22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alam Barzakh Navis di Dunia Saya | Catatan Atas Cerpen “Sebelum Pertemuan Dimulai” Karya AA Navis

Rizkul Hamkani by Rizkul Hamkani
October 15, 2023
in Esai
Alam Barzakh Navis di Dunia Saya | Catatan Atas Cerpen “Sebelum Pertemuan Dimulai” Karya AA Navis

AA Navis

PERNAHKAH kita membayangkan bagaimana kehidupan setelah kematian?  Mungkin ketika kita ditanya tentang hal tersebut, pikiran kita akan mengawang pada sebuah suasana mencekam, tempat menunggu timbangan amal, penasaran, dan bertanya-tanya ‘neraka atau surgakah tempat kita akan menetap nantinya?’. Alam ini dalam agama saya biasa disebut sebagai alam “Barzakh”, namun tidak begitu dengan cerpen yang dibuat oleh A.A. Navis berjudul “Sebelum Pertemuan Dimulai”.

Ia memberikan gambaran mengenai alam barzakh sebagai tempat penantian yang lapang, suatu gambaran berbeda dengan yang dipercaya dalam agama saya. “Para tokoh dunia sering bersua-sua dan berbincang-bincang tentang masa lalu yang mereka alami di dunia,” ungkapnya, bahkan tidak terkecuali membuat pertemuan-pertemuan layaknya di dunia.

Salah satu dari banyaknya pertemuan di alam barzakh ini digagas oleh Mahatma Ghandi dengan tema “Damai di Dunia Damai” yang katanya selalu aktual dibicarakan di manapun dan kapanpun. Namun, saya menganggap tema Ghandi hanya aktual di alam barzakh saja, karena di bumi tema yang mungkin aktual adalah “Rusuh di Dunia Rusuh”.

Pertemuan itu dihadiri oleh banyak peserta, bahkan tidak disangka-sangka oleh Ghandi sebelumnya. “Sungguhpun demikian dia merasa takjub juga saat melihat banyak tokoh perang dan tokoh teroris yang hadir”, karena yang diundang olehnya adalah tokoh-tokoh pemenang dan calon pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, serta orang-orang yang pantas untuk hadir menurutnya.

Dalam pertemuan yang akan dimulai itu, hadirin yang telah lelah menunggu dimulainya diskusi mulai bertanya pada Ghandi, ‘kapan pertemuan akan dimulai?’. Oleh Ghandi dijawab bahwa dia sedang menunggu sekretaris, yakni Chairil Anwar. Mulailah dari sana para hadirin menginterupsi agar sekretaris diganti saja, diganti dengan orang yang pantas menurut mereka. Mulai dari salah satu peserta, yaitu Stalin mengajukan Martin Luther King karena memiliki kesamaan dengan Ghandi, sampai Hitler mengajukan bahwa sekretaris haruslah dari bangsa Arya, karena merupakan bangsa paling mulia di dunia.

Setelah Chairil datang, ternyata pertemuan itu tidak kunjung dimulai karena para peserta sibuk berdebat mengenai mekanisme dan tata cara pertemuan. Para peserta yang dominan merupakan tokoh-tokoh penting di dunia tidak mau mengalah dengan tokoh lainnya, bahkan di alam barzakh sekalipun. Untunghlah di alam barzakh tidak ada toko, terkhususnya toko peralatan perang. Kalau ada, mungkin alam barzakh telah disulap layaknya dunia.

Ketika penulis menyuguhkan nama Ghandi dalam cerpen ini, tergambar dalam pikiran saya seorang tokoh perdamaian, seorang tokoh kemerdekaan India, seorang tokoh dunia yang melakukan perlawanan tanpa kekerasan, seorang yang memperjuangkan perdamaian melalui demonstrasi damai.

Namun, dalam cerpen ini, Ghandi digambarkan sebagai sosok tidak berdaya, seorang pimpinan pertemuan yang tidak dapat melerai peserta pertemuan yang berbeda pendapat. Ketika peserta pertemuan tidak dapat menerima pendapat peserta lain yang berbeda pendapat dengannya. Bahkan, pertemuan ini tidak kunjung dimulai. Tokoh seperti Ghandi pun tidak dapat memulai pertemuan ketika pesertanya adalah orang-orang yang hanya mementingkan egonya sendiri tanpa menerima perbedaan pendapat.

Untung saja latar waktu dalam cerpen tersebut adalah alam barzakh, bukan dunia kita sekarang ini. Karena mungkin, ending cerpen tersebut ketika latar waktunya bumi hari ini, setidaknya akan terjadi kerusuhan dan baku hantam, kemungkinan terburuknya adalah peperangan. Seperti pernyataan Buya Syafii dalam menangkap realitas sejarah dalam buku Islam & Politik bahwa “Budaya baku hantam adalah fenomena yang tak terpisahkan dari historisitas umat manusia.”

Karena begitulah watak kebanyakan masyarakat di sekitar kita, setidaknya di sekitar saya. Jarang sekali yang dapat menerima perbedaan pendapat. Orang lain harus setuju dengan pendapatnya. Padahal jika dilihat, kebanyakan orang di sekitar saya bahkan mungkin semuanya beragama Islam, dan Islam adalah agama damai. Namun sayangnya, penganutnya tidak mencerminkan sisi damai dari Islam dalam hal menyikapi perbedaan. Terkhususnya perbedaan pendapat.

Akhir tahun 2021, viral di Lombok Timur, warga di salah satu desa menolak pembangunan masjid yang berafiliasi ke Wahabi. Hal itu berujung pada demonstrasi agar masjid tersebut tidak didirikan. Padahal, masjid tersebut telah dalam proses pembangunan. Maklum, di wilayah tersebut mayoritas warganya adalah penganut Ahlu Sunnah wal Jamaah. Namun, hal tersebut tentu tidak serta merta tidak memperbolehkan adanya pembangunan rumah ibadah yang memiliki perbedaan pandangan, apalagi masih dalam ruang lingkup Islam. Jika ditelisik lebih dalam, salah satu yang diajarkan dalam paham Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah toleransi.

Padahal yang perlu dilakukan adalah mentolerenasi pendapat yang berbeda, sambil bersama-sama memajukan peradaban yang ditempati. Apalagi salah satu tujuan Islam menurut Buya Syafii dalam buku Membumikan Al-Qur’an adalah tercapainya suatu dunia yang manusiawi dalam bentuk tegaknya prinsip-prinsip persamaan, keadilan, persaudaraan, dan toleransi. Dalam bukunya yang lain, yakni Islam & Politik, Buya Syafii mengatakan “Islam mengakui dan menghormati segala bentuk pluralisme sebagai fakta sejarah yang tidak perlu dirisaukan.”

Saya takutnya Buya Syafii yang selalu menggaungkan tentang toleransi ketika ditaruh dalam posisinya Ghandi dalam cerpen tersebut tidak dapat memulai pertemuan layaknya Ghandi. Dikarenakan orang-orang dalam pertemuan adalah orang-orang yang senang berdebat dan tidak mau menerima perbedaan pendapat. Maka akan percuma nasihat-nasihat yang telah diberikannya ketika orang-orang tidak mulai membuka diri. Ketika ajaran langit tidak dibumikan, namun tetap berada di langit.

 Dengan tidak adanya toleransi ini, yang ada hanyalah perdebatan antar pendapat berbeda. Mungkin hal ini yang membuat tidak adanya kemajuan berarti dalam suatu peradaban. Orang-orang hanya sibuk mendebat dan rusuh antar satu dengan lainnya. Layaknya cerpen Navis, suatu pertemuan yang digagas, namun tidak kunjung dimulai karena semua peserta mendebat satu dengan lainnya. [T]

Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis
Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii
Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda
Tags: AA NavissastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Semua Adalah Politisi

Next Post

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Rizkul Hamkani

Rizkul Hamkani

Lahir di Lombok Timur 7 Februari 2001. Kuliah pada program studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Aktif bergiat di Komunitas Kelas Reading Buya Syafii.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co