24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Mang Tri Ray by Mang Tri Ray
March 12, 2024
in Esai
Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Pelatihan Metode Suzuki. Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

KALI pertama saya mengenal Metode Suzuki ketika menemukan halaman instagram Bumi Purnati yang memposting kegiatan pelatihan di Kebun Seni Jampang Purnati pada pertengahan tahu 2022. Pelatihan itu adalah pelatihan Metode Suzuki.

Sebagai seseorang yang selalu penasaran terhadap hal baru, muncul rasa keingintahuan yang lebih dalam untuk mengenal metode ini. Pertama kalinya saya mengira metode ini diperuntukan untuk para penari, dilihat dari gestur-gestur yang hadir pada foto. Namun setelah pencarian dengan kata kunci Metode Suzuki saya baru mengetahui bahwa Metode Suzuki sebetulnya dikhususkan untuk aktor.

Mr. Tadashi Suzuki adalah orang yang pertama kali menciptakan dan mengembangkan metode ini.

Toga adalah salah satu pedesaan di Jepang yang mulai ditinggalkan oleh penduduknya yang urbanisasi ke kota, juga sebagai tempat dikembangkannya metode Suzuki oleh Mr. Suzuki.

Ketika membaca informasi ini mulai muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran saya. Diantara banyaknya orang yang berbondong-bondong ingin pindah ke kota, ada apa dengan Toga yang menjadi pilihan Mr. Suzuki?

Pikiran saya mulai mencoba menerka-nerka dan mengkaitkan dengan salah satu bagian pelatihan pada Metode Suzuki yaitu stomping yang saya dapatkan beberapa hari lalu. Gerakan kaki pada stomping dan kuncian perut yang sering kali diimajinasikan sebagai pusat gravitasi, mengingatkan saya pada gerak kaki malpal pada tari Bali.

Keberadaan kultur pertanian di Bali dianggap sebagai awal munculnya gerak malpal. Saya rasa bahwa Toga juga dekat dengan kultur pertanian sehingga pada metode Suzuki selalu ditekankan pada pendekatan terhadap gravitasi dan tanah.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Pelatihan metode Suzuki yang diselenggarakan di Bali Purnati pada tanggal 1 sampai 12 Februari 2024 merupakan awal pertemuan saya secara langsung dengan metode Suzuki. Tentunya saya sangat berterimakasih kepada Bu Restu selaku direktur artistik Bumi Purnati yang menyelenggarakan pelatihan ini sehingga cita-cita untuk mengikuti Metode Suzuki dapat tercapai. Juga terima kasih kepada Ms. Aki, salah satu aktor kepercayaan Mr. Suzuki yang dipercaya sebagai instruktur pada pelatihan kali ini.

Walaupun sempat membaca dan menonton beberapa video Metode Suzuki di media sosial, tetap saja tubuh saya merasa kaget dan penuh dengan tekanan khsusnya pada torso. Kebiasaan penari Bali dengan adanya ketegangan pada seluruh tubuh membuat saya agak susah ketika pertama kalinya berhapan dengan bagian per bagian.

Tetapi pada bagian stomping kaki merasa kenal dan dekat dengan setiap geraknya. Namun tetap saja hingga pertengahan latihan Ms. Aki selalu mengingatkan bahwa tubuh bagian atas saya selalu tegang.

“Mang Tri, your upper body still tense,” ujar Ms. Aki setiap saat.

Saya mengira kejaran Metode Suzuki selalu mengejar bentuk, ternyata ada yang lebih penting dari apa yang saya kira.

Setiap jam 8 pagi selama 12 hari tubuh selalu menghirup udara segar Bali Purnati dan bertemu teman-teman yang ikut serta dalam pelatihan. Satu kali kami diajak untuk berpetualang mengeksplor persawahan dekat Bali Purnati, seketika teringat kembali ketika saya kecil dulu. Menginjak tanah sawah, menginjak jerami yang semakin hancur membuat pikiran saya tertuju kembali pada pelatihan Metode Suzuki yang saya lakukan pada saat itu.

Sembari berjalan dan juga menceritakan kenangan di sawah, pertanyaan-pertanyaan mulai berkeliling di dalam pikiran. Memasuki tempat latihan selalu teringat trauma tubuh ketika latihan hari sebelumnya. Di hari itu juga pertama kalinya dikenalkan bagian basic pada yang terdapat pose berjongkok pada pertengahan bagiannya. Pikiran saya kembali tertuju pada kebiasaan masyarakat Bali dalam berjongkok yang juga diadopsi pada metode ini.

Mengadopsi Tradisi Tubuh

Tampaknya dalam Metode Suzuki setiap gesture dan pose yang ditunjukan dalam pelatihan keaktorannya selalu lahir dari kebiasaan dan pengalaman empiris Mr. Suzuki. Selain posisi berjongkok, ada salah satu bagian walking yang ketika mendengar penjelasan dari Ms. Aki tiba-tiba saya tertegun dan terdiam. Waniashi adalah bagian walking yang saya maksud. Ternyata Mr. Suzuki terinspirasi dari gerakan kaki tari Kathakali India. Banyak hal-hal sederhana sebetulnya muncul dari setiap pemilihan sumber gerak dalam metode ini.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Tiga hal penting dalam metode ini juga mengingatkan saya dalam teori-teori gerak kepenarian Bali yang biasa kami kenal dengan sebutan Ngunda Bayu. Dalam Metode Suzuki kami dikenalkan dengan 3 hal yang mesti diperhatikan dalam pergerakan, breathing (napas), centre of gravity (kundalini) dan energi. Walaupun masih terasa sulit dalam membiasakan hal-hal di atas itu, namun saya merasa sangat dekat sekali dengan penggunaan 3 hal itu dalam bergerak.

Sesekali Ms. Aki selalu mengingatkan kesadaran konstanitas pelvis/pinggul sebagai centre of gravity. Melihat Ms. Aki bergerak dengan kesadaran ini membuat napas saya juga ikut terdiam dan tertahan selama beberapa detik. Saya merasa diingatkan kembali terhadap kesadaran napas dan fokus dalam bergerak yang saat ini sering kali saya abaikan.

“Do not broke your air, stay slowly, keep your centre,” ujar Ms. Aki.

Kalimat-kalimat ini telah merasuk ke pikiran saya bak wahana kuda putra setiap masuk ke ruang latihan. Bunyi helaan napas dan perasaan menjaga keseimbangan membuat keringat mengucur deras. Sepertinya hal ini juga dirasakan teman-teman lain.

Kebiasaan menaruh fokus juga jadi salah satu hal yang membuat saya mulai sadar kembali dalam kejelasan maksud dan keinginan pikiran dalam mewujudkan sesuatu. Memiliki fokus yang jelas ternyata akan memudahkan penonton dalam mencoba untuk mengerti maksud apa yang kita tawarkan ketika berada di atas panggung.

Seperti yang beberapa kali diterangkan diatas keberadaan lingkungan sekitar membuat Metode Suzuki tumbuh dan berkembang hingga saat ini.

“Aku lho jujur aja terkejut ternyata sekarang ini cara menaikkan kaki saat presley sangat berbeda dengan apa yang aku dapatkan dulu,” sahut Mas Jamal seusai pelatihan pagi.  Pernyataan ini juga disetujui oleh Bang Wahyu yang sempat datang ke Toga untuk mengikuti pelatihan selama dua minggu.

Ms. Aki menyebutkan bahwa metode ini tidak akan pernah ada habisnya. Dia akan selalu berkembang selama orang-orang baru masuk ke dalamnya dan mempelajari metode ini secara intens. Penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan demi mencapai kesempurnaan yang mungkin tak akan bisa diraih.

Trauma dan Penyembuhan

Celotehan selalu muncul ketika pagi hari kami mulai berkumpul untuk mengambil sarapan di paviliun. Badan sakit, telapak kaki kebas, pada keras, perut sakit, telah jadi lauk untuk sarapan kami di pagi hari.

“Lamun aku dapet denger lagu stomping pasti selalu badan aku trauma gati,” ujar Abu dalam bahasa Sasak dicampur bahasa Indonesia. Tanpa menunggu ia selesai bicara saya pun mengiyakan pernyataan ini.

Seperti gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang dirasakan para militer sehabis pelatihan perang saya mulai merasakan trauma-trauma selama hari-hari pelatihan berlangsung. Mendengar lagu Stomping, mendengar lagu Presley, menanggapi setiap arahan Ms. Aki telah menjadi kebiasaan baru pada tubuh yang menimbulkan pergerakan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bergerak cepat, selalu tanggap, tidak ada kata lelet sepertinya mulai merasuk dalam kebiasaan tubuh saya di luar jadwal latihan.

Proses pelatihan Metode Suzuki di areal persawahan | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Ada salah satu kejadian unik yang terjadi dalam kehidupan saya selama 12 hari pelatihan di luar jam latihan. Malam hari setelah sesi nobar (nonton bareng) saya datang ke kampus ISI untuk menghadiri latihan bersama teman-teman kampus.

 “Ayok latihan!” teriak salah satu dosen. Secara tiba-tiba tubuh saya sontak berdiri, berlari ke ruang latihan dan mengambil sikap netral mata terfokus pada Metode Suzuki.

Pikiran saya mulai bertanya, “Ini kenapa ya teman-teman gak ada yang berdiri?”

Ah ternyata saya berada di kampus ISI. Kebiasaan buruk untuk lelet, malas dan selalu mengundur waktu di sekeliling saya ternyata telah menjadi suatu hal yang menubuh dan seolah-olah dihalalkan. Membandingkan dengan suasana latihan pagi dan siang hari di Bali Purnati membuat saya tersadar akan pentingnya menghargai waktu dan sesuatu yang akan datang.

Setelah saya pikir ulang sepertinya trauma-trauma ini bukan trauma yang konvensional tapi trauma yang membawa saya pada kebiasaan hidup yang lebih baik.

Saya juga merasa lama-kelamaan tubuh saya diajak untuk menyadari ketidakseimbangan yang terjadi. Halnya fisioterapi yang juga dirasakan Mas Jamal, tubuh saya lambat laun diajak menyembuhkan bentuknya secara mandiri. Hal ini dimulai dari kebiasaan fokus pada satu titik.

Ada apa dengan fokus dan apa hubungannya dengan penyembuhan tubuh?

Ketika terfokus pada satu titik saya dapat merasakan cerminan tubuh saya di depan. Mencoba untuk menyadari setiap aliran darah yang mengalir dan bentuk jasmani tubuh yang kurang presisi. Saya memiliki kebiasaan kepala yang dominan miring ke arah kiri. Namun setiap pelatihan Metode Suzuki saya selalu teringat dan terbayang akan kepala saya yang harus lebih disadari untuk agak dimiringkan ke arah kanan.

Nampaknya selain capaian ketahanan tubuh, pembentukan vokal dan napas, keberadaan tubuh yang presisi secara jasmani telah menjadi satu bonus yang diperoleh oleh individu yang melakukan pelatihan ini.

Saya diajak untuk kembali menyadari hal-hal terdekat diantara ruang tubuh saya sendiri. Kesadaran bernapas, fokus, pijakan kaki, menjaga angin dan banyak lagi yang tentunya menyebabkan perubahan besar dalam pribadi saya.

Menyadari keberadaan bumi sebagai tempat untuk berpijak dalam Metode Suzuki membuat saya mengingat kembali tentang kelahiran, kehidupan dan kematian. Saya selalu lupa dengan Ibu Pertiwi karena selalu terlena akan keinginan untuk memiliki tubuh yang ringan dalam capaian kemampuan untuk terbang bak penari ballet yang mencoba untuk menjadi dewa-dewi pada masa renaissance.

Banyak hal yang tidak dapat saya sebutkan sebetulnya mengubah pola hidup saya secara jasmani dan rohani ketika mengikuti pelatihan Metode Suzuki di Bali Purnati.

Jika ditanya, apa saya akan ikut lagi jikalau diadakan pelatihan metode ini kembali? Ahhh tentunya saya akan menjad i pendaftar pertama. [T]

Penestanan 2024

Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Memetakan Arah dan Membangun Seni Kontemporer di Bali
Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi
Tags: aktor teaterapresiasi seniJepangmetode suzukiseni taritari bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Menarik dari Buku “Kala Tattwa”  Karya Drs I Wayan Dunia

Next Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Mang Tri Ray

Mang Tri Ray

Bernama lengkap I Komang Tri Ray Dewantara. Penari, koreografer, dan pengajar tari

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co