12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengkomunikasikan Sejarah dengan Nurani

Chusmeru by Chusmeru
November 10, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SEJARAH dianggap sebagai peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang dipelajari dan menjadi acuan kehidupan di masa datang. Sejarah bukan hanya menyangkut tentang orang, tetapi juga bisa berkaitan dengan tempat, bangunan, maupun peristiwa.

Sejarah juga sering dianggap sebagai produk rezim. Artinya, setiap rezim akan menciptakan sejarah dengan dua alasan. Pertama, agar tercatat dalam rangkaian cerita setiap generasi. Kedua, untuk menujukkan eksistensi rezim. Sejarah yang diciptakan dapat menambah legalitasnya sebagai rezim. Dan torehan sejarah itu akan membuat rezim tercatat sebagai pahlawan di masanya.

Selanjutnya akan diciptakan mitos untuk mengkomunikasikan produk sejarah. Agar mitos menjadi kredibel diperlukan dukungan masyarakat, lembaga sosial, dan industri media. Banyak mitos yang dipercaya sebagai media validasi sejarah.

Mitos Nyai Roro Kidul dianggap sebagai upaya eksistensi dan sejarah bagi masyarakat tentang kekuasaan raja-raja di Jawa. Hanya raja dan representasi raja sajalah yang dapat berkomunikasi dengan Nyai Roro Kidul.

 Dukungan masayarakat secara kelembagaan sosial juga ditunjukkan terhadap mitos ini dengan tradisi sedekah laut oleh nelayan. Mitos Nyai Roro Kidul menjadi semakin kekinian ketika sedekah laut dikomodifikasi menjadi atraksi wisata. Bukan hanya itu, mitos tersebut juga didukung oleh media. Film Ratu Pantai Selatan diproduksi dengan berbagai versi.

Pembangunan, di era Orde Baru juga dianggap sebagai mitos yang diciptakan rezim saat itu. Semua harus mengiyakan perintah rezim demi pembangunan yang konon bertujuan menyejahterakan masyarakat. Komunikasi yang terbangun antara rezim dan rakyat untuk mendukung mitos bersifat instruksional. Penuh dengan petunjuk penguasa.

Tak luput, petani pun kala itu harus menurut instruksi rezim untuk menanam padi varietas tertentu yang ditetapkan rezim. Revolusi hijau dan modernisasi pertanian dianggap membawa cerita sukses Indonesia sebagai negara yang swasembada beras tahun 1984.

 Semua demi mitos pembangunan. Dan hasilnya, sang penguasa pun tercatat dalam sejarah sebagai Bapak Pembangunan. Sementara petani yang bekerja keras di sawah tak tercatat sebagai pahlawan revolusi hijau itu.

Gerakan Reformasi tahun 1998 juga telah menorehkan sejarah politik anyar di Indonesia. Rezim Orde Baru yang berkuasa lebih dari 30 tahun tumbang. Banyak terjadi perubahan kehidupan politik. Rezim politik yang otoriter tergantikan oleh sistem demokrasi yang kini menjadi kebanggaan bangsa.

Banyak pula pihak yang mengklaim diri sebagai pelaku sejarah dan pahlawan dalam reformasi itu. Dan tidak sedikit pula yang lantas dianggap mengkhianati gerakan reformasi demi kepentingan ekonomi dan politik saat ini. Batas antara pahlawan dan pecundang menjadi samar.

Media Komunikasi

Ketika sejarah dikomunikasikan kepada publik, maka peran media menjadi penting untuk dikaji. Hal itu dikarenakan, perlu interpretasi pembuat sejarah dan khalayak. Interpretasi sejarah seringkali bersifat subyektif, tergantung pada perspektif masing-masing.

Komunikasi dalam sejarah memiliki tiga tujuan, yaitu meneguhkan sejarah, mematahkan sejarah, dan membangun sejarah baru atau sejarah alternatif. Sejarah perlu diteguhkan agar orang percaya pada kebijakan maupun tindakan di masa lalu.

Sejarah tidak selamanya mendapat pengakuan. Melalui proses komunikasi yang panjang, sejarah juga dapat dipatahkan maupun diragukan kebenarannya. Sejarah yang terpatahkan akan diganti dengan sejarah baru yang dibangun sebagai sejarah alternatif. Peran media komunikasi sangat penting dalam membangun sejarah baru itu.

Banyak media yang biasa digunakan untuk mengkomunikasikan sejarah. Dokumentasi tertulis yang sederhana dan tradisional untuk komunikasi sejarah dapat ditemukan pada lontar maupun relief. Sedangkan dokumentasi modern yang bersifat tulisan berupa buku. Banyak buku sejarah yang menggambarkan pahlawan, teknologi, sejarah kota, hingga figur publik.

Sejarah dapat dikomunikasikan secara auditif melalui musik. Banyak lagu-lagu perjuangan dan lagu daerah yang menggambarkan sejarah perjuangan maupun mitos kepahlawanan di suatu daerah.

Secara visual sejarah dikomunikasikan dalam bentuk diorama dan film. Museum biasanya dilengkapi dengan diorama yang menggambarkan situasi perjuangan maupun tragedi masa lalu. Film yang berkaitan dengan sejarah dapat dalam bentuk dokumenter maupun dikemas dalam film hiburan.

Pro dan kontra terjadi ketika sejarah menjadi bagian dari industri hiburan. Film-film yang mengangkat tema sejarah sering mendapat kritik, bahkan digugat kebenarannya. Film Pemberontakan G30S PKI dan Janur Kuning misalnya, pernah menjadi film yang wajib ditonton di masa lalu. Kini kedua film tersebut ada yang meragukan kebenaran alur ceritanya.

Tren Baru

Menafsirkan sejarah untuk saat ini dimudahkan oleh perkembangan teknologi. Kebenaran sejarah akan mudah ditemukan dengan munculnya media sosial. Orang akan sulit memanipulasi kebenaran atau pun merekayasa sejarah, karena setiap ucapan dan tindakan orang akan terekam dalam jejak digital di media sosial.

Selain itu, muncul tren baru dalam merekonstruksi sejarah dengan bantuan Artificial Intelligent (AI). Melalui AI, sejarah masa lalu yang masih samar-samar dapat divisualisasikan. Sosok Raja Fir’aun yang hidup di abad 13 SM dan Ratu Mesir Kuno, Cleopatra yang lahir tahun 69 SM dapat dibuat rekonstruksi wajahnya melalui bantuan AI.

Beberapa bentuk arsitektur dan kehidupan di masa kerajaan Majapahit dan Padjadjaran juga direkonstruksi lewat teknologi AI. Tren ini bisa jadi akan semakin digemari, mengingat begitu banyak peninggalan sejarah di Indonesia.

Persoalan ke depan dalam menafsirkan sejarah adalah masalah moralitas. Ini erat kaitannya dengan etika AI; meningat AI juga memiliki berbagai keterbatasan. Artificial Intelligent sangat tergantung pada data. Dengan demikian AI sangat rentan bersumber dari data sejarah yang manipulatif.

Selain itu, AI tidak memiliki hati nurani dan emosi; hanya merespons dan mengolah informasi. Tidak ada pertimbangan baik dan buruk dalam AI. Apakah hasil AI akan membuat orang merasa bangga, kecewa, bersalah, atau bersedih; tak pernah menjadi pertimbangan AI.

Saatnya membuat, membaca, menikmati, dan menafsirkan sejarah dengan hati nurani. Jika tidak, maka sejarah hanyalah kebohongan bersama belaka. Sehingga Napoleon Bonaparte berkata: “Sejarah adalah seperangkat kebohongan yang disepakati”. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya
Mendengarkan dalam Komunikasi
Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum
Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Tags: ilmu komunikasikomunikasisejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Jawa Kuna Berpeluang Besar Jadi Inspirasi Cipta Sastra Modern

Next Post

Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co