14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Mang Tri Ray by Mang Tri Ray
March 12, 2024
in Esai
Kembalinya Kesadaran yang Telah Hilang : Catatan Pelatihan Metode Suzuki, Bali Purnati 2024

Pelatihan Metode Suzuki. Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

KALI pertama saya mengenal Metode Suzuki ketika menemukan halaman instagram Bumi Purnati yang memposting kegiatan pelatihan di Kebun Seni Jampang Purnati pada pertengahan tahu 2022. Pelatihan itu adalah pelatihan Metode Suzuki.

Sebagai seseorang yang selalu penasaran terhadap hal baru, muncul rasa keingintahuan yang lebih dalam untuk mengenal metode ini. Pertama kalinya saya mengira metode ini diperuntukan untuk para penari, dilihat dari gestur-gestur yang hadir pada foto. Namun setelah pencarian dengan kata kunci Metode Suzuki saya baru mengetahui bahwa Metode Suzuki sebetulnya dikhususkan untuk aktor.

Mr. Tadashi Suzuki adalah orang yang pertama kali menciptakan dan mengembangkan metode ini.

Toga adalah salah satu pedesaan di Jepang yang mulai ditinggalkan oleh penduduknya yang urbanisasi ke kota, juga sebagai tempat dikembangkannya metode Suzuki oleh Mr. Suzuki.

Ketika membaca informasi ini mulai muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran saya. Diantara banyaknya orang yang berbondong-bondong ingin pindah ke kota, ada apa dengan Toga yang menjadi pilihan Mr. Suzuki?

Pikiran saya mulai mencoba menerka-nerka dan mengkaitkan dengan salah satu bagian pelatihan pada Metode Suzuki yaitu stomping yang saya dapatkan beberapa hari lalu. Gerakan kaki pada stomping dan kuncian perut yang sering kali diimajinasikan sebagai pusat gravitasi, mengingatkan saya pada gerak kaki malpal pada tari Bali.

Keberadaan kultur pertanian di Bali dianggap sebagai awal munculnya gerak malpal. Saya rasa bahwa Toga juga dekat dengan kultur pertanian sehingga pada metode Suzuki selalu ditekankan pada pendekatan terhadap gravitasi dan tanah.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Pelatihan metode Suzuki yang diselenggarakan di Bali Purnati pada tanggal 1 sampai 12 Februari 2024 merupakan awal pertemuan saya secara langsung dengan metode Suzuki. Tentunya saya sangat berterimakasih kepada Bu Restu selaku direktur artistik Bumi Purnati yang menyelenggarakan pelatihan ini sehingga cita-cita untuk mengikuti Metode Suzuki dapat tercapai. Juga terima kasih kepada Ms. Aki, salah satu aktor kepercayaan Mr. Suzuki yang dipercaya sebagai instruktur pada pelatihan kali ini.

Walaupun sempat membaca dan menonton beberapa video Metode Suzuki di media sosial, tetap saja tubuh saya merasa kaget dan penuh dengan tekanan khsusnya pada torso. Kebiasaan penari Bali dengan adanya ketegangan pada seluruh tubuh membuat saya agak susah ketika pertama kalinya berhapan dengan bagian per bagian.

Tetapi pada bagian stomping kaki merasa kenal dan dekat dengan setiap geraknya. Namun tetap saja hingga pertengahan latihan Ms. Aki selalu mengingatkan bahwa tubuh bagian atas saya selalu tegang.

“Mang Tri, your upper body still tense,” ujar Ms. Aki setiap saat.

Saya mengira kejaran Metode Suzuki selalu mengejar bentuk, ternyata ada yang lebih penting dari apa yang saya kira.

Setiap jam 8 pagi selama 12 hari tubuh selalu menghirup udara segar Bali Purnati dan bertemu teman-teman yang ikut serta dalam pelatihan. Satu kali kami diajak untuk berpetualang mengeksplor persawahan dekat Bali Purnati, seketika teringat kembali ketika saya kecil dulu. Menginjak tanah sawah, menginjak jerami yang semakin hancur membuat pikiran saya tertuju kembali pada pelatihan Metode Suzuki yang saya lakukan pada saat itu.

Sembari berjalan dan juga menceritakan kenangan di sawah, pertanyaan-pertanyaan mulai berkeliling di dalam pikiran. Memasuki tempat latihan selalu teringat trauma tubuh ketika latihan hari sebelumnya. Di hari itu juga pertama kalinya dikenalkan bagian basic pada yang terdapat pose berjongkok pada pertengahan bagiannya. Pikiran saya kembali tertuju pada kebiasaan masyarakat Bali dalam berjongkok yang juga diadopsi pada metode ini.

Mengadopsi Tradisi Tubuh

Tampaknya dalam Metode Suzuki setiap gesture dan pose yang ditunjukan dalam pelatihan keaktorannya selalu lahir dari kebiasaan dan pengalaman empiris Mr. Suzuki. Selain posisi berjongkok, ada salah satu bagian walking yang ketika mendengar penjelasan dari Ms. Aki tiba-tiba saya tertegun dan terdiam. Waniashi adalah bagian walking yang saya maksud. Ternyata Mr. Suzuki terinspirasi dari gerakan kaki tari Kathakali India. Banyak hal-hal sederhana sebetulnya muncul dari setiap pemilihan sumber gerak dalam metode ini.

Pelatihan Metode Suzuki | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Tiga hal penting dalam metode ini juga mengingatkan saya dalam teori-teori gerak kepenarian Bali yang biasa kami kenal dengan sebutan Ngunda Bayu. Dalam Metode Suzuki kami dikenalkan dengan 3 hal yang mesti diperhatikan dalam pergerakan, breathing (napas), centre of gravity (kundalini) dan energi. Walaupun masih terasa sulit dalam membiasakan hal-hal di atas itu, namun saya merasa sangat dekat sekali dengan penggunaan 3 hal itu dalam bergerak.

Sesekali Ms. Aki selalu mengingatkan kesadaran konstanitas pelvis/pinggul sebagai centre of gravity. Melihat Ms. Aki bergerak dengan kesadaran ini membuat napas saya juga ikut terdiam dan tertahan selama beberapa detik. Saya merasa diingatkan kembali terhadap kesadaran napas dan fokus dalam bergerak yang saat ini sering kali saya abaikan.

“Do not broke your air, stay slowly, keep your centre,” ujar Ms. Aki.

Kalimat-kalimat ini telah merasuk ke pikiran saya bak wahana kuda putra setiap masuk ke ruang latihan. Bunyi helaan napas dan perasaan menjaga keseimbangan membuat keringat mengucur deras. Sepertinya hal ini juga dirasakan teman-teman lain.

Kebiasaan menaruh fokus juga jadi salah satu hal yang membuat saya mulai sadar kembali dalam kejelasan maksud dan keinginan pikiran dalam mewujudkan sesuatu. Memiliki fokus yang jelas ternyata akan memudahkan penonton dalam mencoba untuk mengerti maksud apa yang kita tawarkan ketika berada di atas panggung.

Seperti yang beberapa kali diterangkan diatas keberadaan lingkungan sekitar membuat Metode Suzuki tumbuh dan berkembang hingga saat ini.

“Aku lho jujur aja terkejut ternyata sekarang ini cara menaikkan kaki saat presley sangat berbeda dengan apa yang aku dapatkan dulu,” sahut Mas Jamal seusai pelatihan pagi.  Pernyataan ini juga disetujui oleh Bang Wahyu yang sempat datang ke Toga untuk mengikuti pelatihan selama dua minggu.

Ms. Aki menyebutkan bahwa metode ini tidak akan pernah ada habisnya. Dia akan selalu berkembang selama orang-orang baru masuk ke dalamnya dan mempelajari metode ini secara intens. Penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan demi mencapai kesempurnaan yang mungkin tak akan bisa diraih.

Trauma dan Penyembuhan

Celotehan selalu muncul ketika pagi hari kami mulai berkumpul untuk mengambil sarapan di paviliun. Badan sakit, telapak kaki kebas, pada keras, perut sakit, telah jadi lauk untuk sarapan kami di pagi hari.

“Lamun aku dapet denger lagu stomping pasti selalu badan aku trauma gati,” ujar Abu dalam bahasa Sasak dicampur bahasa Indonesia. Tanpa menunggu ia selesai bicara saya pun mengiyakan pernyataan ini.

Seperti gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang dirasakan para militer sehabis pelatihan perang saya mulai merasakan trauma-trauma selama hari-hari pelatihan berlangsung. Mendengar lagu Stomping, mendengar lagu Presley, menanggapi setiap arahan Ms. Aki telah menjadi kebiasaan baru pada tubuh yang menimbulkan pergerakan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bergerak cepat, selalu tanggap, tidak ada kata lelet sepertinya mulai merasuk dalam kebiasaan tubuh saya di luar jadwal latihan.

Proses pelatihan Metode Suzuki di areal persawahan | Dokumentasi media sosial Instagram Bali Purnati 2024

Ada salah satu kejadian unik yang terjadi dalam kehidupan saya selama 12 hari pelatihan di luar jam latihan. Malam hari setelah sesi nobar (nonton bareng) saya datang ke kampus ISI untuk menghadiri latihan bersama teman-teman kampus.

 “Ayok latihan!” teriak salah satu dosen. Secara tiba-tiba tubuh saya sontak berdiri, berlari ke ruang latihan dan mengambil sikap netral mata terfokus pada Metode Suzuki.

Pikiran saya mulai bertanya, “Ini kenapa ya teman-teman gak ada yang berdiri?”

Ah ternyata saya berada di kampus ISI. Kebiasaan buruk untuk lelet, malas dan selalu mengundur waktu di sekeliling saya ternyata telah menjadi suatu hal yang menubuh dan seolah-olah dihalalkan. Membandingkan dengan suasana latihan pagi dan siang hari di Bali Purnati membuat saya tersadar akan pentingnya menghargai waktu dan sesuatu yang akan datang.

Setelah saya pikir ulang sepertinya trauma-trauma ini bukan trauma yang konvensional tapi trauma yang membawa saya pada kebiasaan hidup yang lebih baik.

Saya juga merasa lama-kelamaan tubuh saya diajak untuk menyadari ketidakseimbangan yang terjadi. Halnya fisioterapi yang juga dirasakan Mas Jamal, tubuh saya lambat laun diajak menyembuhkan bentuknya secara mandiri. Hal ini dimulai dari kebiasaan fokus pada satu titik.

Ada apa dengan fokus dan apa hubungannya dengan penyembuhan tubuh?

Ketika terfokus pada satu titik saya dapat merasakan cerminan tubuh saya di depan. Mencoba untuk menyadari setiap aliran darah yang mengalir dan bentuk jasmani tubuh yang kurang presisi. Saya memiliki kebiasaan kepala yang dominan miring ke arah kiri. Namun setiap pelatihan Metode Suzuki saya selalu teringat dan terbayang akan kepala saya yang harus lebih disadari untuk agak dimiringkan ke arah kanan.

Nampaknya selain capaian ketahanan tubuh, pembentukan vokal dan napas, keberadaan tubuh yang presisi secara jasmani telah menjadi satu bonus yang diperoleh oleh individu yang melakukan pelatihan ini.

Saya diajak untuk kembali menyadari hal-hal terdekat diantara ruang tubuh saya sendiri. Kesadaran bernapas, fokus, pijakan kaki, menjaga angin dan banyak lagi yang tentunya menyebabkan perubahan besar dalam pribadi saya.

Menyadari keberadaan bumi sebagai tempat untuk berpijak dalam Metode Suzuki membuat saya mengingat kembali tentang kelahiran, kehidupan dan kematian. Saya selalu lupa dengan Ibu Pertiwi karena selalu terlena akan keinginan untuk memiliki tubuh yang ringan dalam capaian kemampuan untuk terbang bak penari ballet yang mencoba untuk menjadi dewa-dewi pada masa renaissance.

Banyak hal yang tidak dapat saya sebutkan sebetulnya mengubah pola hidup saya secara jasmani dan rohani ketika mengikuti pelatihan Metode Suzuki di Bali Purnati.

Jika ditanya, apa saya akan ikut lagi jikalau diadakan pelatihan metode ini kembali? Ahhh tentunya saya akan menjad i pendaftar pertama. [T]

Penestanan 2024

Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Memetakan Arah dan Membangun Seni Kontemporer di Bali
Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi
Tags: aktor teaterapresiasi seniJepangmetode suzukiseni taritari bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Menarik dari Buku “Kala Tattwa”  Karya Drs I Wayan Dunia

Next Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Mang Tri Ray

Mang Tri Ray

Bernama lengkap I Komang Tri Ray Dewantara. Penari, koreografer, dan pengajar tari

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co