1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dibutuhkan Seni yang Menggugat | Dari Pameran ArtOs Nusantara

I Wayan Westa by I Wayan Westa
June 8, 2023
in Ulas Rupa
Dibutuhkan Seni yang Menggugat | Dari Pameran ArtOs Nusantara

Suasana pameran seni rupa ArtOs Nusantara di Banyuawangi, Jawa Timur | Foto: Dok pameran

SETELAH SUKSES  MENGGELAR pameran pertama, dengan  tema “Kembang Langit”,  Art Osing,  sering dieja  sebagai ArtOs,  kembali menggelar pameran  kali kedua. Pameran   dengan tema ArtOs Nusantara  dibuka  Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, diantar sambutan daring  Mentri  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,  Sandiaga Salahuddin Uno.

Ada yang menarik dari pameran  tahun ini, selain membuka lokus  baru seni lukis pesisir — dengan segenap diaspora  kultural yang terjadi di Banyuwangi — ArTOs kali ini seakan-akan  menautkan sejarah niaga Kota Pesisir Banyuwangi, perihal perkembangan sejarah kota dan anasir-anasir yang membangun  budaya Banyuwangi.

Sebagai kota pesisir —  wilayah paling timur Pulau Jawa ini seperti ditakdirkan  menjadi ‘ dermaga’ kultural,  mewariskan tenunan kebudayaan dan tradisi  khas — di mana silang kebudayaan, diaspora sosio kultural  mengalir  membentuk  identitas  kebudayaan Banyuwangi . Memang ada  yang terus mengalir di kota pesisir ini, sekaligus menunjukkan daya kreatif kota  dalam silang campur kebudayaan yang dinamis.

Terlepas dari tema ke-nusantara-an, dalam rajutan spirit tradisi pulau-pulau —  pameran seni lukis dan  instalasi kali  ini digelar di sebuah gudang tua,  tepat di depan teluk buatan, di pesisir Pantai Boom — di mana kesilaman dan kekinian disambung  dalam rajutan  akar-akar tradisi  menuju wajah kekinian budaya Banyuwangi. Dan pameran kali ini seperti tengah menarasikan semangat kreatif baru  di tengah-tengah dunia kian datar   dalam jejaring nirkabel dunia metaverse dan tantangan dunia serba baru.

Memang sejak zaman silam, alih-alih setelah VOC  menekuk Belambangan, usai perang Banyu  [1771],  menelan banyak korban, Banyuwangi menjelma sedemikian rupa sebagai kota niaga. Pantai Boom, di mana gudang tua ini disisakan sejarah, entah karena kebetulan dijauhkan dari libido vandalisme,  yang  awalnya adalah pelabuhan penting di mana kapal-kapal hilir mudik mengangkut rempah dan hasil bumi antarpulau. Dan di titik ini,  laut tak cuma menjadi sumber hidup rakyat — namun ikut menghidupkan ruang-ruang imajinasi  para  seniman di Banyuwangi.

Bahkan berdasarkan sumber-sumber lisan, gudang tua ini pernah dijadikan  gudang simpan logistik Perang Dunia I [1914 -1918], di mana  kontak telegram dari Banyuwangi   ke Darwin,  atau  dari Perth ke Banyuwangi   terjalin  baik. Bisa dibayangkan, seperti apa kesibukan gudang peti kemas ini di masa silam itu. Namun sebagai cagar budaya satu-satunya di Banyuwangi, ArtOs  menginisiasi  gudang  tua ini untuk menggurat narasi baru — narasi progresif  untuk generasi  Banyuwangi yang nyaris kehilangan memori tradisi —  di tengah-tengah dunia kian datar tehnologi android, di mana tak ada sesuatu bisa disembunyikan masyarakat dunia.

Ini artinya,  sebagai pelabuhan penting,    Banyuwangi    tak  cuma   terhubung  dengan pulau-pulau  di  Nusantara, akan tetapi  terkoneksi  juga dengan dunia internasional, dalam konekting  sosio-kultural  global —  menjadi kota pesisir  terbuka,   lalu terbangun diaspora tersendiri dari berbagai anasir dunia tanpa batas.

Benar apa yang dikatakan Imam Maskun, dari Yayasan Langgar Art Banyuwangi,  posisi kota Banyuwangi sebagai kawasan port penting kerajaan pesisir Belambangan sejak dari era Majapahit, membawa serta berbagai aspek kebudayaan saling bersinggungan hingga kemudian turut membentuk wajah kebudayaan Banyuwangi yang dikenal sebagai  budaya Osing. Sebagai karakter budaya pesisir, kebudayaan Osing terbentuk dari persilangan hibridasi berbagai kebudayaan, setidaknya diramu dari budaya Jawa, Madura, dan Bali, serta keterlibatan anasir kebudayaan lain.

Menurut Imam Maskun, latar belakang inilah yang menjadi spirit pengembangan pameran ArtOs Nusantara,  ia menjadi sebentuk projek kolaborasi bertajuk “Perjumpaan seni rupa Osing dengan seni rupa kontemporer  daerah-daerah lain menuju seni rupa Indonesia baru”. Setidaknya perjumpaan ini menjadi lokus baru di mana benih-benih  seni disemai dalam  taman kreatif para perawat  dan pengalir kebudayaan. Dan ArtOs menjadi pencetus paling  bersemangat  mendekatkan memori tradisi itu untuk generasi kini.

Karya dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Pameran dikuratori I  Wayan Seriyoga Parta,  seniman akademis kelahiran Bali, kandidat doktor yang memiliki pengalaman panjang mengkurasi seniman-seniman nasional. Walau sebagaimana pengakuan Seriyoga Parta, tidak mudah melihat perkembangan seni rupa Banyuwangi, mengingat banyak senimannya tumbuh dan besar di luar daerah — satu hal yang menarik misalnya, adalah ulang alik Banyuwangi dan Bali. Mengingat ada sebagian besar seniman-seniman Banyuwangi memulai karier melukis dari Bali. Menyebut beberapa nama misalnya;  ada Mozes Misdi, Awiki, Huang Fong, S.  Yadi K. hingga generasi muda seperti Haruman Huda, Abdul Rohim, Windu Pamor, Suryantara, dan lain-lain.

Soal gelar rupa itu, perihal lukisan-lukisan yang dipajang di gedung tua  itu,  secara tehnik dan  teoritik,  memang telah menjadi sesuatu yang  kurang urgen diperbincangan — setidaknya bagi kalangan   perupa dan pemerhati seni. Namun, pameran itu sendiri, dari masing-masing perupa yang hadir,  pasti ingin menyampaikan pesan tersendiri. Pesan yang  dititipkan  atas  tarian garis dan warna, baik dalam guratan-guratan memori tradisi dan kontemporer. Ini satu perjumpaan memorial, termasuk spirit pulau-pulau, dari mana  muasal para seniman membawa serta gen intuitifnya.

Sementara, di luar  titipan pesan  yang personal itu,  tentu tak mudah ditebak bagi awam —  namun  siapa saja bisa melihat pesan kontekstualnya. Sebutlah lukisan  bertajuk “Ranting Darma”, karya perupa Bambang Heras,  di mana dalam lukisan itu ia “menaruh”  kepala Buddha di ranting-ranting  pohon.  Ini sesuatu yang ganjil bagi awam — pesan yang tak mudah ditebak, tetapi meninggalkan sejumlah tanda tanya.

.

Karya Nyoman Erawan dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Namun secara semiotik, ada penanda bisa dibaca,  ia bisa saja menitipkan pesan, betapa kebajikan   atau  darma   tak lagi  berdaulat di benak, tak lagi  sebagai kekayaan rohaniah milik  kita bersama.  Ia bertengger jauh di ranting-ranting kering,   menjadi kekayaan   langka milik manusia modern yang dirajam konsumerisme dan hedonisme. Ia menjadi  sejenis satire, di mana banyak orang  cuma mengejar kebajikan  di buku-buku, bahkan   memburunya  sampai ke negeri jauh, atau  sebaliknya ;  kebajikan sudah menjadi kutuk;  mudah diucapkan, tak gampang didirikan. Sementara  bukankah Buddha ada di benak semua mahluk?  

Lalu, kita lebih percaya  kepala orang lain tinimbang  isi kepala sendiri?  Pertanyaan ini   menyebabkan “kebajikan  berlari”, terbang, bergelantungan di ranting-ranting kering. Atau si perupa hendak membahasakan satu nubuat,  Buddha ada  di mana-mana, cinta dan kebajikan menubuh di mana-mana. Itulah yang bisa kita baca dari Bambang Heras, sementara  kita tak penah paham pesan  perupa sesungguhnya. Lalu, entah apa yang  hendak dititipkan lewat lukisan bertajuk “Ranting Darma” itu.

Sementara yang membuat  kita tercenung  ‘lukisan teaterikal’ Budi Ubruk berjudul “Enjoy Your Life”, hadir dalam rupa  sosok manusia koran   tengah membaca koran. Namun dua di antara tiga  sosok yang hadir di lukisan itu tengah membaca koran  bolong.   Ini seperti  hendak  menyampaikan pesan, sebuah dunia yang  tengah ditindih post truth, dunia  kehilangan kebenaran akibat   fakta objektif tak lagi memberi pengaruh  membentuk opini publik — inilah kemudian dimaksud dengan paska kebenaran.  Namun makna  koran bolong Budi Ubruk  tak  persis bisa kita  paham,  ia menjadi sejenis jebakan ambiguitas,  kecuali   mesti dijulurkan pada  pengertian  konotatif,  betapa hari ini;  berita-berita, fakta-fakta, liputan pers   kerap tidak  mewakili kebenaran  sesungguhnya.

Hoak, advetorial, propaganda  membuat  peristiwa semakin berkabut. Yang terang tak mudah ditebak dari tempat yang terang.  Memang,  kala dunia nirkabel berbasis android  hadir seperti air bah,  koran dan produk pers lainnya  tak  gampang dipilah untuk  sepenuhnya dipercaya. Semua membangun wacana sendiri, semua memiliki agenda tersendiri. Yang batil, yang jujur, yang terang, tak seketika bisa dicerna.  Kebenaran menjadi bias, fakta-fakta dimitoskan, begitu sebaliknya — semua sumber berita  terancam “bolong”.  Fakta, data, peristiwa mengalami distorsi. Kebenaran  dibuat  seperti gadis  pemalu  di depan publik. Begitulah “Enjoy Your Life” Budi Ubruk,  ia terpaksa ‘enjoy’, seperti senyum  pedagang  buat pelanggannya.

.

Karya-karya dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Dari kaca mata kebudayaan, tak semua lukisan yang hadir di sini bisa dibaca  secara lugas.   Namun pesan paling universal  adalah,  para perupa itu tengah  menari  —  menjadikan garis dan warna itu  sebagai tarian jiwa.  Ada yang menari abstrak kontemporer, ada  yang menari dengan   warna-warna tradisi, meliuk  dengan wajah-wajah wayang, ritual-ritual lokal,  serta tarian nelayan mengayuh lautan.  Lalu  semua yang tampil  membentuk  diaspora estetik Banyuwangi, menjadi sebentuk kerinduan artistik  yang menyembul dari kanal-kanal batin para perupa.

Terkait dengan tema kenusantaraan itu, ArtOs memang tidak cuma menghadirkan para perupa Banyuwangi semata. Seniman antarpulau juga ikut memberi andil bagi terbangunnya diaspora itu. Dari Bali hadir maestro Nyoman Erawan,  menyajikan konstruksi “puing-puing” tradisi, “sisa-sisa upacara”  dibangun menjadi lanskap baru bertajuk “Tapak Pertiwi”, tatahan warna-warni dalam detail “wajah-wajah samar” tradisi purbani Bali. Satu kehancuran artistik dunia Erawan,  terbuat dari seng menjulur bumi.

Ada juga lukisan I Wayan Redika, berjudul “Mata Kalangwan”, satu potret penari Bali dalam sejumlah pose  dalam tatapan penuh pesona. Redika mempertujukkan satu keterampilan canggih, di mana mata, memesona sebagai “mata kalangwan”, mata keindahan  dalam tatapan  seorang dara Bali, baik sebagai objek sekaligus sebagai subyek. Wajah atau air muka akan menggambarkan apa yang ada di dalam. Itulah “mata kalangwan” Wayan Redika.

Namun di antara  banyak perupa yang hadir, berpameran di gudang tua ini tak banyak yang menggarap tema gugatan, mencibir  dengan gaya satire keadaan-keadaan  dunia  sebagai problem bersama.  Di antara yang tak banyak itu, Ketut Putrayasa, seniman kelahiran Desa  Canggu, Bali  hadir dengan seni instalasi bertajuk “Proyek Mengeringkan Air”. Satu gugatan menohok  pada masalah-masalah pembangunan fisik  yang   tak lagi mengindahkan lingkungan. Alih  fungsi hutan, perusakan ekosistem alamiah  menyebabkan kelangkaan  sumber-sumber air terus berjalan tanpa memperdulikan sumber-sumber air alami.

Karya Ketut Putrayasa dalam pameran ArtOs Nusantara | Foto: Dok pameran

Lewat lima pilar beton,  rujukan satiris  pada keangkuhan dan kekakuan, dengan besi cor  dibiarkan tak tuntas, ditempeli puluhan anger jemuran warna-warni, digantungi kantong plastik penuh air, bergambar mata  bertuliskan nama-nama air  se-Nusantara — Putrayasa seperti tengah menyesali keadaan,  sembari melayangkan gugatan heroik pasal 33.3 Undang Undang Dasar 1945 — di mana bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Putrayasa merespon pilar-pilar beton itu dengan tarian  Jawa, diiringi  sinden , suling, dan rebab. Pembacaan puisi “Obituari Sungai” oleh penyair Wayan Jengki Sunarta.  Lalu tarian yang melengok lembut di depan pilar beton,  nampak seperti tarian roh-roh  pohon yang  ditumbangkan  atas nama pembangunan — yang sesungguhnya  menjadi tumbal peradaban beton.

Sayang, hari ini orang merasa lebih seksi menanam beton, tinimbang menanam pohon. Manusia lebih memilih materi mati, tinimbang yang hidup merohani. Itulah arti lima pilar Ketut Putrayasa, tentang kabar kematian pelan-pelan, tentang hari depan bumi dan perang air yang terus menghantui. Tentang nasib anak cucu bagimana ia bertahan dari keserakahan leluhurnya.

Memang di tengah-tengah krisis multidimensi, hakikat hidup kebudayaan, serta hakikat makna hidup manusia harus dirawat, dikembalikan daya hidupnya  tidak hanya oleh para santo, budayawaan, rohaniawan. Namun  suara seniman, adalah juga  penjaga ruh, supaya  dunia dijauhkan dari krisis kegelapan abad. Seniman adalah perawat bagi setiap batin yang kerontang — seperti juga pameran ArtOs  di gudang  ini,   berusaha menjernihkan kembali oase estetik yang  dipendam libido badaniah, menuju cahaya  terang  kebudayaan, di mana akal budi diasah merasakan kepekaan-kepekaan lebih sensitif perihal  makna kemanusiaan  dan kebudayaan bagi hidup bersama — di mana tugasnya adalah meluhurkan pakerti hidup. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: balibanyuwangiJawa TimurKetut PutrayasaNusantaraNyoman ErawanPameran Seni RupaSeni RupaSuku OsingWayan Redika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pelajar SMP Menggambar Wajah Bung Karno

Next Post

Penutupan Pengabdian Masyarakat Nata Citta Swabudaya ISI Denpasar di Desa Batur,  Inilah yang Sudah Dilakukan

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails
Next Post
Penutupan Pengabdian Masyarakat Nata Citta Swabudaya ISI Denpasar di Desa Batur,  Inilah yang Sudah Dilakukan

Penutupan Pengabdian Masyarakat Nata Citta Swabudaya ISI Denpasar di Desa Batur,  Inilah yang Sudah Dilakukan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co