23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Juru Gender dan Guru Dalang

Gusti Putu Sudarta by Gusti Putu Sudarta
January 23, 2024
in Esai
Juru Gender dan Guru Dalang

Pekak Wayan Loceng (almarhum) juru gender dan guru dalang dari Sukawati | Foto: Dok. Gusti Sudarta

JURU Gender adalah sebutan untuk musisi gender wayang di Bali. Untuk menjadi juru gender sudah tentu melalui proses pembelajaran yang panjang, karena untuk menguasai ketrampilan menabuh gender wayang dan mampu mengiringi dalang dalam pertunjukan wayang diperlukan disiplin aguron-guron.

Aguron-guron dilakukan dengan penuh rasa pengabdian dan komitmen kepada guru gender dan juga kepada diri sendiri sebagai seorang murid. Kedalaman proses aguron-guron yang dilakukan akan menentukan kualitas seorang penabuh gender sampai menjadi juru gender wayang, karena seorang juru gender tidak hanya menguasai teknik ketrampilan dan gending-gending gender wayang saja (lelintihan gending gender), namun juga memahami dengan baik cerita wayang, bah-bangun wayang (dramatic), ngesehang bayun paigelan (musical spirit, mood, interpretation and improvisation) yang disebut dengan ngewangsa wayang.

Dalam proses aguron-guron, hal yang didapat tidak hanya ilmu dan ketrampilan tetapi juga terjadi transmisi pengalaman panjang seorang guru gender wayang. Pengalaman seorang guru sangat penting bagi seorang murid karena secara tidak langsung memberikan pencerahan disiplin, etika, moral, dan spiritual.

Dalang Nganten Mesakapan Ngajak Juru Gender

Seorang dalang diharuskan nganten mesakapan dengan juru gender. Nganten mesakapan artinya menikah dan disahkan dengan komitmen bersama. Istilah nganten mesakapan ini sangat biasa digunakan jaman lampau sebagai ungkapan bahwa seorang dalang harus menyatu dengan juru gender.

Menyatu yang dimaksud di sini adalah proses kerja sama bagaimana mengupayakan supaya pertunjukan wayang berhasil dan sukses. Proses kerja sama dalang dengan juru gender terjadi tidak hanya saat berlangsungnya pertunjukan wayang saja akan tetapi sesungguhnya interaksi intim antara dalang dan juru gender terjadi setiap saat, saat ide kreativitas muncul.

Ide kreatif ini dibahas dan dikreasikan supaya bisa digunakan dalam pertunjukan wayang. Bentuk kreasi ini ketika ditampilkan dalam adegan pertunjukan wayang menjadi satu reragragan yang tidak terduga karena memberikan satu bentuk kreasi baru dan sentuhan baru dalam satu adegan, cerita (satwa), dialog (kanda, bebangkrekan), igel wayang, dan entan-entanan tabuh gender.

Ngewangsa Wayang

Ngewangsa wayang  adalah kemampuan seorang juru gender terutama seorang pengugal (leader musician yang  mokokin, molosin) membangun dan menghidupkan suasana adegan wayang dengan kemampuan kreativitas-improvisasi musikal yang dihadirkan.

Kemampuan juru gender ngewangsa wayang tentunya harus didukung dengan keahlian teknik bermain gender wayang. Seperti gegedig tetekep cepung artinya setiap lagu gender wayang dimainkan dengan teknik dan penjiwaan (mayunang gending) yang tepat sesuai dengan spirit gending.

Celang dan sengeh dalam mengiringi wayang. Celang artinya konsentrasi penuh dengan memberikan perhatian yang mendalam setiap adegan yang dibangun oleh dalang sehingga tidak ada yang luput. Dalam hal ini kalau diterapkan dengan sungguh-sungguh akan terjadi suatu tuning system atau frekwensi kesadaran dalam gelombang yang sama antara dalang dan juru gender.

Ketika celang terbangun secara otomatis sengeh akan terjadi dengan sendirinya. Sengeh adalah suatu kesadaran dan sensitifitas yang tidak terpikirkan, terjadi begitu saja ketika juru gender merespon rangsangan keindahan, suasana, penanda, dan gerakan yang dihadirkan oleh dalang dalam pertunjukan yang sering terjadi diluar kebiasaan, kesapakatan yang sudah biasa dilakoni.

Celang dan sengeh menghadirkan pertunjukan yang tertata dan kompak antara jalannya alur dramatic wayang dengan kreativitas musikal yang disebut dengan saman sepel.

Saman Sepel adalah hadirnya kekompakan, kerapian, ketepatan antara suasana alur dramatik yang dibangun oleh dalang dengan kreativitas musikal yang digarap oleh juru gender. Saman sepel menyajikan hasil dari suatu proses latihan, kebersamaan, dedikasi, kreativitas dalam satu kesadaran estetika yang tidak mekanik namun hidup dan bertumbuh dalam konteks ruang dan waktu.

Ketika kesadaran atau kepekaan estetika juru gender bertumbuh dan terjadi dalam konteks ruang dan waktu saat pertunjukan wayang digelar, seolah-olah atau dengan sendirinya seorang pengugal gender wayang bisa membaca pikiran dalang, sehingga apa yang diingini oleh seorang dalang dalam menghidupkan suasana pertunjukan bisa direspon dengan cepat dan tepat secara otomatis walaupun penanda dari dalang tidak selalu dalam bentuk verbal. Hal ini menjadikan pertunjukan wayang hidup dan mampu membangun suatu citra kehidupan di ruang imajinasi penonton, dan tentunya memberikan support energy kepada dalang.

Dalam kurun waktu yang lama interaksi intim dialog kreativitas dalang dan juru gender menjadikan ke dua pihak mendapatkan keuntungan pengetahuan. Dalang memahami musik dan mampu memberikan arahan, ide kreatif  ke pada juru gender dan juru gender mampu memahami, dan merespon dengan berkreativitas menciptakan gending iringan wayang, menciptakan pattern-pattern batel baru, phrase-phrase baru untuk mengelaborasi gending-gending iringan wayang untuk bisa menghidupkan suasana pakeliran sesuai dengan tuntutan alur dramatik.

Interaksi yang intens terus menerus memberikan pengetahuan praktik sehingga juru gender sampai menguasai ilmu pewayangan seperti bah-bangun cerita, tandak wayang, anda (kanda) atau dialog wayang, bahkan sampai hapal petikan sastra-sastra kawi (kakawin dan parwa) yang biasa dipakai oleh dalang dalam pertunjukan wayang, walaupun para master gender wayang ini tidak menjadikan dirinya seorang dalang.

Foto koleksi Nobue Tani murid Wayan Loceng dari Jepang

Seorang juru gender yang memahami dan menguasai ilmu pewayangan inilah ada yang menjadi guru dalang, artinya mampu mengajar seorang murid yang belajar mendalang sampai menjadi dalang, seperti Pekak Rajin (almarhum) dan Pekak Loceng (almarhum) dari Banjar Babakan Sukawati Gianyar.

Pekak Rajin yang memberikan pendidikan dasar-dasar pewayangan kepada dalang  I Ketut Madra (almarhum), dalang  yang terkenal dengan sebutan dalang jengki, dan juga dalang I Wayan Wija yang terkenal dengan kreasi Wayang Tantri-nya.

Pekak Loceng, di samping mendidik calon dalang di masyarakat juga menjadi dosen luar biasa  yang memberikan pelajaran praktik padalangan dan gender wayang di Jurusan Pedalangan ASTI Denpasar (ISI Denpasar).

Salah satu murid Pekak Loceng di masyarakat adalah dalang I Gusti Made Lunga (I Gusti Mangku Desa) dari Tangkulak Kaja Kemenuh Gianyar. Pekak Loceng mendidik Gusti Made Lunga dari umur belia sehingga menjadi dalang muda yang terkenal di daerah Gianyar sekitar tahun 1970-80an.

Sekarang I Gusti Made Lunga sudah menjadi Pemangku Pura Desa di desa Tangkulak Kaja, Kemenuh Gianyar, namun masih tetap aktif sebagai dalang untuk upacara terutama pertunjukan wayang untuk ngewatekan atau otonan (sudamala) dan juga wayang sapuleger. [T]

  • BACA artikel lain tentang WAYANG atau tulisan lain GUSTI PUTU SUDARTA
Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa | Proses Penciptaan Karya Teater Bertolak Dari Penjelajahan Teater Tradisi Bali
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Gusti Sudarta | Sejak SD Main Gender Wayang, Pentas Jalan Kaki ke Desa-Desa
Tags: gamelan gendergender wayangkisah pewayanganpewayanganwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wanita Hebat Itu Megawati Soekarno Putri

Next Post

Di Buleleng, Pelaku Usaha Hiburan Diberi Insentif Fiskal Pajak Hiburan

Gusti Putu Sudarta

Gusti Putu Sudarta

Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn. adalah dalang dan dosen ISI Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Di Buleleng, Pelaku Usaha Hiburan Diberi Insentif Fiskal Pajak Hiburan

Di Buleleng, Pelaku Usaha Hiburan Diberi Insentif Fiskal Pajak Hiburan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co