14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Ujian, Tapi Bukankah PDIP di Bali Sudah Berkali-kali Menghadapi Ujian?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 15, 2024
in Esai
Ini Ujian, Tapi Bukankah PDIP di Bali Sudah Berkali-kali Menghadapi Ujian?

ilustrasi tatkala.co

“Kalau dilihat dari quick count itu ya jauh. Tetapi harus semangat, ini namanya ujian.” Begitu kata Wayan Koster, Ketua Tim Pemenangan Daerah (TPD) Ganjar-Mahfud Provinsi Bali sekaligus Ketua DPD PDIP Bali sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Ungkapan itu tentu saja terkesan pasrah. Namun mau apa lagi. Berdasar hasil hitung cepat perolehan suara Pilpres 2024, Rabu, 14 Februari 2024, di Bali, pasangan capres/cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang diusung PDIP kalah jauh dengan pasangan capres-cawapres  Prabowo-Gibran.

Media balipolitika.com, pada pemberitaan Kamis, 15 Februari 2024 menyebutkan  Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar meraih 15.599 (3,73 persen), Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka meraih 217.047 (51,89 persen), dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD meraih 185.622 (44,38 persen) per Kamis, 15 Februari 2024 pukul 12.00:22 dengan progres input 4.595 dari 12.809 TPS atau 35.87 persen.

Meski kalah di Pilpres 2024, diketahui sesuai hasil hitung suara legislatif DPR RI 2024 di situs resmi Komisi Pemilihan Umum, PDI Perjuangan Bali mendulang perolehan suara tertinggi dengan 41.844 (56,29 persen) disusul Partai Golkar dengan 9.148 (12,31 persen), Partai Gerindra 6.617 (8,9 persen), Partai Demokrat 4.223 (5,68 persen), Partai NasDem 3.689 (4.96 persen), dan parpol-parpol lainnya.

Hitungan sementara ini mengacu hasil input 2.452 dari 12.809 TPS atau data masuk 19,14 persen per Kamis, 15 Februari 2024 pukul 12:01:31.

Ujian Kesekian

PDIP, khususnya PDIP di Bali, sesungguhnya sudah mengalami sejumlah ujian dalam perhelatan Pemilu sejak awal reformasi. Selain, tentu saja menunjukkan kecendruangan anomali, di satu sisi menang pemilu legislatif tapi kalah dalam pemilihan pemimpin seperti presiden, gubernur dan bupati.

Mari ingat-ingat lagi pemilihan presiden tahun 1999, pada awal-awal reformasi. Saat itu posisi PDIP adalah sebagai pemenang Pemilu. Namun, dalam pemilihan presiden (masih lewat MPR),  Megawati yang notabene Ketua Umum PDIP kalah suara dengan Gus Dur. Dan, seperti diketahui, Gus Dur kemudian dilengserkan, baru kemudian Megawati jadi presiden ke-5 RI.

Ketika pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung, Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi, yang diusung PDIP, kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK).  Perolehan suara SBY-JK 60,62 persen, dan Megawati-Hasyim 39,38 persen.

Lima tahun berikutnya Megawati yang berpasangan dengan Prabowo juga kalah dari SBY-Budiono. Namun, yang membuat PDIP Bali masih bisa menegakkan kepala adalah ketika Megawati kalah pada hampir semua provinsi di Indonesia, justru Megawati tetap menang di Bali. Saat itu hanya Bali dan NTT yang memenangkan Megawati, sementara provinsi lain dikuasai SBY.

Namun saat Pilpres tahun 2024 ini, dari hasil hitung cepat, pasangan Prabowo-Gibran menang hampir di semua provinsi di Indonesia, dan yang mengejutkan, termasuk Bali juga ikut dikalahkan. Benar-benar menyakitkan. Padahal, sepanjang 25 tahun PDIP tetap sebagai partai terbesar dan partai pemenang di Bali.  Tentu saja ini ujian.

Ujian pada Pilkada di Bali

Tapi ujian yang lebih menyakitkan tentu saja terjadi dalam Pilkada di Bali, baik pada Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati. PDIP, dalam pilkada, juga berkali-kali menghadapi ujian.  

Mari ingat-ingat peristiwa yang jauh di belakang. Pada awal-awal reformasi, ketika PDIP menang di seluruh kabupaten di Bali, justru terdapat calon Bupati dari PDIP keok di tangan lawan dalam pemilihan Bupati. Saat itu, pemilihan masih dilakukan lewat voting di DPRD,

Logikanya, dengan anggota DPRD terbanyak, PDIP bisa menang mudah dalam pemilihan kepala daerah. Saat itu, pemilihan kepala daerah dilakukan lewat sidang DPRD. Yang memilih hanya anggota DPRD, belum berlaku sistem pemilihan langsung oleh rakyat. Jika terjadi voting, PDIP dengan jumlah suara terbanyak pastilah bisa memenangkan calon bupati dari PDIP.

Tapi nyatanya tidak. Di Kabupaten Jembrana, pada sidang Pemilihan Bupati, calon Bupati dari PDIP, Ketut Sandyasa, ternyata kalah. Yang menang adalah calon Bupati I Gede Winasa yang saat itu berpasangan dengan Suania. Padahal Winasa-Suania diusung oleh fraksi dari partai kecil di Jembrana, yakni PPP dan Partai Republik.

Winasa saat itu mendapatkan 19 suara, sementara cal;on dari PDIP mendapat 11 suara.

Tahun 2002, drama serupa terjadi di Kabupaten Buleleng. Pada Pilkada yang dilakukan melalui sidang DPRD, pasangan calon bupati dan calon wakil bupati, Putu Bagiada dan Gede Wardana, menang, mengalahkan calon bupati dan wakil bupati yang diusung Fraksi PDIP, Nyoman Sudharmaja Duniaji dan Nyoman Sudiana.

Kisahnya sungguh mirip dengan yang terjadi dalam sidang pemilihan bupati di Jembrana tahun 2000. Di DPRD Buleleng, jumlah anggota Fraksi PDIP terbanyak, bahkan jumlah kader PDIP setengah lebih dari keseluruhan 45 jumlah anggota DPRD Buleleng. Namun calon dari PDIP kalah.

Pasangan Bagiada-Wardana memperoleh 25 suara, sementara pasangan Sudharmaja-Sudiana hanya mendapatkan 18 suara. 

Nah, terjadilah kemudian ujian pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) yang dilakukan secara langsung tahun 2013. Saat itu, PDIP mengusung pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur AA Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan. Sementara Partai Golkar bersama koalisinya mengusung pasangan Made Mangku Pastika-I Ketut Sudikerta.

Saat itu, PDIP masih tetap sebagai partai terbesar dan pemenang di Bali. Namun pada Pilkada Gubernur itu, PDIP kalah. Puspayoga-Dewa Sukrawan memperoleh suara 1.062.738 (49,98 persen), sementara Mangku Pastika-Sudikerta meraih suara 1.063.734 (50,02 persen).

Selisih kekalahannya sangat tipis, dan hal itu tentu saja ujian yang menyakitkan.

Ini ujian terakhir sebelum Pemilu 2024. Terjadinya dalam Pilkada Jembrana. Pasangan capres-cawapres dari PDIP dikalahkan calon lain, padahal PDIP masih sebagai partai terbesar di daerah itu.  

Pada pilkada Jembrana itu, pasangan cabup-cawabup I Nengah Tamba dan I Gede Ngurah Patriana Krisna mengalahkan pasangan Kembang-Sugiasa yang diusung PDIP.

Jadi, ujian untuk PDIP di Bali bukan pada Pemilu 2024 ini saja terjadi. Sudah berkali-kali. Jika ujiannya berkali-kali, tentu banyak pelajaran yang diperoleh. Tapi masalahnya, apakah ujian itu membuat para tokoh dan kader PDIP belajar?

“Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan,” begitu  kata Chairil Anwar dalam puisinya. Jadi, saat menang PDIP harusnya belajar juga, apalagi saat kalah. [T]

Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Drama Politik | Bupati Masuk Kandang Banteng Setelah Bertempur Menundukkan Sang Banteng
Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…
Tags: PDIPpemiluPemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Gelap Kepemimpinan: Refleksi Atas Ambisi dan Keserakahan Dalam Politik

Next Post

Makan Buah Itu Menyehatkan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Makan Buah Itu Menyehatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co