14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Mang Tri Ray by Mang Tri Ray
March 12, 2024
in Esai
Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Pelatihan Metode Suzuki. Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

KALI pertama saya mengenal Metode Suzuki ketika menemukan halaman instagram Bumi Purnati yang memposting kegiatan pelatihan di Kebun Seni Jampang Purnati pada pertengahan tahu 2022. Pelatihan itu adalah pelatihan Metode Suzuki.

Sebagai seseorang yang selalu penasaran terhadap hal baru, muncul rasa keingintahuan yang lebih dalam untuk mengenal metode ini. Pertama kalinya saya mengira metode ini diperuntukan untuk para penari, dilihat dari gestur-gestur yang hadir pada foto. Namun setelah pencarian dengan kata kunci Metode Suzuki saya baru mengetahui bahwa Metode Suzuki sebetulnya dikhususkan untuk aktor.

Mr. Tadashi Suzuki adalah orang yang pertama kali menciptakan dan mengembangkan metode ini.

Toga adalah salah satu pedesaan di Jepang yang mulai ditinggalkan oleh penduduknya yang urbanisasi ke kota, juga sebagai tempat dikembangkannya metode Suzuki oleh Mr. Suzuki.

Ketika membaca informasi ini mulai muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran saya. Diantara banyaknya orang yang berbondong-bondong ingin pindah ke kota, ada apa dengan Toga yang menjadi pilihan Mr. Suzuki?

Pikiran saya mulai mencoba menerka-nerka dan mengkaitkan dengan salah satu bagian pelatihan pada Metode Suzuki yaitu stomping yang saya dapatkan beberapa hari lalu. Gerakan kaki pada stomping dan kuncian perut yang sering kali diimajinasikan sebagai pusat gravitasi, mengingatkan saya pada gerak kaki malpal pada tari Bali.

Keberadaan kultur pertanian di Bali dianggap sebagai awal munculnya gerak malpal. Saya rasa bahwa Toga juga dekat dengan kultur pertanian sehingga pada metode Suzuki selalu ditekankan pada pendekatan terhadap gravitasi dan tanah.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Pelatihan metode Suzuki yang diselenggarakan di Bali Purnati pada tanggal 1 sampai 12 Februari 2024 merupakan awal pertemuan saya secara langsung dengan metode Suzuki. Tentunya saya sangat berterimakasih kepada Bu Restu selaku direktur artistik Bumi Purnati yang menyelenggarakan pelatihan ini sehingga cita-cita untuk mengikuti Metode Suzuki dapat tercapai. Juga terima kasih kepada Ms. Aki, salah satu aktor kepercayaan Mr. Suzuki yang dipercaya sebagai instruktur pada pelatihan kali ini.

Walaupun sempat membaca dan menonton beberapa video Metode Suzuki di media sosial, tetap saja tubuh saya merasa kaget dan penuh dengan tekanan khsusnya pada torso. Kebiasaan penari Bali dengan adanya ketegangan pada seluruh tubuh membuat saya agak susah ketika pertama kalinya berhapan dengan bagian per bagian.

Tetapi pada bagian stomping kaki merasa kenal dan dekat dengan setiap geraknya. Namun tetap saja hingga pertengahan latihan Ms. Aki selalu mengingatkan bahwa tubuh bagian atas saya selalu tegang.

“Mang Tri, your upper body still tense,” ujar Ms. Aki setiap saat.

Saya mengira kejaran Metode Suzuki selalu mengejar bentuk, ternyata ada yang lebih penting dari apa yang saya kira.

Setiap jam 8 pagi selama 12 hari tubuh selalu menghirup udara segar Bali Purnati dan bertemu teman-teman yang ikut serta dalam pelatihan. Satu kali kami diajak untuk berpetualang mengeksplor persawahan dekat Bali Purnati, seketika teringat kembali ketika saya kecil dulu. Menginjak tanah sawah, menginjak jerami yang semakin hancur membuat pikiran saya tertuju kembali pada pelatihan Metode Suzuki yang saya lakukan pada saat itu.

Sembari berjalan dan juga menceritakan kenangan di sawah, pertanyaan-pertanyaan mulai berkeliling di dalam pikiran. Memasuki tempat latihan selalu teringat trauma tubuh ketika latihan hari sebelumnya. Di hari itu juga pertama kalinya dikenalkan bagian basic pada yang terdapat pose berjongkok pada pertengahan bagiannya. Pikiran saya kembali tertuju pada kebiasaan masyarakat Bali dalam berjongkok yang juga diadopsi pada metode ini.

Mengadopsi Tradisi Tubuh

Tampaknya dalam Metode Suzuki setiap gesture dan pose yang ditunjukan dalam pelatihan keaktorannya selalu lahir dari kebiasaan dan pengalaman empiris Mr. Suzuki. Selain posisi berjongkok, ada salah satu bagian walking yang ketika mendengar penjelasan dari Ms. Aki tiba-tiba saya tertegun dan terdiam. Waniashi adalah bagian walking yang saya maksud. Ternyata Mr. Suzuki terinspirasi dari gerakan kaki tari Kathakali India. Banyak hal-hal sederhana sebetulnya muncul dari setiap pemilihan sumber gerak dalam metode ini.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Tiga hal penting dalam metode ini juga mengingatkan saya dalam teori-teori gerak kepenarian Bali yang biasa kami kenal dengan sebutan Ngunda Bayu. Dalam Metode Suzuki kami dikenalkan dengan 3 hal yang mesti diperhatikan dalam pergerakan, breathing (napas), centre of gravity (kundalini) dan energi. Walaupun masih terasa sulit dalam membiasakan hal-hal di atas itu, namun saya merasa sangat dekat sekali dengan penggunaan 3 hal itu dalam bergerak.

Sesekali Ms. Aki selalu mengingatkan kesadaran konstanitas pelvis/pinggul sebagai centre of gravity. Melihat Ms. Aki bergerak dengan kesadaran ini membuat napas saya juga ikut terdiam dan tertahan selama beberapa detik. Saya merasa diingatkan kembali terhadap kesadaran napas dan fokus dalam bergerak yang saat ini sering kali saya abaikan.

“Do not broke your air, stay slowly, keep your centre,” ujar Ms. Aki.

Kalimat-kalimat ini telah merasuk ke pikiran saya bak wahana kuda putra setiap masuk ke ruang latihan. Bunyi helaan napas dan perasaan menjaga keseimbangan membuat keringat mengucur deras. Sepertinya hal ini juga dirasakan teman-teman lain.

Kebiasaan menaruh fokus juga jadi salah satu hal yang membuat saya mulai sadar kembali dalam kejelasan maksud dan keinginan pikiran dalam mewujudkan sesuatu. Memiliki fokus yang jelas ternyata akan memudahkan penonton dalam mencoba untuk mengerti maksud apa yang kita tawarkan ketika berada di atas panggung.

Seperti yang beberapa kali diterangkan diatas keberadaan lingkungan sekitar membuat Metode Suzuki tumbuh dan berkembang hingga saat ini.

“Aku lho jujur aja terkejut ternyata sekarang ini cara menaikkan kaki saat presley sangat berbeda dengan apa yang aku dapatkan dulu,” sahut Mas Jamal seusai pelatihan pagi.  Pernyataan ini juga disetujui oleh Bang Wahyu yang sempat datang ke Toga untuk mengikuti pelatihan selama dua minggu.

Ms. Aki menyebutkan bahwa metode ini tidak akan pernah ada habisnya. Dia akan selalu berkembang selama orang-orang baru masuk ke dalamnya dan mempelajari metode ini secara intens. Penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan demi mencapai kesempurnaan yang mungkin tak akan bisa diraih.

Trauma dan Penyembuhan

Celotehan selalu muncul ketika pagi hari kami mulai berkumpul untuk mengambil sarapan di paviliun. Badan sakit, telapak kaki kebas, pada keras, perut sakit, telah jadi lauk untuk sarapan kami di pagi hari.

“Lamun aku dapet denger lagu stomping pasti selalu badan aku trauma gati,” ujar Abu dalam bahasa Sasak dicampur bahasa Indonesia. Tanpa menunggu ia selesai bicara saya pun mengiyakan pernyataan ini.

Seperti gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang dirasakan para militer sehabis pelatihan perang saya mulai merasakan trauma-trauma selama hari-hari pelatihan berlangsung. Mendengar lagu Stomping, mendengar lagu Presley, menanggapi setiap arahan Ms. Aki telah menjadi kebiasaan baru pada tubuh yang menimbulkan pergerakan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bergerak cepat, selalu tanggap, tidak ada kata lelet sepertinya mulai merasuk dalam kebiasaan tubuh saya di luar jadwal latihan.

Proses pelatihan Metode Suzuki di areal persawahan | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Ada salah satu kejadian unik yang terjadi dalam kehidupan saya selama 12 hari pelatihan di luar jam latihan. Malam hari setelah sesi nobar (nonton bareng) saya datang ke kampus ISI untuk menghadiri latihan bersama teman-teman kampus.

 “Ayok latihan!” teriak salah satu dosen. Secara tiba-tiba tubuh saya sontak berdiri, berlari ke ruang latihan dan mengambil sikap netral mata terfokus pada Metode Suzuki.

Pikiran saya mulai bertanya, “Ini kenapa ya teman-teman gak ada yang berdiri?”

Ah ternyata saya berada di kampus ISI. Kebiasaan buruk untuk lelet, malas dan selalu mengundur waktu di sekeliling saya ternyata telah menjadi suatu hal yang menubuh dan seolah-olah dihalalkan. Membandingkan dengan suasana latihan pagi dan siang hari di Bali Purnati membuat saya tersadar akan pentingnya menghargai waktu dan sesuatu yang akan datang.

Setelah saya pikir ulang sepertinya trauma-trauma ini bukan trauma yang konvensional tapi trauma yang membawa saya pada kebiasaan hidup yang lebih baik.

Saya juga merasa lama-kelamaan tubuh saya diajak untuk menyadari ketidakseimbangan yang terjadi. Halnya fisioterapi yang juga dirasakan Mas Jamal, tubuh saya lambat laun diajak menyembuhkan bentuknya secara mandiri. Hal ini dimulai dari kebiasaan fokus pada satu titik.

Ada apa dengan fokus dan apa hubungannya dengan penyembuhan tubuh?

Ketika terfokus pada satu titik saya dapat merasakan cerminan tubuh saya di depan. Mencoba untuk menyadari setiap aliran darah yang mengalir dan bentuk jasmani tubuh yang kurang presisi. Saya memiliki kebiasaan kepala yang dominan miring ke arah kiri. Namun setiap pelatihan Metode Suzuki saya selalu teringat dan terbayang akan kepala saya yang harus lebih disadari untuk agak dimiringkan ke arah kanan.

Nampaknya selain capaian ketahanan tubuh, pembentukan vokal dan napas, keberadaan tubuh yang presisi secara jasmani telah menjadi satu bonus yang diperoleh oleh individu yang melakukan pelatihan ini.

Saya diajak untuk kembali menyadari hal-hal terdekat diantara ruang tubuh saya sendiri. Kesadaran bernapas, fokus, pijakan kaki, menjaga angin dan banyak lagi yang tentunya menyebabkan perubahan besar dalam pribadi saya.

Menyadari keberadaan bumi sebagai tempat untuk berpijak dalam Metode Suzuki membuat saya mengingat kembali tentang kelahiran, kehidupan dan kematian. Saya selalu lupa dengan Ibu Pertiwi karena selalu terlena akan keinginan untuk memiliki tubuh yang ringan dalam capaian kemampuan untuk terbang bak penari ballet yang mencoba untuk menjadi dewa-dewi pada masa renaissance.

Banyak hal yang tidak dapat saya sebutkan sebetulnya mengubah pola hidup saya secara jasmani dan rohani ketika mengikuti pelatihan Metode Suzuki di Bali Purnati.

Jika ditanya, apa saya akan ikut lagi jikalau diadakan pelatihan metode ini kembali? Ahhh tentunya saya akan menjad i pendaftar pertama. [T]

Penestanan 2024

Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Memetakan Arah dan Membangun Seni Kontemporer di Bali
Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi
Tags: aktor teaterapresiasi seniJepangmetode suzukiseni taritari bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Menarik dari Buku “Kala Tattwa”  Karya Drs I Wayan Dunia

Next Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Mang Tri Ray

Mang Tri Ray

Bernama lengkap I Komang Tri Ray Dewantara. Penari, koreografer, dan pengajar tari

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co