6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Radinna Nandakita by Radinna Nandakita
October 9, 2023
in Esai
Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Radina Nandakita

SINGARAJA memiliki beberapa cerita historis, yang bisa dikatakan, membuat bangga masyarakatnya. Sebut saja, Singaraja sebagai kota kelahiran ibu dari putra sang fajar (sebutan untuk Ir. Soekarno).

Kemudian setelah era kemerdekaan, Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan di Bali, hingga kemudian secara resmi dipindahkan ke Denpasar pada 23 Juni 1960. Dan yang terpenting menurut saya, Singaraja pernah mendapat julukan sebagai Kota Pendidikan karena di sekitar tahun 1980, berdiri Fakultas Keguruan pertama di Bali yang mana saat itu, masih menjadi salah satu bagian dari Universitas Udayana.

Dua sejarah terakhir yang saya sebutkan, sudah tidak lagi melekat pada kota kelahiran saya ini. Saya tidak yakin betul, kapan tepatnya brand image sebagai kota pendidikan ini mulai menghilang. Namun, ketika Singaraja Literary Festival membuat workshop untuk menulis gagasan apa yang bisa saya berikan untuk memajukan kota ini kedepannya, saya rasa ini kesempatan terbaik saya untuk bisa menyampaikan segala kegundahan, pendapat, saran serta keinginan saya untuk mengembalikan branding Singaraja sebagai Kota Pendidikan, dalam versi modern.

Tahun 2011, saya menamatkan pendidikan terakhir saya di SMA N 1 Singaraja. Seperti yang kita ketahui, SMA 1 Singaraja terkenal akan siswa-siswinya yang berprestasi dan cemerlang. Saya sangat jumawa saat itu, karena saya, orangtua saya, bahkan keluarga saya di desa, bisa dengan bangga menyebut dimana putri semata wayangnya bersekolah.

“Dije panake masuk?”

“Di SMANSA, nak kemula dueg ye.”

Ya, saat itu, nilai akademik dan prestasi saya cukup baik. Dan saya pikir, itu semua sudah cukup. Setelah menamatkan bangku SMA, saya akan kuliah dan memiliki karir yang cemerlang. Tapi ternyata, dunia nyata tidak bekerja sesederhana itu.

Dunia nyata, tidak cukup dengan orang-orang pintar yang memiliki sederet nilai A+. Dari pengalaman hidup yang saya jalani, pendidikan karakter dan pola pikir yang solutif jauh lebih penting, melampaui nilai akademik itu sendiri. Berapa banyak dari para siswa di sini, yang harus menyontek hanya agar bisa melampaui passing grade yang ditetapkan? Syukurnya sudah ada Kurikulum Merdeka yang sedang ditahap uji coba, tapi bagaimana jika kita mencoba berpikir jauh ke depan, mengenai sistem pendidikan kita?

Seberapa banyak teknologi sudah masuk kekehidupan kita  dalam 10 tahun terakhir? Lalu, sudah seberapa banyak perkembangan dunia pendidikan kita untuk beradaptasi dengan teknologi itu selama 10 tahun terakhir? Yes. Ada masalah dengan dunia pendidikan kita di Indonesia, karena kita hingga saat ini, belum menemukan formula yang tepat untuk bisa dikategorikan sebagai Negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Jadi, gagasan saya untuk Kota Singaraja yang begitu saya cintai, salah satunya untuk berkonsentrasi pada dunia pendidikan dan mengembalikan julukan lamanya. Singaraja harus dikenal sebagai kota dimana banyak para orang-orang kreatif, cerdas dan terdidik tercipta. Kota yang menelurkan begitu banyak tokoh intelektual, budayawan dan juga seniman. Baik dulu, saat ini dan hingga ribuan masa mendatang.

Jika memungkinkan, suatu saat nanti, saya ingin mendirikan lembaga pendidikan formal dengan konsep boarding school mulai dari tingkat SD hingga SMA. Di sini, saya tidak mencari anak-anak pintar yang ingin nilainya sempurna. Saya mencari anak-anak yang ingin memberi dampak dan bermanfaat, bukan hanya untuk diri merek sendiri, tapi untuk orang-orang di sekitarnya. Anak-anak yang ingin saya didik untuk memiliki integritas, komitmen dan tentunya kecintaan untuk membangun negeri.

Metode pembelajaran yang akan saya gunakan adalah kombinasi Waldorf (metode pendidikan yang dirintis oleh Rudolf Steiner dari Austria)  dan Sariswara (metode pendidikan yang digagas oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara). Kedua metode ini mengedepankan aspek kesenian dalam proses pembelajarannya dan menumbuhkan rasa cinta belajar dari dalam diri anak-anak itu sendiri, bukan dari iming-iming hadiah liburan ke luar negeri.  

Penggabungan dua metode ini penting menurut saya untuk ditanamkan sejak dini untuk mengasah imajinasi, kreativitas dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Selain itu, saya meyakini bahwa Buleleng sangat berpotensi melahirkan generasi-generasi kreatif yang berdedikasi pada dunia seni.

Untuk menuju semua itu, saya akan mulai dengan membangun karakter dan rasa cinta mereka terhadap sekolah, di mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Karena tidak jarang, anak-anak kelewat dimanja oleh orangtua mereka karena para orangtua tidak tahan pada rengekan. Mereka berlindung di balik kata ‘sayang’, tapi jika itu menjadi boomerang, bukankah kata ‘sayang’ tersebut pantas untuk dipertanyakan? Untuk bisa mengurangi rasa ‘sayang’ yang berlebihan dari orangtua, maka saya pikir konsep asrama adalah yang terbaik untuk dilakukan.

Selama 6 tahun di Sekolah Dasar, anak-anak akan fokus, bukan pada hitung-hitungan 1+1=2, melainkan pada pendidikan budi pekerti, empati, kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan bukan untuk citra diri, tapi menumbuhkan rasa bahagia dalam diri mereka sejak dini. Mereka akan belajar untuk menjawab : Kenapa 1+1=2 dengan segala imajinasi yang mereka bayangkan. Itu salah satu contoh idenya.

Lanjut ke tingkat Sekolah Menengah Pertama, anak-anak ini akan memasuki usia remaja dimana secara naluriah dan hormonal, mereka memang akan memiliki hasrat dan ketertarikan pada remaja lainnya.  And this is so normal!  Kita hanya harus mengarahkan mereka tentang konsep konsensual, mengajari mereka bagaimana cara untuk membagi waktu untuk diri mereka sendiri sebagai pelajar dan sebagai remaja. Membimbing mereka, untuk menjadi versi terbaik yang mereka bisa. Di tahap ini, akan ada banyak kegiatan extrakurikuler yang bisa mereka coba untuk lebih memahami potensi diri mereka di masa mendatang.

Berikutnya, tingkat Sekolah Menengah Akhir, dimana mereka akan dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa sebelum pada akhirnya siap dilepas ke dunia nyata. Di fase ini, mereka sudah tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari teori di ruang kelas,  namun akan lebih banyak berkegiatan di luar sekolah. Mengerjakan proyek berkelompok ataupun secara individu, membuat riset atau karya ilmiah, membuat kegiatan hiburan rakyat untuk mengasah mental dan keterampilan dan masih banyak lagi.

Di tahun terakhir, mereka akan mendapat kesempatan magang di profesi yang mereka cita-citakan, untuk melihat langsung realita dunia kerja di lapangan, sebelum benar-benar memutuskan untuk lanjut kuliah di jurusan yang sebelumnya ingin mereka tuju.

Sebagai contoh, sebut saja Niluh, ingin menjadi dokter kandungan. Saat kelas 3 SMA, dia akan magang di klinik bersalin sebagai staff administrasi atau sekedar asisten bidan atau doula untuk para ibu yang akan melahirkan. Tentu sebelumnya mereka akan diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar teorinya.

Namun, setelah melihat aksi dokter kandungan dalam jarak yang begitu dekat, Niluh baru menyadari kalau proses melahirkan membuatnya begitu ketakutan. Jerit histeris para ibu yang melawan sakit membuatnya merinding sepanjang hari. Setelah menyadari bahwa menjadi dokter kandungan mungkin bukanlah profesi yang tepat untuknya, ia masih berkesempatan untuk mengubah tujuan karirnya. Tentu saja dengan dibekali konseling oleh psikolog remaja yang ahli di bidangnya.

Akhir kata, sebagai orangtua, saya menyadari bahwa fondasi awal untuk pembentukan karakter anak-anak adalah melalui keluarganya. Namun, realitanya saya sadar bahwa berkarir sambil mendidik anak itu bukan tugas yang mudah dan jika ada lembaga pendidikan yang lebih kompeten untuk melakukannya, saya rasa tidak ada yang salah untuk menyerahkan pendidikan awal kepada orang yang ahli di bidang tersebut. [T]

  • Esai ini adalah salah satu hasil dari workshop menulis gagasan tentang Kota Singaraja pada acara Singaraja Literary Festival 2023
Kata Kembali Merumah di Singaraja
Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti
Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: PendidikanSingarajaSingaraja Literary Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Next Post

Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Radinna Nandakita

Radinna Nandakita

Lahir di Singaraja, Bali, sempat mukim di Jakarta, kini kembali tinggal di Singaraja. Mantan pramugari yang gila menulis. Tulisannya tentang "pramugalau" - kehidupan dirinya sebagai pramugari dan sebagai ibu yang super, digemari ribuan penggemar di radinnanandakita.blogspot.co.id

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co