2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bambu Punah, Sampah Baliho Caleg pun Jadi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 14, 2024
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

KALAU ada orang yang mengatakan bahwa dirinya muak dengan pemilu, saya yakin, Grudug akan mengikuti orang itu. Muak ini sudah lebih dari apa yang Grudug bayangkan sebelumnya. Kini, ia sudah sampai pada level pusing, dan ingin muntah-muntah. Ya, di satu sisi Grudug sesungguhnya ingin berterima kasih pada pemilu, karena berkat pemilu ia mengurangi konsumsi sosmed, tapi di sisi lain, ia harus melewati segala halangan-rintangan untuk mengubah kebiasaannya.

Saya ingin menceritakan hal buruk Grudug pada saudara. Jadi begini: Grudug sesungguhnya belum lama ini tamat kuliah, jadi kebiasaan kuliah masih ia bawa, dan menanggalkan kebiasaan itu baginya seperti ular mengelupas daging. Setiap bangun tidur, bayangan idealnya adalah mematikan alarm, membersihkan kamar, lalu mandi dan sikat gigi, kemudian bekerja bagai kuda.

Ah… Grudug… Grudug… bayangan muluk-muluk itu berulang setiap hari dan gagal setiap  ia coba. Pada kenyataannya, begini yang terjadi: bangun karena alarm, lalu mematikannya. Sembari mengusap-usap mata, ia meregangkan badan seperti beruang yang baru bangkit dari hibernasi lalu membuka ig lalu membuka fb yang isinya sama saja. Semua tentang pemilu, tentang caleg, tentang capres!

Algoritma itu memang kejam, Ferguso. Sekali terpikat, maka postingan sejenis akan datang seperti Jelangkung. Mereka menyerang kita seolah-olah kita adalah samsak paling kokoh yang tak tumbang karena tubian postingan mereka. Awalnya, Grudug berpikir positif-positif saja. Ia mencoba menjadi lebih bijak, sangat berbeda dengan ia ketika kuliah. Ketika kuliah ia akan berkata begini–saya hafal dengan seluk-beluk bikas Grudug–“Semua sama-sama pembohong! Semua pembual! Dasar orang-orang tua!”

Kini, Grudug dewasa nan pengangguran ini memetik pesan moral yang berbeda dari pemilu–meskipun ia bukan orang yang konsisten, Saudara-Saudara. Baginya, pemilu kali ini sungguh pemilu yang menarik, karena banyak caleg dan Capres berusaha menonjolkan kreativitas, dari video-video mereka, goyang-goyang, kostum yang seperti cosplay bahkan foto-foto caleg yang didampingi gambar ternak, caleg dengan foto kapal pesiar, ultraman dan banyak lainnya.

Benar-benar berbanding terbalik. Grudug Muda selalu memilih golput karena banyak alasan. Beberapa di antaranya itu tadi, “yang kita pilih tak akan mengubah apa-apa, paling hanya mengubah hidup teman-teman calon.” atau “memilih presiden, atau memilih anggoda dewan adalah memilih majikan. Memilih penindas!” atau “memilih capres adalah memilih satu gerbong oligarki.” Wah… luar biasa, Saudara-Saudara.

Itu yang kerap Grudug katakan, padahal sesungguhnya ia lebih memilih rebahan dari pada menempuh waktu dua setengah jam untuk ke TPS. Dalam hati yang paling dalam, paling tersembunyi, bahkan ia sendiri malu mendengar kata hatinya, adalah begini: “Perjalanan jauh. Harus melewati jalan dingin, lalu panas. Biaya singgah di minimarket untuk ngopi mahal, tambah satu rokok, dan godoh. Belum lagi singgah beli babi genyol.”

Sementara itu, kini Grudug tampak lebih sibuk dari tim sukses calon-calon itu sendiri. Tampaknya, kebiasaan berselancar di dunia medsos justru membuatnya termakan narasi dangkal. Ia berubah total, saudara-saudara. Setiap ada waktu untuk ngobrol dengan teman-temannya, ia seolah-olah sedang berkampanye soal pemilu. “Satu suara itu menentukan nasib lima tahun bangsa ini.” Di lain waktu, ia akan berkata “Pilih yang tidak memiliki sejarah buruk! Pilih yang cerdas!”

Saudara tahu, yang lebih konyol adalah ini. Grudug berdeklarasi ke teman-temannya setelah melihat unggahan video yang memperlihatkan para guru besar menyampaikan kritik terhadap pemilu tahun 2024 ini. Pada teman-temannya ia berkata “Orang-orang sekarang lebih percaya pada artis-artis sosmed atau influencer dari pada profesor. Pemilih sekarang buta narasi sejarah. Pemilih sekarang terlalu melibatkan emosi!” Saya sebut konyol karena saya tahu, semua yang dia katakan tak ada bedanya dengan celotehan yang sering muncul dalam komentar postingan calon.

*

Ada kata-kata bijak yang menarik. Segala yang berlebihan akan menjadi tidak baik. Air putih yang memiliki sejuta narasi kebaikan pun menjadi tidak baik jika diminum segalon sekaligus. Nah, begitu juga dengan cara saudara kita satu ini menghadapi pemilu. Saudara Grudug ini.

Sialnya, hari itu, kondisi fisik Grudug sedang tidak baik-baik saja. Setelah membuka sosmed–seperti biasa–Ia keliling mencari tempat makan yang menggairahkan. Hari itu ia tidak ingin makan ayam geprek, tidak ingin babi guling, tidak ingin masakan padang. “Kadang memilih menu makan pagi sama sulitnya dengan memilih calon pemimpin yang selalu muncul di feed instagram,” keluhnya.

Namanya juga tidak enak badan, segala hal yang ia lihat jadi tidak mengenakkan. Ini normal saudara. Normal! Hal ini sama dengan kekesalan saudara dengan pengendara lain yang tiba-tiba terasa menyebalkan ketika saudara-saudara buru-buru ke kantor atau sekolah atau kampus karena saudara-saudara telat berangkat. Saudara tahu? itu belum tentu berarti keadaan yang salah. Saya garis bawahi, belum tentu! Bisa iya bisa tidak.

Ketika keliling mencari makanan itulah grudug merasa penat, mual, dan rasanya semua situasi tidak enak itu desebabkan oleh baliho-baliho di pinggir jalan. Dalam hati ia sudah mulai mengumpat-umpat. “Kota ini adalah kota yang tidak nyaman, sangat akrab dengan macet, akrab dengan debu, pohon di pinggir jalan dihabisi untuk pelebaran jalan, banjir, dan kini ada tambahan: baliho caleg, dan capres yang akan menjadi jibunan sampah.” Ia tiba-tiba merasa mual dengan segala kemaran itu.

Saudara-saudara, janganlah saudara marah dengan orang seperti Grudug. Barangkali kita semua pernah ada dalam kondisi seperti itu. Semua hal terlihat salah di matanya, bahkan kesalahan itu melebar seperti api yang muncul di tengah-tengah tumpukan ranting kering. Tapi situasi kritis seperti itu kadang perlu kita rawat. Saudara bisa membayangkan, Grudug tiba-tiba menjadi orang yang bijaki karena situasi itu.

“Isi dunia ini tak jauh berbeda dengan apa yang aku lihat di reels instagram, atau postingan Facebook. Semua tentang keburukan, kini semua tentang pemilihan. Foto yang sama, warna yang sama, gerakan yang sama, mimik yang sama, narasi yang sama. Ah… kepala Grudug sedikit lagi akan meletus seperti balon hijau. Kini dunia benar-benar menyebalkan dan membingungkan: sosmedkah yang meniru dunia fisik ini atau sebaliknya, dunia fisik ini yang telah meniru sosmed?” Saya ingin bertepuk tangan jika ia menelusuri pertanyaan itu. Tapi ia sedang emosional karena sakit. Terpaksa kita maklumi, bukan tepuktangani.

*

Karena hidup sendiri itu lebih menyakitkan ketika sakit, maka Grudug memutuskan pulang kampung berbekal segala kekesalan itu. Tentu saja, kampungnya memiliki situasi yang tidak jauh berbeda, khususnya soal baliho. Kiri-kanan jalan, tempat lenggang, dekat bale banjar, bahkan dekat pura. Di mana luang di sana baliho menjulang.

Belum sempat berganti pakaian dan menaruh tas di kamar, Grudug langsung menuju bale dauh tempat biasa pamannya termenung jika tidak ke sawah. Ia mengisahkan semua kekesalan ini pada pamannya. Sialnya, lelaki tua yang menjadi samsak kemarahan Grudug itu hanya tertawa–saya tahu, dalam hatinya pasti ia menyimpan umpatan pada Grudug–tapi saya salah.

Paman Grudug itu justru mengeluarkan jurus paling normatif yang selalu kita dengar pada saat pemilu, tapi barangkali itu adalah kebenaran paling hakiki yang ia pegang: “Siapa pun yang terpilih toh sama saja. Jangan terlalu memikirkan hal itu. Sudah bagus mereka banyak-banyak masang baliho. Semakin besar semakin bagus. Semakin banyak, semakin baik.”

“Baik apanya? Sampah itu, Wa!”

“Iwa, sudah bilang pada jumah kaja kangin, di sana ada baliho caleg. Itu sudah Iwa tandai. Baliho di Jaban Pura juga Iwa sudah bilang sama tim suksenya. Tapi yang di dekat bale banjar sudah mau diambil oleh orang dari delod dangin. Mereka rakus. Semua baliho mau diembat.”

“Untuk apa Iwa berebut Baliho?”

“Lah, kita kan sudah tidak punya pohon bambu, pagar kandang bebek sudah rusak, atapnya juga banyak berlubang.”

“itu saja?”

“Apa lagi?”

“Begini saja, Wa. Cari aja caleg atau timses yang mau membantu memperbaiki kandang bebek iwa.”

Aha, Grudug benar-benar berlebihan, dia langsung mengambil tas yang ia sandarkan di tembok bale dauh, lalu ia beranjak ke kamarnya. Tentu perubahan zaman menjadi penanda perubahan strategi. Tapi langkah Grudug tiba-tiba berhenti, bola lampu tiba-tiba muncul dalam batok kepalanya.

“Kenapa gak dicabut sekarang, aja?” kata Grudug.

“Wus… Ngawur,” balas pamannya.

Di kamar, Grudug menerawang. Sepertinya dunia ini tiba-tiba terasa benar-benar mengecewakan. Tapi, dalam hati ia berkata, “Sejelek-jeleknya baliho fisik, ia lebih berguna daripada poster di sosmed. Ya… ya… ya… Ini serangan poster. Kenapa ya, setiap serangan dalam pemilu ada saja orang yang senang? Dulu serangan fajar, sekarang serangan poster.” [T]

BACA ESAI dan artikel lain dari penulis AGUS WIRATAMA

Misteri Jalanan: Penghubung atau Pemutus?
Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam
Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
Tags: Agus Wiratamabalihocatatan grudugpemiluPemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi sebagai Paket Komplet

Next Post

Perempuan-Perempuan di TPS 7 Kampung Kajanan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Perempuan-Perempuan di TPS 7 Kampung Kajanan

Perempuan-Perempuan di TPS 7 Kampung Kajanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co