2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dibutuhkan Seni yang Menggugat | Dari Pameran ArtOs Nusantara

I Wayan Westa by I Wayan Westa
June 8, 2023
in Ulas Rupa
Dibutuhkan Seni yang Menggugat | Dari Pameran ArtOs Nusantara

Suasana pameran seni rupa ArtOs Nusantara di Banyuawangi, Jawa Timur | Foto: Dok pameran

SETELAH SUKSES  MENGGELAR pameran pertama, dengan  tema “Kembang Langit”,  Art Osing,  sering dieja  sebagai ArtOs,  kembali menggelar pameran  kali kedua. Pameran   dengan tema ArtOs Nusantara  dibuka  Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, diantar sambutan daring  Mentri  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,  Sandiaga Salahuddin Uno.

Ada yang menarik dari pameran  tahun ini, selain membuka lokus  baru seni lukis pesisir — dengan segenap diaspora  kultural yang terjadi di Banyuwangi — ArTOs kali ini seakan-akan  menautkan sejarah niaga Kota Pesisir Banyuwangi, perihal perkembangan sejarah kota dan anasir-anasir yang membangun  budaya Banyuwangi.

Sebagai kota pesisir —  wilayah paling timur Pulau Jawa ini seperti ditakdirkan  menjadi ‘ dermaga’ kultural,  mewariskan tenunan kebudayaan dan tradisi  khas — di mana silang kebudayaan, diaspora sosio kultural  mengalir  membentuk  identitas  kebudayaan Banyuwangi . Memang ada  yang terus mengalir di kota pesisir ini, sekaligus menunjukkan daya kreatif kota  dalam silang campur kebudayaan yang dinamis.

Terlepas dari tema ke-nusantara-an, dalam rajutan spirit tradisi pulau-pulau —  pameran seni lukis dan  instalasi kali  ini digelar di sebuah gudang tua,  tepat di depan teluk buatan, di pesisir Pantai Boom — di mana kesilaman dan kekinian disambung  dalam rajutan  akar-akar tradisi  menuju wajah kekinian budaya Banyuwangi. Dan pameran kali ini seperti tengah menarasikan semangat kreatif baru  di tengah-tengah dunia kian datar   dalam jejaring nirkabel dunia metaverse dan tantangan dunia serba baru.

Memang sejak zaman silam, alih-alih setelah VOC  menekuk Belambangan, usai perang Banyu  [1771],  menelan banyak korban, Banyuwangi menjelma sedemikian rupa sebagai kota niaga. Pantai Boom, di mana gudang tua ini disisakan sejarah, entah karena kebetulan dijauhkan dari libido vandalisme,  yang  awalnya adalah pelabuhan penting di mana kapal-kapal hilir mudik mengangkut rempah dan hasil bumi antarpulau. Dan di titik ini,  laut tak cuma menjadi sumber hidup rakyat — namun ikut menghidupkan ruang-ruang imajinasi  para  seniman di Banyuwangi.

Bahkan berdasarkan sumber-sumber lisan, gudang tua ini pernah dijadikan  gudang simpan logistik Perang Dunia I [1914 -1918], di mana  kontak telegram dari Banyuwangi   ke Darwin,  atau  dari Perth ke Banyuwangi   terjalin  baik. Bisa dibayangkan, seperti apa kesibukan gudang peti kemas ini di masa silam itu. Namun sebagai cagar budaya satu-satunya di Banyuwangi, ArtOs  menginisiasi  gudang  tua ini untuk menggurat narasi baru — narasi progresif  untuk generasi  Banyuwangi yang nyaris kehilangan memori tradisi —  di tengah-tengah dunia kian datar tehnologi android, di mana tak ada sesuatu bisa disembunyikan masyarakat dunia.

Ini artinya,  sebagai pelabuhan penting,    Banyuwangi    tak  cuma   terhubung  dengan pulau-pulau  di  Nusantara, akan tetapi  terkoneksi  juga dengan dunia internasional, dalam konekting  sosio-kultural  global —  menjadi kota pesisir  terbuka,   lalu terbangun diaspora tersendiri dari berbagai anasir dunia tanpa batas.

Benar apa yang dikatakan Imam Maskun, dari Yayasan Langgar Art Banyuwangi,  posisi kota Banyuwangi sebagai kawasan port penting kerajaan pesisir Belambangan sejak dari era Majapahit, membawa serta berbagai aspek kebudayaan saling bersinggungan hingga kemudian turut membentuk wajah kebudayaan Banyuwangi yang dikenal sebagai  budaya Osing. Sebagai karakter budaya pesisir, kebudayaan Osing terbentuk dari persilangan hibridasi berbagai kebudayaan, setidaknya diramu dari budaya Jawa, Madura, dan Bali, serta keterlibatan anasir kebudayaan lain.

Menurut Imam Maskun, latar belakang inilah yang menjadi spirit pengembangan pameran ArtOs Nusantara,  ia menjadi sebentuk projek kolaborasi bertajuk “Perjumpaan seni rupa Osing dengan seni rupa kontemporer  daerah-daerah lain menuju seni rupa Indonesia baru”. Setidaknya perjumpaan ini menjadi lokus baru di mana benih-benih  seni disemai dalam  taman kreatif para perawat  dan pengalir kebudayaan. Dan ArtOs menjadi pencetus paling  bersemangat  mendekatkan memori tradisi itu untuk generasi kini.

Karya dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Pameran dikuratori I  Wayan Seriyoga Parta,  seniman akademis kelahiran Bali, kandidat doktor yang memiliki pengalaman panjang mengkurasi seniman-seniman nasional. Walau sebagaimana pengakuan Seriyoga Parta, tidak mudah melihat perkembangan seni rupa Banyuwangi, mengingat banyak senimannya tumbuh dan besar di luar daerah — satu hal yang menarik misalnya, adalah ulang alik Banyuwangi dan Bali. Mengingat ada sebagian besar seniman-seniman Banyuwangi memulai karier melukis dari Bali. Menyebut beberapa nama misalnya;  ada Mozes Misdi, Awiki, Huang Fong, S.  Yadi K. hingga generasi muda seperti Haruman Huda, Abdul Rohim, Windu Pamor, Suryantara, dan lain-lain.

Soal gelar rupa itu, perihal lukisan-lukisan yang dipajang di gedung tua  itu,  secara tehnik dan  teoritik,  memang telah menjadi sesuatu yang  kurang urgen diperbincangan — setidaknya bagi kalangan   perupa dan pemerhati seni. Namun, pameran itu sendiri, dari masing-masing perupa yang hadir,  pasti ingin menyampaikan pesan tersendiri. Pesan yang  dititipkan  atas  tarian garis dan warna, baik dalam guratan-guratan memori tradisi dan kontemporer. Ini satu perjumpaan memorial, termasuk spirit pulau-pulau, dari mana  muasal para seniman membawa serta gen intuitifnya.

Sementara, di luar  titipan pesan  yang personal itu,  tentu tak mudah ditebak bagi awam —  namun  siapa saja bisa melihat pesan kontekstualnya. Sebutlah lukisan  bertajuk “Ranting Darma”, karya perupa Bambang Heras,  di mana dalam lukisan itu ia “menaruh”  kepala Buddha di ranting-ranting  pohon.  Ini sesuatu yang ganjil bagi awam — pesan yang tak mudah ditebak, tetapi meninggalkan sejumlah tanda tanya.

.

Karya Nyoman Erawan dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Namun secara semiotik, ada penanda bisa dibaca,  ia bisa saja menitipkan pesan, betapa kebajikan   atau  darma   tak lagi  berdaulat di benak, tak lagi  sebagai kekayaan rohaniah milik  kita bersama.  Ia bertengger jauh di ranting-ranting kering,   menjadi kekayaan   langka milik manusia modern yang dirajam konsumerisme dan hedonisme. Ia menjadi  sejenis satire, di mana banyak orang  cuma mengejar kebajikan  di buku-buku, bahkan   memburunya  sampai ke negeri jauh, atau  sebaliknya ;  kebajikan sudah menjadi kutuk;  mudah diucapkan, tak gampang didirikan. Sementara  bukankah Buddha ada di benak semua mahluk?  

Lalu, kita lebih percaya  kepala orang lain tinimbang  isi kepala sendiri?  Pertanyaan ini   menyebabkan “kebajikan  berlari”, terbang, bergelantungan di ranting-ranting kering. Atau si perupa hendak membahasakan satu nubuat,  Buddha ada  di mana-mana, cinta dan kebajikan menubuh di mana-mana. Itulah yang bisa kita baca dari Bambang Heras, sementara  kita tak penah paham pesan  perupa sesungguhnya. Lalu, entah apa yang  hendak dititipkan lewat lukisan bertajuk “Ranting Darma” itu.

Sementara yang membuat  kita tercenung  ‘lukisan teaterikal’ Budi Ubruk berjudul “Enjoy Your Life”, hadir dalam rupa  sosok manusia koran   tengah membaca koran. Namun dua di antara tiga  sosok yang hadir di lukisan itu tengah membaca koran  bolong.   Ini seperti  hendak  menyampaikan pesan, sebuah dunia yang  tengah ditindih post truth, dunia  kehilangan kebenaran akibat   fakta objektif tak lagi memberi pengaruh  membentuk opini publik — inilah kemudian dimaksud dengan paska kebenaran.  Namun makna  koran bolong Budi Ubruk  tak  persis bisa kita  paham,  ia menjadi sejenis jebakan ambiguitas,  kecuali   mesti dijulurkan pada  pengertian  konotatif,  betapa hari ini;  berita-berita, fakta-fakta, liputan pers   kerap tidak  mewakili kebenaran  sesungguhnya.

Hoak, advetorial, propaganda  membuat  peristiwa semakin berkabut. Yang terang tak mudah ditebak dari tempat yang terang.  Memang,  kala dunia nirkabel berbasis android  hadir seperti air bah,  koran dan produk pers lainnya  tak  gampang dipilah untuk  sepenuhnya dipercaya. Semua membangun wacana sendiri, semua memiliki agenda tersendiri. Yang batil, yang jujur, yang terang, tak seketika bisa dicerna.  Kebenaran menjadi bias, fakta-fakta dimitoskan, begitu sebaliknya — semua sumber berita  terancam “bolong”.  Fakta, data, peristiwa mengalami distorsi. Kebenaran  dibuat  seperti gadis  pemalu  di depan publik. Begitulah “Enjoy Your Life” Budi Ubruk,  ia terpaksa ‘enjoy’, seperti senyum  pedagang  buat pelanggannya.

.

Karya-karya dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Dari kaca mata kebudayaan, tak semua lukisan yang hadir di sini bisa dibaca  secara lugas.   Namun pesan paling universal  adalah,  para perupa itu tengah  menari  —  menjadikan garis dan warna itu  sebagai tarian jiwa.  Ada yang menari abstrak kontemporer, ada  yang menari dengan   warna-warna tradisi, meliuk  dengan wajah-wajah wayang, ritual-ritual lokal,  serta tarian nelayan mengayuh lautan.  Lalu  semua yang tampil  membentuk  diaspora estetik Banyuwangi, menjadi sebentuk kerinduan artistik  yang menyembul dari kanal-kanal batin para perupa.

Terkait dengan tema kenusantaraan itu, ArtOs memang tidak cuma menghadirkan para perupa Banyuwangi semata. Seniman antarpulau juga ikut memberi andil bagi terbangunnya diaspora itu. Dari Bali hadir maestro Nyoman Erawan,  menyajikan konstruksi “puing-puing” tradisi, “sisa-sisa upacara”  dibangun menjadi lanskap baru bertajuk “Tapak Pertiwi”, tatahan warna-warni dalam detail “wajah-wajah samar” tradisi purbani Bali. Satu kehancuran artistik dunia Erawan,  terbuat dari seng menjulur bumi.

Ada juga lukisan I Wayan Redika, berjudul “Mata Kalangwan”, satu potret penari Bali dalam sejumlah pose  dalam tatapan penuh pesona. Redika mempertujukkan satu keterampilan canggih, di mana mata, memesona sebagai “mata kalangwan”, mata keindahan  dalam tatapan  seorang dara Bali, baik sebagai objek sekaligus sebagai subyek. Wajah atau air muka akan menggambarkan apa yang ada di dalam. Itulah “mata kalangwan” Wayan Redika.

Namun di antara  banyak perupa yang hadir, berpameran di gudang tua ini tak banyak yang menggarap tema gugatan, mencibir  dengan gaya satire keadaan-keadaan  dunia  sebagai problem bersama.  Di antara yang tak banyak itu, Ketut Putrayasa, seniman kelahiran Desa  Canggu, Bali  hadir dengan seni instalasi bertajuk “Proyek Mengeringkan Air”. Satu gugatan menohok  pada masalah-masalah pembangunan fisik  yang   tak lagi mengindahkan lingkungan. Alih  fungsi hutan, perusakan ekosistem alamiah  menyebabkan kelangkaan  sumber-sumber air terus berjalan tanpa memperdulikan sumber-sumber air alami.

Karya Ketut Putrayasa dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Lewat lima pilar beton,  rujukan satiris  pada keangkuhan dan kekakuan, dengan besi cor  dibiarkan tak tuntas, ditempeli puluhan anger jemuran warna-warni, digantungi kantong plastik penuh air, bergambar mata  bertuliskan nama-nama air  se-Nusantara — Putrayasa seperti tengah menyesali keadaan,  sembari melayangkan gugatan heroik pasal 33.3 Undang Undang Dasar 1945 — di mana bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Putrayasa merespon pilar-pilar beton itu dengan tarian  Jawa, diiringi  sinden , suling, dan rebab. Pembacaan puisi “Obituari Sungai” oleh penyair Wayan Jengki Sunarta.  Lalu tarian yang melengok lembut di depan pilar beton,  nampak seperti tarian roh-roh  pohon yang  ditumbangkan  atas nama pembangunan — yang sesungguhnya  menjadi tumbal peradaban beton.

Sayang, hari ini orang merasa lebih seksi menanam beton, tinimbang menanam pohon. Manusia lebih memilih materi mati, tinimbang yang hidup merohani. Itulah arti lima pilar Ketut Putrayasa, tentang kabar kematian pelan-pelan, tentang hari depan bumi dan perang air yang terus menghantui. Tentang nasib anak cucu bagimana ia bertahan dari keserakahan leluhurnya.

Memang di tengah-tengah krisis multidimensi, hakikat hidup kebudayaan, serta hakikat makna hidup manusia harus dirawat, dikembalikan daya hidupnya  tidak hanya oleh para santo, budayawaan, rohaniawan. Namun  suara seniman, adalah juga  penjaga ruh, supaya  dunia dijauhkan dari krisis kegelapan abad. Seniman adalah perawat bagi setiap batin yang kerontang — seperti juga pameran ArtOs  di gudang  ini,   berusaha menjernihkan kembali oase estetik yang  dipendam libido badaniah, menuju cahaya  terang  kebudayaan, di mana akal budi diasah merasakan kepekaan-kepekaan lebih sensitif perihal  makna kemanusiaan  dan kebudayaan bagi hidup bersama — di mana tugasnya adalah meluhurkan pakerti hidup. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: balibanyuwangiJawa TimurKetut PutrayasaNusantaraNyoman ErawanPameran Seni RupaSeni RupaSuku OsingWayan Redika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pelajar SMP Menggambar Wajah Bung Karno

Next Post

Penutupan Pengabdian Masyarakat Nata Citta Swabudaya ISI Denpasar di Desa Batur,  Inilah yang Sudah Dilakukan

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Penutupan Pengabdian Masyarakat Nata Citta Swabudaya ISI Denpasar di Desa Batur,  Inilah yang Sudah Dilakukan

Penutupan Pengabdian Masyarakat Nata Citta Swabudaya ISI Denpasar di Desa Batur,  Inilah yang Sudah Dilakukan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co