2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengkomunikasikan Sejarah dengan Nurani

Chusmeru by Chusmeru
November 10, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SEJARAH dianggap sebagai peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang dipelajari dan menjadi acuan kehidupan di masa datang. Sejarah bukan hanya menyangkut tentang orang, tetapi juga bisa berkaitan dengan tempat, bangunan, maupun peristiwa.

Sejarah juga sering dianggap sebagai produk rezim. Artinya, setiap rezim akan menciptakan sejarah dengan dua alasan. Pertama, agar tercatat dalam rangkaian cerita setiap generasi. Kedua, untuk menujukkan eksistensi rezim. Sejarah yang diciptakan dapat menambah legalitasnya sebagai rezim. Dan torehan sejarah itu akan membuat rezim tercatat sebagai pahlawan di masanya.

Selanjutnya akan diciptakan mitos untuk mengkomunikasikan produk sejarah. Agar mitos menjadi kredibel diperlukan dukungan masyarakat, lembaga sosial, dan industri media. Banyak mitos yang dipercaya sebagai media validasi sejarah.

Mitos Nyai Roro Kidul dianggap sebagai upaya eksistensi dan sejarah bagi masyarakat tentang kekuasaan raja-raja di Jawa. Hanya raja dan representasi raja sajalah yang dapat berkomunikasi dengan Nyai Roro Kidul.

 Dukungan masayarakat secara kelembagaan sosial juga ditunjukkan terhadap mitos ini dengan tradisi sedekah laut oleh nelayan. Mitos Nyai Roro Kidul menjadi semakin kekinian ketika sedekah laut dikomodifikasi menjadi atraksi wisata. Bukan hanya itu, mitos tersebut juga didukung oleh media. Film Ratu Pantai Selatan diproduksi dengan berbagai versi.

Pembangunan, di era Orde Baru juga dianggap sebagai mitos yang diciptakan rezim saat itu. Semua harus mengiyakan perintah rezim demi pembangunan yang konon bertujuan menyejahterakan masyarakat. Komunikasi yang terbangun antara rezim dan rakyat untuk mendukung mitos bersifat instruksional. Penuh dengan petunjuk penguasa.

Tak luput, petani pun kala itu harus menurut instruksi rezim untuk menanam padi varietas tertentu yang ditetapkan rezim. Revolusi hijau dan modernisasi pertanian dianggap membawa cerita sukses Indonesia sebagai negara yang swasembada beras tahun 1984.

 Semua demi mitos pembangunan. Dan hasilnya, sang penguasa pun tercatat dalam sejarah sebagai Bapak Pembangunan. Sementara petani yang bekerja keras di sawah tak tercatat sebagai pahlawan revolusi hijau itu.

Gerakan Reformasi tahun 1998 juga telah menorehkan sejarah politik anyar di Indonesia. Rezim Orde Baru yang berkuasa lebih dari 30 tahun tumbang. Banyak terjadi perubahan kehidupan politik. Rezim politik yang otoriter tergantikan oleh sistem demokrasi yang kini menjadi kebanggaan bangsa.

Banyak pula pihak yang mengklaim diri sebagai pelaku sejarah dan pahlawan dalam reformasi itu. Dan tidak sedikit pula yang lantas dianggap mengkhianati gerakan reformasi demi kepentingan ekonomi dan politik saat ini. Batas antara pahlawan dan pecundang menjadi samar.

Media Komunikasi

Ketika sejarah dikomunikasikan kepada publik, maka peran media menjadi penting untuk dikaji. Hal itu dikarenakan, perlu interpretasi pembuat sejarah dan khalayak. Interpretasi sejarah seringkali bersifat subyektif, tergantung pada perspektif masing-masing.

Komunikasi dalam sejarah memiliki tiga tujuan, yaitu meneguhkan sejarah, mematahkan sejarah, dan membangun sejarah baru atau sejarah alternatif. Sejarah perlu diteguhkan agar orang percaya pada kebijakan maupun tindakan di masa lalu.

Sejarah tidak selamanya mendapat pengakuan. Melalui proses komunikasi yang panjang, sejarah juga dapat dipatahkan maupun diragukan kebenarannya. Sejarah yang terpatahkan akan diganti dengan sejarah baru yang dibangun sebagai sejarah alternatif. Peran media komunikasi sangat penting dalam membangun sejarah baru itu.

Banyak media yang biasa digunakan untuk mengkomunikasikan sejarah. Dokumentasi tertulis yang sederhana dan tradisional untuk komunikasi sejarah dapat ditemukan pada lontar maupun relief. Sedangkan dokumentasi modern yang bersifat tulisan berupa buku. Banyak buku sejarah yang menggambarkan pahlawan, teknologi, sejarah kota, hingga figur publik.

Sejarah dapat dikomunikasikan secara auditif melalui musik. Banyak lagu-lagu perjuangan dan lagu daerah yang menggambarkan sejarah perjuangan maupun mitos kepahlawanan di suatu daerah.

Secara visual sejarah dikomunikasikan dalam bentuk diorama dan film. Museum biasanya dilengkapi dengan diorama yang menggambarkan situasi perjuangan maupun tragedi masa lalu. Film yang berkaitan dengan sejarah dapat dalam bentuk dokumenter maupun dikemas dalam film hiburan.

Pro dan kontra terjadi ketika sejarah menjadi bagian dari industri hiburan. Film-film yang mengangkat tema sejarah sering mendapat kritik, bahkan digugat kebenarannya. Film Pemberontakan G30S PKI dan Janur Kuning misalnya, pernah menjadi film yang wajib ditonton di masa lalu. Kini kedua film tersebut ada yang meragukan kebenaran alur ceritanya.

Tren Baru

Menafsirkan sejarah untuk saat ini dimudahkan oleh perkembangan teknologi. Kebenaran sejarah akan mudah ditemukan dengan munculnya media sosial. Orang akan sulit memanipulasi kebenaran atau pun merekayasa sejarah, karena setiap ucapan dan tindakan orang akan terekam dalam jejak digital di media sosial.

Selain itu, muncul tren baru dalam merekonstruksi sejarah dengan bantuan Artificial Intelligent (AI). Melalui AI, sejarah masa lalu yang masih samar-samar dapat divisualisasikan. Sosok Raja Fir’aun yang hidup di abad 13 SM dan Ratu Mesir Kuno, Cleopatra yang lahir tahun 69 SM dapat dibuat rekonstruksi wajahnya melalui bantuan AI.

Beberapa bentuk arsitektur dan kehidupan di masa kerajaan Majapahit dan Padjadjaran juga direkonstruksi lewat teknologi AI. Tren ini bisa jadi akan semakin digemari, mengingat begitu banyak peninggalan sejarah di Indonesia.

Persoalan ke depan dalam menafsirkan sejarah adalah masalah moralitas. Ini erat kaitannya dengan etika AI; meningat AI juga memiliki berbagai keterbatasan. Artificial Intelligent sangat tergantung pada data. Dengan demikian AI sangat rentan bersumber dari data sejarah yang manipulatif.

Selain itu, AI tidak memiliki hati nurani dan emosi; hanya merespons dan mengolah informasi. Tidak ada pertimbangan baik dan buruk dalam AI. Apakah hasil AI akan membuat orang merasa bangga, kecewa, bersalah, atau bersedih; tak pernah menjadi pertimbangan AI.

Saatnya membuat, membaca, menikmati, dan menafsirkan sejarah dengan hati nurani. Jika tidak, maka sejarah hanyalah kebohongan bersama belaka. Sehingga Napoleon Bonaparte berkata: “Sejarah adalah seperangkat kebohongan yang disepakati”. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya
Mendengarkan dalam Komunikasi
Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum
Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Tags: ilmu komunikasikomunikasisejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Jawa Kuna Berpeluang Besar Jadi Inspirasi Cipta Sastra Modern

Next Post

Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co