13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Riwayat Jalan Tol: Diam-diam Tapi Mencekik

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
July 3, 2023
in Esai
Riwayat Jalan Tol: Diam-diam Tapi Mencekik

Ilustrasi Tatkala.co

SAYA INGIN memulai tulisan ini dengan memperkenalkan salah satu istilah yang saya suka dari Seno Gumira Ajidarma dalam buku “Kentut Kosmopolitan” terbitan dari Pabrik Tulisan. Istilahnya yang diperkenalkannya adalah “Homo Jakartensis”.

Apa sih itu Homo Jakartensis? Istilah ini oleh Seno digunakan untuk menggambarkan manusia-manusia yang tinggal di Jakarta, lengkap dengan kehidupannya di kota metropolitan, bahkan disebut-sebut beranjak menjadi kota kosmopolitan.

Tidak hanya sekadar sebutan, Homo Jakartensis juga dapat dikatakan sebagai sebuah identitas yang dilekatkan oleh orang-orang yang tinggal dan berjuang untuk bertahan hidup di Jakarta. Kalau anak kampung sini a.k.a akamsi menyebutnya, Jakarta Keras Boss!

Sebagai orang yang sudah tinggal di Jakarta kurang lebih selama setahun, tentu saya juga bisa disebut sebagai Homo Jakartensis. Memang benar kata akamsi, kalau hidup di Jakarta sangatlah keras. Persaingan selalu ada di setiap ruang dan waktu. Tanpa ada keinginan untuk maju, saya yakin orang-orang yang berada di Jakarta akan tergilas oleh persaingan.

Tapi, selain menyediakan persaingan, Jakarta juga menyediakan pelbagai fasilitas dan kemudahan yang dapat dinikmati oleh seluruh Homo Jakartensis. Misalnya, sisi bisnis (Jakarta adalah pasar yang potensial bagi para pengusaha), lalu sisi informasi (Jakarta adalah pusat dari pelbagai produksi informasi), hingga sisi transportasi (Jakarta adalah salah satu kota dengan alternatif alat transportasi yang beragam).

Dan dalam tulisan ini saya mau membahas salah satu alternatif transportasi yang tidak hanya ada di Jakarta, tetapi juga di daerah lain, yaitu jalan tol.

Jalan Tol Adalah…

Bagi banyak orang, jalan tol adalah alternatif rute dengan tujuan memangkas waktu tempuh antara satu tempat ke tempat lainnya. Dengan kelebihan yang dimiliki, tentu bagi orang-orang yang ingin melalui jalan tol harus membayar sejumlah uang. Dan itu sangatlah wajar. Ada fasilitas, ada harga Boss! Hehe.

Tarif tol pun beragam, tergantung dengan jarak tempuh, strategis atau tidaknya lokasi, hingga perbedaan dari pihak pengelolanya. Hadirnya fasilitas ini tentu di satu sisi dapat memudahkan akses masyarakat untuk mempercepat seseorang dalam mencapai suatu tempat. Tapi di satu sisi, jalan tol pun memberi tekanan bagi para penggunanya, yakni dari sisi tarif tol. Saya punya satu pengalaman yang baru-baru ini saya alami.

Menjelang hari raya Idul Adha, saya dan beberapa kawan Homo Jakartensis meluncur ke Lampung untuk menghadiri upacara pernikahan seorang senior. Alat transportasi yang kami gunakan tentu saja mobil—pilihan yang paling efektif dan efisien. Dan jalan tol adalah sebuah solusi untuk memangkas waktu tempuh, alias memperpendek jarak.

Benar saja, waktu tempuh dari Jakarta ke Pelabuhan Merak yang berada di Cilegon, Banten hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam—itu pun sudah termasuk makan dan minum di rest area. Selepas meninggalkan Pelabuhan Bakauheni, mobil kami memasuki gerbang tol Bakauheni Selatan.

Sebelum jauh bercerita, saya dan salah satu teman sudah mengecek tarif tol yang akan kami lalui di Lampung, dan juga sudah mengisi kartu e-money kami dengan nominal yang menyesuaikan dengan tarif tol yang tertera di internet.

Tarifnya kurang lebih Rp. 90 ribu. Perjalanan dari gerbang Tol Bakauheni Selatan hingga ke gerbang Tol Metro kurang lebih berjarak 105 km dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam 45 menit. Singkat bukan? Namun yang membikin kami kaget adalah ketika melihat papan informasi yang menginformasikan tarif tol sesuai dengan golongan kendaraannya.

Tarif tol bagi mobil yang masuk ke golongan satu dengan rute awal gerbang Tol Bakauheni Selatan dan berakhir di gerbang Tol Metro ternyata sekitar Rp. 140 ribu. Besarnya tarif tol tersebut tentu memaksa kami untuk kembali mengisi e-money agar bisa keluar dari jalan tol.

Tidak Kuasanya Penguasa Berhadapan dengan Pengusaha

Pengalaman tersebut kemudian saya ceritakan kepada salah seorang teman saya yang memang tinggal di Lampung. Jawabannya juga bikin saya kaget, “Tarif tol di Lampung memang baru-baru ini naik hampir 50%, bahkan itu tanpa pemberitahuan.” Ternyata tidak hanya saya yang kaget, tetapi akamsi pun juga sebelumnya sudah kaget lebih dulu.

Pengalaman ini membuat saya teringat dengan sebuah diskusi di ruang kelas pemikiran politik oleh Prof. Maswadi Rauf yang kala itu sedang membahas tentang Marxisme. Ia menyebutkan sebuah teori, yakni Teori Ekonomi Politik Marx yang berisi tentang hubungan antara pemerintah dengan pengusaha (suprastruktur dengan infrastruktur).

Marx menyebutkan bahwa suprastruktur (negara, pemerintah) sangat ditentukan oleh infrastruktur (industri, pengusaha). Hal tersebut kemudian menciptakan kondisi negara yang memberikan perlindungan kepada pengusaha (kaum kapitalis).

Apabila melihat konteks naiknya tarif tol yang kemudian dikaitkan dengan teori tersebut, maka dapat dikatakan negara dalam kondisi yang tidak berdaya dalam menghadapi pengusaha. Sehingga pengusaha-pengusaha jalan tol, tanpa perlu memberitahu lebih dulu merasa berhak untuk menaikkan tarif tol.

Ketidakberdayaan tersebut tentu bermuara pada tercekiknya kondisi ekonomi rakyat. Pengguna jalan tol dipaksa untuk membayar lebih mahal dari biasanya, dengan fasilitas yang bisa dikatakan, sama—bahkan di beberapa titik jalan tol mengalami kerusakan yang dapat membahayakan pengendara.

Naiknya tarif tol juga memberi pengaruh pada harga komoditas. Hal ini dikarenakan distribusi komoditas adalah salah satu aspek dari ongkos produksi yang harus dihitung. Jika tarif tol naik, maka secara otomatis harga komoditas di pasaran juga akan naik. Naa, melihat situasi itu kira-kira siapa yang akan menjadi korbannya? Tentu saja rakyat kecil.

Sebagai Homo Jakartensis newbe, saya menyadari meski fasilitas yang disediakan negara tidak semua rakyatnya dapat menikmati, tetapi dampak dari kebijakan fasilitas tersebut bahkan bisa dirasakan oleh lelaki tua yang sedang sibuk menyemprotkan pestisida di lahan pertaniannya. Kira-kira kalian punya pengalaman serupa?[T]

Kosmopolitanisme Bali di Persimpangan Jalan | Konflik Dresta-Non Dresta
Di Jakarta, Teruslah Membaca
Memilih Jakarta, Kedua Kalinya
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta
Tags: DKI JakartaJakartajalan tolkekuasaanPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lakon Alengka Brastha: Saat Hanoman Membakar Alengka

Next Post

Generasi Janger Anak-anak dari Banjar Mukti Singapadu 

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Janger Anak-anak dari Banjar Mukti Singapadu 

Generasi Janger Anak-anak dari Banjar Mukti Singapadu 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co