2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Ujian, Tapi Bukankah PDIP di Bali Sudah Berkali-kali Menghadapi Ujian?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 15, 2024
in Esai
Ini Ujian, Tapi Bukankah PDIP di Bali Sudah Berkali-kali Menghadapi Ujian?

ilustrasi tatkala.co

“Kalau dilihat dari quick count itu ya jauh. Tetapi harus semangat, ini namanya ujian.” Begitu kata Wayan Koster, Ketua Tim Pemenangan Daerah (TPD) Ganjar-Mahfud Provinsi Bali sekaligus Ketua DPD PDIP Bali sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Ungkapan itu tentu saja terkesan pasrah. Namun mau apa lagi. Berdasar hasil hitung cepat perolehan suara Pilpres 2024, Rabu, 14 Februari 2024, di Bali, pasangan capres/cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang diusung PDIP kalah jauh dengan pasangan capres-cawapres  Prabowo-Gibran.

Media balipolitika.com, pada pemberitaan Kamis, 15 Februari 2024 menyebutkan  Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar meraih 15.599 (3,73 persen), Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka meraih 217.047 (51,89 persen), dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD meraih 185.622 (44,38 persen) per Kamis, 15 Februari 2024 pukul 12.00:22 dengan progres input 4.595 dari 12.809 TPS atau 35.87 persen.

Meski kalah di Pilpres 2024, diketahui sesuai hasil hitung suara legislatif DPR RI 2024 di situs resmi Komisi Pemilihan Umum, PDI Perjuangan Bali mendulang perolehan suara tertinggi dengan 41.844 (56,29 persen) disusul Partai Golkar dengan 9.148 (12,31 persen), Partai Gerindra 6.617 (8,9 persen), Partai Demokrat 4.223 (5,68 persen), Partai NasDem 3.689 (4.96 persen), dan parpol-parpol lainnya.

Hitungan sementara ini mengacu hasil input 2.452 dari 12.809 TPS atau data masuk 19,14 persen per Kamis, 15 Februari 2024 pukul 12:01:31.

Ujian Kesekian

PDIP, khususnya PDIP di Bali, sesungguhnya sudah mengalami sejumlah ujian dalam perhelatan Pemilu sejak awal reformasi. Selain, tentu saja menunjukkan kecendruangan anomali, di satu sisi menang pemilu legislatif tapi kalah dalam pemilihan pemimpin seperti presiden, gubernur dan bupati.

Mari ingat-ingat lagi pemilihan presiden tahun 1999, pada awal-awal reformasi. Saat itu posisi PDIP adalah sebagai pemenang Pemilu. Namun, dalam pemilihan presiden (masih lewat MPR),  Megawati yang notabene Ketua Umum PDIP kalah suara dengan Gus Dur. Dan, seperti diketahui, Gus Dur kemudian dilengserkan, baru kemudian Megawati jadi presiden ke-5 RI.

Ketika pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung, Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi, yang diusung PDIP, kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK).  Perolehan suara SBY-JK 60,62 persen, dan Megawati-Hasyim 39,38 persen.

Lima tahun berikutnya Megawati yang berpasangan dengan Prabowo juga kalah dari SBY-Budiono. Namun, yang membuat PDIP Bali masih bisa menegakkan kepala adalah ketika Megawati kalah pada hampir semua provinsi di Indonesia, justru Megawati tetap menang di Bali. Saat itu hanya Bali dan NTT yang memenangkan Megawati, sementara provinsi lain dikuasai SBY.

Namun saat Pilpres tahun 2024 ini, dari hasil hitung cepat, pasangan Prabowo-Gibran menang hampir di semua provinsi di Indonesia, dan yang mengejutkan, termasuk Bali juga ikut dikalahkan. Benar-benar menyakitkan. Padahal, sepanjang 25 tahun PDIP tetap sebagai partai terbesar dan partai pemenang di Bali.  Tentu saja ini ujian.

Ujian pada Pilkada di Bali

Tapi ujian yang lebih menyakitkan tentu saja terjadi dalam Pilkada di Bali, baik pada Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati. PDIP, dalam pilkada, juga berkali-kali menghadapi ujian.  

Mari ingat-ingat peristiwa yang jauh di belakang. Pada awal-awal reformasi, ketika PDIP menang di seluruh kabupaten di Bali, justru terdapat calon Bupati dari PDIP keok di tangan lawan dalam pemilihan Bupati. Saat itu, pemilihan masih dilakukan lewat voting di DPRD,

Logikanya, dengan anggota DPRD terbanyak, PDIP bisa menang mudah dalam pemilihan kepala daerah. Saat itu, pemilihan kepala daerah dilakukan lewat sidang DPRD. Yang memilih hanya anggota DPRD, belum berlaku sistem pemilihan langsung oleh rakyat. Jika terjadi voting, PDIP dengan jumlah suara terbanyak pastilah bisa memenangkan calon bupati dari PDIP.

Tapi nyatanya tidak. Di Kabupaten Jembrana, pada sidang Pemilihan Bupati, calon Bupati dari PDIP, Ketut Sandyasa, ternyata kalah. Yang menang adalah calon Bupati I Gede Winasa yang saat itu berpasangan dengan Suania. Padahal Winasa-Suania diusung oleh fraksi dari partai kecil di Jembrana, yakni PPP dan Partai Republik.

Winasa saat itu mendapatkan 19 suara, sementara cal;on dari PDIP mendapat 11 suara.

Tahun 2002, drama serupa terjadi di Kabupaten Buleleng. Pada Pilkada yang dilakukan melalui sidang DPRD, pasangan calon bupati dan calon wakil bupati, Putu Bagiada dan Gede Wardana, menang, mengalahkan calon bupati dan wakil bupati yang diusung Fraksi PDIP, Nyoman Sudharmaja Duniaji dan Nyoman Sudiana.

Kisahnya sungguh mirip dengan yang terjadi dalam sidang pemilihan bupati di Jembrana tahun 2000. Di DPRD Buleleng, jumlah anggota Fraksi PDIP terbanyak, bahkan jumlah kader PDIP setengah lebih dari keseluruhan 45 jumlah anggota DPRD Buleleng. Namun calon dari PDIP kalah.

Pasangan Bagiada-Wardana memperoleh 25 suara, sementara pasangan Sudharmaja-Sudiana hanya mendapatkan 18 suara. 

Nah, terjadilah kemudian ujian pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) yang dilakukan secara langsung tahun 2013. Saat itu, PDIP mengusung pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur AA Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan. Sementara Partai Golkar bersama koalisinya mengusung pasangan Made Mangku Pastika-I Ketut Sudikerta.

Saat itu, PDIP masih tetap sebagai partai terbesar dan pemenang di Bali. Namun pada Pilkada Gubernur itu, PDIP kalah. Puspayoga-Dewa Sukrawan memperoleh suara 1.062.738 (49,98 persen), sementara Mangku Pastika-Sudikerta meraih suara 1.063.734 (50,02 persen).

Selisih kekalahannya sangat tipis, dan hal itu tentu saja ujian yang menyakitkan.

Ini ujian terakhir sebelum Pemilu 2024. Terjadinya dalam Pilkada Jembrana. Pasangan capres-cawapres dari PDIP dikalahkan calon lain, padahal PDIP masih sebagai partai terbesar di daerah itu.  

Pada pilkada Jembrana itu, pasangan cabup-cawabup I Nengah Tamba dan I Gede Ngurah Patriana Krisna mengalahkan pasangan Kembang-Sugiasa yang diusung PDIP.

Jadi, ujian untuk PDIP di Bali bukan pada Pemilu 2024 ini saja terjadi. Sudah berkali-kali. Jika ujiannya berkali-kali, tentu banyak pelajaran yang diperoleh. Tapi masalahnya, apakah ujian itu membuat para tokoh dan kader PDIP belajar?

“Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan,” begitu  kata Chairil Anwar dalam puisinya. Jadi, saat menang PDIP harusnya belajar juga, apalagi saat kalah. [T]

Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Drama Politik | Bupati Masuk Kandang Banteng Setelah Bertempur Menundukkan Sang Banteng
Mengapa Tamba-Ipat (Bisa) Menang Pada Pilkada Jembrana? || Winasa Effect? Ah…
Tags: PDIPpemiluPemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Gelap Kepemimpinan: Refleksi Atas Ambisi dan Keserakahan Dalam Politik

Next Post

Makan Buah Itu Menyehatkan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Makan Buah Itu Menyehatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co