23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Mang Tri Ray by Mang Tri Ray
March 12, 2024
in Esai
Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Pelatihan Metode Suzuki. Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

KALI pertama saya mengenal Metode Suzuki ketika menemukan halaman instagram Bumi Purnati yang memposting kegiatan pelatihan di Kebun Seni Jampang Purnati pada pertengahan tahu 2022. Pelatihan itu adalah pelatihan Metode Suzuki.

Sebagai seseorang yang selalu penasaran terhadap hal baru, muncul rasa keingintahuan yang lebih dalam untuk mengenal metode ini. Pertama kalinya saya mengira metode ini diperuntukan untuk para penari, dilihat dari gestur-gestur yang hadir pada foto. Namun setelah pencarian dengan kata kunci Metode Suzuki saya baru mengetahui bahwa Metode Suzuki sebetulnya dikhususkan untuk aktor.

Mr. Tadashi Suzuki adalah orang yang pertama kali menciptakan dan mengembangkan metode ini.

Toga adalah salah satu pedesaan di Jepang yang mulai ditinggalkan oleh penduduknya yang urbanisasi ke kota, juga sebagai tempat dikembangkannya metode Suzuki oleh Mr. Suzuki.

Ketika membaca informasi ini mulai muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran saya. Diantara banyaknya orang yang berbondong-bondong ingin pindah ke kota, ada apa dengan Toga yang menjadi pilihan Mr. Suzuki?

Pikiran saya mulai mencoba menerka-nerka dan mengkaitkan dengan salah satu bagian pelatihan pada Metode Suzuki yaitu stomping yang saya dapatkan beberapa hari lalu. Gerakan kaki pada stomping dan kuncian perut yang sering kali diimajinasikan sebagai pusat gravitasi, mengingatkan saya pada gerak kaki malpal pada tari Bali.

Keberadaan kultur pertanian di Bali dianggap sebagai awal munculnya gerak malpal. Saya rasa bahwa Toga juga dekat dengan kultur pertanian sehingga pada metode Suzuki selalu ditekankan pada pendekatan terhadap gravitasi dan tanah.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Pelatihan metode Suzuki yang diselenggarakan di Bali Purnati pada tanggal 1 sampai 12 Februari 2024 merupakan awal pertemuan saya secara langsung dengan metode Suzuki. Tentunya saya sangat berterimakasih kepada Bu Restu selaku direktur artistik Bumi Purnati yang menyelenggarakan pelatihan ini sehingga cita-cita untuk mengikuti Metode Suzuki dapat tercapai. Juga terima kasih kepada Ms. Aki, salah satu aktor kepercayaan Mr. Suzuki yang dipercaya sebagai instruktur pada pelatihan kali ini.

Walaupun sempat membaca dan menonton beberapa video Metode Suzuki di media sosial, tetap saja tubuh saya merasa kaget dan penuh dengan tekanan khsusnya pada torso. Kebiasaan penari Bali dengan adanya ketegangan pada seluruh tubuh membuat saya agak susah ketika pertama kalinya berhapan dengan bagian per bagian.

Tetapi pada bagian stomping kaki merasa kenal dan dekat dengan setiap geraknya. Namun tetap saja hingga pertengahan latihan Ms. Aki selalu mengingatkan bahwa tubuh bagian atas saya selalu tegang.

“Mang Tri, your upper body still tense,” ujar Ms. Aki setiap saat.

Saya mengira kejaran Metode Suzuki selalu mengejar bentuk, ternyata ada yang lebih penting dari apa yang saya kira.

Setiap jam 8 pagi selama 12 hari tubuh selalu menghirup udara segar Bali Purnati dan bertemu teman-teman yang ikut serta dalam pelatihan. Satu kali kami diajak untuk berpetualang mengeksplor persawahan dekat Bali Purnati, seketika teringat kembali ketika saya kecil dulu. Menginjak tanah sawah, menginjak jerami yang semakin hancur membuat pikiran saya tertuju kembali pada pelatihan Metode Suzuki yang saya lakukan pada saat itu.

Sembari berjalan dan juga menceritakan kenangan di sawah, pertanyaan-pertanyaan mulai berkeliling di dalam pikiran. Memasuki tempat latihan selalu teringat trauma tubuh ketika latihan hari sebelumnya. Di hari itu juga pertama kalinya dikenalkan bagian basic pada yang terdapat pose berjongkok pada pertengahan bagiannya. Pikiran saya kembali tertuju pada kebiasaan masyarakat Bali dalam berjongkok yang juga diadopsi pada metode ini.

Mengadopsi Tradisi Tubuh

Tampaknya dalam Metode Suzuki setiap gesture dan pose yang ditunjukan dalam pelatihan keaktorannya selalu lahir dari kebiasaan dan pengalaman empiris Mr. Suzuki. Selain posisi berjongkok, ada salah satu bagian walking yang ketika mendengar penjelasan dari Ms. Aki tiba-tiba saya tertegun dan terdiam. Waniashi adalah bagian walking yang saya maksud. Ternyata Mr. Suzuki terinspirasi dari gerakan kaki tari Kathakali India. Banyak hal-hal sederhana sebetulnya muncul dari setiap pemilihan sumber gerak dalam metode ini.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Tiga hal penting dalam metode ini juga mengingatkan saya dalam teori-teori gerak kepenarian Bali yang biasa kami kenal dengan sebutan Ngunda Bayu. Dalam Metode Suzuki kami dikenalkan dengan 3 hal yang mesti diperhatikan dalam pergerakan, breathing (napas), centre of gravity (kundalini) dan energi. Walaupun masih terasa sulit dalam membiasakan hal-hal di atas itu, namun saya merasa sangat dekat sekali dengan penggunaan 3 hal itu dalam bergerak.

Sesekali Ms. Aki selalu mengingatkan kesadaran konstanitas pelvis/pinggul sebagai centre of gravity. Melihat Ms. Aki bergerak dengan kesadaran ini membuat napas saya juga ikut terdiam dan tertahan selama beberapa detik. Saya merasa diingatkan kembali terhadap kesadaran napas dan fokus dalam bergerak yang saat ini sering kali saya abaikan.

“Do not broke your air, stay slowly, keep your centre,” ujar Ms. Aki.

Kalimat-kalimat ini telah merasuk ke pikiran saya bak wahana kuda putra setiap masuk ke ruang latihan. Bunyi helaan napas dan perasaan menjaga keseimbangan membuat keringat mengucur deras. Sepertinya hal ini juga dirasakan teman-teman lain.

Kebiasaan menaruh fokus juga jadi salah satu hal yang membuat saya mulai sadar kembali dalam kejelasan maksud dan keinginan pikiran dalam mewujudkan sesuatu. Memiliki fokus yang jelas ternyata akan memudahkan penonton dalam mencoba untuk mengerti maksud apa yang kita tawarkan ketika berada di atas panggung.

Seperti yang beberapa kali diterangkan diatas keberadaan lingkungan sekitar membuat Metode Suzuki tumbuh dan berkembang hingga saat ini.

“Aku lho jujur aja terkejut ternyata sekarang ini cara menaikkan kaki saat presley sangat berbeda dengan apa yang aku dapatkan dulu,” sahut Mas Jamal seusai pelatihan pagi.  Pernyataan ini juga disetujui oleh Bang Wahyu yang sempat datang ke Toga untuk mengikuti pelatihan selama dua minggu.

Ms. Aki menyebutkan bahwa metode ini tidak akan pernah ada habisnya. Dia akan selalu berkembang selama orang-orang baru masuk ke dalamnya dan mempelajari metode ini secara intens. Penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan demi mencapai kesempurnaan yang mungkin tak akan bisa diraih.

Trauma dan Penyembuhan

Celotehan selalu muncul ketika pagi hari kami mulai berkumpul untuk mengambil sarapan di paviliun. Badan sakit, telapak kaki kebas, pada keras, perut sakit, telah jadi lauk untuk sarapan kami di pagi hari.

“Lamun aku dapet denger lagu stomping pasti selalu badan aku trauma gati,” ujar Abu dalam bahasa Sasak dicampur bahasa Indonesia. Tanpa menunggu ia selesai bicara saya pun mengiyakan pernyataan ini.

Seperti gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang dirasakan para militer sehabis pelatihan perang saya mulai merasakan trauma-trauma selama hari-hari pelatihan berlangsung. Mendengar lagu Stomping, mendengar lagu Presley, menanggapi setiap arahan Ms. Aki telah menjadi kebiasaan baru pada tubuh yang menimbulkan pergerakan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bergerak cepat, selalu tanggap, tidak ada kata lelet sepertinya mulai merasuk dalam kebiasaan tubuh saya di luar jadwal latihan.

Proses pelatihan Metode Suzuki di areal persawahan | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Ada salah satu kejadian unik yang terjadi dalam kehidupan saya selama 12 hari pelatihan di luar jam latihan. Malam hari setelah sesi nobar (nonton bareng) saya datang ke kampus ISI untuk menghadiri latihan bersama teman-teman kampus.

 “Ayok latihan!” teriak salah satu dosen. Secara tiba-tiba tubuh saya sontak berdiri, berlari ke ruang latihan dan mengambil sikap netral mata terfokus pada Metode Suzuki.

Pikiran saya mulai bertanya, “Ini kenapa ya teman-teman gak ada yang berdiri?”

Ah ternyata saya berada di kampus ISI. Kebiasaan buruk untuk lelet, malas dan selalu mengundur waktu di sekeliling saya ternyata telah menjadi suatu hal yang menubuh dan seolah-olah dihalalkan. Membandingkan dengan suasana latihan pagi dan siang hari di Bali Purnati membuat saya tersadar akan pentingnya menghargai waktu dan sesuatu yang akan datang.

Setelah saya pikir ulang sepertinya trauma-trauma ini bukan trauma yang konvensional tapi trauma yang membawa saya pada kebiasaan hidup yang lebih baik.

Saya juga merasa lama-kelamaan tubuh saya diajak untuk menyadari ketidakseimbangan yang terjadi. Halnya fisioterapi yang juga dirasakan Mas Jamal, tubuh saya lambat laun diajak menyembuhkan bentuknya secara mandiri. Hal ini dimulai dari kebiasaan fokus pada satu titik.

Ada apa dengan fokus dan apa hubungannya dengan penyembuhan tubuh?

Ketika terfokus pada satu titik saya dapat merasakan cerminan tubuh saya di depan. Mencoba untuk menyadari setiap aliran darah yang mengalir dan bentuk jasmani tubuh yang kurang presisi. Saya memiliki kebiasaan kepala yang dominan miring ke arah kiri. Namun setiap pelatihan Metode Suzuki saya selalu teringat dan terbayang akan kepala saya yang harus lebih disadari untuk agak dimiringkan ke arah kanan.

Nampaknya selain capaian ketahanan tubuh, pembentukan vokal dan napas, keberadaan tubuh yang presisi secara jasmani telah menjadi satu bonus yang diperoleh oleh individu yang melakukan pelatihan ini.

Saya diajak untuk kembali menyadari hal-hal terdekat diantara ruang tubuh saya sendiri. Kesadaran bernapas, fokus, pijakan kaki, menjaga angin dan banyak lagi yang tentunya menyebabkan perubahan besar dalam pribadi saya.

Menyadari keberadaan bumi sebagai tempat untuk berpijak dalam Metode Suzuki membuat saya mengingat kembali tentang kelahiran, kehidupan dan kematian. Saya selalu lupa dengan Ibu Pertiwi karena selalu terlena akan keinginan untuk memiliki tubuh yang ringan dalam capaian kemampuan untuk terbang bak penari ballet yang mencoba untuk menjadi dewa-dewi pada masa renaissance.

Banyak hal yang tidak dapat saya sebutkan sebetulnya mengubah pola hidup saya secara jasmani dan rohani ketika mengikuti pelatihan Metode Suzuki di Bali Purnati.

Jika ditanya, apa saya akan ikut lagi jikalau diadakan pelatihan metode ini kembali? Ahhh tentunya saya akan menjad i pendaftar pertama. [T]

Penestanan 2024

Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Memetakan Arah dan Membangun Seni Kontemporer di Bali
Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi
Tags: aktor teaterapresiasi seniJepangmetode suzukiseni taritari bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Menarik dari Buku “Kala Tattwa”  Karya Drs I Wayan Dunia

Next Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Mang Tri Ray

Mang Tri Ray

Bernama lengkap I Komang Tri Ray Dewantara. Penari, koreografer, dan pengajar tari

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co