2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alam Barzakh Navis di Dunia Saya | Catatan Atas Cerpen “Sebelum Pertemuan Dimulai” Karya AA Navis

Rizkul Hamkani by Rizkul Hamkani
October 15, 2023
in Esai
Alam Barzakh Navis di Dunia Saya | Catatan Atas Cerpen “Sebelum Pertemuan Dimulai” Karya AA Navis

AA Navis

PERNAHKAH kita membayangkan bagaimana kehidupan setelah kematian?  Mungkin ketika kita ditanya tentang hal tersebut, pikiran kita akan mengawang pada sebuah suasana mencekam, tempat menunggu timbangan amal, penasaran, dan bertanya-tanya ‘neraka atau surgakah tempat kita akan menetap nantinya?’. Alam ini dalam agama saya biasa disebut sebagai alam “Barzakh”, namun tidak begitu dengan cerpen yang dibuat oleh A.A. Navis berjudul “Sebelum Pertemuan Dimulai”.

Ia memberikan gambaran mengenai alam barzakh sebagai tempat penantian yang lapang, suatu gambaran berbeda dengan yang dipercaya dalam agama saya. “Para tokoh dunia sering bersua-sua dan berbincang-bincang tentang masa lalu yang mereka alami di dunia,” ungkapnya, bahkan tidak terkecuali membuat pertemuan-pertemuan layaknya di dunia.

Salah satu dari banyaknya pertemuan di alam barzakh ini digagas oleh Mahatma Ghandi dengan tema “Damai di Dunia Damai” yang katanya selalu aktual dibicarakan di manapun dan kapanpun. Namun, saya menganggap tema Ghandi hanya aktual di alam barzakh saja, karena di bumi tema yang mungkin aktual adalah “Rusuh di Dunia Rusuh”.

Pertemuan itu dihadiri oleh banyak peserta, bahkan tidak disangka-sangka oleh Ghandi sebelumnya. “Sungguhpun demikian dia merasa takjub juga saat melihat banyak tokoh perang dan tokoh teroris yang hadir”, karena yang diundang olehnya adalah tokoh-tokoh pemenang dan calon pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, serta orang-orang yang pantas untuk hadir menurutnya.

Dalam pertemuan yang akan dimulai itu, hadirin yang telah lelah menunggu dimulainya diskusi mulai bertanya pada Ghandi, ‘kapan pertemuan akan dimulai?’. Oleh Ghandi dijawab bahwa dia sedang menunggu sekretaris, yakni Chairil Anwar. Mulailah dari sana para hadirin menginterupsi agar sekretaris diganti saja, diganti dengan orang yang pantas menurut mereka. Mulai dari salah satu peserta, yaitu Stalin mengajukan Martin Luther King karena memiliki kesamaan dengan Ghandi, sampai Hitler mengajukan bahwa sekretaris haruslah dari bangsa Arya, karena merupakan bangsa paling mulia di dunia.

Setelah Chairil datang, ternyata pertemuan itu tidak kunjung dimulai karena para peserta sibuk berdebat mengenai mekanisme dan tata cara pertemuan. Para peserta yang dominan merupakan tokoh-tokoh penting di dunia tidak mau mengalah dengan tokoh lainnya, bahkan di alam barzakh sekalipun. Untunghlah di alam barzakh tidak ada toko, terkhususnya toko peralatan perang. Kalau ada, mungkin alam barzakh telah disulap layaknya dunia.

Ketika penulis menyuguhkan nama Ghandi dalam cerpen ini, tergambar dalam pikiran saya seorang tokoh perdamaian, seorang tokoh kemerdekaan India, seorang tokoh dunia yang melakukan perlawanan tanpa kekerasan, seorang yang memperjuangkan perdamaian melalui demonstrasi damai.

Namun, dalam cerpen ini, Ghandi digambarkan sebagai sosok tidak berdaya, seorang pimpinan pertemuan yang tidak dapat melerai peserta pertemuan yang berbeda pendapat. Ketika peserta pertemuan tidak dapat menerima pendapat peserta lain yang berbeda pendapat dengannya. Bahkan, pertemuan ini tidak kunjung dimulai. Tokoh seperti Ghandi pun tidak dapat memulai pertemuan ketika pesertanya adalah orang-orang yang hanya mementingkan egonya sendiri tanpa menerima perbedaan pendapat.

Untung saja latar waktu dalam cerpen tersebut adalah alam barzakh, bukan dunia kita sekarang ini. Karena mungkin, ending cerpen tersebut ketika latar waktunya bumi hari ini, setidaknya akan terjadi kerusuhan dan baku hantam, kemungkinan terburuknya adalah peperangan. Seperti pernyataan Buya Syafii dalam menangkap realitas sejarah dalam buku Islam & Politik bahwa “Budaya baku hantam adalah fenomena yang tak terpisahkan dari historisitas umat manusia.”

Karena begitulah watak kebanyakan masyarakat di sekitar kita, setidaknya di sekitar saya. Jarang sekali yang dapat menerima perbedaan pendapat. Orang lain harus setuju dengan pendapatnya. Padahal jika dilihat, kebanyakan orang di sekitar saya bahkan mungkin semuanya beragama Islam, dan Islam adalah agama damai. Namun sayangnya, penganutnya tidak mencerminkan sisi damai dari Islam dalam hal menyikapi perbedaan. Terkhususnya perbedaan pendapat.

Akhir tahun 2021, viral di Lombok Timur, warga di salah satu desa menolak pembangunan masjid yang berafiliasi ke Wahabi. Hal itu berujung pada demonstrasi agar masjid tersebut tidak didirikan. Padahal, masjid tersebut telah dalam proses pembangunan. Maklum, di wilayah tersebut mayoritas warganya adalah penganut Ahlu Sunnah wal Jamaah. Namun, hal tersebut tentu tidak serta merta tidak memperbolehkan adanya pembangunan rumah ibadah yang memiliki perbedaan pandangan, apalagi masih dalam ruang lingkup Islam. Jika ditelisik lebih dalam, salah satu yang diajarkan dalam paham Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah toleransi.

Padahal yang perlu dilakukan adalah mentolerenasi pendapat yang berbeda, sambil bersama-sama memajukan peradaban yang ditempati. Apalagi salah satu tujuan Islam menurut Buya Syafii dalam buku Membumikan Al-Qur’an adalah tercapainya suatu dunia yang manusiawi dalam bentuk tegaknya prinsip-prinsip persamaan, keadilan, persaudaraan, dan toleransi. Dalam bukunya yang lain, yakni Islam & Politik, Buya Syafii mengatakan “Islam mengakui dan menghormati segala bentuk pluralisme sebagai fakta sejarah yang tidak perlu dirisaukan.”

Saya takutnya Buya Syafii yang selalu menggaungkan tentang toleransi ketika ditaruh dalam posisinya Ghandi dalam cerpen tersebut tidak dapat memulai pertemuan layaknya Ghandi. Dikarenakan orang-orang dalam pertemuan adalah orang-orang yang senang berdebat dan tidak mau menerima perbedaan pendapat. Maka akan percuma nasihat-nasihat yang telah diberikannya ketika orang-orang tidak mulai membuka diri. Ketika ajaran langit tidak dibumikan, namun tetap berada di langit.

 Dengan tidak adanya toleransi ini, yang ada hanyalah perdebatan antar pendapat berbeda. Mungkin hal ini yang membuat tidak adanya kemajuan berarti dalam suatu peradaban. Orang-orang hanya sibuk mendebat dan rusuh antar satu dengan lainnya. Layaknya cerpen Navis, suatu pertemuan yang digagas, namun tidak kunjung dimulai karena semua peserta mendebat satu dengan lainnya. [T]

Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis
Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii
Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda
Tags: AA NavissastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Semua Adalah Politisi

Next Post

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Rizkul Hamkani

Rizkul Hamkani

Lahir di Lombok Timur 7 Februari 2001. Kuliah pada program studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Aktif bergiat di Komunitas Kelas Reading Buya Syafii.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co