tentang pemimpin perempuan, baik dalam ruang lingkup organisasi maupun ruang kerja, sebenarnya ruang lingkup organisasi adalah tempat di mana kepemimpinan kita dilatih dan melakukan segala hal dengan suka rela. Hal ini berbanding terbalik dengan kepemimpinan kita dalam ruang lingkup kerja.

Sehingga, untuk menjadi pemimpin perempuan yang sukses di era Society 5.0, ada beberapa inspirasi dan tips yang bisa dijadikan pedoman. Pertama, pentingnya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memimpin suatu lembaga dan lain sebagainya. Hal ini berpengaruh untuk menyukseskan kinerja-kinerja dengan adanya pengalaman yang melekat walau tanpa adanya suatu yang terikat.

Kemudian, penting untuk membangun kepercayaan diri dan keyakinan pada keterampilan kepemimpinan. Terkadang, perempuan cenderung meragukan diri mereka sendiri dan merasa kurang percaya diri saat membuat keputusan atau memimpin tim. Itulah mengapa penting untuk mengambil risiko dan menantang diri sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

Kedua, perempuan perlu berjejaring dan bekerja dengan orang-orang yang memiliki visi dan nilai yang sama. Jaringan dapat menciptakan peluang dan inspirasi untuk kemajuan karir dan menciptakan perubahan positif dalam kader dan masyarakat. Bekerja sama juga dapat membantu perempuan membangun tim yang kuat dan beragam yang dapat membantu mencapai tujuan bersama.

Ketiga, perempuan harus belajar memimpin dengan empati dan kebijaksanaan. Kepemimpinan yang baik tidak hanya berarti kemampuan untuk membuat keputusan strategis, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan menghormati sudut pandang orang lain. Dengan memimpin dengan empati, perempuan dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan memotivasi tim untuk bekerja lebih baik.

Keempat, perempuan harus terus belajar dan meningkatkan keterampilannya. Masyarakat 5.0 adalah zaman yang sangat dinamis dan terus berubah, sehingga para pemimpin perempuan harus rutin memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Ada banyak sumber daya seperti seminar, lokakarya, dan kursus online.

Terakhir, perempuan harus berjuang untuk mencapai kesetaraan gender dan mengatasi diskriminasi yang ada. Meskipun banyak kemajuan telah dibuat di bidang kesetaraan gender, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menghapuskan diskriminasi dan memastikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk maju dalam karir dan posisi kepemimpinan.

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, seorang pemimpin perempuan harus mampu menyeimbangkan peran dan tanggung jawab antara keluarga dan karirnya. Dalam hal ini, penting untuk membangun jaringan pendukung yang dapat membantu mengatasi tantangan tersebut. Keluarga, pasangan, dan teman dapat memberikan dukungan moral dan praktis yang sangat dibutuhkan dalam karier perempuan.

Pemimpin perempuan yang sukses memiliki kualifikasi dan keterampilan yang diperlukan untuk memimpin. Perempuan dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan seperti kemampuan berkomunikasi dengan baik, memimpin secara etis, dan memotivasi tim. Perempuan juga harus memiliki keterampilan teknis yang baik, tentang pengetahuan teknologi dan keterampilan pengambilan keputusan berbasis data.

Mengutamakan pendidikan dan pengembangan diri. Pendidikan dan pengembangan diri sangat penting untuk menjadi pemimpin perempuan yang sukses. Pendidikan membuka pintu untuk peluang karir yang lebih baik dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan.

Selain itu, pengembangan diri seperti membaca buku, mengikuti kursus pelatihan dan konferensi dapat membantu pemimpin perempuan mengembangkan keterampilan baru.

Penting untuk diingat bahwa menjadi pemimpin perempuan tidak selalu mudah, terutama di lingkungan yang didominasi laki-laki. Namun, dengan keterampilan dan kualifikasi yang diperlukan, serta sikap positif dan berani mengambil risiko, pemimpin perempuan dapat mengatasi tantangan dan berkembang dalam karir mereka.

Penting juga untuk memperhatikan, misalnya, kesetaraan dan keadilan gender dalam karir dan membangun jaringan yang kuat dan saling mendukung dengan perempuan lain. Hal ini memungkinkan para pemimpin perempuan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mempromosikan kesetaraan gender.

Dengan semakin majunya era Society 5.0, pemimpin perempuan harus terus berbenah, mengembangkan keterampilan baru dan belajar dari kesalahan. Dengan mempertahankan sikap positif, pemimpin perempuan dapat berhasil dalam karirnya dan menciptakan perubahan positif di komunitasnya.[T]

Literasi Digital Nasional: Perempuan Bisa Apa?
Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan
Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji
Sosok-sosok Kartini Buleleng, Dari Segala Lini Menebar Inspirasi Bagi Perempuan Buleleng
Tags: Era Society 5.0kesetaraan gederpemimpinPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggagas Pariwisata di Ibu Kota Negara

Next Post

Cerita dari Jalan Raya Sisi Hutan Bali Barat: Hiburan Monyet dan Pahlawan Jalanan

Pipit Kusniati

Pipit Kusniati

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Mataram. KOHATI Mataram, Duta Kesehatan Mental Indonesia NTB 2023 dan Miss Beauty Indonesia NTB 2023

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita dari Jalan Raya Sisi Hutan Bali Barat: Hiburan Monyet dan Pahlawan Jalanan

Cerita dari Jalan Raya Sisi Hutan Bali Barat: Hiburan Monyet dan Pahlawan Jalanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co